Penyesalan selalu ada di belakang, itulah yang di rasakan pria yang sekarang hidupnya berantakan.
Terlebih setelah dia melakukan kesalahan besar dalam hidupnya, “sudah ku katakan jangan pernah berani meninggikan suaramu padaku!” Bentak Nanang.
“Terus aku harus apa, selalu diam melihatmu menyakitiku, kamu tidak menafkahi ku aku diam, tapi berselingkuh kamu tak tau diri mas!” Jawab Sari marah.
Plak...
Sebuah tamparan di berikan pria itu, sedang sari merasa sudah tak bisa tahan lagi.
“Ceraikan aku mas, aku tak mau hidup dengan pria menyebalkan seperti mu!!” kata satinyang marah.
Apa yang di pilih Sari benar?
Atau keputusan ininakan di sesali keduanya?
Atau pilihan ini baik untuk mereka berdua?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meidina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
melakukan yang ku suka
Sari mulai mencuci, tapi dia heran melihat pakaian Nanang yang biasanya selalu tergantung di kamar mandi.
kini sudah berada di mesin cuci, satu pun melihatnya, ternyata ada bekas cairan.
dia pun mencium bekas itu, dan dia tersenyum bodoh, "ah akhirnya... suamiku tak tahan dengan godaan wanita," gumamnya lirih.
dia pun langsung mencuci semuanya dan memilih mengerjakan pesanan risol yang cukup banyak.
dia pun merasa aman karena hari ini dia terbebas dari siksaan suaminya lagi, karena besok dia ingin ikut senam untuk kesenangannya sendiri.
dia sudah lelah terkurung dan tersakiti secara terus menerus oleh suaminya yang sangat kejam itu.
pukul sepuluh malam akhirnya selesai, dia langsung memutuskan mandi dan berganti baju piyama untuk segera tidur.
tenyata perkiraan dari sari benar, suaminya susah tertidur dengan pulas.
"baiklah sekarang ayo tidur dan aku lupa belum minum susu lagi," katanya yang langsung minum ramuan untuk menambah berat badan.
kemudian sari memilih tidur di kabar tamu, ya setidaknya malam ini dia ingin bebas dari suaminya,dan tak lupa dia mengenakan pemb*l*t agar jika Nanang ingin marah.
dia tak bisa melampiaskan pada satu, karena dia mengira jika istrinya itu sedang menstruasi.
pukul tiga pagi, Sari terbangun karena alarm ponselnya, dan sebuah pesan dari Fendi mengingatkan untuk pesanan risol dan juga nasi bakarnya.
Sari pun membalas blackberry messenger itu segera dan baru menuju ke dapur.
dia pun terlihat begitu cekatan meski sendirian,karena sari sudah tak ingin menodongkan tangannya pada Nanang.
jika di beri ya di terima jika tidak dia akan diam,karena satu susah mulai muak dan kini dia harus mulai mengambil sikap.
perubahan pada diri Sari, bukan perkara mudah, jika bukan karena ucapan Adelia dan Fendi.
mungkin dia akan terus menerima apa yang di lakukan Nanang padanya.
"kita meski wanita Sari tidak boleh lemah, terlebih kamu yang merasa di sakiti, kamu harus lawan jika dia memaksamu tolak jika di perlukan, karena rumah tangga itu bukan saling menyakiti, tapi saling mengasihi, dia terlalu sadis padamu, jika dia pria yang bertanggung jawab dengan baik, tak mungkin istrinya ini di biarkan cari uang seperti ini, yang benar itu di cukupi, apa kamu pernah di nafkahi," tanya Adelia
"seminggu tujuh ratus ribu mbak, berati kalau sebulan dua juta delapan ratus," jawab Sari
"akeh Cok, tapi apa yang kamu terima, ini..." kata Adelia menyingsingkan lengan Sari.
Fendi dan Bu Sumi kaget, pasalnya di tangan Sari terdapat luka yang sangat parah, bahkan juga ada yang membekas.
"innalilahi wa inna ilaihi Raji'un," kaget Bu Sumi yang melihat tangan Sari.
wanita itu tau bagaimana rasanya semua luka itu, "sakit nduk?" tanya Bu Sumi.
"iya Bu, tapi lama-lama juga akan kebal kok, ini luka seminggu tang lalu," kata sari tersenyum.
"ya Tuhan pria macam apa sih demit itu, kok ada pria biadab begitu, dan kamu hanya mengangguk mengiyakan di siksa seperti ini," kata Adelia tak percaya.
Fendi pun makin kasihan, rasa ingin menolong sari bebas makin besar, dan dia tak bisa diam lagi.
"cukup sari, mulai sekarang jika dia melakukan hal yang menyakitimu, telpon aku atau Adelia, kami akan menolong mu dan mulai sekarang tak usah pedulikan dia, kamu bisa mati jika terus seperti ini," kata Fendi tak terima.
"ucapan apa itu Fendi, Sari masih istri Nanang," kata Bu Sumi.
"tapi ibu bisa lihat, kenapa dulu ibu membujukku agar tak membawa Sari lari, seandainya dulu aku membawanya pergi, dia tak akan seperti ini dan kami mungkin bisa bersama," kata Fendi.
"mas Fendi, cukup mas, aku masih istri orang tak baik bilang seperti itu, aku akan bertahan sekuat ku, jika memang sudah tak bisa lagi, aku akan menghubungi kalian, dan terima kasih," kata Sari.
"baiklah, mulai sekarang minum susu ini dan obat hormon ini, buat dia menyesal telah menyia-nyiakan wanita seperti mu, dan mulai hidup baru agar kamu tetap bisa bahagia," kata Adelia meyakinkan sari.
dia tak mengira ada banyak orang yang menyayanginya, jadi dia tak perlu takut.
semua risoles ayam seratus selesai, risoles mayo seratus selesai dan nasi bakar seratus juga tinggal mematangkan, Sari pun hari ini benar-benar semangat, terlebih dia seperti punya dunia baru.
Nanang bangun karena kebelet pipis, dan dia melihat istrinya sedang sibuk di dapur.
dia pun memeluk Sari, tapi Nanang kaget saat merasakan di bagian intim istrinya.
"kamu bocor lagi?" tanya Nanang kesal dengan sedikit mendorong tubuh Sari.
"iya mas, maaf ya, hari ini kita istirahat," kata Sari memohon.
"tidak mau, gunakan yang lain," perintah Nanang.
"maaf, aku juga lagi sariawan, jadi tidak bisa," kata sari yang mendapatkan sebuah tamparan tapi kali ini tak sekuat biasanya.
Nanang pun langsung pergi setelah dari kamar mandi dan lanjut tidur.