Novel berantai.
1 JODOH AISYAH.
2 JANJI ANISSA.
3 ZAHIRA UNTUK YUSUF
Juwita adalah gadis non muslim. Suatu hari takdir mempertemukannya dengan pemuda muslim bernama Syakir. Juwita mengagumi Syakir dan agamanya.
Kehidupannya bersama sahabat sahabatnya memberikannya suatu pelajaran hidup. Hingga suatu hari iya ingin mengucapkan syahadat, iya ingin menjadi seorang mualaf dibantu oleh Syakir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon siti aminah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Juwita sadar
Kini Syakir sedang menunggu Juwita di ruang perawatannya di sebuah klinik. Syakir sengaja tidak membawanya ke rumah sakit besar, iya takut Tante Siska akan menemukannya dan berbuat jahat pada keponakannya itu. Syakir selalu berdo'a untuk kesembuhannya Juwita. Entah kenapa dia begitu perduli pada Juwita, Syakir sendiri tidak mengerti. Fadil sedang asik memainkan ponselnya.
Kini Dokter Ikbal sedang memeriksa keadaan Juwita. Semalam Juwita sadarkan diri namun hanya sebentar.
"Sepertinya ada seseorang yang sengaja memberikan suatu obat yang membuat pikirannya Juwita menjadi seperti ini" ucap Dokter Ikbal.
"Kemarin kemarin Juwita sempat depresi Dok" ucap Syakir.
"Insya Allah pengaruh obat itu sudah hilang. Dan jangan biarkan dia sendirian dulu, sepertinya dia sering mendapatkan bisikan yang menyuruhnya untuk melakukan bunuh diri" tutur dokter Ikbal. Syakir pun mengangguk.
"Apa dia benar benar tidak punya keluarga selain tantenya?" tanya Dokter Ikbal.
"Sepertinya begitu Dok, orang tuanya sudah meninggal sewaktu dia masih kecil'
"Kau tenang saja Syakir, sebentar lagi Juwita pasti siuman. Ngomong ngomong kemarin saya bertemu dengan Tantemu" ucap Dokter Ikbal.
"Pasti Dokter dibuat migren ya" ucap Syakir. Dokter Ikbal malah tertawa kecil.
"Bukan Zahira namanya kalau tidak bisa membuat orang migren. Ngomong ngomong bagaimana kabar permen lolipop ku?" tanya Dokter Ikbal. Syakir dan Fadil pun mengernyit.
"Permen lolipop???"
Dokter Ikbal pun tersenyum.
"Maksud saya Syifa" ucap Dokter Ikbal kembali.
" Oh si semok putranya bang Muklis" ucap Fadil. Dokter Ikbal pun mengangguk.
"Alhamdulillah Syifa sehat" ucap Syakir.
"Sehat, sehat banget malah. Dia tumbuhnya kesamping bukan keatas" ucap Fadil.
"Maksudnya Syifa mirip ibunya?" tanya Dokter Ikbal. Fadil pun mengangguk ngangguk.
"Tapi sekarang Syifa sedang menjalani diet sehatnya" ucap Syakir.
"Kalau kalian pulang sampaikan salam saya untuknya" ucap Dokter Ikbal. Syakir pun mengangguk. Namun Fadil malah mengernyit.
"Ngapain Dokter Ikbal titip salam untuk si Ratu daun pandan alias Syifa semok binti Muklis. Jangan jangan Dokter Ikbal berencana mau menjadikan Syifa istri keduanya. Waaah gak bisa dibiarin nih, harus siaga 1 kayanya. Gak rela aku" batin Fadil.
Ketika terdengar azan ashar, Syakir dan Fadil pun pergi ke mushola di klinik itu. Tak lupa juga mereka mendo'akan kesembuhan Juwita. Sementara kini Juwita yang sudah sadarkan diri. Matanya mengerjap ngerjap.
"Aku dimana?" ucap Juwita yang kini memegang kepalanya yang sedikit pusing. Juwita mulai mengingat ngingat kembali saat dirinya tidak sengaja menyenggol pas bunga di perpustakaan kampus, tiba tiba saja ada yang berbisik padanya untuk melakukan bunuh diri hingga Juwita mengambil pecahan beling itu dan menyayat tangannya sendiri.
Tidak lama kemudian Syakir dan Fadil masuk keruangan itu. Mereka tersenyum melihat Juwita sudah sadarkan diri.
"Alhamdulillah Juwita kau sudah sadar" ucap Syakir sambil mendekati. Juwita hanya menatap mereka silih berganti.
"Syakir, sepertinya si Juwita amnesia" bisik Fadil hingga Syakir mengernyit.
"Yang terluka itu tangannya bukan kepalanya" jawab Syakir. Fadil malah tertawa kecil.
"Oh iya aku lupa. Mungkin nyawanya si Juwita belum kumpul semua, diakan baru sadar dari sakitnya" ucap Fadil kembali.
