Kiara Song, 21 tahun, reporter magang yang berjuang sendirian sejak kakaknya koma dan ayahnya kabur meninggalkan hutang. Hidupnya berubah saat ia menikah siri dengan Rayhan Tan — AKP kepolisian berwajah dingin, tubuh atletis, dan mulut tajam yang ternyata diam-diam memasak untuknya setiap malam.
Enam bulan tinggal bersama. Tidak ada ciuman. Tidak ada "aku cinta kamu." Hanya perhatian kecil yang membuat jantung Kiara tidak bisa tenang.
Kiara punya rahasia: ia menato setangkai mawar di pinggangnya sejak SMA — di tempat yang hanya bisa dilihat oleh orang paling dekat. Untuk laki-laki yang sama, selama enam tahun.
Dan Rayhan? Rayhan punya rahasia sendiri.
Ia sudah jatuh cinta pada Kiara jauh sebelum pernikahan ini dimulai.
Nikah dulu. Cinta kemudian. Tapi bagaimana kalau cintanya sudah ada duluan?
(148 kata Indonesia)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 031
Jangan Bergerak
"Kiara, aku datang menjemputmu pulang."
Kiara ingin mengangkat tangan.
Tubuhnya hanya bergerak sedikit, tetapi Rayhan langsung maju setengah langkah.
"Jangan bergerak."
Dua kata itu keluar cepat. Terlalu cepat untuk terdengar seperti perintah biasa. Ada takut yang disembunyikan di baliknya, takut yang membuat suara Rayhan pecah di ujung.
Kiara berhenti.
Rayhan menunduk, matanya memeriksa wajahnya, infus di tangan, perban di siku, lalu kaki kanan yang ditahan penyangga. Rahangnya mengeras. Untuk beberapa detik, ia tidak mengatakan apa-apa.
Kiara justru yang merasa perlu bicara.
"Cici..."
"Aku lihat." Rayhan menoleh ke ranjang sebelah. Cici masih setengah tertidur, pelipisnya tertutup kasa. "Dia sadar?"
"Tadi."
"Bagus."
Kalimat itu singkat, tetapi Rayhan tidak langsung kembali menatap Kiara. Ia memandang Cici sebentar, lalu menunduk sedikit, sangat kecil, hampir seperti memberi hormat pada orang yang sudah melindungi Kiara sampai tubuhnya sendiri terluka.
Cici membuka mata perlahan. "Pak Rayhan?"
"Terima kasih sudah jaga Kiara."
Cici berkedip, lalu matanya berkaca-kaca. "Saya gagal, Pak."
"Tidak." Suara Rayhan tegas. "Kamu membuat dia punya kesempatan keluar."
Cici menutup mata lagi, kali ini bukan karena pusing saja.
Kiara menggigit bibir.
Rayhan melihatnya. "Jangan gigit."
Ia otomatis melepas bibirnya.
Rayhan menarik kursi ke sisi ranjang. Gerakannya hati-hati, tetapi ada tenaga yang tertahan di setiap tarikan. Ia duduk, lalu baru mengulurkan tangan.
Tangannya berhenti di udara.
"Boleh?"
Kiara menatap jari-jarinya.
Sejak ia jatuh, terlalu banyak tangan menyentuh tubuhnya karena prosedur. Menolong. Mengangkat. Memeriksa. Menggeser. Semua perlu, tetapi tetap membuatnya merasa dirinya bukan miliknya sendiri.
Rayhan bertanya.
Hal kecil itu membuat matanya panas.
Kiara mengangguk.
Rayhan menyentuh punggung tangannya, sangat pelan. Bukan menggenggam kuat. Bukan menahan. Hanya menempel, memberi tahu bahwa ia ada di sana.
Sentuhan itu membuat Kiara sadar betapa tegang tubuhnya sejak tadi. Bahunya turun sedikit. Jari-jarinya yang mencengkeram seprai perlahan terbuka. Ia tidak perlu lagi memeluk ponsel seperti pelampung. Tidak perlu lagi menjaga pintu dengan mata setengah sadar.
Rayhan ada.
Dan sebelum menyentuhnya, ia bertanya.
Baru setelah itu Kiara menangis.
Tidak keras. Tidak cantik. Air matanya turun ke pelipis, masuk ke rambut, membuat napasnya patah-patah.
"Aku naik VIP," bisiknya.
"Aku tahu."
"Kak Rayhan sudah bilang jangan."
"Nanti kita bicara."
"Aku bikin Cici terluka."
"Yang melukai Cici bukan kamu."
"Aku merekam."
"Dan karena itu buktinya ada."
Kiara menggeleng kecil, tetapi nyeri membuatnya berhenti. "Kak Rayhan marah?"
Rayhan menatapnya lama.
