NovelToon NovelToon
Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Cara Termudah Menaklukkan Campus Prince

Status: tamat
Genre:Teen / Sistem / Tamat
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zara Melati

Di usia 20 tahun, hidup Keira Seng sudah diberi deadline.

Kanker lambung stadium awal. Dokter bilang masih ada harapan, tapi tubuhnya berkata lain. Di tengah ketakutan dan kesendirian — karena keluarganya sudah lama bukan tempat bersandar — sebuah HP Nokia tua yang selalu ada di tasnya tiba-tiba mengirim pesan:

[SISTEM IMITASI AKTIF. TARGET DITETAPKAN: XAVIER SIA. SELESAIKAN MISI UNTUK MENDAPAT POIN KEHIDUPAN.]

Xavier Sia. Cucu konglomerat Sia Corporation. Mahasiswa hukum semester 5 yang wajahnya selalu muncul di @unparfess sebagai "Campus Crush No.1." Dingin. Tajam. Dan — atas kebetulan yang absurd — tinggal di unit sebelah apartemen Keira.

Misi pertama: berpakaian seperti dia selama satu minggu.

Yang tadinya hanya "survival strategy" perlahan berubah bentuk. Baju yang sama membawa mereka ke percakapan. Percakapan membawa kedekatan. Kedekatan membawa perasaan yang Keira tidak mampu — dan tidak berhak — untuk miliki.

Karena bagaimana bisa kamu jatuh cinta kalau kamu sendiri tidak tahu berapa lama bisa hidup?

Dan bagaimana bisa Xavier tahu bahwa gadis yang selalu tersenyum di depannya sedang menghitung waktu di belakangnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zara Melati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31: Bunga & Kartu

Besok yang Keira punya ternyata datang dengan seikat bunga.

Pagi itu ia baru keluar dari kelas DKV ketika seorang kurir kampus berdiri di dekat pintu studio sambil membawa buket kecil berisi bunga baby breath putih, tulip kuning muda, dan beberapa daun eucalyptus yang diikat kertas cokelat. Ukurannya tidak sebesar buket orang lamaran. Tidak juga terlalu kecil sampai terlihat asal beli.

Justru karena pas, Keira langsung punya firasat buruk.

"Keira Seng?" tanya kurir itu.

Seluruh studio menoleh.

Keira yang sedang memasukkan tablet ke tas langsung membeku.

Celine, yang duduk di meja dekat jendela, mengangkat kepala pelan seperti karakter game yang baru mendengar suara musuh langka.

"Iya," jawab Keira hati-hati.

Kurir itu menyerahkan buket. "Dari Xavier Sia."

Suara di studio langsung berubah.

"Aduh."

"Manis banget."

"Xavier Sia kirim bunga?"

Keira ingin mencair menjadi cat air.

Ia menerima buket itu dengan kedua tangan, mengucapkan terima kasih, lalu mencoba berjalan normal ke arah Celine. Gagal. Setiap langkah terasa seperti panggung.

Celine menatap bunga itu, lalu menatap Keira.

"Gue tidak akan komentar."

"Terima kasih."

"Tapi gue akan foto."

"Cel."

Celine sudah memotret.

Keira menatap buket itu lebih dekat. Ada kartu kecil diselipkan di antara bunga. Kertasnya warna krem, tulisannya rapi, tegas, jelas bukan tulisan toko bunga.

`Soal suka sama aku, semangat terus ya.`

Keira membaca kalimat itu satu kali.

Dua kali.

Lalu ia menutup kartu itu dengan telapak tangan sambil merasakan darah naik ke wajah.

Celine menyipit. "Apa isinya?"

"Tidak ada."

"Kei, wajah lo berubah jadi tomat impor. Mana mungkin tidak ada."

"Tulisan motivasi."

"Motivasi jenis apa?"

"Motivasi untuk belajar."

Celine merebut kartu itu terlalu cepat.

Keira terlambat bereaksi.

Celine membaca. Satu detik kemudian, ia menutup mulut dengan punggung tangan, bahunya bergetar.

"Soal suka sama aku," bacanya dengan suara dibuat rendah, meniru gaya Xavier, "semangat terus ya."

"Jangan baca keras-keras!"

Beberapa teman langsung tertawa. Keira mengambil kembali kartu itu, tetapi kerusakan sudah terjadi.

