Kisah cinta seorang wanita yang berlumuran dosa yang dipertemukan dengan lelaki sholeh
Thara dijodohkan dengan Ayaz lantaran tidak tahan dengan sikap anaknya yang liar dan diluar kendali. Surya yang merupakan ayah dari Thara memilih Ayaz, yang merupakan murid teladannya dulu. Dia yakin bersama Ayaz, Thara akan berubah menjadi wanita baik-baik. Mengingat reputasi Ayaz yang gemilang dan juga ke shalehannya.
Namun keluarga Ayaz tidak setuju anaknya dinikahkan dengan wanita liar seperti Thara. Ibunya takut hal itu akan membuat malu nama baik keluarga. Namun karena Surya banyak berjasa pada Ayaz. Membuat pria itu mau tidak mau menyetujui perjodohan itu.
Lalu bagaimana rumah tangga mereka, mengingat sifat mereka yang sangat jauh bertentangan.
Apakah Ayaz mampu mendidik istrinya? membuat Thara jatuh cinta atau malah menyerah karena tidak tahan dengan wanita itu.
"Tidak ada yang menginginkan pernikahan ini! untuk apa ditanggapi dengan serius. Urus, urusanmu sendiri. Jangan ikut campur dengan urusanku!!"
"Memang kita tidak menginginkan pernikahan ini, tapi ketahuilah bahwa segala sesuatu yang terjadi atas kehendak ALLAH. Kau adalah amanah dari ayahmu untukku, Thara. Dan tanggung jawabku begitu besar terhadapmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aff18, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
"Apa maksud kamu, Fatma?!" Thara menatapnya penuh tuntutan.
Fatma yang tadinya hanya diam, kini mulai bicara mencoba menjelaskan maksudnya.
"Thara nggak bisa hamil, tapi Fatma bisa. Fatma bisa meminjamkan rahim Fatma untuk mengandung anak Mas Ayaz. Dengan begitu, Mama nggak perlu khawatir tentang masalah penerus keluarga."
"Jangan asal bicara kamu Fatma! kamu pikir semudah itu?!" ucap Ayaz tak setuju dengan ucapannya.
Sementara Mama Gina mulai tertarik dengan membicaraannya. Baginya tidaklah salah dengan yang dikatakan Fatma. Justru sebaliknya, itu merupakan solusi yang tepat.
"Mama rasa apa yang dikatakan Fatma tidaklah salah. Justru ini satu-satunya solusi yang kita miliki."
"Benar Mas. Fatma nggak ada maksud untuk memperkeruh keadaan. Fatma hanya ingin membantu. Setelah Fatma melahirkan anak Mas Ayaz, Fatma rela dicerai." ucapan itu sendiri begitu menyakitkan bagi Fatma. Namun apalah daya, dia juga tak ingin berharap lebih.
"Tidak Fatma. Bukan seperti itu. Mama setuju dengan pendapat kamu, tapi Mama nggak setuju dengan perceraiannya. Rahim bukanlah sebuah alat yang bisa dipinjam-pinjam. Ayaz harus benar-benar menikahi kamu dan menjadikan kamu istrinya."
Lagi-lagi hantaman batu besar seakan mengarah pada Thara. Wanita itu kini menatap tak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh mertuanya. Bagaimana bisa Fatma menikah dengan suaminya. Bagaimana bisa Thara menerima pernikahan mereka?
Perasaannya benar-benar hancur. Hanya air mata yang menjadi saksi bagaimana perasaannya saat ini.
"Tidak Ma. Ayaz tidak bisa menduakan Thara. Ayaz tidak akan mampu membagi perasaan ini. Jika menikahi Fatma hanya karena menginginkan anak, tentu hal itu tidak adil baginya. Fatma juga butuh cinta dan perhatian. Sayangnya Ayaz tidak bisa memberikan hal itu padanya." Ayaz mencoba memberi Mama Gina sebuah pengertian. Namun sayang, justru hal itu semakin membuatnya murka.
Sementara Fatma semakin terhenyak dengan ucapan Ayaz. Kedua perempuan itu sama-sama merasakan sakit, hanya saja caranya yang berbeda.
