ARE YOU A MERMAID? SEASON 2
Please don't SPAM!! Hargai sesama author.
Update : Di usahakan seminggu 3-4 kali Up.
Diharapkan untuk membaca cerita sebelumnya agar dapat memahami jalan ceritanya. Terima kasih 🙏
Sinopsis :
Namaku Deryne Mikaelson, kalian tidak akan pernah tahu seberapa besar rasa takutku saat aku mengetahui takdirku yang sebenarnya!
Aku ditakdirkan mati di usia 18 tahun karena tidak bisa meminum darah kedua orangtuaku sesuai ritual yang sudah di tentukan oleh kakek buyut'ku...
Aku ingin merubah takdirku, merubah nasib buruk yang diberikan oleh gadis gila itu! Mampukah aku melewati ini semua? Apakah mereka akan percaya jika aku bilang aku ini putrinya? Sementara umur kita sama di tempat ini.
~
Jangan lupa LIKE!! dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nessa Cimolin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PARTY (PART 2)
Pagi harinya di rumah keluarga Roosevelt...
SRUK!
SRUK!
SRUK!
"Ya Tuhan! Kenapa berantakan begini?!" Ryn berkacak pinggang, ia melotot menatap baju-baju Mod berserakan di atas ranjang.
"Hehehe"
"Apa?! Kenapa tertawa?!"
Gadis bermata biru itu berjalan mendekati ranjang tidur Mod dan memunguti beberapa pakaian yang jatuh ke lantai.
"Apa yang sedang mama cari??"
"Aku sedang mencari baju tidurku yang warna merah muda" jawab Mod sambil terus mengobrak-abrik isi lemarinya.
"Baju tidur??" Ryn mengangkat sebelah alisnya, "Biasanya kan cuma pakai kaos dan celana santai"
"Hari ini kita akan menginap di rumah Densha"
"APA??" Tanpa sadar Ryn berteriak.
"Kenapa terkejut begitu? Apa kau tidak ingin ikut??"
"Bu... Bukan begitu sih?! Tapi...." Ryn nampak bingung dan ragu. "Dimana aku akan tidur??"
"Eh?? Kamar di rumah Densha kan banyak!"
Ryn terkejut dengan jawaban Mod, gadis itu menatap wajah Mod cukup serius sebelum menghela nafas panjang.
"Apa mama akan tidur dengan Moa?? Maka dari itu mama mencari baju tidur merah muda mama??"
"Mmm... Itu... Anu..." Mod menutupi wajahnya dengan kaos yang ia pegang.
"Kenapa? Apa aku benar??"
"I... Iya... Aku..." Mod terbata-bata menjawab pertanyaan dari Ryn.
"Baiklah, aku mengerti! Aku tidak akan mengganggu kalian"
"Ryn... Apa kau marah??"
"Marah? Untuk apa??" Ryn mengangkat bahunya.
"Aku akan meminta Fuu untuk menemanimu tidur" Mod tersenyum tulus.
"Tidak perlu mama, aku kan sudah besar"
"Duh! Ryn'ku memang pengertian!" Mod berdiri dan memeluk tubuh Ryn erat.
Beberapa waktu kemudian, Mod dan Ryn tak kunjung menemukan baju tidur berwarna merah muda yang di maksud. Kedua gadis itu merebahkan tubuhnya di atas ranjang karena lelah.
"Pakai baju apa saja lah ma..." Rengek Ryn.
"Tapi... Tubuhku akan terlihat bagus dengan baju merah muda itu"
"Toh nanti juga di lepas kan?" Ceplos Ryn asal.
Mod menoleh menatap Ryn secara tiba-tiba ketika mendengar Ryn berkata seperti itu. Kedua gadis remaja itu kini saling menatap, perlahan wajah keduanya memerah dan dalam hitungan ketiga mereka saling membuang muka ke sisi lain.
"Ka... Kau... Darimana belajar hal seperti itu?" Tanya Mod tanpa memandang Ryn.
"Anu... Aku, aku kan juga sudah dewasa!"
Sialan! Kenapa aku jadi malu sekali - Mod.
Dasar bibir ini, tidak bisa di rem - Ryn.
"Ehem! Apa kau membaca novel dewasa di meja belajarku?"
"Aku tak pernah membacanya sampai habis" pungkas Ryn, gadis bermata biru itu lantas bangun dari rebahannya.
"Ryn!!" cegah Mod.
"Hmmm??"
"Jangan pernah baca novel itu lagi!"
"........." Ryn menoleh menatap Mod bingung, "Kenapa?"
"Pokoknya jangan di baca!"
"Baik mama!" Ryn tersenyum, "Uhm... Sebaiknya aku pergi"
Ryn beranjak pergi meninggalkan kamar Mod dengan wajah yang masih tersipu malu, setelah menutup pintu kamar mama angkatnya, gadis itu menyandarkan punggungnya ke pintu dan bernafas lega.
"Canggung sekali..."
Sore harinya, mereka pergi ke rumah Densha dengan berjalan kaki. Densha mengundang mereka untuk merayakan keberhasilan Fuu meraih peringkat satu dari seluruh siswa di sekolah.
Selama perjalanan kedua gadis itu hanya mengobrol santai membahas hal-hal yang menyenangkan bagi anak perempuan, seperti lagu favorit masing-masing.
