NovelToon NovelToon
Abi Baik, Abi Gak Jahat

Abi Baik, Abi Gak Jahat

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Duda / Mengubah Takdir
Popularitas:637
Nilai: 5
Nama Author: Eritasyofia

Pertemanan medsos membuat wanita yang sudah berusia senja jatuh cinta pada seorang pria muda yang pantas menjadi anaknya.
Dia tidak bertepuk sebelah tangan keduanya saling jatuh cinta, saling sayang, saling memberi dan merima.
" umi gak mau melanjutkan hubungan ini, kalau umi tahu Abi punya istri."
" gak Abi sudah sepuluh tahun menduda.."
Ketika akhirnya dia tahu bahwa si pria punya istri, dia ingin mundur tapi ...
"'Umi, kita jalani aja hubungan ini, apa umi mau, Abi sayang umi.."
Dia menyerah, cinta terlarang itu berlanjut..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eritasyofia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kebisuan di Ujung Senja

Rangga tersandar dikursi kerjanya, wajahnya nampak kacau, ingin sekali dia datang ke rumah Winta tapi terlalu banyak yang harus dia pertimbangkan.

Hati Viona belum sembuh oleh gosip belum lama ini dan Winta masih dalam kekangan anak²nya.

Rangga hanya bisa terdiam.

Lain dengan Winta, dia menutup wajahnya dengan bantal kemudian berteriak, memanggil Abiii sekencang kencangnya tapi suara itu tertahan dibantal.

Winta menumpahkan air matanya tersedu menangis sampai dia tertidur nyenyak.

Sore dia terbangun langsung mandi dan sholat ashar.

Dia coba melirik chat di WhatsApp, tidak ada chat dari Rangga.

Penasaran dia kirim salam Assalamualaikum, chat itu ceklist satu.

Hari Winta kesal, benci dan marah.

Teringat kata² Rangga yang tidak akan mematikan WhatsApp nya.

Saat Dinda dan anak²nya sudah pulang Winta menyimpan semua sedihnya.

Dinda masuk ke rumah membawa tas belanjaan, disusul gelak tawa anak-anak yang memecah keheningan sore. Winta buru-buru menyapu sisa rasa hangat di kelopak matanya, memasang senyum terbaik, topeng paling rapi yang bisa ia kenakan agar tak ada satu pun dari mereka yang curiga.

​"Ibu? Kok lampu depan belum dihidupkan?" tanya Dinda sambil meletakkan belanjaan di meja dapur. Matanya sempat menelisik wajah Winta sejenak.

 "Ibu kelihatan pucat. Tadi tidur sore, ya?"

​"Iya, Dinda. Badan Ibu agak sumuk tadi, jadi ketiduran,"

 jawab Winta seolah tanpa beban. Suaranya diusahakan sehalus mungkin, walau tenggorokannya masih terasa perih akibat tangis yang ia tumpahkan ke dalam bantal.

​Malam itu berjalan seperti biasa.

 Suasana makan malam hangat, tawa cucu-cucunya menyelimuti ruangan. Namun, bagi Winta, semua itu seperti panggung sandiwara di mana ia menjadi penonton yang terasing.

 Hatinya tertinggal di layar ponsel yang membisu. Setiap kali nada notifikasi dari ponsel anggota keluarga lain berbunyi, jantung Winta melonjak kaget, berharap itu kabar dari Rangga, namun kenyataan selalu menamparnya kembali.

​Ponselnya tetap senyap. Pesan "Assalamualaikum" yang ia kirimkan tadi sore masih berstatus centang satu.

​Kemana kamu, Abi? batinnya menjerit marah. Baru tadi siang kamu bilang tidak sanggup kehilangan aku. Baru tadi siang kamu bersumpah perasaanmu nyata. Tapi begitu aku minta bukti dan ketegasan, kamu hilang?

 Apakah WhatsApp-mu sengaja dimatikan agar Viona tak curiga? Atas nama menjaga perasaan istrimu, kamu abaikan aku begitu saja?

