NovelToon NovelToon
101 Avatars

101 Avatars

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Sci-Fi / Tamat
Popularitas:71k
Nilai: 5
Nama Author: Souma Kazuya

Hero of Hope Game atau kerap dipanggil Hoho game, suatu game di mana kita mampu merasakan sensasi pertarungan langsung lewat kelima indra kita melalui suatu tubuh avatar dalam game, adalah yang mengawali terjadinya segala tragedi itu. Sebanyak 101 avatar dalam game pun tiba-tiba keluar ke dunia nyata dan membunuh orang-orang. Adrian, sang protagonis, turut kehilangan kakak pertamanya, Faridh, dalam peristiwa tersebut. Lima tahun kemudian, dengan bantuan kakak keduanya, Syifa, dan seniornya, Kaiser, Adrian pun memberanikan diri untuk mulai menyelidiki peristiwa kelam yang sampai merenggut nyawa kakaknya, Faridh, tersebut melalui penggunaan Avatar Arjuna yang langsung terhubung ke dunia nyata. Namun, Adrian justru mengetahui suatu kenyataan yang lebih pahit yang tersembunyi di balik musibah tersebut.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Souma Kazuya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

27. Kesaksian Zenri

Siang itu, aku duduk-duduk di taman belakang fakultas sembari mengamati perkembangan berita-berita miring di internet mengenai aku dan Kak Kaiser, tepatnya Kak Kaiser sebagai Pahlawan Darah Merah dan aku sebagai…hmmm…rasanya masih sulit mengatakannya, Blue Batboy.  Kuharap ada nama lebih baik yang akan diberikan oleh masyarakat untukku.

Aku pun mengamati perkembangannya dan tetap saja masih banyak berita miring bertebaran mengenai kami dengan ratusan komentar jahat pula.  Walaupun aku yakin bahwa komentar-komentar jahat itu hanyalah ulah para booster yang dibayar oleh pemerintah saja.

“Adrian sedang apa?”  Tiba-tiba, suara merdu nan indah yang membuat hatiku bergerisik menggelora, datang dari arah belakang.

Wangi nafasnya yang semerbak disertai embusannya yang begitu menyejukkan ikut terasa memberikan sensasi aneh namun penuh kenikmatan tepat di tengkukku.  Warna suara yang tidak asing lagi bagiku.

Aku pun segera menoleh dan rupanya benar, dialah dewi pujaanku, Nafisah.

“Ah, Nafisah?”  Ucapku dengan panik sembari segera menjauh 50 cm darinya, takut jika aroma keringatku yang kurang sedap yang membasahi kerah bajuku perihal teriknya matahari, sampai menodai kesucian hidungnya yang mungil namun mancung itu.

“Ah, maaf.  Aku mengagetkanmu ya, Adrian?”  Ujar Nafisah disertai senyum ramahnya.

“Ah, tidak kok.  Aku hanya…hehehehe.”  Jawabku dengan salah tingkah yang kesulitan mencari alasan lantas kututupi dengan tawa.

Kulihat Nafisah menatapku dengan lembut.  Sesaat kemudian, Nafisah pun kembali bertanya, “Tapi apa yang kamu lihat di smartphone-mu seserius itu sampai melupakan jam makan siang?”

Untuk sesaat, wajahku merona akan perhatian yang diberikan oleh Nafisah padaku.  Dewi pujaanku sampai tahu kalau aku belum makan siang.  Ah, senangnya!

“Dari lantai empat, aku kebetulan melihatmu keluar dari ruang kuliah lantas duduk di taman sewaktu aku masuk ke lab.  Pas keluar lab, rupanya kamu masih pada posisi yang sama padahal sebentar lagi jam dua.  Apa sih yang membuatmu sampai lupa makan siang?”  Ujar kembali Nafisah sembari melirik ke layar smartphoneku.

Sudah kuduga, aku kepedean.  Mana mungkin Nafisah sengaja memperhatikan aku.  Pastilah dia melihat aku cuma karena kebetulan.  Namun, punya momen seperti ini dengannya, sudahlah cukup membuat hatiku se…nang. Eh?!

Sekali lagi wajah Nafisah terlalu dekat dengan wajahku.  Duh, kuberharap dewi pujaanku tidak sampai mendengarkan suara jantungku yang berisik ini.

“Rupanya begitu ya.  Adrian juga sedih karena masalah berita hoax Pahlawan Darah Merah dan rekannya Ksatria Panah Biru.”

“Ksatria Panah Biru?”  Tanyaku keheranan atas ucapan Nafisah itu.