"Kamu bisa menuruti keinginan orang lain, kenapa Mama nggak bisa?! sembilan bulan Mama mengandung kamu, Ayaz. Sesulit itukah kamu menuruti keinginan Mama! ini semua demi kebaikan kamu, demi keluarga kita."
"Tapi tidak dengan begitu, Ma. Kasihan Fatma."
"Kalau begitu belajarlah untuk mencintainya. Mencintai seorang jalang aja kamu bisa, kenapa gak bisa sama wanita baik-baik seperti Fatma."
Ayaz menghela kasar nafasnya. Perasaannya benar-benar gusar. Mengatasi dia pilihan yang sangat bertentangan. Disisi lain dia sangat mencintai Thara, dia tidak ingin Thara terluka. Disisi lain ada Mama Gina yang tidak bisa menerima kekurangan Thara dan memintanya untuk menikahi Fatma.
"Untuk saat ini Ayaz tidak bisa memutuskan apapun. Lebih baik kita tenangkan dulu hati dan pikiran kita." Ayaz beranjak dari sana. Meninggalkan mereka begitu saja.
Thara masih terdiam ditempatnya. Belum cukup semua makian dari Mama Gina untuknya, kini Mertuanya itu malah menambahkan lagi duri dalam rumah tangganya dengan menghadirkan sosok Fatma.
"Kalau kamu masih punya harga diri dan sedikit saja rasa malu. Pergi, bujuk Ayaz agar mau menikahi Fatma. Jangan bersikap egois dengan hanya memikirkan perasaanmu sendiri tanpa berpikir bagaimana masa depan keluarga ini! keluarga kami nyaris hancur karena ulahmu. Biarkan Fatma menjadi istri kedua Ayaz. Dengan begitu nama baik keluarga ini bisa terselamatkan dari gunjingan para tetangga."
Thara mengangkat wajahnya. Meski rasa sakit dihatinya begitu menyiksa. Namun dia juga tidak bisa memungkiri dengan apa yang dikatakan oleh Mama Gina adalah benar. Dia tidak boleh egois. Dan solusi menyakitkan itu satu-satunya jalan.
"Thara sadar akan kekurangan Thara, Ma. Mama tenang aja, Thara akan membujuk Mas Ayaz untuk menikah dengan Fatma." Thara menyeka air matanya. Dadanya terasa sesak saat mengatakan hal itu. Entah bagaimana jadinya nanti, Thara hanya pasrah. Dia hanya ingin Ayaz bahagia. Meski dia sendiri tidak tahu sekuat apa nanti dia bisa menjalaninya.
Fatma menerbitkan seulas senyuman. Melihat kepergian Thara sampai punggung wanita itu tak terlihat lagi. Mereka semua bubar. Yang tersisa hanyalah bi Ratni.
Bi Ratni juga meneteskan air mata. Dia ikut merasakan sesak yang Thara rasakan. Namun dia hanya bisa diam dan berdoa semoga semuanya akan baik-baik saja.
****
Duhai Allah...
Atur saja semuanya. Kupasrahkan diri karena aku juga membutuhkan sebuah ketenangan. Atur saja mana yang terbaik bagiku.
Duhai Allah...
Peluklah aku hingga hatiku bisa merasakan tenang dan damai. Hilangkanlah tangisku hingga aku bisa merasakan sabar dan indahnya ikhlas.
Duhai Allah...
Perdalam lagi rasa sabarku. Perluas lagi rasa syukurku. Perkuat lagi hati dan bahuku. Jadikan aku seikhlas-ikhlasnya atas apa yang engkau kehendaki. Aku percaya bahwa apa yang terjadi hari ini, esok dan nanti adalah berkat dari campur tanganmu.
Begitu lama Thara bersujud sembari mengeluarkan segala sesuatu yang membuat dadanya terasa sesak. Sajadahnya basah karena air mata. Hatinya begitu rapuh menghadapi hari yang cukup berat dan membuat mentalnya jatuh.
Ketika Thara selesai dalam sholatnya. Wanita itu mendapati suaminya tengah berdiri dibelakangnya dengan tatapan penuh arti. Sejenak, tatapan mereka terpaut.
