Sejak kecil, Evelyn dipaksa hidup dengan identitas palsu sebagai Evan—seorang laki-laki. Demi menyelamatkan harta keluarga dari tangan anak haram ayahnya, ia dididik layaknya pria dan dikirim menyusup ke perusahaan musuh untuk menjadi mata-mata.
Namun takdir berkata lain. Di sebuah kapal pesiar, ia terjebak dalam satu malam panas bersama Damian, sang bos besar yang juga musuh bebuyutan keluarganya. Dalam kabut obat dan gairah, Damian tak pernah tahu siapa wanita yang menemaninya malam itu.
Evelyn pergi membawa rahasia besar: ia hamil. Ia menghilang ke luar negeri, dikucilkan oleh ibunya sendiri, hingga tiga tahun berlalu. Kini ia kembali bukan lagi sebagai Evan si pekerja keras, melainkan bersama buah hatinya yang bernama Axel.
Damian yang tak pernah berhenti mencari sosok wanita misterius itu, perlahan mulai menyambung benang merah. Dan saat ia melihat kemiripan yang tak terbantahkan antara si kecil Axel dengan dirinya sendiri, permainan baru pun dimulai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhao_Xena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20 ~ Pewaris Sekaligus Rival Terbesar Foster Group
Tiga tahun kemudian...
Angin musim semi berembus pelan, menerbangkan beberapa helai rambut panjang Evelyn yang kini tergerai hingga melewati bahunya.
Tak ada lagi potongan rambut pendek yang selama bertahun-tahun menjadi ciri khas Evan Harley. Tak ada lagi setelan jas ataupun suara yang sengaja dibuat berat.
Di hadapan putra kecilnya, Evelyn tidak lagi hidup sebagai orang lain.
Ia adalah dirinya sendiri.
Seorang ibu.
Wanita bertubuh mungil itu duduk di atas hamparan rumput di sebuah taman kota di London. Senyum lembut terus menghiasi wajahnya saat memandangi bocah laki-laki yang tengah berlari kecil mengejar gelembung sabun.
"Mommy... lihat!" seru Axel riang sambil tertawa.
"Iya, Mama lihat," jawab Evelyn sambil tersenyum.
Axel baru berusia dua tahun. Meski usianya masih sangat kecil, kecerdasannya sering kali membuat banyak orang terkejut.
Namun, setiap kali menatap wajah putranya, perasaan Evelyn selalu bercampur aduk.
Semakin hari, wajah Axel semakin menyerupai Damian.
Sorot matanya.
Bentuk alisnya.
Bahkan cara bocah itu mengerutkan dahi ketika sedang berpikir.
Semuanya begitu mirip.
Itulah alasan terbesar mengapa selama tiga tahun lebih Evelyn memilih masih tetap menetap di London.
Bukan karena ia takut kembali ke tanah kelahirannya. Melainkan karena ia takut Damian akan melihat wajah Axel.
Dan saat hari itu tiba... Semua rahasia yang selama ini ia sembunyikan mungkin akan runtuh dalam sekejap.
"Mommy!"
Panggilan Axel membuyarkan lamunannya.
"Iya, Sayang?"
"Main lagi!" ucap bocah itu sambil mengulurkan kedua tangannya.
Evelyn terkekeh pelan, lalu bangkit menghampiri putranya.
Baru beberapa langkah, ponsel di dalam tasnya tiba-tiba berdering.
Tring...
Tring...
Evelyn menghentikan langkahnya sejenak. Ia mengambil ponsel itu, lalu menatap nama yang tertera di layar..
Arlos.
Alisnya sedikit bertaut. Ia segera menggeser tombol hijau.
"Halo, Arlos."
["Evan."] Suara Arlos terdengar serius dari seberang. ["Sudah tiga tahun. Sekarang perusahaan benar-benar membutuhkanmu."]
"Ada apa? Apa terjadi sesuatu?"
["Tiga bulan lagi pemerintah akan membuka tender pembangunan Kawasan Bisnis Internasional Emerald. Proyek itu hanya dibuka sekali dalam beberapa tahun. Nilainya sangat besar, dan siapa pun yang memenangkannya akan menguasai pasar selama bertahun-tahun."]
Evelyn terdiam.
["Harley Group tidak boleh kehilangan kesempatan ini. Kami membutuhkanmu kembali."]
Evelyn menggenggam ponselnya sedikit lebih erat. Tatapannya perlahan beralih kepada Axel yang masih asyik bermain gelembung sabun beberapa meter di depannya.
Untuk pertama kalinya ia benar-benar dihadapkan pada pilihan yang selama ini selalu berusaha ia hindari.
Pulang... Atau tetap bersembunyi.
Tatapan Evelyn perlahan mengedar. Ia sebenarnya tidak pernah berniat mengingkari janji.
Sejak awal Evelyn memang akan pulang sesuai perjanjian waktu yang ia sepakati. Hanya saja... Kini ada satu alasan yang membuat langkahnya terasa jauh lebih berat.
Axel.
Anaknya semakin besar. Dan wajah bocah itu semakin hari semakin menyerupai Damian.
Tapi Evelyn sadar, ia tidak bisa selalu menghindar seperti ini. Ia harus kembali.. Kembali menjadi jati dirinya yang dulu, sebagai Evan.
"Kapan aku harus pulang?" tanya Evelyn pelan.
["Lusa."] jelas Arlos. ["Pesawat sudah kami siapkan."]
Evelyn mengembuskan napas panjang. "Baik. Aku akan pulang."
Mendengar jawaban itu, Arlos tersenyum lega. ["Kami semua menunggumu di rumah."]
Tut. Sambungan telepon pun terputus.
Evelyn menatap layar ponselnya beberapa saat sebelum akhirnya mengangkat pandangan ke arah Axel.
