NovelToon NovelToon
Elvan 2

Elvan 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen
Popularitas:95.7k
Nilai: 5
Nama Author: Fira Anjelita

"Lo jahat!"

Elvan menatap Aleta bingung. Gadis yang tiga tahun ini dia rindukan itu sangat berbeda. Kini rambut Aleta menjadi sebahu dengan wajah lebih dewasa dan semakin cantik. Dia menangis.

"Why? Gue balik karena pengen jadi yang terbaik buat lo."

"Lo tinggalin gue saat gue butuh!" teriak Aleta kemudian meninggalkan Elvan begitu saja.

"Dan sekarang gue kembali buat perjuangin lo," teriak Elvan menatap punggung Aleta yang semakin menjauh.

"Semoga saja belum terlambat."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fira Anjelita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Elvan 2- 027

027

Sebuah pertanyaan

Lo dan gue jelas berbeda, tapi ada perasaan yang sama diantara kita.

.....

Pagi tiba dan sudah sejak beberapa jam Elvan telah dipindahkan ke ruang rawat. Pagi ini juga kabarnya orang tua Elvan telah sampai di bandara internasional terdekat.

Aleta, Aksa, dan Gavin masih di sana, di depan ruang rawat Elvan yang katanya belum juga siuman. Gadis berambut sebahu itu kini terpejam karena memikirkan seseorang di dalam ruangan itu. Dia jadi teringat di mana dulu dirinyalah yang terkapar di dalam ruangan dengan penuh alat bantu hidup. Rasanya ini seperti hukum alam, di mana dirinya dan Elvan bergantian posisi. Dia jadi tahu betapa cemas dan menanti seseorang agar siuman.

"Sarapan dulu gih," bisik Aksa membuat Aleta membuka matanya pelan.

"Lo sama Aksa duluan, gue jaga di sini," kata Gavin tersenyum manis.

Aleta menatap Gavin ragu. "Lo nanti sendirian?"

Gavin menggeleng. "Enggak. Megan nanti ke sini bawain gue baju ganti sekalian makan."

Aleta tersenyum kemudian mengangguk paham. "Oke deh. Gue sama Aksa duluan ya?"

Aksa pun berdiri mengikuti Aleta untuk mencari sarapan di kantin rumah sakit.

Sepanjang perjalanan mereka, Aleta menatap beberapa pasien dan pengunjung di rumah sakit itu. Matanya tampak terpaku sendu saat menatap sosok perempuan berusia 9 tahun menangis di depan kamar rawat. Langkahnya terhenti karena memandang gadis kecil itu seperti memandangnya dia dulu.

Aksa pun mengikuti langkah Aleta yang mendekati gadis kecil itu.

"Kamu kenapa?" tanya Aleta yang kini telah berjongkok di sebelah gadis berusia 9 tahun itu.

Dia menoleh dengan mata yang membengkak dan hidung memerahnya. Napasnya tersendat-sendat menatap Aleta. "Mma-mma."

Aleta menatap pintu di depannya. Dia berdiri mencoba menatap ke dalam ruangan melalui kaca sempit di bagian pintu.

Terlihatlah sosok wanita berusia 30 tahunan terbaring dengan tak berdaya di dalam sana. Badannya yang tertempel alat bantu hidup membuat hati Aleta semakin sakit. Rasanya persis seperti dulu.

Dengan perlahan Aleta menatap Aksa yang berdiri di belakang gadis kecil itu. Aleta kemudian menatap gadis kecil itu.

"Mama kamu kenapa?" tanya Aleta dengan suara yang mulai serak.

Gadis kecil itu mendongak menatap Aleta yang lebih tinggi. "Mama jatuh karena ... Ica juga hampir jatuh."

Lagi-lagi Aleta menatap Aksa. Matanya mulai berkaca-kaca.

"Papa Ica mana?" tanya Aleta lagi.

Gadis bernama Ica itu menggeleng. "Ica gak tahu. Papa bilang mau cari uang buat Mama."

Aleta kembali berjongkok dengan tangan memegang bahu Ica lembut. "Ica udah makan?"

Ice menggeleng.

Aleta mendongakkan wajahnya agar air mata miliknya tak mengalir di depan Ica. Aksa yang sadar akan sedihnya Aleta pun mendekat. Dia memeluk Aleta dari samping memberi gadis itu kekuatan.