Celine mengangkat ibu jari. "Pacar lo punya bakat memalukan orang dengan elegan."

Keira memasukkan kartu ke dompet kecilnya. "Dia akan aku tuntut."

"Dengan pasal apa?"

"Penyiksaan emosional."

"Hakimnya pasti berpihak ke dia. Barang bukti: bunga lucu."

Keira menunduk ke buket itu. Mau marah rasanya sulit. Bunga itu terlalu cantik, dan kartu itu terlalu Xavier. Pendek, menyebalkan, tetapi ada kehangatan yang sengaja disembunyikan di balik nada datar.

Ponselnya bergetar.

`Sudah sampai?`

Keira mengetik cepat, `Kamu ini apa-apaan?`

`Bunga.`

`Aku tahu itu bunga. Kenapa dikirim ke kelas?`

`Biar tidak layu di lobi.`

`Xav.`

`Kamu suka?`

Keira berhenti.

Di sebelahnya, Celine pura-pura menatap tablet tetapi jelas membaca dari sudut mata.

Keira menggeser ponsel menjauh.

`Suka. Tapi kamu menyebalkan.`

Balasan Xavier muncul.

`Dua-duanya aku terima.`

Keira menggigit bibir menahan senyum.

Sementara itu, di sisi lain kampus, Xavier sedang duduk di kantin Fakultas Hukum dengan wajah yang terlalu tenang untuk seseorang yang baru saja mengirim bunga pertama dalam hidupnya.

Kevin duduk di hadapannya, hampir tersedak es kopi.

"Lo tulis apa di kartu?"

Xavier mengangkat pandangan dari ponsel. "Tidak penting."

"Semua hal yang lo lakukan sejak pacaran penting, bro. Ini bahan studi."

Dino yang duduk di sebelah Kevin menaruh roti di piring. "Jangan tanya Kevin. Dia terakhir PDKT gagal karena mengirim meme pajak."

"Itu bukan gagal," protes Kevin. "Itu perbedaan selera humor."

Xavier menatap mereka berdua. "Kalian yang kemarin bilang kirim bunga."

"Betul," kata Kevin bangga. "Sebagai konsultan romantis, gue merasa langkah ini tepat."

Dino mendengus. "Konsultan romantis yang single."

"Single itu bukan berarti tidak berilmu. Dokter tidak harus pernah patah kaki untuk mengobati patah kaki."

"Analogi buruk."

Xavier mengabaikan mereka dan membaca balasan Keira lagi.

`Suka. Tapi kamu menyebalkan.`

Sudut bibirnya naik sedikit.

Kevin langsung menunjuk wajahnya. "Nah! Itu! Senyum cowok jatuh cinta. Dino, lihat. Dokumentasikan."

Xavier mematikan layar ponsel. "Kamu mau kehilangan jari?"

"Ancaman fisik tidak menghapus fakta."

Dino menyesap kopi. "Kalau mau kirim bunga lagi, jangan tiap hari. Nanti efeknya turun."

Kevin mengangguk sok bijak. "Benar. Variasi. Hari ini bunga. Besok cokelat. Lusa boneka. Minggu depan billboard."

Xavier menatap Kevin.

Dino menepuk meja. "Jangan dengarkan bagian billboard."

"Kenapa?" tanya Kevin. "Kalau gue punya uang Sia, gue akan pasang: Keira, semangat suka sama Xavier."

Xavier berdiri.

Kevin langsung mengangkat kedua tangan. "Oke, oke, tidak jadi."

Xavier mengambil tasnya. "Kalian selesai?"

"Belum," kata Dino. "Nasihat serius. Jangan membuat semuanya besar. Kalau Keira tipe yang gampang malu, hal kecil yang konsisten lebih aman."

Xavier berhenti sebentar.

Kevin menatap Dino seperti baru sadar temannya bisa berguna. "Wah, tumben."

Dino mengangkat bahu. "Gue punya mata."

Xavier mengangguk pelan. "Dicatat."

Kevin mengangkat jari. "Tapi tetap, sesekali besar. Pembaca butuh momen."

"Pembaca apa?"

"Maksud gue teman-teman butuh konten."

Xavier pergi sebelum benar-benar menyesal pernah punya teman.