“Eh, Adrian tidak tahu?  Di grup, banyak yang membahas tentang ketidaksukaan mereka terhadap nama panggilan Blue Batboy untuk rekan Pahlawan Darah Merah itu.  Makanya kami sepakat untuk menggantinya sebagai Ksatria Panah Biru.  Tidakkah menurut Adrian, nama panggilan Ksatria Panah Biru itu terkesan lebih elegan?” Nafisah pun menjawab pertanyaanku itu dengan imutnya.

Melihat keindahan ciptaan Tuhan yang dapat berekspresi seekspresif dan seimut itu, keindahan Tuhan mana lagi yang dapat kudustakan.

“Ksatria Panah Biru ya, kedengarannya bagus.”  Aku pun tersenyum kegirangan terhadap nama julukan yang lebih keren yang diberikan kepadaku itu.  Terlebih, aku pertama kali mengetahuinya lewat suara merdu dewi pujaanku itu.

“Maaf Adrian, kamu menunggu lama ya?  Yuk, kita pergi makan siang sekarang.  Eh, ada Nafisah juga rupanya.”  Tiba-tiba suara Bobi terdengar dari belakang dan menyapaku.

“Duh anak itu!  Kenapa dia tidak lihat-lihat dulu sebelum menyapaku?  Padahal, aku masih ingin berduaan lebih lama dengan Nafisah.”  Umpatku dalam hati.

“Oh gitu ya?  Kebetulan juga, tampaknya sampelku sudah waktunya bertranslokasi ke subvirtual c.  Kalau gitu, aku naik dulu ya.  Bye bye, Adrian!”  Ujar Nafisah disertai dengan senyum ramahnya sembari meninggalkan kami bertiga yakni aku, Bobi, dan Zenri yang datang bersama Bobi.

Tetapi mengapa aku merasa menangkap kesedihan Nafisah di kalimat pertamanya?  Mungkinkah tidak hanya aku, tetapi Nafisah juga sedih ketika berpisah denganku?  Mungkinkah perasaanku padanya ini memang benar-benar bukanlah cinta bertepuk sebelah tangan?  Apakah Nafisah juga punya perasaan padaku?  Memikirkannya saja membuat hatiku begitu bergelora dan bersemangat.

Namun, seandainya saja itu hanya kesalahpahamanku dan aku akan ditolak ketika menyatakan cintaku padanya, memikirkan itu saja, nyaliku langsung ciut.  Setidaknya sedikit lebih lama lagi, aku harus merencanakan pendekatan yang lebih matang padanya sebelum menyatakan cintaku agar semuanya lebih pasti.  Setidaknya, ada harapan jika Nafisah juga suka padaku.

“Maaf ya, Bro.  Tampaknya, kami mengganggu kencan kalian.”  Ujar Bobi kepadaku.

“Kencan apanya?  Aku saja masih belum menyatakan perasaanku.”  Balasku pada perkataan Bobi dengan nada lemas.

“Semangat Bro!”  Bobi pun kembali berujar, kali ini dengan senyumnya yang entah mengapa membuatku merasa diledek.

Aku menghela nafas sembari membuang pandangan mataku ke tanah.  Sesaat kemudian, aku pun berujar, “Bagaimana kalau kita makan siangnya roti di Toko Kue Bernard saja?”

“Sepakat.  Soalnya kurang dari sejam lagi, kita ada kuliah ketiga.  Antrian di kantin jam segini cukup padat.  Lebih cepat jika kita beli roti di gedung sebelah saja lalu makan bareng di kelas.”  Bobi dengan segera menyetujui usulanku.

“Kalau menurutmu gimana, Zenri?”  Aku pun lantas bertanya kepada Zenri, si cerewet, yang entah mengapa terdiam saja daritadi.

“Oh, aku, eh…Yuk kita ke sana.”  Dan Zenri pun ikut menyetujuinya.

Tetapi mengapa kurasakan sesuatu yang janggal pada ekspresi Zenri, terutama ketika aku mengatakan Toko Kue Bernard?

Kami pun berjalan menuju gedung sebelah demi memesan beberapa roti dari toko kue tersebut.  Namun di pertengahan jalan, kulihat Zenri tiba-tiba berhenti melangkah sembari menahan belakang baju Bobi.

Aku yang keheranan pun bertanya, “Ada apa Zenri?”

Zenri sesaat tidak merespon sehingga Bobi pun ikut bersuara, “Zenri?  Mengapa sedari tadi gelagatmu aneh?”

“Itu, aku tidak bisa bilang.  Soalnya ada Adrian di sini.”

