Di sarankan membaca "SANG PENGANTIN BAYARAN" lebih dulu, karena semua tokoh berkaitan erat dalam novel tersebut.
Alexavier Bancroft, menjadi duda di usianya yang masih muda. Istrinya, Melanie Rendra, meninggal satu hari setelah melahirkan bayi perempuan cantik secara prematur yang di beri nama, Sunny Chalondra Bancrof.
Berbagai tekanan dari keluarga mertuanya membuat Alex berusaha move on dari masa lalunya, namun sulit bagi dia untuk kembali membuka hati pada wanita manapun yang ia temui.
Keluarga Rendra, menjodohkan Alex dengan keponakan mereka bernama Felicia, namun hati Alex berkata lain, ia tertarik pada wanita yang menjadi pengasuh putrinya, Nora Arabella.
Akankah Alex bisa bertahan dengan hatinya untuk memilih Nora, atau memilih untuk mundur dan menerima perjodohan itu dengan rela?
---
WARNING 21+
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vey Vii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bangkit!!!
Tanpa Melanie, semua yang Alex miliki terasa kurang. Beruntung, dirinya masih bertahan karena kehadiran Sunny, jika tidak, laki-laki itu mungkin sudah frustasi sejak tahun-tahun pertama kepergian istrinya.
Felicia, duduk di samping Alex yang sedang melamun, semenjak membaca surat ulang tahun pemberian Melanie untuk Sunny, laki-laki itu terlihat banyak diam di bandingkan sebelumnya.
"Kamu memikirkannya?" tanya Felicia.
"Siapa?"
"Melanie, aku tau."
Menghela nafas panjang, Alex hanya menanggapi perkataan Felicia dengan senyum tipis. Benar, yang sedang berkelana di kepalanya saat ini adalah sosok Melanie.
Merasa hatinya berkabut, Alex bergegas pergi dari ruang tengah dan masuk ke kamarnya, ia meninggalkan semua orang yang tengah asik berbincang di ruang tengah.
Duduk bersandar di atas kasur, Alex meraih foto Melanie yang ada di atas meja, ia mengelus pelan permukaan foto dengan jemarinya, lalu mendekap erat di dada.
Sesak, sakit, rindu, semua perasaan bercampur aduk mengobrak-abrik seluruh jiwanya. Masih ada luka yang terlalu dalam dan sulit di sembuhkan. Perginya Melanie, membawa seluruh kebahagiaannya, kini yang tersisa hanya Sunny, buah cinta mereka yang Melanie lahirkan dengan taruhan nyawa.
Setetes air matanya lolos begitu saja. Dulu, sebelum ia menyadari cintanya akan Melanie, Alex pantang untuk menangis. Namun, setelah kepergian wanita itu, setiap hari setiap kali perasaan rindu menderu, ia tidak bisa mengontrol dirinya.
Laki-laki yang terlihat kuat di luar, tidak menjamin akan kekuatan hatinya. Alex begitu rapuh jika sudah menyangkut akan perasaannya dengan Melanie.
"Sayang, apa kamu tau, putri kita kini sudah besar. Dia tumbuh tanpa ada kamu di sampingnya," gumam Alex, memandangi foto Melanie yang tersenyum.
"Aku tau itu menyakitkan baginya. Aku merasa bersalah karena belum bisa memberikannya ibu pengganti, aku belum siap melupakanmu."
"Kamu pergi terlalu cepat, bahkan saat kebahagiaan kita baru saja di mulai, kamu dengan begitu tega meninggalkan aku dan putri kecil kita."
"Meski begitu, aku mencintaimu, Melanie. Terimakasih telah membawa Sunny hadir dalam hidupku. Terimakasih, Sayang."
Alex mencium permukaan foto, lalu mendekapnya kembali, ia memejamkan mata, berusaha menenangkan hatinya yang semakin tidak karuan. Di hari kebahagiaan Sunny, tidak seharusnya ia merasa bersedih.
Tirai jendela tiba-tiba tertiup angin, Alex merasakan sentuhan lembut di rambutnya, seperti belaian yang dulu ia rasakan. Matanya masih memejam, merasakan angin yang merangkul tubuhnya seakan memberikan kekuatan.
Sebuah ketukan pintu menyadarkannya, Alex buru-buru mengusap wajah dengan telapak tangan dan bergegas membuka pintu.
"Ma," sapa Alex, rupanya yang berdiri di depan kamarnya adalah Friska.
"Ada apa, Nak? kenapa tiba-tiba ke kamar?" tanya Friska, ia mengikuti Alex untuk duduk di atas ranjang.
"Nggak, Ma. Cuma pengen sendiri aja."
"Jangan bohong. Pasti ada sesuatu yang kamu tutup-tutupi. Kamu bisa cerita sama mama," ucap Friska, ia menoleh, menemukan foto Melanie yang tergeletak di atas kasur, di samping anaknya duduk.
