Update setiap hari!
Bianca, putus dengan pacarnya yang sudah bertahun-tahun bersama. Namun, setelah putus bukannya asing, mereka justru terus dipertemukan dalam kejadian yang tak terduga.
Entah ini kebetulan? atau memang sengaja di buat oleh Arsen.
"Bagaimana bisa, bos baruku ternyata adalah dia?! Arsenio sialan! Bagaimana caranya kami menjadi mantan jika terus seperti ini?!" geram Biancca yang sudah frustrasi.
"Aghh, dia benar-benar tidak tahu bagaimana caranya menjadi mantan!" --Arsenio Kendrick
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon An_cin, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06
"Biar aku bantu" Ujar Pria itu, sebari mengulurkan tangan.
"Iya, baiklah," Bianca tersenyum. Ia menggapai tangan pria itu, namun hal itu tak berjalan lancar. Lucia yang masih kesal dengan kakaknya, kini malah menarik rambutnya kembali.
"Aish, yang benar saja, kau masih belum memaafkan ku hah?" tanya Bianca kepada adiknya.
"Bagaimana aku bisa memaafkan mu jika aku benar-benar sangat ingin menghajarmu. Cepat beri uang dan bawa hp ini ke konter kak cepat!" Lucia merengek seperti bayi, padahal saat ini sedang ada orang lain yang sedang menyaksikan mereka berdebat.
"Hai, bisa tolong tenang?" Pria itu kembali mencoba mererai, namun hal itu tetap gagal ia lakukan.
Bianca kini telah berdiri, ia menarik kerah bajunya. Hal sama juga kini turut di lakukan Lucia, keduanya mengambil ancang-ancang seperti ingin beradu pukul.
"Sudahlah Lucia, aku sudah cukup capek untuk terus meladenimu, apa kau tidak punya urusan lain?" Tanya Bianca dan malah mendapat tatapan sinis dari sang adik.
"Banyak omong kau," Lucia mencoba menarik badan Bianca, namun Bianca yang tak mau mengalah kini memilih menghindar, membuat Lucia yang sempat ingin menariknya pun, hampir terjatuh.
Namun, untung bagi gadis itu, ia langsung di tangkap oleh pria yang berada si sampingnya. Pria itu menopang punggung Lucia dengan kedua tangannya, dan mata mereka kini saling bertemu.
Bianca yang melihat kejadian itu langsung melongo, ia kemudian menggerakkan tangannya dan mulai tepuk tangan.
PROK! PROK! PROK!
Tepukan tangan itu membuat mereka sadar dari lamunan. Lucia kini langsung membenarkan posisinya, ia mendorong tubuh pria itu dan langsung lari menjauh.
"Lucia, kau mau pergi kemana? Mengapa kau lari dariku?" Ucap pria itu, namun tak di dengarkan oleh Lucia.
Pria itu pun menghembuskan napasnya kasar, dan saat ia menoleh.
"Astaga..." Betapa terkejutnya ia, saat Bianca sudah berada tepat di depan wajahnya. Menatapnya dengan sinis dan terlihat sangat marah.
"Dasar pria gila, bagaimana kau bisa memeluk adik ku hah? Dasar brengsek,” ucap Bianca kepada pria itu sambil memukul-mukul dadanya.
"Pak Axel" ucap Lucia sehingga membuat keduanya pun menoleh.
Gadis itu rupanya kembali lagi, kini berjalan mendekati mereka berdua.
“Lucia,” ucap pria bernama Axel itu mencoba mendekat ke arah Lucia.
Baru satu langkah ia berjalan, Bianca sudah bekacak pinggang sebari memotong jalannya, ia berdiri tepat di depan Axel untuk menghalangi jalannya.
“Kau mau apa hah, jangan coba-coba sentuh adik ku atau kau akan terima akibatnya!,” Bianca menunjukkan bogeman tangannya.
Namun Axel rupanya tak mengubris tindakan Bianca, ia malah berlari dan mendorong Bianca. Sehingga membuatnya harus tersungkur ke aspal.
"O hai Lucia, bagaimana tugasmu. Apakah sudah jadi?" Lucia yang di tanya seperti itu pun langsung syok dan malah lari panik kalang kabut.
"Lucia, kau mau kemana? Hai, mengapa kau lari lagi? Lucia."
Bianca kini terbangun setelah terjatuh akibat Axel, gadis itu kini bahkan sudah berdiri tepat di belakangnya.
"Kau, kau benar-benar ya." Hawa tidak enak dapat Axel rasakan, ia seperti merasa begidik ngeri akan sesuatu, dan saat ia menoleh.
BRUUUKKKK!
Bianca memukul wajah Axel tepat dengan tangannya hingga pria itu tersungkur ke aspal.
"Hai, dengar dulu penjelasanku!"
Axel kini kembali berdiri.
"Penjelasan apa?" Tanya Bianca yang kembali menunjukkan kepalan tangan.
Bukannya membalas Bianca, pria itu langsung membungkuk dan meminta maaf pada Lucia. Bukan tak bisa berkelahi, namun tidak akan sopan jika ia memukul orang random di jalan seperti itu.
"Maaf, saya sama sekali tidak bermaksud."
Bianca menghela napas panjang, "Ya aku maafkan," Nadanya terdengar ketus, namun ia sadar, bahwa apa yang sempat ia lakukan itu salah.