“Hei, bukankah itu agak kasar, Zenri?  Adrian itu teman kita.”  Kulihat Bobi segera menepis perkataan Zenri yang terkesan tidak sopan kepadaku itu.

“Bukan begitu.  Sewaktu kita SMP, orang-orang di kelas kita yang lain pun kuanggap sebagai teman.  Tetapi karena aku tidak bisa menjaga mulut dan tanpa sadar mengungkap hal yang tidak seharusnya, mereka jadi merundungmu.  Kali ini sama.  Aku tetap tak bisa mempercayai Adrian walaupun dia teman karena ini berhubungan dengan nasib seseorang.”  Ucap Zenri disertai melankoli yang tidak seperti biasanya dia terlihat.

“Siapa yang kamu maksud, Zenri?  Apa ini tentangku?”  Bobi pun menanyakan perihal yang dimaksud Zenri tersebut.

Namun, Zenri menggelengkan kepala seraya dengan lirih berkata, “Bukan.  Kali ini masalah milik orang lain.”

“Hah.”  Bobi lantas menghela nafas seraya menepuk pundak Zenri.

Sesaat kemudian, Bobi kemudian, berucap, “Tidak apa-apa, Zenri.  Percaya padaku.  Adrian adalah orang yang bisa kita percaya.”

“Kalau kamu yang berkata begitu, Bobi.  Baiklah, rasanya aku juga dapat mempercayai Adrian.” 

Aku sempat menolak bahwa apabila Zenri memang merasa aku tidak pantas mendengarnya, aku sebaiknya tidak ikut mendengarkan. Toh, wajar jika ada satu atau dua rahasia yang tak ingin diceritakan karena berbagai pertimbangan, termasuk kepada teman sendiri yang tentunya hal itu takkan memupuskan pertemanan kami.

Akan tetapi, Zenri menahanku dengan alasan ingin mempercayaiku sebagai teman sejatinya. Pada akhirnya, Zenri mulai menceritakan rahasia yang disembunyikannya itu di hadapanku dan Bobi.

Seketika mendengar rahasia itu, baik aku maupun Bobi, tak dapat menahan keterkejutan kami perihal jika ucapan Zenri benar, maka Riri, salah satu dari tiga bersaudari penjaga Toko Kue Bernard itu, adalah seorang monster avatar.

1
Zed Analytical Number Nine
ada penyemangat belajar ya 🤭
Souma Kazuya: Trims kk atas dukungan komentarnya 🤭🙏
total 1 replies
Zed Analytical Number Nine
semangat 💪🏻
Souma Kazuya: Trims kk atas supportnya 🙂🙏
total 2 replies
tria sulistia
kaiser dewantara yang di delapan target bukan sih?
Souma Kazuya: Beda kak, tapi memang novel ini ada kelanjutannya sih dari novel sebelumnya kak 😊🙏
total 1 replies
tria sulistia
cemburu sebelum memiliki 😁
Ranran Miura
Freeze ini licik banget sih
Ranran Miura
hmm, masih abu² ternyata
Ranran Miura
hmm,, ini alasan Judith jadi jutek. sayangnya kaiser bukan manusia mungkin saja gak punya emosi 😳
Ranran Miura
wait.. wait.. ini pov judith ya? aku baru sadar diakhir² 😅
Ranran Miura
menohok gak tuh
Ranran Miura
Michael saha? kaiser main potong² aja. ku gantung di pohon tomat tau rasa
Ranran Miura
hah? konspirasi apa lagi ini?
Ranran Miura
gak beda jauh berarti avatar lain sama kaiser. pandai ngibul
Ranran Miura
itu jurus paling susah menurut ku, jurus peka 🙂
Eni pua
aku mampir bawa bunga aja ya kak takut nggak kebaca nanti performa kakak turun 🙏🤭
Eni pua: sama2
total 3 replies
Ranran Miura
sebenarnya agak ambigu juga sama sikap kaiser. sebenarnya dia antagonis bukan sih? 😅
Ranran Miura
benul, ayolah beri sedikit apresiasi atas kerja keras Adrian. seneng dikit gpp yekan
Ranran Miura
yosh, lanjutkan adrian
🌕ˢᵃⁿᵍ𝓡𝒆𝒎𝓑𝒖𝒍𝒂𝒏🌙
haha
🌕ˢᵃⁿᵍ𝓡𝒆𝒎𝓑𝒖𝒍𝒂𝒏🌙
lanjuut
🌕ˢᵃⁿᵍ𝓡𝒆𝒎𝓑𝒖𝒍𝒂𝒏🌙
hehehe
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!