Cinta, persahabatan, dan balas dendam, membawa Kairen dan Raizel ke dalam sebuah lingkaran kebimbangan untuk menuju sebuah kisah hidup yang sebenarnya. Cinta, persahabatan, atau balas dendam, hanya mereka yang menentukan.
"Gue akan temuin mereka dan bawa mereka kesini, hidup ataupun mati" ~Kairen Elashka Alexander
"Kalo harus ada yang yang disalahkan disini, maka itu adalah perasaan!!" ~Raizel Elashki Alexander
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Suci Aulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kita
Seperti janjinya pada manusia baskom tadi malam, Kairen datang ke kosan Kimy tepat pada pukul 9 pagi. Cowok itu memasuki gang kecil yang berada di tengah pemukiman penduduk. Banyak ibu-ibu genit yang menatap takjub kearahnya. Tidak jarang pula ada yang terang-terangan memujinya ganteng.
Hingga langkah cowok itu berhenti di depan sebuah bangunan sederhana dengan nama 'Kost Putri Permata'. Bangunan berlantai dua dengan pagar kayu di depannya ini nampak biasa saja, tidak ada kesan mewah sama sekali apwlagi untuk ukuran anak pengacara terkenal seperti Kimy.
Kairen mengangkat tangannya, mengetuk pintu kayu itu beberapa kali hingga teedengar sahutan dari dalam. Tak berselang lama, pintu dibuka oleh seorang gadis dengan perawakan tinggi hitam. Jika dilihat dari fisiknya, gadis itu seperti keturunan orang daerah timur.
"Cari siapa kaka?" tanyanya dengan logat seoerti orang Papua.
"Nyari Kimy, ada kan?" jawab Kairen sekaligus bertanya.
Gadis itu melihat Kairen dari bawah sampai atas dengan tatapan penuh selidik.Membuat Kairen sedikit bergidik.
"Kok gue berasa kek jadi tersangka yak?" gumamnya dalam hati.
"Ada, tunggu sebentar ya?" gadis itu kembali masuk ke dalam. Pintu dia tutup lagi. Bukan tanpa alasan, di kosan ini memang dilarang untuk membawa masuk laki-laki.
Kairen duduk di salah satu kursi yang disiapkan di teras. Cowok itu mengambil ponselnya dari saku. Dia membuka aplikasi chatting, ada banyak chat masuk dari puluhan gebetannya. Tapi dari sekian banyak chat, hanya ada satu pesan yang dia sematkan. Chat dari si Bidadari Empang. Tanpa sadar, Kairen berulang kali terkekeh kecil saat melihat chatnya sendiri yang dia kirim kepada Rachel. Cewek itu udah mulai mau membalas pesannya, meskipun masih terbilang jarang.
"Kalo mau senyum-senyum sendiri, jangan di kosan gue!!. Entar lo dikira kesambet lagi"
Kairen spontan menoleh kearah Kimy yang sedang bersandar di gawang pintu sambil menatap aneh kearahnya.
"Lah sejak kapan lo disini?" tanya Kai dengan gobloknya.
"Sejak sapi kawin sama orang utan!!. Harusnya gue yang nanya, lo ngapain disini?!" Kimy menjawab dengan nada nggak santai. Sekolah di SMA Garuda 3 bulan membuatnya terkontaminasi virus ngegasnya Vero.
"Wahh wah wahh" Kai berdiri sambil geleng-geleng kepala. Dia berjalan kearah Kimy dan berdiri dihadapan gadis itu.
"Gini nih, kalo kelamaan jadi jones. Otaknya jadi lemot" Kairen menoyor kepala Kimy menggunakan jari telunjuknya hingga membuat gadis itu berdecak sebal. Ditepisnya tangan Kai dengan kasar, gantian kini dia menampol wajah pemuda itu menggunakan tangan kiri.
"Dih, sok banget lo!!. Pinter lo seberapa sih conk?. Ulangan masih remidi 7 kali aja bangga lo" hardik Kimy tanpa ampun.
"Lo belum tau aja kalo Alberth Einstein itu bisa hebat gara-gara gue yang ngajarin!!" biarlah Kai meneruskan bakat mengibulnya. Kita yang waras cuma bisa iyain sama baca ayat kursi dalem hati. Berharap semoga Kai dapet hidayah walau cuma setitik.