"Kamu merindukannya?" tanya Friska, lalu memeluk anak pertamanya.
"Dengar, Sayang. Mama tau ini nggak mudah, mama tau ini menyakitkan. Tapi sampai kapan kamu akan terkurung dalam masa lalu itu, Nak. Tolong, jangan buat mama khawatir, dengan kamu bersikap seperti ini, kamu juga menyakiti mama, menyakiti Sunny, menyakiti mertuamu," ungkap Friska.
"Tapi, Ma. Aku ...." Alex melepaskan pelukan Friska, ia menatap dalam mata wanita paruh baya itu.
"Mama tau, mama juga pernah ada di posisimu. Saat papamu meninggal, mama merasa dunia mama hancur, mama benar-benar kehilangan harapan. Tapi berkat kamu, mama bangkit."
"Terkadang, Tuhan itu terasa nggak adil. Tapi kamu harus tau, Tuhan selalu tau apa yang terbaik untukmu, biarkan Melanie tenang di pangkuan-Nya, Nak. Biarkan dia beristirahat dengan damai, jangan terus menerus menangisinya. Kamu harus bangkit, kamu harus kuat, ada Sunny, dia menaruh harapan hidupnya padamu, kalau kamu terus seperti ini, siapa yang bisa Sunny andalkan?"
Alex menunduk, ia mencerna setiap nasehat yang Friska ucapkan. Dan itu membuat rasa bersalahnya semakin besar pada gadis kecilnya.
"Kamu harus bangkit dari keterpurukan ini. Masa depanmu masih jauh, Sunny membutuhkanmu, Nak. Jangan lemah, kamu masih muda, kamu bisa mencari ibu pengganti untuk Sunny, jangan hanya terpaku pada masa lalu, pikirkan tumbuh kembang dan masa depan putrimu."
"Aku belum bisa melupakan Melanie, Ma," keluh Alex dengan jujur.
"Mama nggak minta kamu melupakan Melanie, itu mustahil. Biarkan dia tetap hidup di hatimu, biarkan dia hidup sebagai masa lalu untuk di kenang. Tapi jangan biarkan jiwamu kosong, kamu butuh pendamping."
"Aku belum siap, Ma."
"Ini bukan soal siap tau belum, tapi ini tentang keikhlasan hatimu. Kamu belum benar-benar ikhlas melepas Melanie, itu yang membuatmu nggak ada pernah siap membuka hati untuk orang lain," tegas Friska.
Friska menatap putranya dengan pandangan iba. Sejak kecil, Alex adalah anak yang tangguh, ia pantang menangis meski jatuh berkali-kali. Namun saat ini, putranya berubah karena rasa kebilangan.
Sejak Alex menikah dengan Melanie, hubungan ibu dan anak itu semakin baik. Alex dengan tulus memaafkan Friska dan menerima kembali Friska dalam hidupnya, tentu saja itu semua berkat dukungan dan Hayley dan Aaron yang terus membujuknya. Jika ada mantan teman, pacar, istri. Tapi tidak akan pernah ada sebutan mantan untuk seorang ibu.
Sekelebat bayangan masa lalu menghampiri Alex, ia tidak begitu mengingat dengan jelas. Samar-sama, bayangan tentang kematian papanya saat dia masih berusia 8 tahun terlintas, itu adalah saat pertama kali dalam hidupnya melihat Friska jatuh pingsan berkali-kali hingga masuk rumah sakit, di usianya yang masih anak-anak, Alex belum begitu paham sakitnya di tinggalkan, ia hanya melihat Friska terbaring lemah dan menangis setiap hari, setiap jam, bahkan setiap waktu. Saat ini, Alex juga merasakannya.
"Ayo, temui orang-orang di bawah," ajak Friska. "Dengarkan mama baik-baik. Mama nggak maksa kamu buru-buru menikah. Untuk saat ini, kamu cukup fokus pada hatimu, pada lukamu. Setelah itu, kembali pada kenyataan, besarkan Sunny, perjuangkan masa depan kalian."
Alex mengangguk, lalu memeluk Friska erat. Ada angin segar yang melintas di hatinya, membuatnya tenang dan berbesar hati untuk saat ini.
Semua nasehat Friska di terima dengan baik oleh Alex, mulai hari ini, laki-laki berambut silver itu berjanji, demi dirinya dan demi Sunny, ia akan bangkit dan mengobati lukanya sendiri, ia memantapkan hati untuk tidak akan lagi menangis, meratapi yang sudah-sudah.
"Ayo, banyak gadis-gadis cantik yang menunggu anak mama. Sudahi kesedihan ini, kita buka lembaran baru."
Friska menggandeng Alex keluar dari kamar, menemui orang-orang yang masih menikmati suasana berkumpul yang jarang sekali di lakukan.
🖤🖤🖤