Kisah seorang anak yg tak kenal orang tua..mencoba bertahan dari keras nya hidup dalam dunia persilatan...di asuh oleh 3 orang gembong iblis, mencoba bertahan hidup..untuk mebalas dendam..terhadap orang2 yg tlah mencelakai orang2 yg di cintai nya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jack mad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ch : 26 Perpisahan
"Nak! Kau sudah sadar? Tanya Kim Mo.
Seperti tak mendengar perkataan dari kakeknya,
Shin Mo masih duduk terdiam, seperti sedang termenung.
Shin mo perlahan mengangkat kedua tangan dan terlihat oleh Kim Mo, mata baru Shin Mo seperti melihat kedua tangannya yang terangkat naik.
"Nak, jawab aku! Apakah kau sudah bisa melihat aku? lembut suara Kim Mo, bertanya pada Shin Mo.
Mendengar suara sang kakek, Shin Mo menengok
ke arak kakeknya dan berkata.
"Kek....Kakek!
"Aku....aku, belum....belum bisa melihat kakek!
jawab Shin Mo terbata bata, ada nada sedih dari
perkataannya.
"Apaa! Terdengar suara seperti tak percaya dari
Kim Mo dan Nio nio.
Lalu semua yang berada di dalam kamar diam,
Dan suasana di dalam kamar terasa hening.
"Kakek Kim! Biarlah, tak usah menjadi cemas."
Shin Mo angkat bicara untuk mencairkan suasana,
mungkin belum jodoh Shin er untuk dapat melihat,
sahutnya sambil tersenyum.
Mendengar perkataan Shin Mo, Nio nio
langsung menubruk bocah itu.
"Maaf kan bibi nak! Sambil menangis tersedu.
Kenapa bibi minta maaf kepada Shin er? Kan bibi tak punya salah apa apa," ucap Shin Mo.
Kim Mo berdiri sambil termenung, seperti ada
yang ia pikir kan, tak lama ia pun mulai tersenyum.
"Nak, Coba kau kerahkan tenaga dalam mu,
ke arah mata! berkata Kim Mo.
Shin Mo menuruti perintah kakeknya,
lalu ia menahan nafas, dan mengalirkan tenaga
dalamnya yang berputar putar seperti gelombang
di sekitar perut, ke arah mata baru nya itu.
Terlihat wajah dari ketiga orang itu seperti mengharapkan suatu keajaiban terjadi.
Mata baru Shin Mo terlihat bercahaya dan lebih
merah serta terlihat agak menyeramkan.
"Aku melihat cahaya kek! Jawab Shin Mo girang
tapi...tapi, aku tetap tak bisa melihat wajah kakek
paman, serta bibi."
Mendengar itu kim mo tersenyum, "aku tau
sekarang," ucap Kim Mo
"Tau apa toako? Tanya Hek Mo penasaran
Tanpa menjawab pertanyaan Hek Mo, Kim Mo
bertanya kepada Shin Mo.
"Apakah cahaya yang kau lihat berwarna merah? shin mo mengangguk mendengar pertanyaan Kim Mo.
"Kami bertiga di sini dan apa kau juga melihat cahaya merah ada tiga yang masing masing terpisah, apa betul perkataanku?
Kim Mo memberi tanda kepada Nio nio untuk
bergeser ke kiri dan Hek Mo bergeser ke kanan.
Di mana warna merah itu sekarang? Tanya Kim Mo.
"Satu di depan ku, kemudian yang dua nya lagi di kiri serta kanan ku," sahut shin mo.
Ha Ha Ha
"Akhirnya! Kim Mo berkata sambil tertawa.
"Shin er! yang kau lihat itu adalah tenaga dalam kami bertiga, dengan mata baru mu itu, kau bisa melihat besar kecilnya pancaran tenaga dalam seseorang, seperti se ekor naga yang bisa melihat mahluk hidup dari panas tubuhnya."
"Itu tahapan pertama dari mata naga api itu nak,
mulai besok aku akan melatihmu dalam menggunakan mata naga api itu," berkata Kim Mo sambil tersenyum.