_____________________________________________
"Apa kau akan pindah??"
Densha menatap tajam pada dua gadis yang baru saja tiba di depan rumahnya, bagaimana tidak? Kedua gadis itu membawa satu koper kecil dan yang satu lagi membawa tas ransel.
"Aku tidak membuka penginapan di rumahku!!"
"Aku bingung harus bawa baju yang mana?" Mod nyengir, "Jadi... Aku bawa semuanya yang menurutku bagus"
"Dasar tidak waras! Kita hanya melakukan pesta barbeque, bukannya rekreasi ke luar negri" ledek Densha ketus.
"Aku sudah memberitahunya, di dalam ransel ini juga semuanya baju milik mama (Mod)"
Tuh kan! Apa di masa depan aku akan menikah dengan Mod?? - Densha.
"Hei, jangan panggil dia mama di depanku!" Densha menunjuk ke arah Mod.
"Eh?? Kenapa??" Mata Ryn melebar mendengar kalimat larangan Densha.
"Jika kau benar putriku, harusnya tinggal jawab iya atau oke kan??"
Setelah mengucapkan itu Densha berlalu begitu saja meninggalkan Mod dan Ryn di depan pintu dengan pintu yang masih terbuka.
"Dia kenapa sih??" Ryn merengut sedih.
"Apa kau sudah memberitahunya kenapa kau memanggilku mama??"
"Belum, aku pikir mama Fuu yang akan memberitahu dia"
Mod menggelengkan kepala, gadis manis itu menyeret kopernya masuk ke dalam rumah Densha dan membawanya ke sebuah kamar kosong yang telah disiapkan Densha.
Apa papa cemburu?? - Ryn
"Ya Tuhan! Mungkinkah dia pikir di masa depan dia akan menikah dengan mama Mod??" Gerutu Ryn kesal.
"Duh! Aku memang bodoh!" Timpal Ryn lagi.
Di dapur, Moa menghampiri Fuu yang sibuk mencuci beberapa buah dan sayuran untuk acara barbeque malam ini. Fuu terlihat cantik ketika rambut panjangnya di gelung ke atas, tentu saja Densha yang melakukannya.
"Kau sedang apa Fuu??"
"Fuu sedang mencuci buah dan sayur" Fuu memandang Moa sekilas lalu tersenyum, "Apa Mod sudah datang??"
"Sudah, tadi aku membukakan pintu untuknya tapi karena Densha masih perlu memberikan ceramah jadi aku tinggal saja kemari"
"Ceramah??" Fuu mengernyitkan dahi tak mengerti.
"Biasa, dia ngomel-ngomel"
"Hihihi..."
Moa curi-curi pandang ke arah Fuu, pria itu nampak ragu untuk mengatakan niatnya mendekati Fuu hari ini. Merasa curiga, Fuu meletakkan mangkok buah dan sayurnya ke meja lalu beralih menatap Moa.
"Ada yang bisa Fuu bantu??"
"Eh?? Sungguhan kau mau membantu??"
"Kalau Fuu bisa bantu, akan Fuu bantu kok"
"Syukurlah...." Moa menghela nafas lega sambil mengusap dadanya.
"Jadi begini..." Moa merogoh saku celananya, ia mengambil sebuah bungkusan tipis yang tidak di ketahui oleh Fuu.
"Apa itu??"
"Ng.... Bukan apa-apa kok"
Duh! Bagaimana cara memberitahunya ya?? - Moa.
"Apa itu obat? Apa Moa sakit??" Fuu nampak khawatir.
"Eh! Ti... Tidak, aku tidak sakit"
"Lalu? Kenapa Moa membawa obat??"
"Sebenarnya..." Moa mengedarkan pandangannya menatap sekeliling, ia tak ingin ada orang yang akan mendengar kebohongannya.
"Sebenarnya Mod yang sakit, tapi dia tidak mau minum obat" ucap Moa senang.
"Apa?? Mod sakit??" Fuu terkejut, "Fuu harus memeriksanya"
Sebelum Fuu benar-benar melangkah pergi menemui Mod, Moa berhasil menahan pergelangan tangan gadis cantik itu.
"Tidak perlu! Aku dan dia sudah pergi ke dokter"
"Eh??"
"Masalahnya Mod tidak mau minum obat, jadi demi kesembuhannya aku ingin meminta bantuanmu"
"Bagaimana cara Fuu membantu??"
"Maka dari itu dengarkan dulu kata-kataku dengan baik" Moa kembali menyimpan bungkusan tersebut ke dalam kantong celananya.
"Oke, baik!" Fuu menganggukkan kepala, kedua matanya terus melihat bungkusan yang pada akhirnya kembali di sembunyikan oleh Moa.
BERSAMBUNG!!!
Jangan lupa Like, Komentar, Follow, Favorit dan Rating ya? Dukungan dari kalian sangat berarti bagi saya! Terima kasih 😘
baru tahu ad novel sebagus ini tentang mitologi..
kebetulan aku sangat suka mitologi..
maaf ya jarang meninggalkan kesan pd eps🙏
tp fiks aku suka...
tp yg manis2 saja...
tp berharap tdk ad katrina ke 2