NovelToon NovelToon
KOBENG

KOBENG

Status: tamat
Genre:Horor / Mata Batin / Dunia Lain / Roh Supernatural / Anak Lelaki/Pria Miskin / Tamat
Popularitas:1M
Nilai: 4.9
Nama Author: bung Kus

TERBIT CETAK
NOVEL BISA DIDAPATKAN DI GRAMEDIA

Laki-laki biasa yang ingin hidup biasa-biasa saja, harus mengalami sederet kejadian di luar nalar. Saat isterinya tengah hamil tua, tiba-tiba saja dia merasa tinggal di tempat yang asing. Tempat tinggalnya bernama Desa Ebuh. Anehnya, tak ada satu pun warga desa yang dia kenali.

KOBENG adalah dialeg dari wilayah tempat tinggal penulis. Artinya apa? Akan kalian temukan jika membaca kisah ini sampai tuntas.

Baca juga kisah horor misteri
1. Rumah di tengah sawah
2. Rumah Tusuk Sate
3. Rumah Tepi Sungai
karya bung Kus

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bung Kus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pitulikur

Warna warna pastel yang awalnya terlihat buram, lama kelamaan nampak jelas di hadapan Purbo. Tangannya tengah menggenggam palet lukis berwarna putih bersih. Purbo, kini tengah duduk bersila di lantai sebelah ranjang tidurnya. Sementara Dini tiduran sambil memandangi wajah suaminya itu.

Purbo kebingungan. Hal terakhir yang diingat olehnya adalah sesaat setelah dia meminum wedang parem buatan Mak Nah, kepalanya terasa pusing. Dia tidak ingat kejadian setelah itu. Namun kini, tiba tiba saja dia sedang memegang palet lukis di tangan kiri dan sebuah kuas kecil di tangan kanannya.

"Mas? Kok diam saja? Katanya mau melukis?" tanya Dini memecah keheningan.

Purbo menatap kanvas di hadapannya. Dia bingung hendak menggoreskan cat warna apa di media lukis putih bersih itu. Seperti hidupnya saat ini, hanya ada warna putih polos di ingatannya. Seolah dirinya tengah didikte oleh Dini agar melupakan masa lalu dan mulai menggambar masa depan dengan warna warna yang baru.

Sudut hati Purbo menolak untuk melupakan. Masa lalu tak boleh dibiarkan lenyap jika Purbo berniat untuk melangkah maju ke masa depan. Kalaupun masa lalunya begitu buruk hingga dia sendiri yang meminta untuk lupa, maka kini dia berusaha untuk mengingatnya kembali. Baginya takkan ada masa depan tanpa masa lalu. Sakit, getir, pahit kehidupan yang telah dijalani merupakan pelajaran berharga untuk menjadi manusia yang lebih baik.

"Hmmm, aku mau ke teras depan dulu ya Yang. Mau cari udara segar," Purbo menghela nafas.

"Kenapa Mas? Nggak dapat inspirasi untuk melukis?" tanya Dini heran.

"Aku nggak tahu. Aku nggak bisa Yang. Entahlah, aku merasa aku bukanlah seorang pelukis," jawab Purbo ragu.

"Kamu seorang pelukis handal Mas. Kalaupun kamu lupa, aku yakin dengan sering menggoreskan cat di kanvas, bakatmu yang dulu akan kembali," ucap Dini meyakinkan.

"Aku nggak bisa Din. Aku merasa asing dengan semua alat lukis ini. Aku tak tahu harus menggambar apa. Aku lupa, aku bingung," Purbo berdiri, meletakkan kuas dan palet lukis di lantai kamar.

"Kamu nggak pa pa kan sendirian sebentar di kamar? Atau mau kupanggilkan Mak Nah?" tanya Purbo. Dini tersenyum dan menggeleng pelan.

Purbo membelai lembut rambut Dini sebentar, kemudian melangkah pergi. Saat dia melewati pintu kamar, Dini terdengar memanggil.

"Mas?" panggil Dini kalem.

"Iya?" Purbo berhenti dan menoleh.