"Ya."
Dada Kiara turun.
"Tapi bukan ke kamu."
Ia tidak sanggup menjawab.
Rayhan mengambil tisu dari meja kecil, melipatnya, lalu menyeka air mata di sisi wajah Kiara. Gerakannya kaku, seperti orang yang terbiasa menghadapi luka serius tetapi tidak terbiasa melihat perempuan yang dicintainya menangis di ranjang rumah sakit.
"Aku marah pada orang yang menyentuhmu," katanya rendah. "Pada orang yang menyentuh Cici. Pada orang yang membuatmu berpikir kamu harus memilih antara sahabatmu dan bukti. Bukan pada kamu."
Kiara menutup mata.
Kalimat itu masuk lebih dalam daripada obat nyeri.
Dokter Raka datang lagi bersama perawat. Rayhan langsung berdiri, tubuhnya berubah menjadi garis tegas.
"Saya Rayhan Tan. Penanggung jawab pasien," katanya. "Saya perlu kondisi medis lengkap dan rencana pemindahan ruang."
Dokter Raka sempat menatapnya, mungkin mengenali cara bicara polisi. "Baik, Pak. Mbak Kiara sudah reposisi dislokasi pergelangan kaki kanan. Untuk sementara stabil, tapi perlu observasi nyeri dan pembengkakan. Tidak boleh menapak. Kami sarankan rawat inap minimal satu malam, besok ortopedi evaluasi."
"Risiko?"
"Bengkak, nyeri berulang, cedera jaringan lunak. Kalau foto ulang menunjukkan tidak stabil, tindakan lanjut bisa dipertimbangkan."
"Cici?"
"Benturan kepala ringan. CT awal aman. Tetap observasi karena sempat penurunan kesadaran."
Rayhan mengangguk. "Ruang rawat?"
"Sedang disiapkan. Dua pasien bisa satu lantai, tapi kamar berbeda tergantung ketersediaan."
"Saya ingin mereka tetap dekat."
Dokter Raka menatap perawat, lalu mengangguk. "Kami usahakan."
Perawat membawa map administrasi. "Untuk rawat inap, perlu tanda tangan penanggung jawab."
Rayhan mengambil pena tanpa ragu. "Saya."
"Hubungan dengan pasien?"
Tangannya berhenti hanya sepersekian detik. Kiara melihatnya. Perawat mungkin tidak.
"Keluarga," jawab Rayhan.
Kata itu tidak membuka rahasia mereka di depan IGD. Namun bagi Kiara, kata itu jatuh tepat di tempat yang paling sakit.
Rayhan menulis namanya, nomor telepon, dan alamat Perumahan Graha Perwira dengan tulisan rapi. Di kolom tanda tangan, pena itu bergerak mantap, tetapi sendi jarinya tampak memutih.
Kiara mendengarkan seperti mendengar seseorang mengatur dunia yang tadi hancur berantakan. Bukan dengan teriakan. Bukan dengan panik. Dengan pertanyaan yang rapi, jawaban yang dicatat, keputusan yang satu per satu mengikat kembali keadaan.
Perawat mengecek infus dan tekanan darah. "Mbak Kiara haus?"
Kiara baru sadar tenggorokannya kering. Ia mencoba mengangguk.
Rayhan sudah mengambil gelas air lebih dulu. Perawat memasang sedotan, tetapi Rayhan yang mendekatkan gelas ke bibir Kiara.
"Pelan."
Kiara minum sedikit. Air terasa dingin, melewati tenggorokan seperti sesuatu yang sangat sederhana tetapi hampir membuatnya menangis lagi.
"Lagi?"
Ia menggeleng.
Rayhan menaruh gelas. "Mual?"
"Tidak."
"Pusing?"
"Sedikit."
"Nyeri kaki?"
Kiara menatapnya lemah. "Kak Rayhan berubah jadi dokter?"
"Pasiennya susah jujur."
Suara itu masih rendah, tetapi ada bayangan dirinya yang biasa di sana. Kiara hampir tersenyum.
Hampir.
Dua petugas polisi setempat datang kembali. Salah satunya membawa map tipis. "Pak Rayhan?"
Rayhan menoleh.
"Kami sudah menerima kontak dari Pak Galih dan Bu Ratna. Video sementara diamankan di pihak redaksi. Untuk keterangan korban, bisa ditunda sampai dokter izinkan. Kami juga sudah minta pihak klub menahan rekaman CCTV."
"Jangan hanya minta," kata Rayhan. Nada suaranya turun. "Buat surat permintaan resmi. Area VIP, koridor, tangga darurat, pintu keluar belakang. Semua."
Petugas itu menatapnya lebih saksama. "Bapak dari satuan?"