Sore harinya, Keira membawa buket itu pulang dengan hati-hati. Sepanjang jalan, beberapa orang masih melirik. Ada yang tersenyum. Ada yang berbisik. Namun kali ini, Keira tidak panik seperti kemarin.

Ia bahkan membeli vas kaca kecil di minimarket dekat The Springs.

Ketika lift terbuka di lantai enam belas, Xavier sudah berdiri di depan pintunya, seperti tahu persis jam berapa Keira pulang. Ia membawa kantong kecil berisi bahan masakan.

Tatapannya jatuh ke buket di tangan Keira.

"Masih hidup?"

"Kamu tanya aku atau bunganya?"

"Dua-duanya."

Keira memutar mata, tetapi senyumnya tidak bisa disembunyikan. "Bunganya masih hidup. Aku juga masih hidup, walau hampir mati malu."

"Berarti berhasil."

"Tujuanmu membuat aku malu?"

"Sebagian."

"Xav."

Ia tersenyum kecil. "Sebagian lagi membuat kamu senang."

Keira terdiam.

Kalimat yang seharusnya sederhana itu membuat dadanya menghangat lebih dari seharusnya.

Ia mengangkat buket sedikit. "Aku senang."

Wajah Xavier melembut.

Untuk beberapa detik, mereka hanya berdiri di koridor, dengan buket bunga di antara mereka dan lampu putih apartemen yang tidak romantis sama sekali. Tetapi Keira merasa momen itu akan ia ingat lama.

"Aku beli vas," katanya, karena kalau diam lebih lama ia bisa menangis.

"Mau aku bantu potong batangnya?"

"Kamu bisa?"

"Bisa belajar."

"Dari YouTube?"

"Dari mana lagi?"

Mereka masuk ke apartemen Keira. Xavier mencuci tangan, membuka video pendek tentang cara merawat bunga, lalu dengan serius memotong batang miring-miring di atas wastafel. Keira berdiri di sampingnya, menahan tawa karena pria itu tampak lebih fokus daripada saat membaca buku hukum.

"Jangan ketawa," kata Xavier tanpa menoleh.

"Aku tidak ketawa."

"Bahu kamu ketawa."

Keira tertawa akhirnya.

Bunga itu selesai ditaruh di vas dan diletakkan di meja gambar Keira. Kartu kecilnya ia selipkan di bawah vas, menghadap ke arahnya, bukan ke luar.

Xavier melihat.

"Kamu simpan kartunya."

"Buat bukti tuntutan."

"Tuntutan apa?"

"Membuat pacar sendiri terlalu gampang senyum."

Xavier mendekat satu langkah. Tidak terlalu dekat, tetapi cukup untuk membuat Keira merasakan tubuhnya sadar.

"Itu pasal ringan."

"Hukumannya?"

"Aku boleh kirim lagi."

Keira mengangkat wajah. "Jangan tiap hari."

"Dino juga bilang begitu."

"Dino lebih masuk akal dari Kevin."

"Semua orang lebih masuk akal dari Kevin."

Mereka tertawa bersama.

Malam itu, setelah Xavier pulang, Keira duduk di meja gambar dan menatap buket di samping laptopnya. Aroma eucalyptus tipis memenuhi udara. Ia membuka sketchbook digital, lalu menggambar karakter kucing hitam yang duduk di samping vas bunga.

Di halaman berikutnya, ia menulis satu kalimat kecil, hanya untuk dirinya sendiri.

`Hari ini, seseorang mengirim bunga agar aku punya alasan tersenyum lebih lama.`

Ponselnya bergetar.

Pesan dari Xavier.

`Bunganya jangan lupa ganti air besok.`

Keira tersenyum.

`Iya, Pak Florist.`

`Pacarmu serius.`

Keira menatap kata itu, lalu membalas dengan jari yang tidak lagi gemetar.

`Aku juga.`

Balasan Xavier tidak langsung datang.

Ketika akhirnya muncul, isinya hanya satu kalimat.

`Bagus. Semangat terus suka sama aku.`

Keira tertawa sampai dahinya menyentuh meja.

Bukannya berkurang, hukuman dari kartu itu ternyata baru dimulai.

1
Evelyn Sharon
Mereka yang kasmaran kenapa jadi aku yang salting yak🫠
Evelyn Sharon
mulai suka nihh 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!