"Axel..." panggilnya lembut.
Bocah itu langsung menoleh.
"Ya, Mommy?"
"Kita akan pulang."
"Pulang?" ulang Axel polos.
"Iya. Ke rumah Opa dan Oma."
Seketika senyum lebar menghiasi wajah bocah kecil itu.
"Yeay...!" serunya sambil bertepuk tangan. "Acel mau beltemu Daddy?!"
DEG. Senyum di wajah Evelyn seketika memudar. Untuk beberapa saat, ia hanya terdiam menatap putranya.
Pertanyaan itu sudah berkali-kali dilontarkan Axel sejak usianya mulai mengerti bahwa teman-temannya memiliki seorang ayah.
Evelyn berjongkok di hadapan putranya, lalu mengusap lembut pipi chubby bocah itu.
"Belum, Sayang," jawabnya dengan senyum yang dipaksakan.
"Kenapa?" tanya Axel polos. "Daddy macih malah? Daddy tidak mau beltemu Acel?"
Tenggorokan Evelyn terasa tercekat. Ia segera menarik Axel ke dalam pelukannya.
"Suatu hari nanti..." bisiknya lirih. "Kalau memang takdir mengizinkan, Mommy pasti akan mempertemukan Axel dengan Daddy."
Axel mengangguk kecil, meski belum benar-benar mengerti.
Evelyn memejamkan matanya sesaat. Tanpa ia sadari... Hari itu ternyata sudah semakin dekat.
Hari ketika ia akan kembali bertemu dengan pria yang telah menjadi ayah dari darah dagingnya.
Namun kali ini Evelyn tidak akan kembali sebagai sekretaris setia yang selalu berada di sisi Damian Foster.
Ia akan kembali sebagai Evan Harley. Pewaris Harley Group, sekaligus rival terbesar Foster Group.
••
••
Dua hari berlalu dengan cepat.
Pagi itu, apartemen yang selama tiga tahun menjadi tempat tinggal Evelyn dipenuhi koper-koper yang telah tersusun rapi.
Dengan teliti, ia memastikan tidak ada satu pun barang yang tertinggal.
Pakaian.
Dokumen.
Ijazah.
Hingga berbagai perlengkapan milik Axel.
Setelah semuanya selesai, Evelyn menutup koper terakhirnya. Tatapannya kemudian beralih ke pantulan dirinya di cermin.
Rambut panjang hitamnya itu kini menjuntai hingga melewati bahunya.
Selama tiga tahun terakhir...
Ia akhirnya bisa hidup sebagai dirinya sendiri.
Sebagai Evelyn.
Namun kepulangannya ke Indonesia membuatnya harus kembali mengenakan identitas yang telah lama ia tinggalkan.
Evan Harley.
Evelyn meraih kotak berwarna hitam yang terletak di atas meja rias.
Perlahan ia membukanya. Di dalamnya tersimpan sebuah wig rambut pendek berwarna hitam, dengan model yang sama persis seperti potongan rambut Evan tiga tahun lalu.
Ia mengusap lembut helaian rambut sintetis itu menggunakan ujung jarinya.
Sesaat...
Ia sempat tersenyum tipis.
"Aku harap... ini benar-benar terakhir kalinya," gumamnya lirih.
Namun ia tidak langsung memakainya. Dengan hati-hati, Evelyn memasukkan wig tersebut ke dalam koper bersama dengan kacamata yang selalu ia gunakan sebagai pelengkap identitasnya sebagai Evan, lalu menutupnya kembali.
Mulai hari ini dua identitas itu akan kembali berjalan berdampingan.
Evelyn dan Evan Harley.
Mulai hari ini dua identitas itu akan kembali berjalan berdampingan.
Evelyn dan Evan Harley.
"Mommy!"
Suara Axel memecah lamunannya.
Evelyn menoleh. Bocah kecil itu sedang menyeret koper mungil berwarna biru dengan susah payah menuju ruang tamu.
"Acel juga bantu," ucapnya bangga.
Melihat tingkah putranya, Evelyn terkekeh pelan. Ia segera menghampiri Axel, lalu berjongkok di hadapannya.
"Berat, Sayang."
"Gak belat," sahut Axel cepat sambil menggeleng. "Acel kan cowok."
Evelyn tersenyum gemas.
"Iya, Axel memang anak laki-laki yang hebat."
Mendengar pujian itu, dada kecil Axel semakin membusung. Ia kembali menarik koper mungilnya hingga berhenti tepat di samping koper milik Evelyn.
"Sudah siap pulang?" tanya Evelyn sambil mengusap lembut rambut putranya.
Axel mengangguk antusias.
"Siap!"
"Acel mau ketemu Opa... Oma... Om Alos."
Evelyn tersenyum mendengar Axel yang masih kesulitan mengucapkan nama Arlos.
"Iya. Sebentar lagi kita akan bertemu mereka."
"Acel juga mau cali Daddy!" celetuk Axel begitu bersemangat.
Tak lama kemudian, suara bel apartemen berbunyi.
Ting. Sebuah pesan dari aplikasi masuk kedalam ponselnya.
"Sepertinya mobil sudah datang." Evelyn segera mengambil benda pipih yang ada didalam saku mantelnya tersebut.
Begitu ia membaca pesan tersebut, Evelyn segera meraih koper terbesar, sementara Axel menggenggam koper kecilnya sendiri.
"Yuk. Kita pulang."
"Iya, Mommy!"
Dengan langkah perlahan, ibu dan anak itu berjalan meninggalkan apartemen yang selama tiga tahun menjadi saksi kehidupan baru mereka di London.
•
•
❤️
gemess sama Axel
tapi jadi Evelyn juga pasti tidak akan mudah, dibawah tekanan keluarga,.dia harus melakukan semuanya