NovelToon NovelToon
Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Terpaksa Menikahi Tuan Muda Lumpuh

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”

Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.

Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.

Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.

Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

"Lepas!" Elara langsung menyingkirkan tangan Dreven dari tubuhnya.

Dreven langsung mengangkat tangannya tinggi dan tersenyum lebar dari kursi rodanya, "Istriku sangat galak. Padahal aku baru saja menolongmu."

Elara mendengus kesal lalu masuk ke dalam mobil diikuti oleh Dreven yang menggerakkan kursi roda elektroniknya dengan mulus ke dalam kendaraan khusus yang telah dimodifikasi.

"Aku rasa kakak mu itu memiliki penyimpangan seksual," kata Dreven sambil memegang dagunya, matanya menatap ke luar jendela tempat Veyla masih berdiri.

Elara tak menghiraukan ucapan pria itu dan memilih menatap jalanan kota yang ramai.

Merasa diabaikan, Dreven mendorong kursi rodanya mendekat, lalu dengan gerakan cepat memindahkan dirinya ke kursi di samping Elara dan merebahkan kepalanya di pangkuan wanita itu, melihatnya dari bawah.

"Apa yang kau lakukan?!" Elara mencoba mendorong kepala Dreven, tetapi pria itu malah semakin nyaman, bahkan menyeringai. "Aku hanya mencari posisi tidur yang nyaman. Pangkuan istri seharusnya jadi tempat terbaik untuk suami, bukan?" katanya dengan nada menggoda.

Elara mendecak kesal. "Bangun atau aku tendang keluar dari mobil."

Dreven tertawa kecil, tetapi tetap bergeming. "Kau benar-benar istri yang tidak penyayang. Tidak kasihan pada suamimu yang lumpuh ini?" katanya dengan nada dramatis.

Melihat pria itu tetap bertahan, Elara akhirnya menyerah dan kembali menatap jendela, membiarkan Dreven tetap di sana. Dalam hati, dia berjanji, jika pria ini keterusan, dia tidak akan ragu untuk benar-benar menendangnya nanti—meskipun dia di kursi roda.

Namun, suara telepon dari ponsel Dreven membuat mobil yang tadinya hening langsung pecah.

Dreven bangkit dari pangkuan Elara setelah melihat siapa yang menelpon.

"Halo, ada apa?" jawabnya dengan nada profesional.

Elara tak bisa mendengar apa percakapan pria itu dan siapa yang memanggilnya.

Namun setelah percakapan singkat, tiba-tiba Dreven meminta mobil berhenti.

"Hentikan mobilnya," katanya dengan tegas.

Mobil langsung berhenti di pinggir jalan, pria itu menatap ke arah Elara.

"Aku ada urusan di kantor. Ada dokumen mendadak yang harus kutandatangani," katanya singkat lalu menggerakkan kursi rodanya keluar dari mobil dengan bantuan supir.

Elara sama sekali tak peduli, dia langsung menatap ke arah supir keluarga Dastan dengan datar. "Jalan."

"Baik, Nyonya."

Mobil pun melaju meninggalkan Dreven di belakang. Elara tidak menunjukkan sedikit pun ketertarikan untuk tahu apa urusan pria itu. Baginya, semakin Dreven sibuk dengan dunianya sendiri, semakin baik untuknya.

Dia menyandarkan kepalanya ke jendela, menikmati perjalanan yang kini kembali tenang. Namun, pikirannya masih penuh dengan berbagai rencana. Ada banyak hal yang harus dia lakukan, dan berada dalam keluarga Dastan bisa menjadi keuntungan jika dia memanfaatkannya dengan benar.

---

"Nyonya, alat lukis yang anda minta sudah datang." Suara Marta membuat Elara menoleh.

Sejak dua hari Dreven tak pulang—katanya sibuk dengan proyek besar di kantor—Elara merasa bebas melakukan apapun yang menjadi hobinya, termasuk melukis.

"Apakah ruangan yang aku minta sudah disiapkan? Jika sudah siap taruh alat lukisnya disana, aku akan berganti baju."

"Sudah siap, Nyonya. Kami telah menyiapkan ruang khusus di sebelah taman belakang, sesuai permintaan Anda," jawab Marta dengan sopan.

Elara mengangguk puas. Setelah berganti pakaian yang lebih nyaman, dia berjalan menuju ruangan yang telah disiapkan. Begitu memasuki ruangan itu, dia melihat jendela besar yang menghadap ke taman, membiarkan cahaya alami masuk dengan sempurna.

Di dalam, peralatan lukisnya telah tertata rapi—kanvas putih bersih, berbagai jenis kuas, serta cat minyak dengan warna-warna yang dia butuhkan.