​Rasa benci dan gusi darah mulai menggerogoti sisa-sisa rasa sayangnya. Ucapan Rio kembali bergema di telinganya bagai gema tebing yang dingin, Winta hanya pelarian. Kalau Rangga benar-benar pria dewasa yang bertanggung jawab, ia tidak akan menghilang di saat situasi makin genting seperti ini.

​Selesai makan malam dan setelah rumah kembali tenang, Winta mengurung diri lagi di kamar. Kesunyian kembali menyergap, lebih pekat dari sebelumnya. Ia mengambil ponselnya, menatap layar dengan mata yang membara oleh campuran rasa sakit hati dan harga diri yang terluka.

​Ia kembali membuka aplikasi pesan. Centang satu itu masih berdiri kokoh di sana.

​Tangan Winta bergetar, bukan lagi karena sedih, melainkan karena keputusan bulat yang lahir dari kekecewaan yang teramat sangat. Ia tidak mau lagi dipermainkan oleh ketidakpastian. Ia tidak mau menjadi wanita tua yang mengemis perhatian pada suami orang lain.

​Dengan napas yang diatur perlahan, jemarinya menari di atas layar, mengetik pesan terakhir.

​"Terima kasih sudah membuktikan sendiri siapa dirimu yang sebenarnya, Abi. Janji-janjimu hanyalah omong kosong. Kebisuanmu malam ini sudah memberi semua jawaban yang Umi butuhkan. Jangan pernah cari Umi lagi."

​Kirim.

​Sama seperti pesan sebelumnya, pesan itu hanya bercentang satu.

​Tanpa ragu sedikit pun, Winta menekan profil Rangga, lalu memilih opsi Blokir Kontak. Tidak berhenti di situ, ia juga menghapus seluruh riwayat percakapan mereka, foto-foto, serta rekaman suara yang pernah dikirimkan pria itu. Ia menyapu bersih jejak Rangga dari ponselnya, sebagaimana ia harus menyapu pria itu dari masa depannya.

​Winta meletakkan ponselnya di atas meja rias dengan kasar. Ia berdiri menatap pantulan dirinya di cermin. Air matanya tak jatuh lagi. Garis-garis halus di sudut matanya kini memancarkan ketegasan yang baru.

​"Aku Winta," bisiknya pada bayangannya sendiri, mantap dan dingin.

 "Aku punya harga diri. Dan aku tidak akan pernah membiarkan diriku dijadikan persinggahan oleh siapa pun."

​Sementara itu, di sudut kota yang lain...

​Rangga duduk terpaku di dalam mobilnya yang terparkir beberapa ratus meter dari kompleks rumah Winta. Wajahnya lesu, lingkaran hitam menghiasi matanya.

​Layar ponselnya yang mati total tercermin di paca jendela. Tadi sore, saat ia hendak meluncur ke rumah Winta untuk menjelaskan segalanya secara langsung, Viona tiba-tiba histeris di rumah karena mendengar desas-desus baru dari tetangga.

 Dalam keributan itu, ponsel Rangga terjatuh, layarnya retak dan mesinnya mati total. Baterainya pun tak bisa diisi ulang.

​Ia terjebak. Menghadapi tangisan istrinya yang terluka, sekaligus bayangan Winta yang makin menjauh.

Butuh waktu berjam-jam baginya untuk meredakan situasi di rumah sebelum akhirnya ia memutuskan nekat keluar dengan alasan urusan kantor, demi bisa menemui Winta.

​Rangga memandangi arah rumah Winta dari kejauhan.

 Ia ragu untuk melangkah ke pintu depan ia tahu anak-anak Winta ada di dalam, dan kedatangannya malam-malam begini hanya akan makin memperkeruh suasana dan membenarkan tuduhan Rio.

​Dengan perasaan frustrasi yang membakar dada, Rangga mengepalkan tangan dan memukul kemudi mobilnya. Ia merasa terjepit di antara dua dunia, rumah tangganya yang retak dan wanita yang begitu ia cintai namun kini menutup pintu rapat-rapat untuknya.

​Pria itu tidak tahu, bahwa di saat ia terduduk pasrah di dalam mobilnya yang dingin, di dalam kamar yang berjarak tak jauh darinya, Winta baru saja mengunci rapat pintu hatinya, kali ini untuk selamanya.

Bersambung

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!