NovelToon NovelToon
Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Tuan Mafia Jangan Sentuh Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Nikah Kontrak / Mafia
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Neng tiya

Gudang tua di pinggir pelabuhan baunya amis. Campuran air laut, oli, dan darah kering.

Aku nggak sengaja di sini.

Klik.

"Berapa lama lagi kau mau sembunyi, Nona?"

Suaranya datar Mati. Nggak ada emosi.

Jantungku berhenti.

Aku lari. Bodoh Harusnya aku diam. Tapi kakiku gemetar, nginjak pecahan kaca.

Kraaak.

"Menangkap."

Itu satu kata. Tapi 4 orang berbadan kekar langsung ngepungku. Kamera dirampas. Ponsel dihancurkan di lantai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neng tiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kamar tawan

Lampu minyak di pojok kamar redup, cahayanya kuning goyang kena angin dari celah jendela, aku rebahan di kasur, selimut sampe dada, badan anget lagi, jidat basah, demam balik 38,9C, sialan, baru aja sembuh pagi tadi

Axel duduk di kursi kayu 2 meter dari kasur, umur 25 tahun, naga muda, kemeja hitamnya masih sama kayak pagi, dasi dilepas, lengan digulung sampe siku, rambut acak-acakan, mata panda, jelas ga tidur dari kemarin

Dia megang buku tua di pangkuan, tapi matanya ga baca, tiap 5 menit ngelirik aku, mastiin aku masih napas

Aku merem, bibir kering, tenggorokan perih, mau manggil tapi gengsi, umur 18 tahun masa manja gara-gara demam

Axel akhirnya buka suara pelan, "Aira, kau gerah"

Aku ga jawab, pura-pura tidur, tapi napasku kacau, dia denger

Kursinya digeser "krek", maju 1 meter, berhenti, jaga jarak, "air putih di meja, kalo haus panggil"

Aku gigit bibir, haus banget, tapi tangan lemes, gelas kejauhan

"Axel" bisikku, suaraku serak, kecil banget kayak angin

Dia langsung noleh, buku ditutup, "Iya"

"Aku haus" kataku pelan, malu, muka ngeburi bantal

Tanpa suara dia bangun, tuang air putih ke gelas perak, jalan pelan, duduk di pinggir kasur, jarak 30cm, dia nyodorin gelas

"Minum pelan" katanya, tangan kirinya nyangga kepalaku biar ga keselek, tangan kanannya megang gelas, jempolnya nyentuh bibirku pas aku minum, anget, kasar, tapi hati-hati

Airnya dingin, lega, aku minum 3 teguk, terus geleng pelan, cukup

Axel naruh gelas, kain basah ditempel ke jidatku, dingin, "ssst", aku meringis, "dingin"

"Tahan" bisiknya, "biar panasnya turun, kalo naik lagi 39 kau bisa kejang"

Kain diangkat ditempel lagi, diulang 3 kali, tiap kali dia peras kain, air netes ke selimut, dia usap pake ujung kemejanya

Aku ngeliatin dia dari sela bulu mata, dagunya ada bayangan jenggot tipis umur 25 tahun, matanya merah capek tapi fokus ke aku

"Axel" panggilku lagi

"Hmm" dia noleh

"Kenapa Tuan jagain aku" tanyaku, "Tuan benci aku, Tuan mau bunuh aku, kenapa sekarang kayak suster"

Dia diem lama, kain di tangannya diremas sampe air netes, "karena aku ga mau ngulang kesalahan yang sama dua kali"

"Kesalahan apa"

"13 tahun lalu aku umur 12 tahun" jawabnya, suaranya pelan, hancur, "Mama kau umur 31 tahun demam tinggi, Papa kau kunci pintu, ga kasih dokter masuk, aku bocah 12 tahun lari ke gerbang teriak minta tolong, Papa kau tendang aku sampe jatuh, bilang naga kecil ga usah ikut campur, aku balik ke rumah, liat Mama kau udah dingin di lantai, kau umur 5 tahun nangis peluk kaki Mama kau, kotor, ketakutan, aku ga bisa apa-apa, aku cuma bocah 12 tahun, aku gagal Aira"

Aku nahan napas, dada sesek, "jadi Tuan jagain aku karena ngerasa gagal waktu aku umur 5 tahun"

"Ga cuma itu" katanya, naruh kain, duduk lebih deket, jarak 15cm, "detik terakhir Elina buka mata, dia liat aku, dia bisik pelan tolong... jagain anakku... sambil nunjuk kau yang umur 5 tahun, aku angguk, aku janji, tapi 13 tahun kemudian aku malah nyulik kau, aku ingkar janji, aku bajingan kan"

Air mataku netes ke pelipis, anget, "aku umur 5 tahun ga inget apa-apa..."

