Refan tega mecampakkan Maira yang sudah lama bersamanya demi orang baru yang bernama Reya. Akhirnya Maira menikah dengan Hendra yaitu temannya Refan sendiri. Akhirnya Maira bahagia bersama Hendra. Refan yang begitu terpuruk dan menyesali keputusannya akhirnya Refan bersimpuh di kaki mantan istrinya untuk mengajaknya kembali rujuk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon weta anjelina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 26 Pov Reya
Aku binggung kenapa Mas Refan pagi-pagi buta begini berangkat kerja,mana mungkin kantor jam segini buka kulihat jarum jam baru baranjak pukul lima pagi.
"Mas kok cepat bener perginya, biasanya berangkat kerja jam delapan?"
"Ngak apa-apa lah dek,,kerjaan Mas numpuk di kantor makanya Mas cepat pergi hari ini." Ujar suamiku seraya berlalu keluar kamar.
Entah kenapa Mas Refan keliatan gugup selali hari ini.
"Mas tunggu." Aku segera menyusul Mas Refan di halaman rumah.
"Kenapa lagi dek?"
"Mas yakin mau pergi ngantor?"
"Iyalah dek,kenapa emangnya dek?"
"Loh tuh tasnya ngak di bawa, berkasnya juga masih tertinggal di kamar tuh!" Aku sedikit tersenyum nelihat tingkah konyol suamiku itu.
"Oiya mas lupa." Mas Refan menyelonong masuk kedalam, membuatku semakin penasaran apa yang sebenarnya terjadi Kulihat Mas Refan bergegas keluar.
"Hari ini kamu ngak akan kemana-mana Mas." Tiba-tiba saja wanita tua itu muncul dari kamar belakang.
Kulihat Mas Refan semakin kaku dengan kedatangan kami bedua
Ku lihat wanita tua itu mendekat sambil membawa kunci mobilnya Mas Refan.
"Jadi bagai mana Mas, aku udah memutuskan kalau aku akan segera bercerai dengan mu mas."
"Maira kamu ngomong apa sih dek." Aku sedikit tersenyum lebar, melihat mereka berdua berdebat, akhirnya wanita tua itu segera bercerai dengan mas refan dan Mas Refan akan ku miliki seutuhnya.
"Katakan sekarang juga Mas, Mas akan memilih aku, wanita yang menemani mu dari awal dan memberikan mu seorang anak, atau memilih wanita pelakor itu?"
"Dek jangan ngomong seperti itu dek, Mas tidak bisa kehilangan kalian berdua, Mas ingin kalian itu akur." Ujar Mas Refan pada wanita tua itu.
Aku sedikit menaikkan alis, kenapa Mas Refan tidak menceraikan saja wanita tua itu lagian aku bisa memberi segalanya pada Mas Refan.
"Tidak mas, kamu hanya punya dua pilihan, pilih aku atau perempuan itu." Ujar wanita tua itu, sembari menunjuk ke arahku.
"Dek kasih mas waktu dek, jangan seperti,,,."
"Cukup Mas, aku kasih kamu waktu sampai nanti malam!"
Aku meninggalkan mereka berdua berdebat, kulihat Mas Refan mukanya sedikit memerah, aku segera menghampirinya.
"Udahlah Mas, tinggal aja istrimu itu, Reya bisa kok memberi segalanya untuk Mas." Aku sedikit tersenyum pada Mas Refan.
"Tidak dek, Mas ngak bisa ninggalin Maira begitu saja." Ujarnya sembari meneteskan air mata, sementara Maira meninggalkan Mas Refan begitu saja dan berlalu menuju kamar.
Ku antar Mas Refan ke mobilnya,kali ini mas refan tidak menyetir sendiri aku minta tolong pada penjaga rumah untuk mengantarkan Mas Refan kekantor aku khawatir takut mas refan kenapa-napa di jalan.
pelan-pelan aku masuk kedalam rumah, terasa sunyi sekali. Aku segera menuju dapur.
"Tunggu wanita sialan." Tiba-tiba wanita tua itu mengagetkan ku, aku segera berbalik menghadapnya.
"Semenjak kau datang di rumah ini, kehidupan keluargaku menjadi hancur porak-poranda,apa kau tak tau malu merebut suami orang yang jelas-jelas statusnya adalah beristri, dimana harga dirimu?" Dia berusaha merendahkan ku
"Kau tanya harga diriku? sementara kau sendiri,, hahaha kau sadar wanita tua ******, jika bukan karna anak mu Mas Refan udah lama mencapakkan mu dari rumah ini!" Tak kalah pedas,aku membalaskan penghinaannya itu.
"Jadi apa mau mu,ingat ya aku tidak akan tinggal diam, Mas Refan adalah milikku, suamiku dan ayah dari anak ku." Wanita tua itu sedikit mengancamku.
"Makanya mbak,kalau punya suami itu di jaga,ngurus diri aja ngak beres apalagi ngurus suami, sukur Mas Refan udah berbaik hati kalo ngak udah lama di ceraikannya." jawabku sinis pada wanita tua itu Membuatnya sangat marah sekali.
Prrakkkgg,,,
"Rasakan ini pelakor sialan" Tiba-tiba saja wanita gila itu menamparku, aku merasa sangat kesakitan sekali.
Prrakkkgg
"Satu tamparan lagi, buat mulut mu yang kurang ajar itu" Lagi-lagi dia menampar pipi kananku,membuat aku sedikit pusing dan mengeluarkan darah segar dari mulutku.
"Kau ingat baik-baik, sekali lagi kau berani bicara kasar pada ku, kau lihat akibatnya nanti!" Wanita tua itu mengancamku sambil menarik rambutku ke belakang,dan menghempasku ke lantai, membuat keningku sedikit memar. Lalu dia meninggalkan ku begitu saja.
"akhh,,, akan ku balas kau wanita tua gila." Teriakku sembari menahan rasa sakit.