kecelakan tragis itu merenggut nyawa Kiara, setelah mengetahui fakta bahwa dia dikhianati suaminya.
Tetapi Tuhan selalu memberi plot twist yang tidak pernah bisa kita tebak. Kiara mendadak terbangun kembali ke lima tahun lalu tepat di hari pertama pernikahan kontrak mereka dimulai.
Menyadari bahwa dia kembali mengulang waktu, kali ini Kiara bertekad untuk mengumpulkan uang lalu kabur demi menyelamatkan nyawanya. Akan tetapi, Kiara justru dibuat syok oleh perubahan drastis Dante, sang mafia kejam yang tiba-tiba berubah menjadi super bucin, posesif, dan memanjakan Kiara dengan uangnya yang tidak akan pernah habis itu. Kiara tidak pernah tahu bahwa suaminya yang kejam itu ternyata juga ikut bereinkarnasi dari masa depan, membawa rasa bersalah dan sejuta penyesalan yang siap melakukan apa saja agar sang istri tidak pernah pergi lagi dari pelukannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laksmi Harsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Rasa yang lama tersembunyi kini mulai bersemi di dalam dada. Anuraga mengalir tenang bagai tirta suci yang menyejukkan jiwa. Pratibha bayangmu selalu hadir, membawa bahagia di setiap hela napas ini.
...----------------...
Sore harinya, Kiara melangkah masuk ke area paviliun samping, aroma kayu cedar premium dan cat baru langsung menyambut indra penciumannya. Ruangan yang dulunya terkesan formal dan dingin, kini berubah total.
Dinding-dindingnya telah dilapisi wallpaper kain sutra berwarna krem lembut dengan aksen emas yang elegan namun tidak mencolok.
Beberapa pekerja tampak berhati-hati meletakkan sebuah sofa beludru berukuran besar di dekat jendela teluk yang menghadap langsung ke taman mawar putih. Di sudut lain, sebuah meja rias mewah dari kayu ek yang diukir halus sudah berdiri megah, lengkap dengan cermin besar berbingkai kristal.
"Nyonya," Bi Narti yang sedang mengawasi para pekerja segera menghampiri Kiara dengan sikap takzim. "Bagaimana menurut Anda? Tuan Belmont sendiri yang memilih sketsa desain ini seminggu yang lalu. Beliau mengatakan Anda menyukai pencahayaan alami, jadi tirai-tirai tebal di sini diganti dengan bahan yang lebih ringan."
Kiara tertegun. Matanya menyapu setiap sudut ruangan. Sialan. Dante benar-benar tahu apa yang dia sukai. Di kehidupan lalu, Kiara memang pernah mengeluh secara sekilas tentang betapa pengapnya mansion Belmont yang terlalu didominasi warna hitam dan abu-abu gelap. Ternyata, pria itu mengingatnya. Atau lebih tepatnya, Dante di kehidupan ini entah bagaimana bisa membaca seleranya dengan begitu presisi.
"Ini... lumayan," jawab Kiara gengsi, berusaha menyembunyikan binar kagum di matanya. "Katakan pada mereka untuk tidak meletakkan terlalu banyak vas bunga. Aku tidak suka ruangan yang terlalu penuh."
"Baik, Nyonya. Akan segera saya sampaikan," ucap Bi Narti sembari tersenyum lega.
Kiara berjalan mendekati jendela, menyentuh permukaan sofa beludru yang sangat lembut. Pikirannya kembali melayang pada ucapan Dante tentang Sora. Live streaming beberapa hari lalu memang memperlihatkan bagaimana Dante mengumumkan secara publik tentang pemutusan semua hubungan kerja sama bisnis serta pengaruh yang melibatkan keluarga Sora, bahkan menegaskan bahwa wanita itu tidak lebih dari sekedar mitra masa lalu yang sudah tidak memiliki nilai. Dante melakukannya dengan dingin, tegas, dan tak terbantahkan, di depan ratusan kamera, tanpa memedulikan air mata Sora.
Kenapa Dante berubah sejauh ini? Kiara membatin. Di kehidupan pertama, Dante adalah sosok diktator yang mengurungnya. Tapi sekarang, pria itu seolah memberikan dunia di bawah kakinya, meski tetap dengan cara yang dominan dan menjengkelkan.
...----------------...