"Jangan menangis lagi... " Ayas mengusap lembut sisa air mata diwajah istrinya. Wajah wanita itu cukup sembab, terlihat jelas keterpurukannya.
"Maafin Thara."
Ayaz memeluknya. Membuat Thara kembali terisak didalam pelukkannya. Tidak hentinya Thara berucap lirih kata maaf pada suaminya.
"Sudah cukup. Mas tidak mau lihat kamu nangis lagi. Mas emang marah sama kamu, karena kamu sudah menyembunyikan hal ini. Tapi Mas tahu kamu lebih membutuhkan sebuah bahu untuk bersandar. Mas tahu kamu juga terpuruk. Bersabarlah, ini hanya ujian." begitu lembut ketika Ayaz berucap ditelinga istrinya. Dengan segenap jiwa dia sangat takut mental istrinya terganggu. Ayaz takut senyuman Thara yang biasanya ceria akan hilang selamanya.
"Thara ikhlas Mas. Thara ikhlas di madu."
Ayaz menggeleng keras. "Tidak, tidak ada wanita yang ikhlas cintanya dibagi. Jangan membohongi perasaanmu sendiri Thara."
"Justru karena perasaan Thara inilah yang membuat Thara ikhlas. Thara ingin Mas Ayaz bahagia. Mama bahagia. Dan kebahagiaan kalian ada pada Fatma. Thara nggak bisa egois, Thara sadar akan kekurangan diri ini. Menikahlah dengan Fatma Mas."
"Tidak semudah itu, Thara. Mas tidak bisa melakukan itu. Tolong mengertilah, apa yang akan Mas katakan dihadapan Allah jika Mas tidak bisa berlaku adil?!"
"Mas bisa mencobanya... "
"Tidak. Ini bukan untuk dicoba-coba. Sudahlah, jangan pikirkan hal yang tidak-tidak. Itu hanya ucapan dokter, jika Allah sudah berkehendak maka apapun yang tidak mungkin bisa menjadi mungkin. Kuncinya hanya sabar dan yakin. Jangan pernah menyerah Thara. Mas tidak bisa membagi cinta ini dan tolong jangan memaksa suamimu ini untuk berlaku tidak adil nantinya... "
TO BE CONTINUE.....
Tekan like dan vote seikhlasnya ya...
thara menag banyak juga, masah bersenang2, sex bebas, hura2, poyah2, dan akhiratnya dapat lelaki yang mencintanya, dan menerima dia apa adanya, bahkan berjuang untuknua
atas lelaki sejati,
fatma miris, berjuang mendapatkan hati lelaki pujaanya tapi miris pujaannya malah nikah dengan wanita lain, dan dia dihujat karena mencinta suami orang, dan miris sekali hidupnya author hukum dia dengan diperkosa dan diperlakukan sangat hina dan kasar
satu kesalahan besar fatma bukan mencintai suami orang tapi fatma mencinta suami pemeran utama wanita karena dasarnya author dan readernya wanita jadi mereka ngehalu diposisi pemeran utama wanita jadi pelakor mereka laknat habis tapi pebinor mereka jaga
*saat fatma melakukan kesalahan mereka beramai menhujat, melaknat dan memaki fatma
tapi
*saat viky melakukan kesalahan meraka diam, tidak mempermasalahkan itu
inilah sikap egois wanita yang dibawa reader dalam berkomentar
*mereka akan melaknat wanita yang menyukai suami alias pelakor
*tapi memaklumi dan terkesan baper dengan lelaki lain yang menyukai mereka, jadi semua kelakuan lelaki itu mereka maklumi bahkan mbenarkan
aku tunggu ucapan thara "maafkan karena tidak sempurna dan Terima kasih suamiku karena ikhlas menerima aku apa adanya" ucapan ini simple tapi sangat banyak maknanya
*membuat suami merasa dihargai dan dianggap
*membuat thara merasa bersukur dan berterima kasih
*membuat thara naik derajatnya karena peka terhadap perasaan suami
*membuat thara naik derajat karena sadar akan kesalahannya
tapi sayang sekali thara tidak pernah mengucapkan kalimat itu