Felisia harus menerima nasibnya. Menikah disaat dia tidak menginginkannya. Dan setelah dia menerimanya, apa yang terjadi? Suaminya malah membawa seorang wanita dengan anak berusia tiga tahun kerumah.
"Mulai sekarang Wilona dan anak kami akan tinggal dirumah ini."
Anak kami?
Selanjutnya, bisakah Felisia menerima Wilona dan anak dari suaminya bersama wanita lain? Mampukah hatinya bertahan di rumah itu? Membagi suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L2080617, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BC:SAM? #27
Acara pesta berjalan begitu lama. Evelyn sangat sibuk dengan para tamu yang mengajaknya mengobrol. Baik membicarakan urusan bisnis, memberikan ucapan selamat, bahkan ada yang bertanya mengenai hal pribadinya.
"Mommy," Sophie menarik ujung baju Evelyn.
Evelyn melirik Sophie sebentar lalu meminta izin kepada lawan bicaranya untuk berbicara dengan anaknya sebentar.
"Iya sayang ada apa?" Tanya Evelyn sambil berjongkok.
"Mommy, Sophie ngantuk" ucap Sophie sambil mengucek matanya.
"Anak Mommy udah ngantuk?" Tanya Evelyn hanya memastikan.
Sophie mengangguk.
"Tuan, saya undur diri diluan. Masalah bisnis yang tadi anda bicarakan bisa langsung tanya kepada Daddy saya," ucap Evelyn sambil menggendong Sophie.
"Iya, Nona" balas pria itu.
Evelyn pergi ke kursi Daddy Aaron dan Mommy Ametta.
"Dad, Mom, Evelyn pulang sekarang ya. Sophie udah ngantuk" ucap Evelyn dengan suara kecil.
Daddy Aaron melirik Sophie yang ada di gendongan Evelyn.
"Bawa saja Sophie pulang. Kasihan cucu Daddy kalau tidur sambil duduk" ucap Daddy Aaron.
"Baiklah, Evelyn pulang sekarang ya Dad" Evelyn berkata sambil mengambil tasnya.
"Tunggu... Gilbert, temani Evelyn dan Sophie pulang. Jaga mereka," titah Daddy Aaron.
"Baik Tuan," ucap Gilbert patuh.
"Ayo Nona," ucap Gilbert.
Evelyn berjalan di depan dengan Gilbert yang mengikutinya dari belakang.
"Gilbert, kamu gendong Sophie dulu ya. Aku lupa ada berkas yang harus ku ambil di meja kerjaku," ucap Evelyn.
"Apa sangat penting, Evelyn?" Tanya Gilbert.
"Iya sangat penting. Berkasnya belum selesai ku kerjakan. Takutnya tidak ada waktu lagi," ucap Evelyn sambil menyerahkan Sophie kepada Gilbert.
"Baiklah, hati hati ya. Kami akan menunggumu di lobi," ucap Gilbert.
"Baik," ucap Evelyn.
Evelyn sedikit berlari menuju kantornya.
"Lorong ini kenapa gelap?" Tanya Evelyn bingung karena seharusnya semua lampu di perusahaan ini menyala karena ada pesta.
Tangan Evelyn bergerak mencari saklar.
"Eh?"
Jantung Evelyn berdetak kencang saat tangannya seperti menyentuh seseorang.
Tiba tiba entah bagaimana lampu tiba tiba menyala.
Melebihi tadi jantung Evelyn rasanya mau copot saat melihat seseorang yang ada di hadapannya sekarang.
Tuhan, kenapa pria ini ada disini?
Tanya Evelyn dengan berkeringat dingin akibat gugup.
"Felisia..." seseorang itu bergerak berniat memeluk Evelyn.
Ya, pria itu adalah Dafi, Dafi Andhika. Orang yang sampai sekarang masih menjadi suami Evelyn atau yang dikenal sebagai Felisia.
Evelyn dengan cepat langsung menghindari pria dihadapannya ini.
"Maaf tuan, sepertinya anda salah orang. Saya Evelyn Davis bukan Felisia" ucap Evelyn dengan penekanan di setiap katanya.
Dia tidak mau bertemu dengan pria ini tapi kenapa? Kenapa takdir malah mempertemukan mereka? Di saat dia sudah bisa sukses dan bahagia. Kenapa bayang bayang masa lalu kembali menghantui dirinya?
"Felisia maaf... Aku tahu aku salah. Aku menikahi wanita lain tanpa izin darimu. Aku minta maaf, tolong kembalilah" pinta Dafi sambil berlutut.
Deg deg deg deg
"Tuan, jangan seperti ini. Jika ada orang yang melihat bisa bisa mereka berpendapat buruk tentang saya," ucap Evelyn terlihat tidak tega melihat Dafi berlutut.
Dia tidak mau mengakui bahwa dia adalah Felisia karena itu sama saja dengan dia mau kembali bersama Dafi. Lebih baik dia berpura pura menjadi orang asing daripada menjadi Felisia.