"Nio nio! Apa sudah kau ambil seruling itu? tanyà Kim Mo
Mendengar perkataan toako nya, Nio nio
mengeluarkan sebuah seruling hitam.
Di ujung seruling hitam, dekat tempat mulut untuk meniup, terlihat bentuk hiasan seperti kepala setan.
Kim Mo mengambil seruling hitam dari Nio nio
lalu memberikannya kepada Shin Mo.
"Nak! seruling ini di sebut seruling iblis.
"Seruling ini terbuat dari batu yang jatuh dari langit, dan batu itu mengandung baja hitam yang sangat keras, suling ini dan 1 buah kitab adalah peninggalan dari kakek guru kami yang berisi ilmu seruling pencabut nyawa, dan raungan dewa iblis, kau harus jaga baik baik seruling ini! Karna ini adalah pusaka kakek guru kami." Kim Mo berkata, sambil memberikan suling.
Shin mo terlihat gembira menerima suling dari tangan Kim Mo.
***
Sudah 30 hari sejak menerima mata baru, sambil melatih ilmu seruling pencabut nyawa, di bantu oleh kakek paman dan bibinya.
Kim Mo membuka perkataan ketika mereka berkumpul bersama,
"Nak! Agaknya saat yg di tunggu telah tiba." Kim Mo berkata.
Nio nio dan Hek mo tampak sedih mendengar
Kim Mo bicara.
Mereka sudah di beri tahu oleh Kim Mo, apa maksud pembicaraan hari ini.
"Saat apa yang di tunggu itu, kek? tanya Shin Mo.
"Ada pertemuan, pasti ada perpisahan," jawab kim mo sambil menarik nafas dalam, ada nada sedih
ketika ia bicara.
"Maksud kakek apa? tanya Shin mo karena tak mengerti.
"Kau sudah mewarisi kepandain kami bertiga,
sekarang saatnya kau mengenal dunia luar." jawab Kim Mo.
Shin mo terkejut mendengar perkataan kakeknya
di sisi lain, Nio nio air matanya terus mengucur,
Hek mo yang biasanya cerewet, hari ini diam seribu basa.
"Kakek! Shin Mo akan terus di sini menemani kalian bertiga, sambil menangis Shin Mo lalu bersujud.
"Kalian lah keluarga Shin Mo dan yang menyayangi Shin Mo selama ini," ucap Shin Mo sambil terus bersujud.
Kim Mo lalu membangunkan Shin Mo yang tengah bersujud, sambil berkata.
"Kami bertiga telah sepakat,
ini adalah jalan terbaik untuk mu, nak!"
Setelah berkata, lalu Kim Mo mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk kepala setan.
"Kau pakai lah kalung ini! Mungkin suatu saat
ini akan membantu mu," lanjut perkataan Kim Mo.
"Dan kau masih ingat dengan gadis yang kau nikahi dulu! Lan Hong Giok, jika kau ada waktu, temuilah gadis itu."
"Berhati hati lah nak, jangan kau terlalu percaya dengan omongan orang, ikuti kata hati.
"Dunia persilatan itu sangat kejam.
Carilah orang yang bernama Huo in, ia di kenal
dengan sebutan tabib dewa, ia pasti bisa menyembuhkan dan membuat kau bisa melihat lagi.
"Kami bertiga akan mengantar mu besok keluar dari lembah neraka, teruslah berjalan ke arah utara.
"Paman dan bibi mu sudah menyiapkan perbekalan."
Berbagai pepatah dan nasihat mengalir, dari mulut Kim Mo.
"Istirahat lah! besok kau berangkat."
Dua hari telah berlalu sejak Shin Mo meninggalkan lembah neraka.
Di sisi hutan di daerah utara,
tampak seorang remaja berpakaian hitam
yang agak compang camping, memakai caping lebar menutupi wajahnya yg penuh debu, tengah asik tidur, bersandar di sebuah pohon rindang di sisi jalan, sambil tangannya memegang sebuah tongkat bambu hitam.