Dong Fang, seorang anak muda yang penuh penyesalan, memulai perjalanannya dengan tujuan yang buruk: membalaskan dendam. Didalam perjalanannya membalaskan dendam, dirinya belajar mengenai banyak hal, termasuk kebijaksanaan. Tanpa dia sadari, perjalanannya untuk bertambah kuat, menuntunnya kejalan Keabadian.
Namun, di tengah perjalanan yang panjang dan penuh rintangan, Dong Fang menyadari bahwa perjuangan sejati bukan hanya tentang mengalahkan musuh-musuhnya di medan perang, melainkan juga tentang mengalahkan diri sendiri dan menemukan kedamaian dalam hati.
Dalam novel ini, Dong Fang belajar tentang nilai-nilai kebijaksanaan dan kesabaran, dan tentang pentingnya menghargai semua makhluk hidup, bahkan musuh-musuhnya sekalipun.
Melalui perjalanan Dong Fang, novel ini mengajarkan kita bahwa kehidupan adalah perjalanan yang panjang dan penuh warna, dengan tantangan dan kegagalan yang tak terhindarkan. Namun, dengan tekad yang kuat, kesabaran, dan kerja keras, kita dapat menghadapi semua rintangan dan mencapai tujuan kita.
Perjalanan Pendekar Pedang Abadi juga mengajarkan kita tentang keindahan dan kekuatan alam semesta, dan betapa kita harus merenung dan belajar dari alam ini. Dong Fang menyadari bahwa setiap benda hidup di dunia ini memiliki perannya masing-masing, dan keberadaannya sangat penting untuk menjaga keseimbangan alam.
Dalam keseluruhan novel, kita melihat bahwa keberanian, tekad, kebijaksanaan, dan kesabaran adalah kunci untuk mencapai keabadian sejati. Perjalanan Pendekar Pedang Abadi mengingatkan kita bahwa hidup adalah perjalanan yang tak terbatas, dan meskipun kita mungkin tak pernah mencapai tujuan kita, prosesnya lah yang memberikan arti sejati dalam hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Taufik Ichsan Aditya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch. 26 - Pil Bulan dan Matahari
Mendengar harga yang diucapkan oleh pedagang sepuh itu, tentu saja Dong Fang tak percaya, menurutnya, harga pil itu terlalu tidak masuk akal.
"Apa yang membuat harganya sangat mahal? Kulihat, tidak ada yang spesial dari sini selain bau obatnya yang pekat." tanya Dong Fang heran.
Pedagang sepuh itu tertawa kencang mendengar pertanyaan Dong Fang, kemudian dia menjelaskan keunggulan pilnya, "Nama pil ini, Pil Bulan dan Matahari, Banyak hal yang membuat pil-pil ini menjadi spesial, mulai dari tingkat pil ini, khasiatnya, sejarah dibelakangnya, harga dari bahan-bahannya, jumlah percobaan gagal untuk membuat pil ini dan juga pil ini termasuk pil dengan tingkat kemurnian sempurna. Sehingga wajar saja jika aku menjualnya dalam harga yang mahal."
Pedagang sepuh itu berhenti sebentar, kemudian menambahkan, "Khasiat utamanya adalah untuk mempermudah seseorang Pendekar Inti tingkat Puncak, menjadi Pendekar Penguasa. Tapi, selain itu, pil ini bisa menyembuhkan segala macam jenis luka dalam, racun dan luka separah apapun itu. Selama seseorang memiliki nafas, meskipun nafas terakhirnya, pil ini akan menyembuhkan mereka. Pil ini juga bisa menambah sekitar seratus tenaga dalam."
Dong Fang yang mendengarnya, sedikit tak percaya dengan khasiat pil itu, "Mengapa senior berdagang pil seperti ini? Jika saja senior dapat membuat pil sehebat ini, bukankah seharusnya nama senior sudah sangat terkenal sejak lama?"
Pedagang itu menghela nafas panjang, "Kau pikir semua orang ingin populer? Terkenal? Kaya? Aku tak ingin menjadi seorang seperti itu, aku berlatih hingga sekuat ini, hanya karena ingin menikmati hidup tenang dan melakukan sesuatu yang ingin aku lakukan. Berjualan adalah hobiku, meskipun tak menghasilkan banyak uang, aku mendapatkan kebahagiaan didalamnya."
Suasana antara Dong Fang dan pedagang itu menjadi hening, tak ada suara didalamnya, yang tersisa hanya suara orang-orang yang berjalan dan berbicara dikota itu.