"Bagus kalo ga inget" bisiknya, suaranya pecah, "aku inget semua, tiap malem 13 tahun, muka kau umur 5 tahun nangis, muka Elina umur 31 tahun pas napas terakhir, makanya sekarang kau umur 18 tahun, aku 25 tahun, aku ga mau gagal lagi"

Tanganku di bawah selimut ngepal, dingin, dia liat, tangannya maju pelan, megang ujung selimut, narik nutupin bahuku

"Jangan kedinginan" bisiknya, jari-jarinya nyentuh bahuku 1 detik, anget, terus dia tarik tangan cepet

Aku merem, malu, tapi badan masih panas, "Axel"

"Iya" dia langsung siaga

"Genggam tanganku" keluar gitu aja dari mulutku, umur 18 tahun ga pernah minta disentuh, tapi demam bikin jujur

Axel kaku, matanya melebar, "Aira, kau yakin,"

Aku angguk pelan, tanpa buka mata, "tanganku dingin, aku takut, umur ga penting sekarang"

3 detik hening, terus ada anget, besar, kasar, kapalan pedang tangan pemuda, ngusap punggung tanganku pelan, terus jari-jarinya nyelip di sela jariku, genggam, kenceng tapi ga nyakitin

"Gini" bisiknya di telingaku, napasnya anget, "aku genggam, jadi kau ga takut lagi ya, naga jagain angin"

Tanganku yang dingin ketemu tangan dia yang anget, rasanya kayak megang bara api yang ngangenin, aku genggam balik pelan, ragu, terus makin kenceng

Axel napasnya berat, "Aira, kalau kau genggam gini, aku ga bisa mikir jernih, padahal harusnya aku bunuh kau"

"Terus jangan mikir" bisikku, mata masih merem, "mikir 13 tahun cukup, sekarang rasain aja,kita sama-sama korban waktu itu"

Dia ketawa kecil, patah, "rasain apa, rasain sakit karena benci, atau rasain anget"

"Dua-duanya" jawabku jujur, "aku benci Tuan, tapi tangan Tuan anget, aku bingung"

Axel diem, jempolnya ngusap punggung tanganku pelan, bolak-balik, "aku juga bingung Aira, umur 25 tahun aku latih tangan ini buat bunuh dari umur 12 tahun, 3 hari ini tangan ini cuma bisa ganti kain, tuang air, genggam tangan kau umur 18 tahun, tanganku bingung harus jadi apa"

Aku ngusap jempolku ke punggung tangannya, balas pelan, "jadi manusia aja Axel, naga capek kan"

Dia merem, bahunya turun, "capek banget, Aira, capek dendam dari umur 12 tahun, capek tidur mimpi darah, semalem pas kau genggam kemejaku, aku mimpi liat kau umur 5 tahun berhenti nangis, pertama kali dalam 13 tahun"

Aku buka mata dikit, liat wajah dia dari bawah, dia nunduk, keningnya hampir nempel ke tangan kami yang bergenggam

"Axeliano" panggilku lengkap

Dia kaget, dongak, mata kami ketemu, jarak muka 20cm, "Iya" suaranya getar

"Makasih udah jagain angin kecil Tuan umur 18 tahun" kataku, kali ini aku sadar, aku beneran bilang

Axel kaku, matanya merah, dia bawa tangan kami yang bergenggam ke bibirnya, kecup punggung tanganku pelan, 1 detik, anget, basah

"Maaf" bisiknya ke tanganku, "maaf aku datang telat 13 tahun, maaf aku umur 12 tahun ga bisa nyelametin kau umur 5 tahun, maaf aku baru bisa jadi manusia pas kau umur 18 tahun dan benci aku"

