Di kehidupan pertamanya, Li Yuexin adalah "Mutiara Kekaisaran Shenghua" yang lembut, tulus, dan terlalu mudah percaya. Ia menyerahkan harta, kedudukan, dan cintanya kepada Gu Wenhao, pria yang ia kira adalah belahan jiwanya. Namun, balasan atas kesetiaannya adalah racun diam-diam, pengkhianatan oleh sahabat masa kecil, dan kematian menyedihkan di tangan suami dan anak angkatnya sendiri.
Ketika matanya terbuka kembali, Yuexin menemukan dirinya kembali ke masa lalu, tepat sebelum jebakan itu tertutup rapat.
Kali ini, Mutiara itu tidak lagi bersinar karena pantulan cahaya orang lain. Ia telah berubah menjadi es yang tajam dan perhitungan yang dingin.
"Belas kasih diberikan kepada yang pantas. Keadilan diberikan kepada yang bersalah. Dan kali ini... aku hanya akan duduk santai, sambil menikmati pertunjukan kehancuran kalian."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anaya Barnes, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6
Malam turun perlahan, membawa serta hawa dingin yang menusuk tulang. Istana Fengyi, kediaman Permaisuri Shen Yulan, tampak megah dalam cahaya lentera kertas beras berwarna merah muda. Aroma osmanthus yang manis dan memabukkan memenuhi udara, bercampur dengan wangi dupa sandalwood yang tenang.
Bagi kebanyakan orang, Istana Fengyi adalah tempat ketenangan dan keanggunan. Tapi bagi Putri Li Yuexin, malam ini terasa seperti berjalan di atas tali tipis di atas jurang.
Putri Li Yuexin mengenakan hanfu berwarna ungu tua, warna kerajaan yang melambangkan kewibawaan dan misteri. Kain sutranya jatuh dengan sempurna, dihiasi sulaman benang emas berbentuk awan yang samar. Di rambutnya, Jepit Rambut Phoenix Emas berkilau di bawah cahaya lentera, seolah-olah phoenix itu siap menyemburkan api kapan saja.
Qingyu berjalan di sampingnya, membawa kotak kecil berisi hadiah untuk Permaisuri. Wajah Qingyu tegang. "Nona, apakah kita harus berhati-hati? Berita tentang lamaran Marquis Han sudah tersebar luas di antara pelayan."
"Biarkan mereka bergosip," jawab Putri Li Yuexin datar. "Gosip adalah asap. Selama kita tidak terbakar, biarkan saja."
Mereka memasuki aula utama. Di sana, Permaisuri Shen Yulan duduk di singgasana rendah, mengenakan jubah kuning pucat yang sederhana namun memancarkan aura kemuliaan yang tak terbantahkan. Wajahnya cantik, meski garis-garis halus di sudut matanya menunjukkan beban menjadi ibu negara selama dua dekade. Matanya, sama seperti Putri Li Yuexin, tajam dan cerdas.
Di sisi kanan Permaisuri, duduk seorang pemuda berusia sekitar dua puluh dua tahun. Dia mengenakan jubah biru langit dengan motif bambu, wajahnya tampan dengan senyuman sopan yang terlatih. Itu adalah Han Zixuan, putra tunggal Marquis Han Cheng.
Saat Putri Li Yuexin masuk, Han Zixuan segera berdiri dan membungkuk hormat dengan gerakan yang anggun. "Hormat hamba Tuan Putri Li Yuexin"
Putri Li Yuexin membalas dengan anggukan singkat, lalu berjalan menuju ibundaya dan melakukan salam formal yang sempurna. "Hormat untuk Ibunda Permaisuri."
"Duduklah, Yuexin," ucap Permaisuri Shen Yulan, suaranya lembut namun berwibawa. "Han Zixuan sudah menunggu. Kami sedang membahas puisi klasik 'Shijing'. Dia memiliki pandangan yang menarik tentang bait 'Peach Tree So Tender'."
Putri Li Yuexin duduk di kursi yang disediakan, tepat di seberang Han Zixuan. Dia bisa merasakan tatapan pemuda itu yang menilai dirinya dari ujung kepala hingga kaki. Tatapan yang tidak kasar, tapi terlalu detail. Seperti pedagang yang memeriksa barang dagangan.
"Tuan Putri tampak lelah," kata Han Zixuan dengan nada peduli. "Apakah urusan istana terlalu berat?"
"Urusan istana selalu berat bagi mereka yang peduli pada keadilan," jawab Putri Li Yuexin singkat, tanpa tersenyum. Dia mengambil cawan teh yang disodorkan oleh pelayan. Teh osmanthus hangat.