Pedagang sepuh itu menatap mata Dong Fang tajam, kemudian berkata, "Apa kau mendapat kebahagiaan di jalan pembalasan dendammu itu? Kulihat, tersimpan dendam yang teramat besar dimatamu."
Dong Fang memikirkan perkataan pria sepuh itu, dia mulai menyadari jika hidupnya—setelah dendam itu muncul didalam hatinya, tak ada satupun hari yang terasa ringan dan tanpa beban.
Melihat pemuda didepannya tengah berpikir keras, pedagang itu memecah suasana, "Hei kau, anak muda! Tak perlu memikirkan lebih jauh perkataanku. Yang terpenting sekarang adalah pil milikku. Bagaimana? Apa kau tertarik?"
Dong Fang yang telah berhenti berpikir tentang ucapan pedagang sepuh, dia kini menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "Kurasa, aku tidak akan bisa membelinya." dirinya menggeleng.
Pedagang sepuh itu tertawa kecil, kemudian membalas pernyataan Dong Fang, "Aku tahu. Kau bisa membayar sisanya saat kau sudah menjadi kaya. Sekarang, kau boleh membayar pil ini seharga sepuluh ribu keping emas." pedagang itu tersenyum lebar.
Dong Fang terlihat mulai tak percaya dengan pil dari pedagang dihadapannya. Apakah mungkin seorang pedagang memberikan barang dengan harga dua ratus ribu keping emas menjadi sepuluh ribu keping emas? Terkecuali jika memang pil itu berharga sepuluh ribu keping emas.
Dong Fang terdiam, dirinya berpikir beberapa saat. Kemudian menghela nafas panjang dan melihat isi Pihebaonya.
"Aku tidak yakin... Tapi ini semua koin emas yang aku miliki." Dong Fang mengeluarkan sebuah kantung kulit dengan ukuran yang lumayan besar yang ada didalam Pihebaonya.
Pedagang sepuh itu menimbang-nimbang isi dari dalam kantung itu dengan matanya yang kini menyipit, kemudian mengambil kantung kulit itu dan menimbang-nimbangnya. "Kurasa nilainya tak jauh dari sepuluh ribu keping emas, mungkin sekitar delapan ribu." pedagang sepuh itu mengangguk, "Aku tidak keberatan, kau bisa membayarnya nanti saat kau sudah kaya." pedagang itu memberikan Dong Fang botol Giok berisi dua pil dan juga sebuah Giok bertuliskan nama pedagang itu dan alamatnya, "Saat kau sudah kaya, kau bisa mencariku disini."
Dong Fang melihat nama di Giok itu, Liu Xiu, Gunung Kematian. Melihat lokasi pedagang sepuh itu tinggal, Dong Fang terlihat tak percaya. Gunung Kematian adalah sebuah gunung yang sebelumnya memiliki nama Gunung Kehidupan karena memiliki hutan luas dan subur dengan banyak satwa didalamnya, namun setelah perang di masa lalu terjadi, gunung itu menjadi Medan pertempuran yang membuat ratusan ribu orang mati, sehingga mayat-mayat berserakan sejauh mata memandang.
"Senior, mengapa senior tinggal di tempat seperti ini?" tanya Dong Fang heran, dia tak bisa menahan rasa penasarannya.
"Kukira kau orang yang tak banyak bertanya, tapi ternyata mulutmu bukan tipe mulut seperti itu." pedagang itu menggeleng, kemudian menjawab, "Aku sebenarnya baru pindah ketempat itu beberapa bulan lalu untuk hidup sederhana sambil menikmati hidup. Karena tak ada yang tinggal disana, jadi aku memutuskan untuk tinggal disana."
Dong Fang mengangguk, memang beberapa orang suka terhadap lingkungan yang jauh dari kehidupan orang-orang.
"Senior, selain hal ini, boleh aku minta satu hal?" tanya Dong Fang, meskipun ekspresinya datar, namun Liu Xiu bisa melihat keseriusan dan rasa berharap dari tatapan Dong Fang.
"Apa yang kau minta? Aku tak akan menyerahkan padamu satu-satunya karya terbaikku." Liu Xiu menyimpan botol Giok yang berisi Pil Bulan dan Matahari kedalam pakaiannya.
Melihat itu, Dong Fang terbatuk pelan. Kemudian menggeleng, "Aku ingin diajari untuk menjadi alkemis."