Kebahagian memang tidak pernah abadi.
Sekalipun kamu kaya, cantik ataupun cerdas, roda kehidupan akan selalu berputar selama kamu hidup.
Begitulah kira-kira pribahasa paling sesuai dengan nasib naas yang dialami oleh seorang wanita cantik bernama Lie.
Kebahagiaan yang selama ini ia miliki hilang begitu saja.
Di masukkan kedalam penjara, kedua orangtua nya dibunuh dan perusahaan keluarga diambil alih!
Haruskah aku menyebutmu iblis? Karna manusia bukanlah kata yang pantas untukmu!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon esterliia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kau datang tepat waktu
Menengok mencari asal suara itu.
**
Matanya terbelalak lebar melihat Callista ada dihadapannya sekarang. "Lie? Benarkah kau itu?" alisnya mengkerut tidak percaya dan memastikannya dengan bertanya.
Callista berjalan melewati Mikhael lalu memegang tangan Stella.
"Jangan mengganggu nya lagi mulai dari sekarang dan selamanya." melirik dengan ekor mata tajam, ucapannya singkat namun terdengar sangat dingin dan mengintimidasi.
Mikhael yang mendengar ini pun merasa seperti ada jutaan pedang es menusuk dirinya dengan cepat.
'Lie? Benarkah itu Lie yang dia kenal selama ini? Lie yang ceria dan lemah lembut? Lie yang tidak pernah marah dan selalu bersahabat dengannya? Lie yang selalu mengatakan bahwa ia akan membantunya untuk mendapatkan wanita impiannya itu?' segudang pertanyaan muncul dibedak dan kepalanya.
Ia tidak mampu bergerak bahkan ketika melihat Callista membawa Stella pergi dari hadapannya. Ia terlalu kaget melihat sikap wanita yang dianggap sebagai teman baiknya itu.
Kejadian ini terjadi terlalu cepat, membuat Yessy yang melihat itu sangat terkejut.
Bagaimana tidak, beberapa menit yang lalu wanita ini tersenyum tertawa bahagia seperti anak kecil saat berhasil mendapatkan pakaian yang diperebutkan banyak perempuan tadi. Tapi sekarang, dia melihat kepribadian lain wanita ini.
Aura dingin yang mengintimidasi dan mengancam. Walaupun ia hanya menengok dan tidak mengangkat tangannya, namun siapapun yang melihat pasti akan bergidik ngeri dan berusaha menjaga jarak darinya. Karna auranya akan kalah jauh jika dibandingkan dengan aura Callista saat ini.
Bahkan pria itu pun hanya bisa terbeku diam disana tanpa melakukan apapun.
'Tidak disangka dia bisa melakukan itu. Seperti nya benar-benar tidak bisa dianggap remeh.' ungkapnya dalam hati.
"Kita makan dulu bagaimana?" tanya Callista pada Stella dan juga Yessy. Stella mengangguk dan Yessy menjawab "Boleh, aku juga sudah lapar."
Mereka akhirnya memilih masuk ke restoran putu made. Suasana nya santai dan nyaman membuat masing-masing dari mereka rileks sedikit demi sedikit.
Setelah mereka memesan makanan, Yessy akhirnya angkat bicara ketika memandang Stella "Hai, kau tidak apa-apa?"
"Aku baik-baik saja, Aku Stella. Maaf ya, malah merusak harimu dengan melihat kejadian tadi" ucapnya tulus.
"Haha tidak tidak, santai aja. Aku tidak terlalu mempermasalahkan itu kok. Yang penting kau baik-baik saja."
"Makasih" lalu menyenggol Callista "Kau datang tepat waktu" sambil tersenyum.
"Ya, kalau tidak mungkin kau akan diam disana dan bertengkar sampai besok pagi." balasnya sedikit dingin
Mereka pun sedikit demi sedikit menjadi akrab dengan percakapan-percakapan ringan di restoran tanpa membahas hal tadi lebih lanjut.
~
Mikhael masih terdiam kaku untuk beberapa saat sebelum seseorang menepuk punggungnya dibelakang
"Ada apa? Apa kau baru melihat hantu?" tanyanya memecah perdebatan Mikhael dalam hati dan kepalanya.
Mikhael menoleh kebelakang dan memandang Romie lekat-lekat.
"Dimana Lie? Aku ingin bertemu dengannya sekarang. Bukankah dia masih dipenjara seperti katamu waktu itu? Kita keluarkan dia sekarang. Sudah cukup baginya mendekam disana selama 2 tahun ini." terbesit sedikit rasa cemas pada suaranya yang tegas itu.
Pertanyaan Mikhael yang tiba-tiba ini membuat Romie mengernyit "Apa apa? Kenapa tiba-tiba menanyakan nya?"
"Aku bertemu dengannya barusan. Dia bersama wanita yang ku cari hampir 2 tahun ini." jawabnya gusar sambil memijit pelipisnya yang tiba-tiba sakit.
Tubuhnya membeku mendengar itu, seperti disiram air es berember-ember membuatnya tidak bisa mengatakkan apapun. Kaki, tangan, tubuh bahkan lidahnya kaku.
"Dia terlihat sangat berbeda, aku ingin memastikan ini. Dimana penjaranya? Aku harus melihatnya sendiri." katanya lagi.
Memandang Mikhael dengan tidak percaya "Apa kau yakin itu adalah dia? Hukumannya masih 3 tahun lagi."