"Felisia tolong jangan menghindari ku. Jangan berpura pura," ucap Dafi dengan suara sedih.
Evelyn menggigit bibir bawahnya.
"Maaf tuan, jika anda mau seperti ini terus. Saya tidak bisa apa apa. Saya sibuk dan tidak punya waktu banyak meladeni anda," ucap Evelyn dengan nada datar.
Evelyn lanjut berjalan menuju kantornya.
"Felisia, Sophie anakku. Kami tidak bisa memisahkan dirinya dari ku" ucap Dafi setengah berteriak.
Maaf Felisia, jika kata maafku tidak bisa membuatmu kembali. Aku terpaksa memakai cara ini
ucap Dafi dalam hati.
"Maaf?"
Pertama Evelyn syok mendengar kata kata itu. Namun dia menetralkan ekspresi nya dan membuat wajah bingung.
"Tuan, putri saya bukan anak anda. Saya juga tidak kenal dengan anda," ucap Evelyn tegas.
Evelyn sedikit berlari menuju kantornya. Saat masuk dia mengunci pintu dari dalam.
"Tuhan, kenapa dia datang lagi dihidupku?" Tanya Evelyn sambil menangis.
Kakinya terasa tidak ada tenaga hingga membuatnya merosot ke lantai.
"Kenapa dia tidak membiarkan aku tenang dengan hidupku? Dia sudah mempunyai keluarga sendiri. Kenapa dia masih mengganggu hidupku? Aku sudah sakit hati. Aku tidak sanggup lagi untuk melihat kemesraan keluarga mereka. Tuhan ujian apa lagi ini?" Tanya Evelyn sambil menangis deras.
"Evelyn kamu kenapa menangis?" Sebuah bisikan yang berasal dari tubuh Evelyn seakan sedang meledeknya.
"Iya, kenapa aku menangis? Aku adalah Evelyn bukan Felisia. Seorang designer hebat dan putri keluarga Davis. Aku bukan istri dari putra keluarga Andhika. Evelyn ingat ada anakmu yang harus kamu jaga. Kamu harus kuat. Jangan cengeng. Ingat Sophie," Evelyn menasehati dirinya sendiri sambil menghapus air matanya yang keluar tanpa malu.
Evelyn berdiri untuk mengambil berkas yang dia butuhkan.
Setelah itu dia keluar setelah merapikan penampilannya.
Di depan ruangan ternyata menunggu Dafi. Bukan hanya Dafi di sampingnya ada Grandma Kelly.
Evelyn mengepalkan tangannya menahan segala emosi yang berkecamuk di dalam hatinya.
"Permisi," Evelyn berniat langsung pergi dengan sopan.
"Felisia, sekarang kamu sudah tidak mengenal Grandma? Hanya dalam waktu tiga setengah tahun?" Tanya Grandma Kelly.
Evelyn menutup matanya. Grandma Kelly tidak bersalah apa apa padanya. Hal itu membuat Evelyn tidak tega mengacuhkan apalagi membohongi wanita tua itu.
"Maaf, saya tidak punya waktu meladeni kalian. Sekarang saya harus pulang. Anak saya membutuhkan saya," ucap Evelyn.
Sebelum kata kata protes keluar dari mulut ke dua orang itu. Ponsel Evelyn berdering dan itu dari Gilbert.
Evelyn sungguh sangat berterima kasih kepada Gilbert. Dia menyelamatkan Evelyn saat ini.
Dengan cepat Evelyn langsung mengangkat panggilan itu.
"Halo Gilbert," panggil Evelyn.
"Evelyn kamu dimana? Kenapa lama sekali? Sophie dari tadi menanyakan dirimu" ucap Gilbert dari seberang sana.
"Berkasku tadi sulit ku temukan. Sekarang aku akan segera ke lobi. Tunggu sebentar ya," ucap Evelyn.
"Baik,"
Setelah Evelyn menyimpan ponselnya. Dia langsung pamit untuk pergi.
"Jika anda mau berbicara penting katakan saja kepada Daddy saya. Beliau ada di pesta. Sekarang saya harus pergi, permisi..." Evelyn langsung berbalik.
"Felisia, cicitku harus mengetahui asal usul keluarganya" teriak Grandma Kelly.
Grandma Kelly dan Dafi sama sama menggunakan Sophie sebagai senjata untuk membuat Evelyn pulang kembali ke Indonesia. Namun sebelum itu wanita ini harus mengakui bahwa dia adalah Felisia.
"Sudah saya bilang. Sophie bukanlah keluarga ANDHIKA. Dia putri keluarga DAVIS!!!" ucap Evelyn dengan membentak karena kesabarannya saat ini sudah benar benar habis.
***
Jangan lupa like dan komen 🤗🤗🤗.
beda dgn IGD, pasien baru akan menerima tindakan, apakah itu mau di oprasi, atau tindakan lainnya, sesuai dgn keadaan pasien, apakah dia gawat, atau luka ringan..