"AKP Rayhan Tan, Polda Kota Barat. Saya di sini sebagai penanggung jawab korban. Untuk koordinasi antarwilayah, saya akan kirim kontak atasan saya dan data redaksi."
Kiara merasakan sesuatu menusuk dadanya.
Ia di sini sebagai penanggung jawab korban.
Bukan pahlawan yang datang mengambil alih semua narasi. Bukan pria marah yang membuat rumah sakit makin kacau. Ia berdiri di antara Kiara dan dunia luar, tetapi tetap memastikan prosedur berjalan.
Petugas itu langsung lebih tegak. "Siap, Pak."
Setelah mereka pergi, Rayhan mengeluarkan ponsel dan menelepon Aldi. Suaranya pendek, terkontrol.
"Di, bangunkan Galih kalau belum. Minta backup semua file. Hubungi Sari, minta prosedur koordinasi dengan Polres Kota Pelangi. Jangan ada yang unggah ke media sosial dulu. Ini barang bukti."
Diam.
"Tidak. Aku di rumah sakit."
Diam lagi.
"Kiara sadar. Cici juga. Fokus kerja."
Diam sebentar.
"Satu lagi. Pagi nanti cek rumah. Kopi jangan naik tangga, obatnya di kulkas pintu atas. Kalau bingung, telepon Dokter Yoga. Jangan kasih makanan lain."
Kiara yang tadinya hampir tenggelam dalam rasa sakit, menoleh pelan. Bahkan dari kota lain, di tengah IGD, Rayhan masih ingat jadwal obat Kopi.
"Iya," kata Rayhan ke telepon. "Dan jangan panik di depan dia. Dia peka."
Ia menutup telepon.
Kiara menatapnya. "Kak Rayhan belum makan?"
Rayhan diam.
Itu jawaban.
"Kak Rayhan..."
"Jangan mulai."
"Tadi Kak Rayhan bilang pasien harus jujur."
"Aku bukan pasien."
"Tapi Kak Rayhan manusia."
Untuk pertama kalinya sejak datang, ekspresi Rayhan retak sedikit. Bukan senyum. Lebih seperti rasa sakit yang tidak sempat ia sembunyikan.
"Aku hampir kehilangan kamu malam ini," katanya.
Kiara lupa cara bernapas.
"Aku lihat titik lokasimu berhenti di Club Monarch," lanjut Rayhan. "Lalu kamu tidak menjawab. Lalu pesanmu masuk cuma tiga kata."
Ia menelan sesuatu yang terdengar seperti amarah dan takut sekaligus.
"Aku masih dengar alarm itu di kepala."
Rayhan menunduk, ibu jarinya masih menempel di punggung tangan Kiara. "Jadi kalau bisa, jangan suruh aku memikirkan makan dulu."
Air mata Kiara kembali turun.
"Maaf."
"Jangan minta maaf untuk hidup."
Kalimat itu membuat sesuatu di dada Kiara runtuh pelan.
Perawat datang memberi tahu kamar rawat sudah siap. Cici akan dipindahkan lebih dulu karena ranjangnya lebih mudah digeser. Cici mengangkat tangan lemah ke arah Kiara.
"Ki, jangan kabur lagi. Gue nggak sanggup ngejar."
Kiara mengangguk sambil menangis dan tertawa kecil sekaligus.
Rayhan mendekati ranjang Cici sebentar. "Besok saya pastikan keluarga kamu dihubungi dengan cara yang tidak bikin panik."
Cici membuka satu mata. "Pak, kalau bisa jangan bilang saya hampir jadi pahlawan. Ibu saya nanti nyuruh saya resign."
"Saya bilang kamu membantu korban."
"Kedengarannya lebih aman."
"Istirahat."
Cici mengangkat jempol lemah. "Titip Ki."
Rayhan menatapnya. "Saya tidak akan lepas."
Setelah tirai Cici ditutup untuk pemindahan, ruang di sekitar Kiara terasa sunyi.
Rayhan berdiri di sisi ranjang. "Mereka akan pindahkan kamu sebentar lagi."
"Kak Rayhan ikut?"
Pertanyaan itu keluar sebelum Kiara sempat menahannya.
Rayhan menatapnya, lalu menggenggam tangannya sedikit lebih kuat.
"Aku tidak ke mana-mana."
Kiara menutup mata.
Untuk pertama kalinya sejak suara alarm pecah di Club Monarch, tubuhnya percaya pada kalimat seseorang.
Rayhan membungkuk sedikit, suaranya turun sampai hanya ia yang bisa mendengar.
"Kamu boleh berhenti kuat sebentar," katanya.
Kiara mengangguk, dan air matanya jatuh tanpa suara lagi.
"Mulai sekarang, kamu tidak perlu bergerak sendiri."