" Juwi kau baik baik saja?" ucap Syakir.
"Syakir, aku dimana?" tanya Juwita.
Syakir pun tersenyum.
"Sekarang kau ada di klinik. Jangan banyak bicara dulu. Sebaiknya kau istirahat, nanti kalau kau sudah sehat benar, akan kuceritakan semuanya" ucap Syakir. Juwita pun mengangguk.
Malam pun tiba. Juwita terbangun dari tidurnya, iya mendengar suara orang mengaji, dilihatnya Syakir sedang mengaji di kursi. Tiba tiba bibirnya Juwita tersenyum. Selain mengagumi Syakir, Juwita pun mengagumi bacaan ayat suci Al Qur'an.
Setelah selesai mengaji, Syakir pun menaruh Al Qur'an nya diatas meja. Iya tersenyum melihat Juwita terbangun. Sementara Fadil datang membawa makanan.
"Asalamualaikum"
"Waalaikumsalam"
"Makan dulu" ucap Fadil. Fadil memberikan dua nasi kotak, dan satu nampan berisi makanan dari rumah sakit untuk Juwita.
"Terima kasih' ucap Juwita. Fadil pun mengambil satu kotak makanan itu dan memakannya di sana. Saat Juwita mau memakannya, iya nampak kesusahan karna tangan kanannya masih terpasang selang impusan, sementara tangan kirinya masih sakit akibat sayatan beling. Juwita pun melirik Syakir sambil tersenyum penuh arti. Syakir langsung memicingkan matanya pada Juwita seolah tau dengan apa yang ada dipikiran perempuan itu.
"Aku juga mau makan" ucap Syakir.
"Sebentar saja suapin aku, kalau kau tidak mau, aku makannya pake kaki" ucap Juwita. Mau tidak mau Syakir pun mengalah, iya menaruh kembali makanannya untuk mendahulukan Juwita. Tiba tiba Fadil mengambil kotak makanannya Syakir hingga dengan sigap Syakir menepuk tangannya Fadil.
"Ini jatahku jangan diembat, tar kau bisa semok kaya si Syifa kalau makanmu banyak" ucap Syakir.
"Ya Allah, Zahara sekali kalau kau bicara" gerutu Fadil. Juwita hanya tertawa kecil. Dengan sabar Syakir menyuapi Juwita. Juwita hanya tersenyum saja.
"Ya Allah ampuni aku, mudah mudahan aku tidak tergoda dengan senyumannya si Juwita" batin Syakir. Juwita hanya tersenyum melihat Syakir terus menunduk.
"Kalau kau menunduk terus aku takut makanannya masuk ke hidungku" ucap Juwita protes.
"Sssttthh mingkem" ucap Syakir.
"Ha ha, kalau aku mingkem, nanti kau menyuapiku kemana" ucap Juwita sambil tersenyum senyum.
"Kehatimu mau?" ucap Syakir sambil memicingkan matanya. Juwita mengangguk ngangguk sambil tersenyum.
"Mau"
Setelah selesai menyuapi Juwita, Syakir pun memakan nasi kotaknya. Sementara Fadil sedang duduk mengerjakan tugas kuliahnya. Juwita terus menatap Syakir yang kini sedang makan tanpa sendok.
"Aku bersyukur telah bertemu lelaki sepertimu. Jika aku boleh meminta, aku ingin suatu saat kau yang akan berjalan di sampingku" batin Juwita.
Syakir pun melirik Juwita ketika sadar kalau perempuan itu terus memandanginya.
"kondisikan pandanganmu, jangan memandang laki laki seperti itu" ucap Syakir.
Juwita langsung menunduk.
"Maaf"
Setelah selesai makan, Syakir pun membantu Fadil mengerjakan tugas. Fadil pun berbisik.
"Syakir, om Akbar sedang menangani kasus nya si Juwi, aku sudah memberikan bukti rekamannya Tante Barbara pada om Akbar. Aku juga sudah menceritakan tentang semua kejahatannya terhadap si Juwita. Mudah mudahan saja buktinya kuat hingga Tante Barbara bisa di jerat hukuman" bisik Fadil.
"Ya, aamiin. Mudah mudahan saja, kasihan Juwita, hidupnya sekarang sendirian, teman temannya sudah lebih dulu meninggalkannya, setidaknya hidupnya kini bisa tenang kalau tidak ada lagi orang yang berniat jahat padanya" tutur Syakir.
"Ya hidup si Juwita sudah seperti televisi jadul, warnanya cuma hitam sama putih doang" ucap Fadil.
"Mudah mudahan saja setelah tertangkapnya Tante Siska, hidupnya kembali berwarna seperti pelangi"
"Aamiin"
Setelah Juwita tertidur, Syakir dan Fadil pun keluar dari ruangannya itu dan mereka tidur di luar.