Aku tarik tangan kami, tempel ke pipiku, "jangan minta maaf terus,, terus aku ga bisa benci Tuan lagi"

Axel senyum pahit, "bagus kalau ga bisa benci, benci itu lelah Aira, aku 25 tahun tau rasanya dari umur 12 tahun"

Jam 00.30, demamku turun 38,2°C, keringat dingin keluar, Axel lap pake ujung kemejanya, usap pelan dari jidat ke pipi

"Aira" bisiknya, "tidur ya, aku jagain, genggaman ini ga aku lepas sampe pagi"

Aku merem, tapi genggaman ga dilepas, "Axel, kalau pagi masih mau genggam gini"

Dia diem 5 detik, jawab pelan, jujur, "aku mau, Aira, aku mau genggam tanganmu tiap hari, bukan karena kau tawanan, bukan karena kau anak Pramesti, karena kau Aira,"

JLEB, kalimat itu nusuk, aku merem lagi, air mata jatuh ke bantal, tapi anget, lega

"Janji ya" bisikku, udah ngantuk

"Janji" jawabnya, kecup lagi punggung tanganku, "tidur angin kecilku aku jagain"

Aku ketiduran sambil genggam tangan Axel, dia duduk di pinggir kasur, punggung bungkuk, tapi tangannya ga gerak, takut aku lepas

Jam 03.00, aku kebangun, demam 37,5C, normal, aku liat Axel, dia masih melek, mata merah, senyum tipis

"Demam turun" bisiknya, suaranya serak kurang tidur, "pinter anaknya Elina umur 18 tahun"

Aku tarik tangan dia, tempel ke pipiku lagi, "diem sini, jangan pergi,"

Axel nurut, duduk lebih deket, paha dia nyentuh kasurku, anget, "aku di sini, ga ke mana-mana, 13 tahun aku nunggu dari umur 12 tahun, 1 malam aku ga sabar"

Aku merem lagi, tidur nyenyak, mimpiku cuma tangan naga yang anget, genggam tanganku umur 18 tahun, bisik "aku di sini"

Pagi jam 06.00, matahari masuk, aku bangun duluan, tangan kami masih genggam, 7 jam ga lepas

Axel kebangun, matanya langsung nyari aku, panik, "demamnya"

"Udah turun" kataku, senyum tipis, malu, "makasih Axel"

Dia liat tangan kami, ketawa kecil, lega, "7 jam, Aira umur 18 tahun, tanganku umur 25 tahun kram, tapi aku rela"

Aku malu, mau lepas, tapi dia genggam lebih kenceng, "jangan lepas dulu, 5 menit lagi, buat bayar lunas 13 tahun aku umur 12 tahun ga bisa genggam tangan siapa-siapa"

5 menit kami diem, cuma denger napas, jantung, burung di luar jendela

"Axel" panggilku pelan

"Hmm"

"Kemarin Tuan 25 tahun bilang aku anak umur 5 tahun yang Tuan gagal selametin"

"Iya"

"Kalo gitu, aku umur 18 tahun mau jadi versi Aira yang maafin Tuan"

Axel kaku, terus dia narik tanganku, kecup lagi, lama, 3 detik, "aku terima maaf itu, Aira umur 18 tahun, versi yang mau kasih aku kesempatan kedua"

Dia lepas genggaman pelan, jarinya ngusap punggung tanganku terakhir kali, terus dia berdiri, kaki pincang dikit karena duduk 7 jam

"Cuci muka, sarapan di meja, sup ayam anget, aku 25 tahun masak" katanya, noleh, senyum taring dikit, "Axel juga bisa masak, ga cuma gagal nolongin anak umur 5 tahun dari umur 12 tahun"

Aku ngeliatin punggungnya keluar kamar, pintu dikunci dari luar tapi ga dikunci, cuma ditutup, tanda aku umur 18 tahun bebas

7 jam genggam tangan, demam turun, benci retak, 13 tahun dendam dari umur 12 tahun kalah sama anget tangan semaleman

1
Alia Chans
lanjut, like + 🌹✍️😉🤭


kalo berkenan mmpir juga thor😉
Ti Ara: siap kk
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!