NovelToon NovelToon
Gadis yang Terbuang

Gadis yang Terbuang

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ayu Kirana

Delapan belas tahun yang lalu, seorang gadis kecil bernama Taotao hilang di tengah keramaian festival lampion. Keluarga Wijaya — salah satu dinasti paling berkuasa di Jakarta — tidak pernah berhenti mencari.

Seline tidak ingat apa-apa tentang malam itu. Yang dia tahu: orang tua angkatnya sudah meninggal, adiknya butuh sekolah yang layak, dan satu-satunya pilihan adalah menumpang di rumah besar keluarga Hartono — bibi jauhnya yang ternyata punya agenda tersembunyi.

Di rumah itu, Seline belajar bertahan. Dari tatapan merendahkan sepupu-sepupu, dari jebakan bibinya yang ingin menjodohkannya dengan anak tiri, dari rivalnya yang cantik dan licik. Tapi juga — dari tatapan Kevin Hartono yang tidak pernah bisa dia baca.

Kevin adalah pewaris utama. Dingin. Tidak tersentuh. Semua orang takut padanya.

Tapi dia yang pertama menyadari surat palsu di kamar Seline. Dia yang berlari menembus api saat festival meledak. Dan dia yang diam-diam menyimpan lukisan karya "Tao" — tanpa tahu pelukisnya tidur di sayap rumahnya sendiri.

Ketika kebenaran akhirnya terungkap — siapa Seline sebenarnya, siapa yang mencurinya dulu, dan mengapa Kevin bersikeras mempertahankannya — seluruh Jakarta akan tahu:

Gadis yang mereka buang... adalah pewaris yang sebenarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 11

Bab 011

Tante Chen

Pagi setelah makan malam itu, Kevin tidak muncul di ruang makan.

Seline seharusnya merasa lega. Tidak ada tatapan yang menanyakan apakah ia benar-benar hanya pernah menggambar tugas sekolah. Tidak ada pertanyaan singkat yang bisa membuat satu meja besar diam. Namun justru ketidakhadirannya membuat Seline beberapa kali menoleh ke pintu tanpa sadar.

Ia membenci kebiasaan baru itu.

Kabar dari Sekolah Pelita Harmoni datang menjelang siang. Darren diterima, dengan catatan harus mengikuti kelas penyesuaian Bahasa Inggris selama satu bulan.

Darren berlari memutari kamar belakang tiga kali sebelum akhirnya ingat bahwa rumah ini bukan rumah kontrakan Surabaya.

"Aku lulus, Kak!"

Seline tertawa sambil menahan bahunya. "Pelan. Nanti ada yang dengar."

"Biar dengar. Aku lulus."

Kebahagiaan itu hanya bertahan sampai Bi Zheng mengetuk pintu.

"Nona Seline, Nyonya Felicia meminta Nona datang ke ruang teh sayap timur."

Seline merapikan wajahnya. "Sekarang?"

"Iya."

Darren yang masih memegang surat penerimaan langsung cemberut. "Aku ikut."

"Tidak perlu." Seline mengambil surat itu dari tangannya dan menyimpannya di meja. "Kamu baca ulang persyaratan sekolah. Kakak sebentar."

Ia tidak tahu mengapa dadanya terasa tidak enak. Tante Chen tidak pernah memanggilnya tanpa maksud.

Ruang teh sayap timur wangi melati dan kayu mahal. Tante Chen duduk di dekat jendela, menuang teh sendiri, wajahnya tampak lebih lembut dari biasanya.

"Seline, duduk."

"Iya, Tante."

"Tante dengar Darren diterima di Pelita Harmoni. Selamat ya."

"Terima kasih. Semua karena bantuan Om Richard."

Senyum Tante Chen menipis sepersekian detik. "Tentu. Om Richard memang baik hati."

Seline menangkap sesuatu di balik kalimat itu, tetapi ia tidak menyentuhnya.

Tante Chen mendorong secangkir teh ke depannya. "Kamu sudah beberapa hari di sini. Bagaimana menurutmu rumah Hartono?"

"Rumah ini sangat baik menerima kami."

"Jawabanmu selalu hati-hati." Tante Chen tertawa pelan. "Tidak apa-apa. Anak perempuan memang harus begitu. Apalagi yang belum punya pegangan kuat."

Seline memegang cangkir, tidak meminumnya.

"Seline, Tante bicara sebagai orang yang lebih tua." Suara Tante Chen melembut, seolah setiap kata dibungkus kain sutra. "Darren sudah mulai sekolah. Urusan adikmu pelan-pelan tertata. Sekarang kamu juga harus memikirkan masa depanmu sendiri."

"Saya akan mencari pekerjaan sambil membantu di rumah, Tante."

"Pekerjaan?" Tante Chen menatapnya seperti kata itu sedikit lucu. "Dengan ijazah SMA dan pengalaman dari Surabaya, pekerjaan seperti apa yang bisa membuatmu aman?"

Panas naik ke wajah Seline, tetapi ia menahannya.

"Saya bisa belajar."

"Belajar itu bagus. Tapi perempuan tidak bisa hanya mengandalkan belajar." Tante Chen menyesap teh. "Yang paling penting adalah masuk ke keluarga yang tepat."

Seline diam.

Di luar jendela, dua pelayan lewat membawa pot bunga. Suara langkah mereka jauh, tetapi Seline merasa ruang teh itu semakin sempit.