"Ica makan bareng kita ya?" ajak Aksa.

Ica menggeleng. " Ica harus jaga Mama. Nanti Papa marah kalau Mama Ica biarin sendirian."

Aleta mulai terisak mendengarnya. Kenapa gadis di depannya harus mengalami kejadian ini? Kejadian yang hampir sama dengan dirinya. Betapa kejamnya si Papa hingga membiarkan gadis sekecil ini sendirian di rumah sakit menjaga Mamanya. Padahal jelas tertulis bahwa anak di bawah 12 tahun tidak boleh berlama-lama di rumah sakit.

Aleta mengusap pipinya pelan kemudian tersenyum menatap Ica. "Kita gak jahat kok. Kakak janji bakalan anterin Ica ke sini lagi." Aleta menelan ludahnya sulit. "Ica perlu makan buat jadi tenaga Ica waktu jagain Mama."

Gadis kecil itu menatap Aksa dan Aleta dengan mata bulat polosnya. Dia memainkan jari telunjuknya. Ica menunduk menggigit bibir bawahnya. "Ica takut."

Aleta benar-benar terisak sekarang. Gadis itu memeluk Aksa erat. Menenggelamkan kepalanya di bahu Aksa. Dia tidak kuat melihat Ica. Menatap gadis kecil itu seolah mengingatkannya dengan kenangan buruk.

"Ya udah, Ica duduk di situ dulu sama Kak Aleta. Nanti biar Kak Aksa beliin makan. Terus kita makan sama-sama ya?" bujuk Aksa dengan tangannya mengusap kepala Aleta pelan.

"Kita harus bantu dia, Sa," bisik Aleta.

Aksa menatapnya meski Aleta menunduk. "Iya. Jangan sampai ada Aleta kecil lagi?"

.....

Aksa datang membawa dua bungkus plastik putih. Satu berisi 3 styrofoam dan satu lagi berisi 3 botol air mineral. Dia mendekat kepada dua gadis berbeda usia yang sudah menunggunya sedari tadi.

"Gue beli lontong sayur. Gak papa?" tanyanya pada Aleta.

Aleta yang masih berwajah sembab mengangguk dengan senyum. "Gue apa aja mau kali. Lo harusnya tanya ke Ica."

Aksa pun berjongkok tepat di depan Ica. "Ica, Kakak beliin lontong sayur. Kamu mau 'kan?"

Ica mengangguk cepat. "Kata Mama, kita harus terima makan apa aja itu. Tapi kata Ica, kalau pedes Ica gak bisa terima."

Aksa tersenyum tipis. "Kakak udah tahu, nih lontong sayur tanpa rasa pedas buat Ica!" katanya.

Ica pun menerima dengan senyum lebar. Gadis kecil itu segera membukanya dan memakan dengan lahap. Aksa menyerahkan dua kantung plastik itu kepada Aleta kemudian meminta satu botol air mineral. Dia membukanya cepat dan meletakkannya di sebelah Ica.

"Ini minumnya kalau Ica harus." Ica kembali mengangguk dengan mulut penuh lontong.

Aksa pun mengambil duduk di sebelah Aleta. Gadis itu memberinya satu styrofoam juga satu botol air mineral. Setelahnya, mereka makan dengan tenang.

Beberapa menit akhirnya berlalu, acara makan pun telah selesai. Ica yang habis paling akhir pun memekik kegirangan.

"Yes, Ica udah habis makan! Habis ini bisa jagain Mama dan Papa pasti seneng!"

Aleta menatap Ica dengan senyum tipis. "Papa Ica ke sini jam berapa?"

Ica menggeleng. "Ica gak tahu."

Aleta menatap Aksa kemudian menggeleng.

"Ica, kalau pagi sering sarapan dibeliin Papa?" tanya Aksa.

"Kalau Papa dapat uang ya sarapan."

"Emang-"

"Kalian sedang apa dengan anak saya?!"

Aksa, Aleta, dan Ica menatap ke sisi kanan lorong secara bersamaan. Di sana berdiri pria berusia 40 tahunan yang membawa satu plastik penuh baju.

"Jangan racuni pikiran anak saya!"

Aleta berdiri menatap pria itu tanpa takut. "Kami gak meracuni pikiran anak bapak."