"Maaf juga, aku tidak benar-benar bermaksud tadi, aku hanya ingin melindungi adikku." Mendengar Bianca yang benar-benar tulus kepadanya adiknya. Axel pun tersenyum lega.
Namun hal ini tak benar-benar selesai, karena saat ini, Bianca bersedekap, ia memutari pria itu seperti tengah mengintrogasi seseorang.
"Jadi, kau ini apa?"
Axel kemudian memperkenalkan dirinya secara resmi. "Perkenalkan, saya Axelio, Dosen Lucia di kampus."
Bianca yang semula bersedekap, kini langsung menurunkan tangannya, tak hanya itu, ia bahkan syok, dan sempat berdiri dengan badan sedikit terhuyung.
"Kau baik-baik saja?" Tanya Axel, dan di jawab anggukan oleh Bianca.
"Ya ampun pak Dosen, saya benar-benar minta maaf." Dari yang semula bernada ketus, nada itu kini langsung berubah 180 derajat menjadi jauh lebih halus dan lembut.
"Ya tidak apa-apa, santai saja" Bianca pun langsung lega mendengar hal itu.
"O iya, perkenalkan. Saya Bianca, kakak dari Lucia." Ucapnya manis.
Mereka pun kemudian saling berjabat tangan.
“Tin, tin tinnnnnnnnn,” supir pick up itu kembali membunyikan klaksonnya lagi.
“Mas, ini jadi diangkut tidak si? Saya masih harus bawa barang milik orang lain lagi." tanya supir itu dengan nada ketus kepada Axel.
“Iya pak, iya, jadi!" Axel dan Bianca pun mundur ke tepian jalan.
Mobil pick up itu kini maju, “gini dong dari tadi” ujar supir pick up itu.
Axel pun kembali ke mobilnya, Lucia masih berdiri di sana. Ia menatap mobil pick up itu yang ternyata berhenti tepat di depan rumahnya.
“Lah, kok disana?" ujar Bianca heran.
“Tin tin” Bianca sempat terkejut, raut wajahnya tampak lucu dan itu membuat membuat Axel tertawa melihat respon terkejut Bianca yang lucu.
“Memang lucu ya?”
“Mau ikut tidak?"
“Kemana?”
“Itu, ke situ?" ujar Axel sambil menunjuk rumah Bianca.
Bianca yang kebingungan itu pun sempat melongo lantaran ia gagal paham, Ia bahkan menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Sudah, ikut saja sini!"
“Yaudah deh, boleh. Lumayan tumpangan gratis”
Lucia masuk ke dalam mobil, Vincent memutar kunci mobil dan menjalankan mobil itu. Tak ada 30 detik dari tempat mereka berdiri tadi dan sudah sampai di depan rumah Bianca.
Bianca pun turun dari mobil itu, ia membuka pagar rumah dan hendak masuk. Namun ia heran, lantaran Axel masih tetap berdiri di sana. “Loh, nggak jadi pergi?" tanya Bianca pada Axel yang juga ikut turun dari mobil.
“Siapa yang pergi hah?" Rupanya Bu Mayang sudah ada di belakangnya, ia menarik telinga Bianca kuat-kuat dan membuatnya menjerit kesakitan.
“IBU INI SAKIT”
“Aduh, maaf ya pak Dosen, putri saya memang agak kurang sopan,” ucap Bu Mayang pada Axel.
“Tidak apa-apa Bu Mayang, saya chil kok orangnya. Jadi santai saja!.”
“Tuh kan, dia bilang tidak apa-apa”
“AAAAAAAAAGGGGGGGHHHHHHH.” Bianca semakin menjerit saat kaki kanannya di injak oleh sang ibu.
“Benar-benar harus di ajari sopan santun ulang ini anak!"
“Nyonya, jadi di mana rumah yang kau maksud?," Ucap Axel kepada Mayang.
"Astaga, anak ini memang benar-benar sangat baik. Panggil saja aku ibu! Jangan Nyonya!" Axel pun kian mengangguk, setelah mendengar hal itu.
"Cih, semua saja di anggapnya anak baik. Tapi tidak denganku."
"Kamu pikir ibu tidak dengar ucapan mu hah?"
"Iya, iya maaf."
Mayang kemudian menunjuk kan rumah di depannya pada Vincent, rumah itu minimalis. Masih terbilang bagus, halamannya juga lumayan luas, ada sebuah pohon mangga dan juga kolam ikan mas di pekarangan rumah.
"O, jadi rumah ini di sewakan,” ucap Bianca sambil melihat-lihat.
"BIANCAAAAAAAAA, BISA TIDAK KAMU DIAM DULU!." Bianca lagi dan lagi kembali terkena marah.
"Iya, iya ini diam."
"Brakkkkkkk" Seseorang membuka pintu gerbang dengan keras.
Hal itu juga membuat Bianca terkejut, "akhirnya kau pulang juga kak." Mendengar hal itu membuat Bianca langsung panik kalang kabut dan memilih melarikan diri lagi dan lagi.
Sedangkan Lucia juga ingin mengejar, namun saat lima langkah ia berlari ibunya sudah lebih dahulu menahannya.
"Ekhem, mau kemana kamu?"
Lucia kini menoleh, "Pantas rasanya seperti merinding, rupanya yang berada di belakang badanku memang menyeramkan."
"LUCIAAAAAAAAAAA, BERANINYA KAU MENGATAI IBUMU SENDIRIIIIII"
"AMPUNNNNNNN"
BERSAMBUNG