Kisah berawal saat Sagara, yang tak sengaja berkenalan dengan seorang gadis di sebuah diskotik. Gadis itu bernama Hila, karena sama-sama frustasi, mereka mabuk berat, hingga mereka berakhir dengan cinta satu malam. Padahal, Hila akan dijodohkan oleh orang tuanya. Hila pun menghilang dari kehidupan Gara setelah cinta satu malam tersebut.
Lelaki yang dijodohkan dengan Hila, akankah bisa menerima Hila yang ternyata sudah pernah tidur dengan lelaki lain? Bagaimanakah nasib Hila selanjutnya?
Apakah Gara akan mencari Hila yang menghilang setelah satu malam mereka berakhir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irna Mahda Rianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26. Whats wrong with Hila?
Rumah sakit Melati ....
Keadaan semakin genting, ketika Hila sudah berada di ruang bersalin, Dokter memeriksa, bahwa bayi Hila terlilit tali pusar, sedangkan pembukaan sudah sempurna. Dan Dokter pun mulai panik. Apalagi, Hila sudah mulai kehilangan tenaganya.
Kondisi ini tentu saja dapat menghalangi pasokan oksigen bayi sebelum bayi mampu bernapas sendiri. Tali pusar yang terlilit di leher bayi sebelum persalinan, akan mengganggu pernapasan bayi. Dokter pun segera memberikan pertolongan, agar bayi Hila bisa segera lahir dengan selamat.
"Hil, Hila ... tarik napas, rileks, sabar ya, Hil. Maafkan aku," tanpa sadar, air mata Gara mengalir.
"Mmmhhhhh, sakit, Gar, sakit sekali. Aku gak kuat, aaarrrgghhhh," Hila mengejan berkali-kali, keringat bercucuran si kening dan pipinya.
Gara tetap menggenggam tangan Hila, Gara tak tega melihat kondisi Hila saat ini. Baru kali ini, hatinya merasa benar-benar rapuh dan terluka. Rasanya lebih menyakitkan ketika ditinggal pergi oleh Hila daripada saat ini, antara hidup dan mati, karena Hila sedang memperjuangkan bayinya.
"Tarik napas Nona, tetap rileks, karena kondisi Nona sedang darurat. Saya harus melaksanakan sesar darurat," Dokter terus menyemangati Hila.
"Hil, sabar sayang. kuatlah, bertahan ya, ada aku untukmu. Aku yang akan menemani bayi kita lahir. Aku yang akan menunggunya. Sabar sayang, tenanglah. Aku yakin, kamu pasti bisa, kamu wanita yang kuat, Hila." Gara terus menggenggam tangan Hila sambil menciuminya.
Dokter segera membawa Hila ke ruang operasi. Hila akan di sesar. Karena lilitan pada bayinya, seperti mencekik lehernya, dan Dokter tak mau ambil resiko jika melahirkan normal. Gara hanya bisa tertunduk lesu sambil menangis. Elang datang dari luar, dan menepuk-nepuk pundak Gara. Meskipun Elang masih bertanya-tanya, akan semua ini.
"Kau menangis, Sagara?" tanya Elang.
Gara hanya terdiam. Ia tak menjawab ucapan Elang. Elang bisa melihat, kesedihan mendalam di wajah Gara. Elang pun duduk di samping Gara.
"Bolehkah aku menebak, mungkinkah bayi yang Hila kandung, adalah bayimu?" tanya Elang.
Gara menatap Elang, wajahnya masih menitikkan air mata, "Iya, dia adalah anakku. Bayi yang kini tengah berjuang dengan Hila, adalah bayiku. Karena itulah, aku tak mau kamu menyakiti hatinya, karena bayi yang ia kandung, adalah milikku. Hatiku ikut sakit, jika kau mencaci maki Hila. Dia tak sepenuhnya bersalah. Ini kesalahanku juga, Lang. Jadi, jangan terus menyalahkannya, karena aku sudah menyesal. Aku tak ada di sampingnya. Aku tak ada, disaat dia membutuhkanku. Aku tak tahu, kalau dia masih hidup, Lang! Aku percaya Hila telah meninggal. Ucapan mu saat itu, mengatakan bahwa dia telah tiada, dan kau bawa aku menuju nisannya. Semua itu adalah bukti, bahwa aku percaya dia telah tiada! Aarrggghhh," Gara mengacak-acak rambutnya.
Seperti tertampar keras, Rangga dan Keyza ternyata mendengar Gara berbicara didepan pintu ruang bersalin. Keyza menahan sang Ayah, agar Rangga tak mendekati Gara dan Hila.
"Ayah, kita cukup menunggu disini saja. Tunggu sampai keadaan membaik," bisik Keyza pada Rangga.
Ada perasaan sedih, kecewa, terluka, pada diri Rangga, ketika Rangga mendengar Gara berkata bayi kita pada Hila. Tapi, dalam kondisi darurat seperti ini, Rangga tak bisa berbuat apa-apa. Rangga kini meyakini, bahwa Gara yang telah menghamili Hila. Itu berarti, ia sedang menunggu kelahiran cucunya sendiri.
Keyza ingin, mendengar seluruh ucapan Gara, sebelum mereka menghakiminya. Gara memang salah, karena ia telah berbuat hal yang tak diinginkan. Tapi, tentu saja, sebelum marah, Keyza ingin mendengar dahulu penjelasannya. Kenapa Gara berani berbuat seperti itu.