"Lalu apa maksud kalian? Kalian membiarkan anak saya tidak menjaga ibunya?"

Aksa ikut berdiri. Pemuda itu berdiri di depan Aleta. "Putri bapak terlalu kecil untuk menjadi penjaga orang sakit."

Pria tadi menghentikan langkahnya. "Lalu siapa yang menjaga istri saya? Saya juga? Saya bekerja dan dia yang menjaga Mamanya. Itu hal impas bukan?"

Aleta memandang Ica sebentar. "Ica masih terlalu kecil untuk mengerti masalah ini."

"Dia penyebab istri saya seperti itu! Dia wajib menjaganya sebagai tanggung jawab!"

Aleta mengambil napas banyak-banyak. "Bapak akan menimbulkan traumatis pada diri Ica jika seperti ini. Kecelakaan itu kehendak Allah, bukan karena Ica."

"Tahu apa kamu?!"

Aksa menarik Aleta agar semakin berlindung kepadanya.

"Karena dia korban seperti Ica. Korban dari keegoisan Papanya yang tidak menerima kenyataan. Apa bapak mau anak bapak seumur hidup ketakutan dan trauma? Atau bahkan dia akan memilih bergaul bebas? Dan yang paling parah, jika dia terlalu tertekan dia akan bunuh diri. Bapak mau?"

.....

Akhirnya masalah dengan Bapaknya Ica selesai. Pria itu memohon maaf setelah merenungi kata-kata Aksa. Bagaimanapun tak ada orang tua yang ingin anaknya gagal dalam hidup bahkan sampai bunuh diri.

Aleta tersenyum bangga menatap Aksa yang mau membantunya menyelamatkan Ica.

"Gak akan ada Aleta lain." Aksa merangkul Aleta. Keduanya tampak tersenyum senang atas keberhasilan misinya.

Setelah itu, mereka tiba di depan ruang rawat Elvan. Keduanya menatap Gavin yang sedang tiduran di paha Megan.

"Ehem, yang pacaran loh ya. Jomblo mah bisa apa?"

Gavin langsung terduduk cepat. Pemuda itu mengumpat karena pening di kepalanya.

"Sialan lo, Sa!"

Aksa tertawa pelan. "Makanya jangan pamer!"

"Pamer? Iri bilang boss!"

Keempatnya tertawa. Mereka menghentikan tawanya setelah Dara keluar dari ruang rawat Elvan.

"Gimana, Tante?" tanya Gavin.

Dara tersenyum. "Elvan kuat. Dia sudah sadar dan sedang berbincang dengan Papanya."

1
Nurmalasari
gk ada kemajuan

aajahajaha
Nurmalasari
kook aku berassa muter2 terus yah ceritanya
m4510man
hallo Thor👋🏻
masih ada nggak kelanjutannya Thor
pembacamu masih menunggu nih 😊🤗
_Nabilaaa Permata
yok bisa Aksa-leta
Eka Maulidia
waduuuh Iki komentar tahun lalu e !!!! wes g ada lanjuttanne Iki 😭😭😭💔💔💔
Yanti Nur Anggraini
lama bgt ya thor
Miawww
lnjut
Agus Purnama
lanjuut jgn kelamaaan para kabur ni
Miawww
lnjt kk.... aq kwal sampai tamat critamu
kolorijo
kok aku ngerasa dalang dari semua ini aksa ya🤨 atau mungkin cuma perasaanku aja
Agus Purnama
up upup up up up up up
Anis Haura Dzakki
othorQ trsayaaaaaang..kmna dikau?! knp mpe brbulan2 g update..pnsaranny dah diubun2 nech pliiiiiiiiisss jgn gantung kamiiiiiiiii



up lg thor..up lg
Nafisyah
Next dongg thorr suka banget sama alur ceritanya, kalo nggk dilanjutin sayang banget nanggung ceritanya thorr😭🥺
Deli Momoidea Pelangiran
gavin, dekat, atau Aksa ya pelakunya
Deli Momoidea Pelangiran
seperti nya Hendra
Elfina
lanjut lagi Thor🙏
Dessy Komalasari
lg seru ni thor,cepetan dong up ny
Sintyawidianti 30
lanjut dong kak, cerita nya bagus banget 😍
Alvi Sri Yulianti
bka lgi gk ini greget nih
Ririn Savetalyana
mantullll deka
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!