"Ko Wilson sudah cukup dewasa," lanjut Tante Chen, seolah membicarakan cuaca. "Dia memang agak dingin, tapi hatinya tidak buruk. Selama ini dia kurang punya orang yang bisa menenangkan. Kamu anaknya sabar, tidak banyak menuntut."

Cangkir di tangan Seline hampir berbunyi saat menyentuh tatakan.

"Tante," katanya hati-hati, "Ko Wilson adalah anak Om Richard."

"Bukan saudara darahmu." Tante Chen tersenyum. "Dan di keluarga besar, hubungan baik kadang perlu diikat dengan cara yang lebih jelas."

Seline merasakan tengkuknya dingin.

Ia belum sempat menjawab ketika suara langkah terdengar di luar. Jessica muncul di ambang pintu, wajahnya cerah seperti biasa, tetapi matanya cepat membaca suasana.

"Tante Chen, Oma mencari semua orang di ruang utama. Katanya ada yang mau diumumkan."

Tante Chen menatap Jessica sesaat. "Sekarang?"

"Sekarang."

Jessica melirik Seline. "Seline juga diminta ikut."

Seline hampir tidak pernah sebersyukur itu melihat Jessica.

Ruang utama sudah penuh ketika mereka tiba. William, Lilian, Om Richard, Tante Chen, Om Steven, Tante Liu, Wilson, Jason, Ryan, Vivian, Michelle, semuanya hadir. Kevin berdiri di dekat jendela, baru kali itu muncul lagi setelah semalam. Anton tidak terlihat, tetapi Seline tidak bisa menahan diri untuk bertanya-tanya apakah Surabaya sudah sampai ke telinganya.

Oma Mei duduk di kursi tengah. Wajahnya tenang, namun seluruh ruangan tahu ketenangan itu biasanya berarti keputusan.

"Oma sudah mendengar terlalu banyak pembicaraan soal pernikahan," kata Oma.

Beberapa wajah langsung berubah. Tante Chen menunduk sopan. Tante Liu saling pandang dengan Om Steven. Vivian berdiri lebih tegak.

Oma Mei melanjutkan, "Di rumah ini, urutan tetap urutan. Selama Kevin belum menikah, adik-adiknya tidak mendahului. Sepupu yang berada di bawah pengaturan rumah juga tidak perlu terburu-buru membuat keputusan sendiri."

Ruang itu hening.

Jason langsung menatap Kevin dengan wajah seolah ingin tertawa tapi tidak berani. Ryan pura-pura batuk. Wilson tidak bereaksi, tetapi rahangnya mengeras. Vivian menunduk, menyembunyikan ekspresi yang terlalu cepat berubah.

Kevin sendiri hanya berkata, "Oma, ini tidak perlu."

"Perlu," jawab Oma. "Kalau kamu terus menghindar, seluruh rumah ikut gelisah. Jadi Oma membuat aturan jelas."

William menghela napas pelan. Lilian menatap putra sulungnya dengan campuran cemas dan pasrah.

Seline berdiri di belakang Jessica, berusaha tidak terlihat. Namun kata-kata Tante Chen di ruang teh masih menempel di telinganya. Masuk ke keluarga yang tepat. Ko Wilson sudah cukup dewasa. Tidak banyak menuntut.

Ia baru mengerti. Dirinya bukan hanya tamu miskin. Di mata sebagian orang, ia bisa menjadi solusi murah untuk masalah yang tidak mereka ingin bicarakan terang-terangan.

Setelah pengumuman selesai, orang-orang bubar dengan wajah berbeda-beda. Jessica sengaja menarik Seline menjauh, tetapi Tante Chen lebih dulu menyentuh lengan Seline.

Di saat yang sama, Wilson melewati mereka. Ia berhenti hanya karena Tante Chen memanggil namanya.

"Wilson, nanti malam jangan pergi dulu. Tante ingin bicara sebentar."

Wilson menatap Tante Chen, lalu pandangannya bergeser pada Seline. Tidak ada kelembutan di sana. Tidak juga kebencian yang terang. Hanya tatapan orang yang sudah terlalu sering dijadikan bagian dari rencana orang lain.

"Kalau soal yang tadi, saya tidak tertarik," katanya datar.

Wajah Tante Chen tetap tersenyum. "Kamu belum tahu Tante mau bicara apa."

"Saya sudah cukup tahu."

Om Richard yang masih di dekat pintu tampak hendak menegur, tetapi Wilson sudah membungkuk singkat pada Oma Mei dan pergi. Vivian melihat adegan itu dengan mata berbinar kecil, seperti menemukan gosip baru yang bisa disimpan.

Seline menunduk, tetapi rasa dingin di tengkuknya semakin jelas. Bahkan Wilson sendiri tidak menyukai rencana itu. Namun ketidaksukaannya tidak otomatis membuat Seline aman.

"Jangan tegang begitu," katanya lembut, seolah percakapan tadi tidak pernah terjadi. "Oma memang suka membuat aturan besar. Tapi hidup anak perempuan tetap harus diatur baik-baik."

Seline menatapnya. "Saya belum memikirkan hal itu, Tante."

Tante Chen tersenyum, hangat di bibir, dingin di mata.

"Tenang saja, Seline. Tante akan memberi kamu masa depan yang baik."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!