"Lebih mudah menggambar pada kanvas putih kosong, daripada harus memperbaiki gambar yang sudah berantakan. Jangan terus terjebak dengan ingatan masa lalumu yang sudah hilang. Lukis saja gambar baru yang indah bersama diriku," ucap Dini sambil tersenyum penuh arti.

"Ah, i iya sayang," Purbo tergagap dan segera berjalan pergi.

Sampai di teras depan, Purbo duduk memandangi halaman yang nampak hijau penuh tanaman perdu. Lubang lubang tanah yang kemarin sempat dia gali kini benar benar sudah hilang tak berbekas.

Purbo teringat dengan foto yang dia temukan di kotak kayu yang terkubur dalam tanah. Purbo bergegas masuk kembali ke dalam rumah. Sedikit terburu buru, dia membuka laci meja ruang tamu. Memastikan foto yang dia simpan masih aman di tempatnya.

Di bawah tumpukan koran lawas, tersimpan rapi selembar foto dan sebuah liontin bergambar wanita asing yang entah bagaimana membuat hati Purbo merasa rindu. Purbo kembali menutup laci meja ruang tamu saat Mak Nah datang membawa satu toples besar kripik singkong.

"Tuan sedang apa?" tanya Mak Nah.

"Ah nggak Mak. Habis baca koran," jawab Purbo beralasan.

"Camilannya Tuan," Mak Nah meletakkan toples berisi kripik singkong di atas meja ruang tamu.

"Mak, bisa temenin Dini sebentar?" tanya Purbo saat Mak Nah hendak pergi ke dapur.

"Tuan mau kemana? Sebentar lagi kan sore," tukas Mak Nah mengingatkan.

"Aku mau cari angin. Butuh inspirasi buat melukis Mak," sahut Purbo.

"Baiklah, tapi tolong segera kembali Tuan."

"Kenapa?" Purbo mengernyitkan dahi.

"Khawatir nanti tiba tiba hujan," jawab Mak Nah.

"Ohhh, baiklah," Purbo mengangguk.

Pikiran suntuk Purbo membuatnya ingin berjalan jalan sebentar. Berdiam diri di rumah, memaksakan tangan untuk melukis bukanlah pilihan yang tepat kala hatinya tengah gundah. Apalagi Purbo merasa tidak yakin kalau dirinya benar benar bisa melukis.

Langkah kaki Purbo terhenti di warung kopi tengah pasar desa. Warung yang mempertemukan dirinya dengan si Ceking. Warung yang membuatnya merasakan kopi pahit hingga pingsan. Purbo merogoh saku celananya dan menemukan selembar uang disana.

Entah kenapa, Purbo terdorong untuk mengunjungi warung kopi itu lagi. Dia duduk di kursi panjang menyaksikan Tomejo alias Tomi meracik wedang jahe untuk pelanggannya. Saat melihat Purbo, Tomi nampak kaget.

"Mas nya pesen apa?" tanya Tomi sambil menunduk.

"Jahe anget saja Mas," ucap Purbo sambil tersenyum. Beberapa orang di sebelah Purbo nampak menoleh, menatap Purbo sebentar dan kembali mengacuhkannya.

"Maaf Mas. Jahe anget ya?" tanya Tomi mengulangi ucapan Purbo.

"Ah iya," Purbo mengangguk dan menambah volume suaranya. Dia teringat Tomi memang agak kurang dalam mendengar.

Selang beberapa saat, segelas minuman hangat berwarna kekuningan sudah Tomi sajikan di hadapan Purbo.

"Mas Tom," panggil Purbo setengah berteriak.

"Ah, dalem Mas," sahut Tomi.

"Aku penasaran. Kopi pahit yang aku minum hingga pingsan kemarin itu apa ya Mas bahannya? Butrowali kah?" tanya Purbo. Sejujurnya dia memang ingin tahu racikan kopi pahit yang sempat membuatnya kesakitan itu.

"Ah, anu Mas aku nggak ngerti maksud ucapan Mas," jawab Tomi cepat.

"Lhah. Itu lho Mas, minuman yang disuguhkan oleh Mas Ceking," ucap Purbo lantang. Semua orang menoleh bersamaan, menatap tajam ke arah Purbo. Purbo salah tingkah dibuatnya.