Permaisuri Shen Yulan mengamati interaksi mereka dengan mata setengah tertutup. "Zixuan baru saja mengatakan bahwa puisi itu bukan tentang cinta romantis, tapi tentang kesetiaan pada tanah air. Pendapat yang unik untuk seorang pemuda seusianya."
Han Zixuan tersenyum tipis. "Cinta pada wanita bisa berubah, Yang Mulia Permaisuri. Tapi cinta pada tanah air dan ambisi untuk menjaga kestabilannya adalah abadi. Seorang pria harus memiliki fondasi yang kuat sebelum memikirkan rumah tangga."
Kalimat itu terdengar mulia. Tapi Putri Li Yuexin mendengar makna tersembunyinya: Aku tidak akan terikat oleh emosi wanita. Aku akan menggunakan pernikahan ini untuk memperkuat posisiku.
Di kehidupan sebelumnya,
Jika ada pria yang berbicara seperti ini, Putri Li Yuexin mungkin akan terkesan dengan kedewasaannya. Tapi sekarang, dia hanya melihat kekosongan. Han Zixuan adalah boneka Faksi Barat yang dibungkus rapi dengan kata-kata indah. Ayahnya, Marquis Han Cheng, adalah tangan kanan Selir Rong dalam urusan keuangan gelap. Menikahi Han Zixuan berarti memberikan akses langsung kepada Faksi Barat ke dalam Keluarga Shen.
Putri Li Yuexin meletakkan cawan tehnya dengan bunyi ting yang nyaring.
"Menarik," kata Putri Li Yuexin, menatap Han Zixuan lurus-lurus. "Tapi bukankah fondasi yang terlalu kaku mudah patah saat guncangan itu datang? Bambu yang lentur lebih bertahan daripada batu yang keras. Dan seorang istri... bukanlah beban yang perlu ditopang, melainkan rekan yang bisa memperkuat kelenturan itu."
Han Zixuan sedikit terkejut dengan respons itu. Dia mengharapkan pujian atau rasa malu. Bukan debat filosofis.
"Tuan Putri memang sangat bijaksana," kata Han Zixuan, mencoba mempertahankan senyumnya. "Tapi kadang-kadang, kelenturan bisa dianggap sebagai ketidaktegasan."
"Dan ketegasan bisa dianggap sebagai kekakuan yang membosankan," balas Putri Li Yuexin cepat. Senyumnya tipis, dingin. "Seperti teh yang diseduh terlalu lama. Awalnya memang harum, tapi akhirnya pahit dan sepat."
Suasana menjadi hening sejenak. Permaisuri Shen Yulan mengangkat alisnya, tertarik. Dia belum pernah melihat putrinya bersikap begitu tajam dan tegas terhadap seorang pelamar. Biasanya, Putri Li Yuexin akan gugup dan bicara hal-hal dangkal.
Permaisuri Shen Yulan tertawa kecil, memecah ketegangan. "Yuexin, kau semakin pandai berdebat. Zixuan, maafkan kekasaran putriku. Dia sedang dalam suasana hati yang... sangat rumit."
"Tidak, Yang Mulia," kata Han Zixuan, meski matanya menyipit sedikit. "Hamba justru menghargai kejujuran Tuan Putri. Kejujuran adalah hal yang langka di istana ini."
Kejujuran? pikir Putri Li Yuexin sinis. Kau datang ke sini dengan misi politik, dan kau menyebutnya kejujuran?
Perjamuan berlanjut dengan percakapan ringan lainnya. Han Zixuan mencoba mendekati Putri Li Yuexin dengan membicarakan seni lukis dan musik, topik-topik yang dulu disukai Putri Li Yuexin. Tapi setiap kali dia mencoba menyentuh topik pribadi, Putri Li Yuexin mengalihkannya kembali ke topik umum atau filosofis, menjaga jarak emosional yang tak terlihat.
Akhirnya, Han Zixuan meminta izin untuk pulang. Setelah dia pergi, Permaisuri Shen Yulan menghela napas panjang.
"Kau sangat dingin padanya, Yuexin," kata ibunya, suaranya serius. "Han Zixuan adalah pilihan yang baik. Keluarganya kaya, ayahnya berpengaruh, dan dia sendiri berpendidikan. Mengapa kau menolaknya dengan cara yang begitu... menusuk?"