"Ngajarin cebok itu iya!!"
"Loh kok tempe" ucap Kai dengan wajah sok terkejut. Kimy menatapnya dengan gemas. Gairahnyaa muncul untuk mengakhiri hidup Kairen di dunia.
"Udah deh lo daripada nyericis kayak emak gue, mending lo ikut gue aja" Kai menarik tangan Kimy, mengajak untuk pergi.
"Eh mau kemana?" tanya Kimy dengan wajah bingung.
"Udah gausah bayak nanya kek reporter. Nanti juga tau. Yok berangkitt" Kai merangkul bahu Kimy, mengajak gadis itu berjalan melewati gang kecil yang tentunya langsung menjadi pusat perhatian emak-emak rempong.
Ya begitulah kehidupan di perkampungan. Apalagi jalau mempunyai tentangga yang punya indra keenam, tanpa kita cerita pun mereka udah tau apa yang terjadii. Meskipun ceritanya terkadang cuma anggapan mereka dan parahnya mereka selalu merasa kalau anggapannya itu benar.
Dan disinilah mereka sekarang, duduk berjajar di pinggir kolam Taman Kota. Dua cup ice cream berada dalam genggaman untuk menghalau rasa haus karena teriknya matahari siang.
"Gue denger-denger katanya si Rai udah pulang ya?" tanya Kimy memulai pembicaraan.
Kairen mengangguk beberapa kali sebagai jawaban.
"Iya, udah seminggu dia pulang dari Rumah Sakit"
Kimy menelan ice cream di mulutnya. Sesekali gadis itu mengelap ujung bibirnya sendiri saat merasa kalau ada ice cream yang belepotan.
"Terus, lo mau sampek kapan nyamar jadi Rai?"
Pertanyaan itu membuat Kairen terdiam. Pemuda itu meletakkan cup ice creamnya di kursi kemudian menatap kearah ikan-ikan yang berenang di dasar kolam.
"Sampek gue bisa nemuin orang yang udah nabrak Rai" sahut Kai dengan segera. Tekadnya sudah bulat, dia tidak akan membongkar identitasnya sebelum dia berhasil menemukan orang itu. Apalagi ini menyangkut adik kembarnya.
"Rai?" panggilan dari arah brlakang membuat Kai dan Kimy menoleh. Terlihat Rachel sudah berdiri di belakang mereka sambil meneteng sebuah sepatu roda. Gadis itu tersenyum manis dengan rambut panjangnya yang terurai indah.
"Perasaan ini taman deh, kok bisa ada bidadari sih disini" Kai berceletuk asal, membuat Kimy tidak bisa menahan diri untuk tidak menampol kepala cowok itu menggunakan linggis.
"Jangan mulai deh lo. Gue tempeleng pala lo pake sapu jagad baru tau rasa!!" desis Kimy dengan wajah kesal.
"Apaan sih, cemburu ya?" seolah tidak terpengaruh dengan hardikan Kimy, Kai malah menggoda gadis itu sembari menaik turunkan alisnya.
Gadis itu tersentak. Buru-buru dia mengalihkan pandangannya kearah lain, enggan menatap kearah Kai.
"Ya enggak lah, ngapain juga gue cemburu sama cebong rese kayak lo!!" kilah Kimy dengan segera.
"Yaudah kalo nggak cemburu" ucap Kai acuh. Dia berdiri dari duduknya, kemudian menghampiri Rachel yang berdiri tidak jauh dari tempatnya duduk tadi.
"Lo kok bisa ada disini?, katanya tadi supermarket?" tanya Kai berbasa-basi. Karena memang benar, seingatnya saat du chat tadi Rachel bilang kalau dia sedang di supermarket. Tidak taunya tiba-tiba dia ada disini.
"Tadi aku emang dari supermarket depan sana" Rachel menunjuk kearah sebuah supermarket yang terletak di seberang jalan.
"Jadi sekalian aja kesini buat nyoba sepatu roda" sambungnya kemudian.
"Mau gue ajarin?" Kairen menawarkan jasa jadi mentor sepatu roda dadakan. Anggap aja buat batu loncatan pdkt. Itung-itung modus biar anak orang nggak ilfeel.
