Andrea Smith seorang dokter bedah jantung brilian di Miami—cerdas, mandiri, dan menyimpan satu rahasia: ia peretas ulung. Namun di balik jas putihnya, hidupnya terjerat keluarga yang beracun: ibu yang tak pernah menyayanginya dan seorang ayah tiri yang terus memerasnya lewat satu-satunya orang yang ia cintai. Yang Andrea inginkan cuma satu—bebas.
Alexander Silver adalah pria paling ditakuti di Irlandia. Bos mafia berdarah dingin yang sudah lama mengunci hatinya rapat-rapat setelah dikhianati. Baginya, cinta hanyalah kelemahan yang tak bisa ia tanggung. Sampai suatu malam, takdir membawanya ke sebuah rumah sakit di Miami… dan mempertemukannya dengan sepasang mata cokelat yang mengubah segalanya.
Sebuah tawaran mendadak. Sebuah pernikahan yang lahir dari kebutuhan, bukan cinta. Tapi di tengah dunia penuh peluru, aliansi berbahaya, dan musuh yang mengintai dari setiap sudut, dua hati yang sama-sama terluka perlahan saling menemukan. Alexander bersumpah melindungi Andrea dengan nyawanya—tak menyangka wanita rapuh yang ia nikahi ternyata jauh lebih kuat, lebih cerdas, dan lebih berani dari siapa pun yang pernah ia kenal.
Ketika masa lalu Andrea membuka rahasia yang mengguncang, dan bahaya mengancam segala yang mereka bangun, seberapa jauh mereka rela melangkah demi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MarLu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Aku menuju jet pribadiku untuk memulai perjalanan bersama Dante, Saul, dan satu tim keamanan yang tangguh. Meski ini perjalanan bisnis, aku tidak mau ambil risiko bepergian tanpa sekelompok orang yang setia dan andal dalam pekerjaannya. Aku juga tidak meninggalkan keluargaku tanpa perlindungan. Bersama mereka selalu kutinggalkan dua kali lipat jumlah anak buahku untuk berjaga.
"Ada apa denganmu, saudaraku? Kau diam sekali," kata Dante.
"Kakek memberiku ultimatum. Aku harus mencari istri, atau aku akan dinikahkan dengan Migdal," jawabku.
"Apa? Saudaraku, kau akan menikahi gadis manja itu?"
"Tentu saja tidak, Bodoh. Tapi aku sedang tidak berminat mencari istri sekarang."
"Saudaraku, mulailah cari istri. Siapa pun pasti lebih baik daripada perempuan itu. Meski, kau sebenarnya punya satu keuntungan dengannya." Dante nyengir.
"Keuntungan apa? Aku tidak melihatnya. Aku tidak mau dia jadi istriku."
"Dia sangat mencintaimu. Lihat sisi baiknya, kau tak perlu lagi repot membuatnya jatuh cinta. Ha ha ha."
Aku menjitak tengkuknya. "Berhenti bicara ngawur, Dante. Kau lebih tahu daripada siapa pun bahwa aku tak mencari cinta, aku tak percaya omong kosong semacam itu."
"Aduh! Baik, kau tak perlu memukulku, Saudaraku. Tapi kakekmu tidak akan ragu menjodohkanmu dengan gadis kecil itu kalau kau tak mencari istri. Jadi ayo kita carikan istri untukmu, aku akan membantu."
"Dante, aku tidak mau…" Aku memandanginya, tapi belum sempat kuselesaikan, dia sudah menyela.
"Tenang, Saudaraku. Aku yang akan mencari yang tepat, kau santai saja."
Perjalanan berlanjut dengan membahas rencana negosiasi kami dengan orang-orang Amerika. Meski kami membicarakannya, aku tak berhenti memikirkan soal pernikahan itu. Aku tak mau terikat dengan seorang wanita, tapi apa pun yang terjadi, aku tak akan membiarkan Kakek menjodohkanku dengan si manja Migdal.
Begitu kami mendarat, beberapa mobil sudah menunggu. Kami menaikinya dan langsung menuju rumah aman yang kami miliki di Florida. Pertemuan baru akan berlangsung malam hari, jadi kami memutuskan terus menyempurnakan kontrak yang akan kami tawarkan kepada orang-orang Amerika, supaya urusan ini cepat selesai dan kami bisa langsung kembali ke Irlandia.
"Beres, Saudaraku. Dengan tawaran barang dan perlindungan kita, mustahil orang Amerika menolak kesepakatan ini," kata Dante.
"Kuharap begitu, Saudaraku. Bagaimanapun, jangan sampai lengah."
"Tenang, Saudaraku, tidak akan. Ayo kita bersiap berangkat. Aku sudah memeriksa keamanan kita dan lokasinya, semua siap."
"Baik. Aku mandi dulu sebelum berangkat. Sampai jumpa satu jam lagi."
Aku langsung ke kamar dan mandi. Aku keluar dengan handuk melilit di pinggang, lalu memakai celana dalam putih, celana hitam, rompi antipeluru, kemeja hitam, dan jas tanpa dasi. Kusemprotkan parfum, dan begitu siap aku turun untuk menemui Dante dan Saul di lantai bawah.
"Sudah siap?" tanyaku.
"Siap, Saudaraku. Ayo jalan," sahut Dante.
Kami keluar dari rumah aman, menuju lokasi yang dikirim orang-orang Amerika, yang sudah diperiksa Saul sebelum kami berangkat. Kami tiba, dan Robert, bos mafia Amerika, sudah ada di sana.
"Alexander, selamat datang di wilayahku. Bagaimana perjalanannya?" sapa Robert.
"Terima kasih, Robert. Semua lancar."
"Robert, senang berbisnis lagi denganmu," kata Dante.
"Dante, selalu menyenangkan menyambut kalian di sini. Baik, mari bicara bisnis."
Setelah menetapkan barang yang mereka minta, rute-rutenya, dan perlindungan yang akan mereka dapatkan dari kami, kami pun menandatangani kontrak dan kesepakatan aliansi yang mulai saat itu terjalin di antara kami, sama seperti dengan mafia Rusia.
"Luar biasa, Tuan-tuan. Kalau begitu, bersulang untuk aliansi baru ini." Kami mengadu gelas berisi wiski. "Aku punya beberapa wanita bayaran untuk kalian kalau ingin merayakan lebih lanjut secara pribadi, meski aku tahu kau, Alexander, bukan tipe yang punya kebiasaan seperti itu."
"Betul, Robert, aku tidak punya kebiasaan itu. Tapi tenang, rayakanlah sesukamu. Mungkin Dante mau ikut kebiasaanmu. Aku pamit dulu, ada beberapa panggilan yang harus kulakukan ke rumah."
"Saudaraku, aku menyusul beberapa jam lagi. Jangan pergi tanpa aku," kata Dante.
Aku berpamitan pada Dante dan Robert, lalu langsung menuju rumah aman bersama Saul. Kutelepon ibuku untuk menanyakan kondisi ayahku. Aku masih dalam panggilan itu ketika ponsel Saul berdering.
"Halo? Apa? Kulaporkan sekarang dan kami segera ke sana." Saul menoleh padaku. "Alexander, Dante dan Robert diserang. Mereka butuh bantuan."
"Apa-apaan ini? Ayo, cepat!"