"Kamu yang menginginkan pernikahan ini. Jadi jangan salahkan aku setelah aku tidur denganmu. Besok aku akan menikah dengan wanita yang aku cintai!"
Kalimat itu bagaikan petir yang menyambar hatiku. Ijab kabul baru saja dilontarkan oleh lelaki yang kucintai sejak dulu, Danu Saliyo.
Aku tidak pernah menyangka, menjadi istrinya justru membuatku harus berbagi suami dengan wanita yang dicintainya.
Hingga akhirnya aku memilih berhenti mencintai Danu.
Namun, semua tak berjalan sesuai keinginanku, sekarang waktunya ia mengejarku.
Bagaimana cerita selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puji170, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
"Namanya Roger. Dia cuma pengangguran yang dulunya fans berat istri Bapak. Tapi gara-gara pernah menyelamatkan Bu Belinda dari perampok, mereka jadi makin dekat, lalu mereka..."
Aku mengangkat tangan, menghentikan kalimat asistanku yang menggantung di udara. Cukup. Dadaku rasanya dihantam godam saat melihat tumpukan foto yang tercecer di atas meja kaca. Lembar demi lembar menampilkan keintiman Belinda dengan laki-laki itu, sesuatu yang sebelumnya tidak pernah terlintas dalam pikiranku akan terjadi dalam rumah tanggaku. Sensasi mual kembali mengaduk perutku.
Dimas, asisten pribadi yang sudah bertahun-tahun mengabdi padaku, berdeham pelan. Wajahnya tetap tenang, tanpa sedikit pun ekspresi menghakimi, meski informasi yang dibawanya sanggup meruntuhkan sebuah keluarga.
"Pak Danu," suara Dimas terdengar sangat hati-hati, "dalam dunia pemodelan, hal seperti ini sebenarnya cukup lumrah. Dari hasil penelusuran saya, bahkan jauh sebelum Bu Belinda mengenal Bapak atau terjun ke agensi profesional, ayahnya sendiri sudah pernah menjualnya kepada seorang bos fotografer."
Aku menelan ludah kasar. Tenggorokanku mendadak terasa kering. Iya. Aku terlalu buta oleh pesona Belinda sampai lupa menelusuri latar belakang keluarga yang membesarkannya.
"Dia nggak pernah benar-benar lepas dari lingkaran itu, Pak," lanjut Dimas pelan sambil menggeser sebuah dokumen lusuh ke hadapanku. "Roger bukan cuma sekadar penggemar atau penyelamat. Roger itu perantara. Orang yang dipasang oleh mantan bos lamanya untuk memastikan Belinda tetap 'bisa diakses' kalau sewaktu-waktu mereka membutuhkan."
Pikiranku mendadak melayang ke masa-masa awal saat kami berkenalan. Belinda yang tampak begitu lugu. Belinda yang selalu bersumpah bahwa aku adalah satu-satunya laki-laki yang benar-benar menghargainya sebagai manusia. Semua kepolosan dan kepasrahannya itu ternyata tidak sesederhana yang selama ini kupercaya.
"Bapak mau saya urus perceraian ini secara diam-diam, atau kita tekan mereka lewat jalur hukum dulu?" tanya Dimas. Pulpen di tangannya sudah siap mencatat.
Aku menyandarkan tubuh ke kursi kerja dan memandangi langit-langit ruangan. Rasa sakit hati yang sejak tadi membakar perlahan berubah menjadi kekecewaan yang justru terasa lebih dingin.
"Keluar dulu. Saya ingin menenangkan diri."
Dimas baru beberapa langkah ketika aku kembali memanggilnya.
"Jadi, Dinda benar-benar pergi ke Ujung Kulon?"
Asistenku langsung memutar tubuh. "Benar, Pak. Sebelumnya, Bu Dinda memang sudah mempersiapkan semuanya. Seharusnya setelah pernikahan Bapak, dia langsung pergi."
Aku menatap Dimas, menunggunya melanjutkan penelusurannya.
"Tapi karena kejadian penggerebekan di taman, semuanya sempat tertunda. Setelah saya selidiki, orang yang mengatur penggerebekan itu sebenarnya adik Anda, Ghina."
"Apa? Ghina?"
"Benar, Pak. Dia yang menggiring warga ke sana. Kebetulan saat itu Bapak sedang memaksa Bu Dinda, jadi..."
Sekali lagi aku mengangkat tangan, menghentikan kalimat Dimas. Aku tidak sanggup mendengar lebih jauh. Dengan gerakan tangan, aku menyuruhnya meninggalkan ruangan.
Begitu pintu tertutup, aku langsung meraup wajah dengan kedua tangan. Selama ini aku menaruh dendam pada orang yang sebenarnya tidak pernah melakukan apa pun kepadaku.
"Danu, sekarang kamu puas?" gumamku getir. "Belinda, wanita yang sudah mengkhianatimu, malah kamu puja. Sementara Dinda, wanita yang sejak dulu selalu menemanimu, justru kamu hancurkan."
Aku segera menyambar kunci mobil lalu bergegas pulang untuk menemui Ghina dan Mama. Aku tahu mereka mungkin akan menertawakan kebodohanku. Namun, itu tidak masalah. Kalau melalui mereka aku bisa mendapatkan sedikit saja jalan untuk meminta maaf pada Dinda, aku akan melakukannya.
Tak butuh waktu lama hingga kakiku kembali menginjak halaman rumah yang sejak kecil menjadi tempatku pulang. Dari kejauhan, aku melihat Mama dan Ghina sedang menelepon seseorang. Aku langsung mengenali suara yang terdengar dari ponsel mereka, Dinda.
"Ghina, kamu nggak perlu mengirimkan banyak makanan seperti ini. Aku nggak enak sama yang lain."
"Kak, aku tahu di sana sedang banyak wabah. Kakak harus banyak makan dan minum vitamin. Sayangi badanmu."
"Tenang saja, Ghina. Aku baik-baik saja."
"Dinda, jangan terlalu capek. Mama juga khawatir sama kamu."
"Terima kasih, Mama Sarah. Aku sungguh baik-baik saja."
Aku sedikit lega mendengar percakapan mereka. Meski hanya percakapan sederhana, setidaknya aku tahu Dinda baik-baik saja. Entah kenapa, kabar itu membuat dadaku terasa sedikit lebih ringan.
Namun, beberapa saat kemudian, aku mendengar suara seorang lelaki yang terdengar begitu peduli padanya.
"Dokter Dinda, di sini anginnya sedikit kencang. Anda harus memakai jaket."
Seketika tanganku mengepal. Rahangku mengeras mendengar cara lelaki itu berbicara pada Dinda seolah mereka sudah begitu dekat.
Berani sekali lelaki itu mendekati istriku!
Tanpa banyak berpikir, aku langsung melangkah cepat menghampiri Mama dan Ghina, lalu merebut ponsel dari tangan Ghina.
"Hai, kau!" bentakku dengan suara penuh amarah. "Berani sekali menyentuh milikku."
mantan suami pecundang🙄🙄
km selalu mnyudutkn dan mnyalahkn dinda.... atas smua yg trjadi... pdahal dinda gak melakukn ksalahan....
krna smuanya demi perempuan trcintamu....🙄🙄🙄
ap km g makin nyesel tuh.... sdh brp ratus kata mnyakitkn yg km tancapkn ke hati dinda...