Elang pun mendengarkan Gara. Elang merasa bersalah. Karena ia yang memang menutupi keberadaan Hila. Elang tak tahu, bahwa Hila hamil oleh Gara. Bahkan, Elang memaksa Hila jujur pun, Hila tak pernah berbicara siapa yang telah menghamilinya. Itu membuat Elang kesal dan tak suka pada sifat keras kepala Hila.
"Maafkan aku, Sagara. Kurasa, ini semua bukan hanya kesalahanmu saja. Aku juga mengakui kesalahanku. Aku tak jujur padamu. Maafkan aku. Walau aku tak tahu, sejak kapan kau dan Hila saling mengenal. Tapi, dilihat dari wajahmu, kau begitu terluka melihat kondisinya saat ini. Maafkan aku," Elang pun merasa bersalah.
Gara menyeka air matanya, ia menarik napas, "Aku terjerat cinta satu malam dengannya, saat aku masih di Swiss. Dia dan aku tak sengaja bertemu. Dia kabur dari New York, karena ia ingin menghindari perjodohan denganmu. Aku tak menyangka, bertemu dengannya di sebuah diskotik, aku pun mengalami masa sulit saat itu. Saat itu, Ayahku berlaku tak adil lagi padaku. Perusahaan besar di Swiss jatuh ke tangan adikku. Aku sakit hati, hingga aku minum minuman keras bersama Hila, karena kebetulan kita bertemu. Hingga terjadilah kejadian terlarang itu, dan aku tak sadar telah melakukannya. Efek alkohol telah membuat aku gelap mata."
"Sejauh itukah Hila pergi? Ya Tuhan, aku tak menyangka. Perjodohan itu, membuat Hila nekad kabur. Tapi, akhirnya dia berhasil ditemukan oleh ajudannya. Lalu, saat itu kau bagaimana?" tanya Elang.
"Saat dia akan pergi, aku menahannya. Aku tak ingin dia pergi, karena dia telah memberikan mahkotanya padaku. Aku ingin dia tetap denganku, walau saat itu aku tak sedikitpun cinta padanya. Hanya rasa bersalah yang menyelimuti hatiku. Tapi, asisten Hila menembak kakiku, sehingga aku tak kuasa mengejar Hila, dan saat itu, aku tak bisa melihatnya lagi ...."
"Apa? Ditembak? Kau serius, Gara? Aku tak menyangka, kalian pernah terlibat peristiwa serumit itu. Sungguh, maafkan aku. Aku jadi merasa bersalah. Terlepas dari perbuatan khilaf mu dengan Hila, aku pun merasa bersalah, karena aku berbohong padamu, Gar."
Perbincangan antara Gara dan Elang, disimak jelas oleh Keyza juga Rangga. Hati Rangga terpukul, mendengar penjelasan anaknya. Ia sadar, jika perbuatannya membeda-bedakan dirinya dengan Gata, membuat Gara emosi dan tak berpikir panjang. Semua kesalahan ini, bermula darinya, yang pilih kasih pada Gata.
Ya Tuhan, Gara ... anakku. Maafkan aku, aku tak menyangka. Semua ini terjadi karena ulahku. Memang, kesalahan satu malam itu, kau dan Hila yang salah. Tapi, awal dari kesalahan itu terjadi, ternyata akulah penyebabnya.
"Gara ..." tiba-tiba Rangga masuk, menatap Gara dengan sendu.
Keyza yang terhanyut dalam perkataan Gara pun melangkah perlahan mengikuti sang Ayah.
Gara menoleh, ia kaget, "A-ayah .."
"Ayah, maafkan aku," Gara menunduk lesu ketika Rangga mendekatinya.
Rangga memang kecewa, tapi ia pun tak bisa egois hanya mementingkan dirinya sendiri. Gara salah, tentu saja salah. Tapi, Rangga pun menyadari kesalahannya. Rangga terlalu membuat Gara tersudutkan, sehingga Gara berperilaku diluar batas.
Rangga segera memeluk Gara, "Maafkan aku, Anakku. Maafkan aku,"
"A-ayah kenapa minta maaf? Kau tak salah, Ayah. Aku yang salah, aku yang membuat keluarga kita malu. Maafkan aku," Gara tertunduk lesu di pelukan Rangga.
"Sudah, kau memang harus mengakui kesalahanmu. Kau harus bertanggung jawab, karena kau yang melakukan. Kita bahas ini di rumah nanti. Yang terpenting sekarang, hila dan anakmu, kau harus bertanggung jawab pada mereka." Tegas Rangga.
"Ayah, terima kasih kau telah mengerti aku. Aku bahagia, kau bisa bersikap seperti ini,"
Tiba-tiba, suster datang ke ruang bersalin tersebut,
"Pak Sagara, Dokter meminta anda untuk bertemu dengannya. Ini perihal kondisi kesehatan Nona Hila dan bayinya. Silahkan ikuti saya, ini penting dan darurat," ucap sang suster.
DEG. Jantung Gara berdetak tak beraturan ketika suster mengagetkannya dengan berita seperti itu.
"Apa? Kenapa dengan Hila dan anakku? Ada apa?" Gara kaget.
Mereka semua pun kaget,
"Ayo, kita pergi ke sana. Apa yang terjadi dengan Hila dan cucuku!" Rangga khawatir.
*Bersambung*