NovelToon NovelToon
Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Nana Si Pelindung Tuan Terbuang

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: Iris Kartika

Nana bukan siapa-siapa — seorang gadis yatim piatu yang tumbuh besar di jalanan Surabaya, mencuri untuk bertahan hidup. Sampai suatu hari, hidupnya berubah ketika dia masuk ke dunia keluarga Sie, salah satu dinasti konglomerat paling berkuasa di Indonesia.

Di sana, dia bertemu Steven Sie — putra ketiga yang dibuang keluarganya sendiri, dingin dan penuh misteri. Semua orang bilang dia pengkhianat. Semua orang ingin dia hancur.

Tapi Nana tahu yang sebenarnya.

Ketika Steven dikorbankan demi kepentingan yang lebih besar — dihancurkan di mata publik, dinyatakan bersalah atas kejahatan yang tidak pernah dia lakukan — hanya Nana yang berdiri melawannya. Sendirian. Tanpa bukti. Tanpa dukungan. Hanya dengan keyakinan bahwa cinta sejati layak diperjuangkan sampai mati.

Perjalanannya membawanya dari ruang sidang Jakarta hingga ke lorong-lorong gelap Singapura, dari pengkhianatan keluarga hingga pengorbanan yang tak terbayangkan. Di sepanjang jalan, ada Daniel Tjang — pengusaha paling berbahaya dan paling mempesona di Jakarta — yang diam-diam mempertaruhkan segalanya untuknya.

*Satu wanita. Dua pria. Dan satu pertanyaan yang mengubah segalanya:*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iris Kartika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 3

Bab 3

Nana menyimpan kalimat itu di kepala sepanjang malam.

Ada nama yang lebih baik tidak kau panggil terlalu keras.

Di jalanan, nama orang dipakai untuk memanggil, menipu, atau mengancam. Di Rumah Besar Sie, nama bisa membuat lorong tiba-tiba sepi. Nana baru tidur menjelang subuh di kamar kecil paviliun belakang, dengan pintu terkunci dua kali dan kantong kain diletakkan di bawah bantal.

Paginya, Stella datang membawa sandal baru.

"Pakai ini," katanya sambil meletakkan sepasang sandal rumah berwarna krem di depan pintu. "Sandalmu yang kemarin hampir putus. Kalau dipakai di marmer, kau bisa terpeleset."

Nana menatap sandal itu. Bersih, empuk, tidak ada bekas kaki orang lain.

"Aku harus bayar?"

Stella berkedip, lalu tertawa kecil. "Kau pikir aku toko?"

"Orang biasanya tidak memberi gratis."

"Di sini juga tidak gratis." Stella mengangkat satu jari. "Bayarnya dengan patuh ikut tur rumah pagi ini."

Nana tidak langsung menyentuh sandal itu.

Stella berjongkok, mendorong sandal itu sedikit lebih dekat. "Nana, kalau aku mau menjebakmu, semalam aku sudah bisa melakukannya. Rumah ini punya lebih banyak kunci daripada pasar punya tikungan."

Nada bicaranya ringan, tapi Nana tahu itu benar.

Ia memakai sandal itu.

Ukuran sandalnya pas.

Stella tersenyum seolah baru menang sesuatu. "Nah. Ayo."

Tur rumah versi Stella ternyata bukan tur untuk memamerkan barang mahal. Ia menunjukkan dapur besar tempat kepala pelayan mengatur jadwal makan, ruang laundry yang tidak boleh dimasuki tanpa izin, pintu samping yang dipakai staf, dan lorong kecil menuju taman belakang.

"Kalau lapar, jangan ambil sendiri dari kulkas utama," kata Stella. "Bilang ke kepala pelayan. Kalau kau ambil sendiri, orang bisa sengaja bilang barang hilang."

"Orang bisa begitu?"

Stella menoleh. "Kau sudah hidup di jalanan. Jangan pura-pura kaget."

Nana diam.

Benar juga.

Di dapur, kepala pelayan memberi Nana seragam sederhana warna abu-abu muda. Perempuan itu tidak banyak bicara, tapi matanya teliti.

"Baju lamamu akan dicuci," katanya.

Nana langsung memegang kantong kainnya. "Barangku tidak ikut dicuci."

Kepala pelayan menatap Stella.

Stella mengangguk cepat. "Biarkan kantongnya. Dia belum percaya siapa pun."

"Kalau begitu jangan sampai kantong itu masuk ruang makan utama," jawab kepala pelayan. "Pak William tidak suka barang lusuh di meja."

Nana hampir menjawab, tapi Stella lebih dulu menarik lengannya.

"Aturan pertama," bisik Stella ketika mereka keluar dapur. "Pilih perangmu. Jangan semua orang kau lawan di hari pertama."

"Aku tidak takut."

"Aku tahu. Itu masalahnya."

Nana menatapnya.

Stella berjalan mundur beberapa langkah sambil tersenyum. "Kau seperti pisau kecil. Tajam, tapi kalau dipakai menusuk semua hal, cepat patah."

"Cici selalu bicara seperti itu?"

"Seperti apa?"

