Hanis memiliki empat orang anak Yang masih kecil, namun suaminya sedang menganggur. Demi anak anaknya bisa makan dan bersekolah maka Hanis rela menjadi ibu pengganti. Ia menyewakan rahimnya pada Sean, seorang pria kaya yang istrinya divonis mandul. Namun, keajaiban terjadi, saat Hanis sudah positif mengandung anak Sean, sang istri sah juga dinyatakan hamil
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Quoari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kontrol Kandungan
Hari ini Hanis dan Jinny kembali ke rumah sakit untuk kontrol kandungan. Sean tentu mengantar dan menemani. Ia meluangkan waktu, sengaja tidak pergi ke kantor hari ini.
Di dalam mobil, Jinny hanya diam. Memandang ke luar jendela dengan pandangan kosong. Tangannya dilipat di atas pangkuan.
Hanis duduk di kursi penumpang belakang sendirian sambil menyedot susu hamilnya. Pikirannya melayang pada anak-anaknya. Ia melakukan semua ini demi anaknya dan berharap waktu tujuh bulan itu cepat berlalu.
Sementara Sean mengemudi sembari sesekali berbicara melalui telepon dalam mode loudspeaker dengan sekretarisnya di kantor. Pikirannya bercabang, namun fisiknya tetap memilih menemani istri dan ibu dari anaknya.
Tak lama kemudian, mobil berbelok memasuki area pelataran parkir rumah sakit. Jinny dan Hanis bersiap melepas sabuk pengaman.
Mereka berjalan bertiga. Sean di depan, dan kedua wanita itu mengikuti di belakangnya. Hingga langkah terhenti di depan meja resepsionis. Sean memilih menunggu di bangku panjang yang ada.
Usai pemeriksaan awal dan pendataan, ketiganya berpindah ke bangku tunggu di depan ruang periksa. Duduk bertiga berjajar. Sean, Jinny dan Hanis.
“Atas nama Ibu Jinny - Bapak Sean, silahkan masuk ke ruang periksa tiga!” suara dari speaker ruang tunggu memecah keheningan.
Jinny segera menegakkan tubuhnya, bersiap untuk bangkit. Sean mengikuti, namun Jinny segera mencegahnya. “Kamu nanti sama Hanis aja.”
“Lho? Kok gitu?” bingung Sean.
“Itu kan anakmu, kamu lihat anakmu aja. Aku bisa sendiri.”
Tanpa menunggu jawaban Sean, Jinny melangkah cepat menuju ruang periksa, meninggalkan suaminya dan Hanis.
Hanya sepuluh menit dan Jinny keluar dari ruang periksa. Kini giliran Hanis, ditemani oleh Sean.
“Silahkan langsung berbaring,” titah sang dokter. “Bapak bisa di sebelahnya kalau mau lihat.”
Sean berdiri canggung di samping ranjang dimana Hanis berbaring. Pakaian di bagian perut sudah disingkap, gel sudah dituangkan.
“Kita mulai ya,” ucap sang dokter sembari menempelkan alat transduser.
Layar monitor segera menampilkan gambar USG. Janin sudah terlihat, detak jantung terdengar jelas.
Mata Sean berkaca-kaca. Ini nyata. Anaknya benar-benar ada, hidup dan tumbuh di dalam tubuh Hanis. Ia akan segera menjadi ayah.
“Semua baik ya. Sehat. Usianya sembilan minggu.”
Dokter memberikan nasehat singkat untuk menjaga pola makan dan agar tidak stress serta meresepkan vitamin. Sesi kontrol segera selesai. Hanis dan Sean meninggalkan ruangan setelah mengucapkan terima kasih.
Hanis menuju ke loket farmasi untuk menyerahkan resep, sementara Sean memilih duduk di ruang tunggu, di sebelah Jinny yang menunggu seorang diri.
“Kamu kenapa, Jin? Kok gini? Jangan ngambek.”
Jinny menggeleng lemah. “Nggak ngambek.”
“Terus?”
“Ya aku cuma tau diri. Yang anakmu yang di perut Hanis, jadi kamu nemenin Hanis aja. Kamu mau nerima anak ini aku udah terima kasih banget,” ujar Jinny lirih.
Seluruh keangkuhan Jinny luntur sejak tahu dirinya hamil oleh mantan pacarnya dan dimaafkan oleh sang suami. Ia merasa bersalah, merasa berdosa dan berhutang banyak sekali pada Sean.
“Udah, nggak apa-apa. Ya kamu memang salah, tapi jangan stress karena ini. Kita impas kok.” Sean mengulurkan tangannya, merangkul pundak Jinny, menepuknya beberapa kali dengan sayang.
Hanis yang telah mendapat nomor antrean obat dari loket farmasi hendak bergabung, namun melihat Sean dan Jinny, ia mengurungkan niat. Merasa tak enak hati menganggu kemesraan pasangan itu. Maka Hanis memutar arah, menuju ke sisi lain bangunan. Sekadar berjalan-jalan, melihat-lihat dan yang penting menghindar dari pandangan Sean maupun Jinny.
...****************...