Putri Li Yuexin menatap ibunya. Dia ingin memberitahu kebenaran, bahwa Han Cheng terlibat korupsi, bahwa Selir Rong menggunakan keluarga Han sebagai alat. Tapi dia belum punya bukti konkret yang bisa diterima ibunya tanpa terlihat seperti fitnah. Jika dia berbicara sekarang, Permaisuri Shen Yulan mungkin akan menganggapnya sebagai kecemburuan atau ketakutan yang tidak mendasar.
Jadi, Putri Li Yuexin memilih strategi lain. Strategi yang dia pelajari dari Kakek Guotai, Jangan tolak langsung, tapi tanam keraguan.
"Ibu," kata Putri Li Yuexin pelan. "Apakah Ibu pernah memperhatikan bagaimana Han Zixuan memandangku? Bukan dengan kekaguman, tapi dengan evaluasi. Dia tidak melihat Yuexin, sebagai putri Ibu, rapi dia melihat 'Aset Keluarga Shen'. Dan ketika seseorang melihat kita sebagai aset, mereka tidak akan ragu untuk menjual kita jika harga pasar berubah."
Permaisuri Shen Yulan terdiam. Matanya menyipit, berpikir. Sebagai Permaisuri yang telah bertahan puluhan tahun di istana, dia tahu betul bagaimana politik pernikahan bekerja.
"Ayahnya, Marquis Han, baru-baru ini mengajukan proposal peningkatan pajak garam," lanjut Putri Li Yuexin, melemparkan fakta yang dia dengar dari Kasim Zhou secara tidak langsung. "Proposal yang sangat menguntungkan pedagang-pedagang tertentu yang diduga memiliki koneksi dengan Istana Zamrud (Selir Rong). Jika kita bersekutu dengan mereka melalui pernikahan, apakah Keluarga Shen tidak akan terseret dalam arus kotor itu?"
Wajah Permaisuri Shen Yulan mengeras. Pajak garam adalah isu sensitif. Jika Keluarga Shen dikaitkan dengan kenaikan pajak yang merugikan rakyat, reputasi Faksi Timur akan hancur.
"Kau menduga-duga, Yuexin," kata Permaisuri Shen Yulan, meski suaranya tidak lagi santai.
"Aku hanya berhati-hati, Ibu," jawab Putri Li Yuexin sambil menunduk hormat. "Musuh paling berbahaya bukanlah mereka yang memegang pedang, melainkan mereka yang tersenyum di hadapanmu. Han Zixuan tersenyum sangat indah malam ini bahkan terlalu indah."
Permaisuri Shen Yulan menatap putrinya lama sekali. Ada kebanggaan yang samar di matanya, dicampur dengan kekhawatiran. Putrinya telah tumbuh menjadi wanita yang waspada, bahkan mungkin terlalu waspada.
"Baiklah," kata Permaisuri Shen Yulan akhirnya. "Aku akan menunda jawaban untuk Marquis Han. Katakan pada mereka bahwa Kau masih ingin fokus pada studi pengelolaan istana. Itu alasan yang sulit dibantah."
Putri Li Yuexin menghela napas lega dalam hati. Langkah pertama berhasil. Dia tidak menolak lamaran itu secara terbuka yang akan membuat marah Kaisar dan Marquis, tapi dia membeli waktu, waktu untuk mengumpulkan bukti kejahatan Marquis Han.
"Sekarang, pulanglah," kata Permaisuri Shen Yulan, suaranya melunak. "Istana Bulan Giok pasti sepi tanpa kehadiranmu. Oh, ya... Qingyu memberiku sesuatu tadi sore. Sebuah resep sup jahe baru. Katanya bagus untuk mengusir hawa dingin. Cobalah malam ini."
Putri Li Yuexin tersenyum tulus untuk pertama kalinya malam itu. "Terima kasih, Ibu."
Saat dia berjalan keluar dari Istana Fengyi, bulan purnama menggantung tinggi di langit. Cahayanya perak dan dingin, menerangi jalan pulang.
Di balik pilar istana, sesosok bayangan bergerak. Han Zixuan belum benar-benar pergi. Dia berdiri di kegelapan, menatap punggung Putri Li Yuexin yang menjauh. Wajahnya yang tadi ramah kini berubah menjadi dingin dan waspada.
Dia mengeluarkan sebuah kipas lipat dari bajunya, membuka dan menutupnya dengan ritme lambat.
"Wanita yang cerdik," gumam Han Zixuan pelan. "Tapi semakin cerdik mangsa, akan semakin menyenangkan perburuan. Ayah akan senang mendengar ini, kita butuh akses ke Shen Guotai, dengan cara apa pun."