"Seperti orang yang sedang bercanda, tapi sebenarnya memperingatkan."

Langkah Stella berhenti sebentar. Senyumnya masih ada, tetapi matanya berubah.

"Mungkin karena di rumah ini terlalu banyak peringatan yang harus terdengar seperti candaan."

Setelah itu ia membawa Nana ke ruang makan kecil, bukan ruang makan panjang yang kemarin Nana lihat. Di sana sudah ada bubur ayam, telur rebus, dan teh hangat. Stella mengajari Nana cara duduk ketika makan bersama keluarga, kapan harus menunggu William mengambil sumpit lebih dulu, dan kenapa tidak boleh menatap terlalu lama ketika orang-orang dewasa bicara soal bisnis.

"Kalau Cici Tamara bertanya, jawab jujur. Kalau Mama Lusia bertanya, jawab pendek. Kalau Papa diam, jangan isi diamnya."

"Kalau Steven Sie?"

Sendok Stella berhenti di atas mangkuk.

Nana melihatnya.

"Kau penasaran sekali."

"Aku hanya bertanya aturan."

Stella meletakkan sendoknya. "Kalau bertemu Koko Steven, beri jalan. Kalau dia bicara, dengarkan. Kalau dia tidak bicara, jangan paksa."

"Dia selalu begitu?"

"Dulu tidak."

Kata itu keluar terlalu pelan.

Sebelum Nana sempat bertanya, seorang pelayan masuk membawa kotak kayu kecil.

"Nona Stella, barang dari ruang musik sudah ditemukan."

Wajah Stella langsung berubah.

Ia menerima kotak itu dengan kedua tangan. Gerakannya hati-hati, seolah isi kotak bisa pecah hanya karena napas. Di tutupnya ada ukiran kecil berbentuk hujan jatuh di atas jendela.

"Terima kasih," ucap Stella.

Setelah pelayan pergi, Stella membuka kotak itu sedikit. Dari tempat Nana duduk, ia hanya melihat selembar foto tua dan sudut kartu nama dengan tulisan Patrick Pang.

Stella cepat-cepat menutupnya.

"Siapa Patrick?" tanya Nana.

Untuk pertama kalinya sejak mereka bertemu, Stella tidak langsung menjawab dengan ringan.

Jari-jarinya menekan tutup kotak. Buku-buku jarinya memucat.

"Seseorang yang pernah membuat rumah ini terdengar lebih ramai," katanya.

"Dia pergi?"

Stella menatap jendela. Di luar, taman belakang basah oleh sisa hujan malam. Daun-daun mengilap. Semua terlihat segar, kecuali wajah Stella.

"Ada orang yang pergi, ada yang dibuat pergi," ucapnya.

Nana merasakan bulu kuduknya naik.

Stella menarik napas, lalu tiba-tiba tersenyum lagi. Senyum itu terlalu cepat kembali, seperti pintu yang ditutup sebelum orang sempat melihat isi ruangan.

"Sudah. Sekarang aturan berikutnya. Jangan pernah masuk ruang kerja Papa. Jangan naik ke lantai tiga tanpa aku. Jangan menyentuh laci di meja koridor timur. Dan kalau ada orang bertanya siapa yang membawamu ke sini, jawab saja aku."

"Kenapa?"

"Karena lebih mudah menyalahkan aku daripada menyalahkanmu."

Nana memandangnya lama.

Orang seperti Stella seharusnya tidak perlu melindungi orang seperti dirinya. Namun sejak kemarin, gadis itu terus berdiri di depannya, bukan di belakang.

"Cici Stella," panggil Nana pelan.

"Hmm?"

"Kenapa mereka memanggilmu Xiao Liu?"

Senyum Stella kali ini lebih sungguh. "Karena aku anak keenam. Dulu, teman-teman dekat juga memanggilku begitu."

"Aku boleh?"

Stella terdiam.

Nana langsung menyesal. "Tidak usah kalau tidak boleh."

"Boleh," jawab Stella cepat. Matanya sedikit merah, tapi ia tetap tersenyum. "Tapi jangan di depan Mama Lusia. Nanti dia bilang aku terlalu mudah dekat dengan orang."

"Xiao Liu," coba Nana.

Stella menunduk, menggigit bibirnya sebentar, lalu tertawa kecil. Suaranya tidak secerah tadi, tetapi lebih nyata.

Mereka keluar dari ruang makan kecil menuju taman belakang. Untuk pertama kalinya sejak masuk Rumah Besar Sie, Nana tidak menghitung pintu keluar.

Ia menghitung langkah Stella di sampingnya.

Di dekat kolam, Stella berhenti.

"Nana."

"Ya?"

Stella menatap pantulan rumah besar di air. Dari sana, bangunan itu terlihat indah, hampir seperti tidak punya retak.

"Kau boleh percaya padaku pelan-pelan," katanya. "Tapi jangan percaya rumah ini terlalu cepat."

Nana mengikuti pandangannya.

Di permukaan air, bayangan jendela lantai tiga tampak gelap meski matahari sudah naik.

Stella menurunkan suaranya.

"Di rumah ini, tidak semua orang seperti yang terlihat."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!