"Emang kamu bisa?" kening Rachel mengerut bingung seolah meragukan. Apalagi mengingat kalau Kai adalah tipikal buaya berbulu kucing. Dia takut cuma dimodusin.
"Ya bisalah. Jangankan ngajarin pake sepatu roda, ngajarin supaya lo cinta sama gue pun gue bisa"
Baru juga dibilangin, jiwa buayanya udah meronta-ronta. Apalagi udah satu minggu dia nggak ganti cewek baru. Adrenalinnya kurang terpacu saat ini.
"Tapi kita kesana dulu ya, gue mau beli minum bentar" tanpa menunggu jawaban dari Rachel, Kairen menggandeng tangan gadis itu kesebuah lapak penjual jus buah. Saat akan pergi, dia sempat-sempatnya melambaikan tangannya kearah Kimy yang sedang merengut kesal. Gadis itu mengepalkan tinjunya di samping paha, merasa kesal karena tidak dianggap.
"Kamprett bener tuh anak, teeus ngapain lo ngajak gue kesini cebong!!!"
*************
Kairen mengajak Rachel untuk duduk di sebuah kursi taman setelah mereka memesan jus buah. Niat hati ingin belajar sepatu roda, tapi terpaksa dipending karena panas yang begitu terik.
Kai mengamati wajah Rachel dari samping dengan seksama. Wajah baby face yang terkesan kalem sangat pas sebagai salah satu kriteria cewwk idamannya. Apalagi gadis itu memang orang yang anggun dan kalem, berbeda dengan Kimy, Gabriel, ataupun Elsa.
"Kamu sering ya kesini?" tanya Rachel tiba-tiba.
"Ya lumayan sih, tiap minggu gue kesini" sahut Kairen tanpa melepas tatapannya dari wajah Rachel.
"Sama pacar kamu?"
"Gue nggak ada pacar"
Rachel tertawa dalam hati. Apa semua cowok kalo ditanya soal pacar selalu jawab nggak punya?. Padahal tiap malam minggu antrian ngedate-nya ngalah-ngalahin orang ngambil sembako.
"Terus cewek-cewek yang selalu glendotan sama kamu tiap jam istirahat itu siapa?" tanya Rachel lagi sambil terkeleh. Ini lebih ke sebuah sindiran. Sindirat buat cowok yang ngakunya nggak punya pacar tapi gebetannya unlimited.
"Mereka itu selalu ngejar-ngejar gue. Tapi gue nggak suka sama mereka" Kai berdalih iblis. Biarlah dosa berbohong menjadi dosa tanggunganya di akhirat. Yang terpenting dia tidak di blacklist dari data calon pacarnya Rachel.
"Kenapa kamu nggak cari pacar yang bener-bener kamu cintai. Daripada kamu main-main sama banyak cewek, kan kasian mereka" ucap Rachel yang mengutarakan pendapatnya sebagai perempuan. Karena benar, dighosting itu sakit. Apalagi di ghosting pad kita udah terlajur melting.
"Orang yang gue suka, nggak suka sama gue" sahut Kairen.
"Ya diperjuangin dong, lembek banget jadi cowok!!" Rachel berseru cepat. Cowok emang kadang gitu, beraninya cuma kode-kodean tapi nggak mau terbuka. Giliran gebetan diambil orang nangesss.
"Lo mau gue perjuangin?"
Ucapan itu, membuat Rachel menoleh cepat kearah Kai yang juga menatapnya. Gadis itu tersipu, bohong kalau dia tidak baper. 'Lo mau gue perjuangin' ... Akhhhh tolong siapapun beri Rachel tamparan, supaya dia sadar kalo ini bukan mimpi.
"Jangan pernah jadiin perasaan sebagai mainan!!"
**Hay semuaaa, apa kabar niehh?. maaf ya guys aku baru up, jadwal ku lagi mepet bangeet. Apalagi ini udah mendekati UAS, jadinya aku sering telat up.
Makasih banget buat kalian yang udah setia nunguuuu, jangan lupa tinggalkan jejak yaaa. Happy reading😍**
mampir dulu ka,awal baca aja udh bikin ketawa dan kesel 🤭🤭