Malam harinya, suasana mansion Belmont terasa begitu sunyi. Hujan mulai turun membasahi kaca-kaca jendela, menciptakan atmosfer yang semakin dingin. Kiara duduk di meja makan panjang, menatap deretan hidangan mewah yang telah disiapkan oleh kepala koki mansion. Di ujung meja, Dante duduk dengan kemeja hitam yang lengannya digulung hingga siku, menampilkan tato tribal hitam yang menjalar hingga ke pergelangan tangannya. Pria itu sedang memotong daging steak dengan gerakan yang begitu tenang namun mematikan.
Tidak ada suara di antara mereka selain dentingan garpu dan pisau yang beradu dengan piring porselen. Aura intimidasi yang dipancarkan Dante selalu mampu membuat pelayan yang lewat menundukkan kepala dalam-dalam. Namun bagi Kiara, atmosfer ini sudah menjadi makanannya sehari-hari.
Setelah meneguk anggur merahnya sedikit, Dante meletakkan gelas kristal itu ke meja. Manik mata hitamnya yang sekelam malam langsung mengunci pandangan Kiara.
"Kau tidak menyentuh makananmu, Kiara. Apa interior baru itu membuatmu lelah, atau kau terlalu sibuk memikirkan cara menyengkanku nanti malam?" tanya Dante datar, namun ada kilat kepuasan di matanya saat melihat pipi Kiara kembali bersemu merah.
Kiara meletakkan garpunya dengan sedikit hentakan. "Bisakah Anda menjaga sikap saat makan, Tuan Belmont? Dan berhenti membahas hal itu!"
Dante menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, melipat kedua tangannya di depan dada. "Aku berbicara fakta, Istriku. Tapi baiklah, jika kau ingin membahas hal lain. Bukankah tadi sore kau menuntut penjelasan tentang ayah dan ibu tirimu?"
Seketika itu juga, nafsu makan Kiara hilang sepenuhnya. Ia memajukan tubuhnya sedikit, menatap Dante dengan serius. "Apa yang sudah kau lakukan pada mereka?"
Dante memberikan isyarat tangan kecil kepada kepala pengawal yang berdiri di sudut ruangan. Pengawal tersebut segera maju, meletakkan sebuah map di atas meja di hadapan Kiara, lalu mundur kembali ke posisinya dengan patuh.
"Buka," perintah Dante singkat.
Dengan tangan yang sedikit gemetar, Kiara menyentuh map tersebut. Didalamnya terdapat beberapa dokumen hukum, foto-foto sebuah rumah yang dipasangi garis polisi, serta laporan keuangan yang dipenuhi angka berwarna merah.
"Keluarga megah yang dulu memperlakukanmu seperti pelayan, sekarang sudah lumpuh total," Dante berbicara dengan suara baritonnya yang rendah dan dingin, tanpa emosi sedikit pun.
"Hari ini, pukul empat sore, pengadilan resmi menyatakan perusahaan mereka bangkrut. Seluruh aset, termasuk rumah mewah yang sangat dibanggakan ibu tirimu, telah disita oleh Bank Belmont. Mereka gagal mempertahankan perusahaan setelah hampir dua bulan kehilangan para investor."
Kiara membelalakkan matanya. Ia membaca baris demi baris laporan tersebut. "Disita? Lalu di mana mereka sekarang?"
"Di tempat yang seharusnya," sudut bibir Dante terangkat, membentuk seringai tipis yang mengerikan. Seringai khas seorang bos mafia yang baru saja menghancurkan mangsanya tanpa menumpahkan darah di tangannya sendiri. "Ayahmu mencoba melarikan diri ke luar negeri menggunakan paspor palsu dua jam sebelum penyitaan. Orang-orangku menangkapnya di bandara. Sekarang dia berada di bawah pengawasan distrik barat, menghadapi tuntutan penipuan investasi bodoh dan pencucian uang. Hukumannya minimal dua puluh tahun penjara."
"Dan... wanita tua itu?" tanya Kiara lagi, merujuk pada ibu tirinya yang kejam.
"Ibu tirimu yang terhormat? Dia kehilangan akal sehatnya saat tas-tas bermerek dan perhiasannya diangkut paksa oleh petugas. Tadi sore, dia dilaporkan mengamuk di jalanan dan sekarang ditampung di fasilitas rehabilitasi sosial pinggiran kota. Tanpa uang sepeser pun, tanpa koneksi, dan tanpa nama besar." Dante mengambil pisau dagingnya kembali, memutar-mutarnya dengan lihai di sela jarinya. "Mereka tidak akan pernah bisa menyentuhmu lagi, Kiara. Tidak dalam kehidupan ini."