Purbo akhirnya memilih diam. Dia memperbaiki posisi duduknya. Kemudian dia meneguk sedikit demi sedikit wedang jahe buatan Tomi. Sensasi hangat langsung terasa menjalar di tenggorokan.

Sore hari pasar terasa sangat sepi. Kabut tak terlalu tebal berpendar menyelimuti area pasar menambah suasana suram dan temaram dengan hawa dingin yang menyayat kulit.

Purbo mengedarkan pandangan, dan tak menemukan Ceking, sang preman pasar dimanapun. Purbo teringat kejadian yang entah nyata atau mimpi kemarin, ketika Ceking hendak dihukum dan dilempar ke api unggun.

"Mas Tom?" Purbo memanggil Tomi sekali lagi.

"Dalem Mas," sahut Tomi.

"Tumben aku kok nggak lihat Mas Ceking disini ya Mas Tom. Mas Ceking sehat kan?" tanya Purbo penasaran.

"Ma maaf Mas. Aku nggak ngerti maksud njenengan," jawab Tomi kebingungan.

"Lhah, mas Ceking yang kemarin ngasih aku kopi pahit itu lho Mas. Nggak ngerti gimana sih?" Purbo jengkel.

"Ce ceking Mas?" tanya Tomi.

"Iyaa, Mas Ceking kemana?" Purbo mengulangi pertanyaannya dengan suara yang lebih lantang.

"Ah, disini nggak ada yang namanya Ceking Mas. Mungkin njenengan salah orang Mas," jawab Tomi cepat.

"Hah?" Purbo melotot kaget.

"Bapak bapak semua kenal Ceking kan Pak? Orang yang badannya kurus. Kemarin kan juga ngopi dengan njenengan semua," kali ini Purbo beralih bertanya pada orang orang yang duduk di sebelahnya.

Semua orang hanya diam dan kompak menggeleng tanpa menoleh pada Purbo yang nampak kebingungan. Bagaimana mungkin kini tidak ada seorang pun yang mengenal si Ceking?

Bersambung___

1
Aris Satria
ceritanya top markotop bikin adrenalin terpacu
Alexander
sedangkan mbah modo berpesan agan purbo dan mbah kusworo jangan pernah kembali lagi ke desa ebuh.
Alexander
masalahnya tidak ada pesan supaya oleh oleh itu hanya boleh dimakan hasan.
Alexander
padahal tidak sepenuhnya begitu. dini hanya numpang ikut.
Alexander
pisangnya sudah diberikan, walau bukan ke sani tapi ke hasan. kalau hasannya mau ngasih itu ke temennya berarti bukan berati temen hasan memakan yang bukan haknya. emang demit ahlinya melintir fakta. menjebak manusia.
Alexander
rupanya ceking bermaksud baik.
Alexander
bukannya mbah yon sudah pernah ketemu purbo ?
Alexander
bukankah rambut mbah yon masih berwarna hitam di usia senjanya ? ini mbah yon yang menyapu di halaman belakang rumah purbo kan ?
Alexander
pencahayaan dari petromax itu cukup terang, apalagi untuk area seukuran tenda camping.
Alexander
di dalam tenda camping, tidak bisa sampai berdiri.
Alexander
dini kuntiilanak yang mencoba berubah jadi manusia 🤣
Alexander
mandi air panas ?
Alexander
hujan deras ? bukankah kemarin hanya mendung tebal saja yang menggantung, tanpa hujan ?
Alexander
Astaghfirullah .. sejak kapan ada jamu amnesia terbuat dari darah
Alexander
jangan jangan memang kampung demit
Alexander
apakah purbo sebenarnya belum menikah ? dia mengalami kecelakaan lalu diperdaya oleh demit wanita bernama dini.
Alexander
sampai sini aku menduga purbo mengalami kecelakaan bersama istrinya. lalu tersesat di dunia lain
Alexander
mencurigakan.
Alexander
rumah kayu jati di tengah hutan yang didominasi mahoni, sengon dan akasia.
Alexander
kenapa kelebihan uangnya untuk membeli mobil ? alangkah baiknya untuk menambah membeli tanah di wilayah yang tidak terlalu terpencil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!