Kiara tertegun, napasnya tertahan di tenggorokan. Kalimat terakhir Dante—tidak dalam kehidupan ini—terdengar begitu sarat makna. Apakah Dante tahu sesuatu? Ataukah itu hanya kiasan? Kiara menggelengkan kepalanya pelan, mengusir pikiran aneh itu. Yang jelas, rasa lega yang luar biasa tiba-tiba membuncah di dadanya. Pembalasan dendam yang ia rencanakan secara perlahan di kehidupan ini, justru diselesaikan Dante hanya dalam sekejap mata. Pria ini menghancurkan musuh-musuhnya seolah itu hanya permainan anak-anak.
"Kenapa kau melakukan ini, Dante?" Kiara memanggil nama depan suaminya tanpa sadar, melupakan formalitas. "Di kehidupan... maksudku, sebelumnya kau tidak pernah peduli pada urusan keluargaku."
Dante menghentikan gerakan pisaunya. Ia menatap Kiara lekat-lekat, tatapan yang begitu intens hingga membuat Kiara merasa seolah seluruh pakaiannya ditelanjangi oleh mata itu. Dante berdiri dari kursinya, melangkah perlahan mengitari meja makan panjang, dan berhenti tepat di samping kursi Kiara.
Pria itu membungkuk, menumpukan kedua tangannya di lengan kursi Kiara, mengurung wanita itu dalam kuasanya. Aroma maskulin bercampur wangi tembakau mahal langsung mengepung Kiara.
"Karena kau adalah milikku, Kiara Belmont," bisik Dante tepat di telinga Kiara, suaranya bergetar rendah penuh kepemilikan. "Siapa pun yang berani menyakitimu, memanfaatkanmu, atau membuatmu menangis, artinya mereka sedang menantang maut denganku. Termasuk orang-orang yang mengklaim diri mereka sebagai darah dagingmu."
Kiara bisa merasakan embusan napas hangat Dante di lehernya, membuat bulu kuduknya meremang. "Aku bukan barang yang bisa kau klaim kepemilikannya begitu saja," balas Kiara, mencoba tegar meski dadanya bergemuruh hebat.
Dante terkekeh rendah, suara tawa yang terdengar seksi namun berbahaya. Jari telunjuknya yang kasar karena sering memegang senjata api kini bergerak mengelus rahang lembut Kiara, memaksa wanita itu untuk menatapnya.
"Kau boleh menolaknya sesukamu, Sayang. Tapi tubuhmu, desahanmu, dan bahkan tanda merah yang kutinggalkan di lehermu beberapa malam lalu... semuanya mengatakan hal yang berbeda,"
Dante menurunkan pandangannya ke bibir ranum Kiara yang sedikit terbuka. "Aku sudah memberikan apa yang kau inginkan. Aku menghancurkan musuhmu. Jadi, bukankah sudah sepatutnya aku mendapatkan hadiahku malam ini?"
Wajah Kiara langsung memanas. "Dante! Kita sedang di ruang makan!"
"Lalu? Ruang kerja, perpustakaan, atau ranjang baru di bangunan samping? Kau tinggal memilih tempatnya, Nyonya Belmont," ucap Dante dengan nada menantang, penuh dengan pesona gelap yang sulit ditolak.
Dante tidak memberikan kesempatan bagi Kiara untuk membalas ucapan tajamnya lagi. Dengan satu gerakan cepat yang dominan, pria itu menyusupkan lengannya ke bawah lutut dan punggung Kiara, mengangkat tubuh ramping istrinya itu dengan mudah ke dalam gendongannya. Kiara terpekik kaget, refleks
mengalungkan kedua tangannya ke leher kokoh Dante agar tidak terjatuh.
"Turunkan aku, tua bangka mesum!" seru Kiara setengah berbisik, panik jika ada pelayan yang melihat mereka dalam posisi seperti ini.
Dante tidak memedulikan protes tersebut. Ia justru mempererat pelukannya dan melangkah lebar meninggalkan ruang makan menuju lantai atas, tempat kamar utama mereka berada. Sinar matanya yang semula sedingin es saat membahas kehancuran keluarga Kiara, kini telah berubah menjadi kobaran api gairah yang siap membakar apa saja yang ada di depannya.
Malam itu, di balik pintu kamar yang tertutup rapat, sang mafia dingin sekali lagi membuktikan pada sang istri, bahwa sebutan 'pria bangkotan' yang disematkan padanya sama sekali tidak mengurangi kekuatannya untuk membuat Kiara kembali menyerah dan menjerit pasrah di bawah kuasanya.