Elara menyentuh salah satu kuas dengan jemarinya, merasa ada ketenangan yang perlahan mengisi hatinya. Sudah lama dia tidak melukis dengan bebas seperti ini—sejak di keluarga Roselyn, dia tidak pernah punya waktu untuk dirinya sendiri.

Tanpa ragu, dia mulai menuangkan pikirannya ke atas kanvas, membiarkan tiap sapuan kuasnya berbicara lebih banyak daripada kata-kata.

Selama berjam-jam dia tak bergeming dari tempatnya, menciptakan pemandangan senja yang menakjubkan dengan gradasi warna jingga dan ungu yang memukau.

"Cat merahnya habis?" Gumam Elara saat dia ingin menambah cat merah untuk menggradasi warna senja miliknya.

Namun, tiba-tiba paletnya terisi penuh oleh sebuah cairan merah.

Tapi ini bukan cat?!

Elara langsung mendongak dan menatap ke arah pria yang saat ini tengah duduk di kursi rodanya di belakangnya sambil mengepalkan tangan seolah memeras sesuatu.

Bau anyir langsung menguar.

Elara langsung berdiri dan mendorong kursi roda Dreven menjauh, "Apa kau gila?!"

Pria itu hanya menyeringai miring, tatapannya tajam dan dingin. Di tangannya, darah segar masih menetes, menciptakan noda merah yang kontras dengan palet warna di hadapan Elara.

"Aku pikir kau butuh warna merah," katanya santai, seolah-olah hal yang baru saja dia lakukan bukan sesuatu yang mengerikan.

Elara mundur selangkah, tubuhnya menegang. "Apa yang kau lakukan?"

Dreven menatap tangannya yang berlumuran darah, lalu dengan santai mengusapnya ke kemeja putihnya yang kini ternoda merah. "Hanya menyelesaikan sedikit urusan kantor. Sayangnya, tanganku jadi kotor." Katanya dengan nada datar, seolah itu adalah hal yang biasa.

Elara merasakan amarah bercampur ketakutan di dadanya. Bagaimana tidak, pria itu sekarang berlumuran darah dan masih duduk santai di hadapannya.

"Keluar dari ruangan pribadiku!"

Dreven menggerakkan kursi rodanya mendekat selangkah, matanya memperhatikan ekspresi Elara dengan penuh minat. "Kau takut?"

Elara menatapnya tajam, menyembunyikan kegelisahannya. "Aku hanya tidak ingin ada orang gila yang mengotori tempat ini."

Dreven terkekeh, lalu dengan santai mengambil kuas dari tangan Elara dan mencelupkannya ke noda darah di bajunya. "Lukisanmu bagus. Tapi kurasa akan lebih dramatis dengan sentuhan merah asli."

Elara merasakan darahnya mendidih. Dia merebut kembali kuasnya, lalu menatap pria itu dengan penuh peringatan. "Aku tidak peduli apa yang kau lakukan di luar sana. Tapi jangan bawa kegilaanmu ke ruanganku."

Dreven menatapnya beberapa detik, lalu tersenyum kecil. "Baiklah. Sampai jumpa di makan malam nanti."

Tanpa berkata lagi, dia memutar kursi rodanya dan pergi, meninggalkan jejak darah di lantai.

Elara menatap itu dengan penasaran, lalu menoleh ke lukisannya yang kini ternodai oleh darah Dreven.

Dia berdecak pelan lalu memanggil Marta.

"Bu Marta, bersihkan tempat ini, dan buang lukisan itu," katanya dengan datar, dan pergi ke kamarnya.

Moodnya benar-benar rusak gara-gara Dreven merusak lukisannya.

Akhirnya dia pergi beristirahat sebelum malam tiba. Dan ketika malam, Elara mengabaikan kehadiran Dreven di ruang makan. Dia masih kesal soal lukisannya yang rusak karena pria itu.

"Suapi aku," kata pria itu yang membuat Elara menghentikan gerakan sendoknya.

Elara melirik ke arah Dreven, memang sejak tadi makanan di depannya belum terjamah sama sekali.

Apalagi tangan kanannya yang saat ini diperban oleh kain kasa tebal.

Elara mendengus pelan, menatap Dreven dengan ekspresi malas. "Tangan kirimu masih berfungsi, bukan?" katanya dengan datar, lalu melanjutkan makannya tanpa peduli.

Dreven menyandarkan tubuhnya ke kursi roda, menatap Elara dengan seringai tipis. "Istriku benar-benar tidak memiliki belas kasihan. Bagaimanapun jika aku mati kelaparan, kau yang dirugikan. Ayahmu mertua pasti akan marah padamu."

Elara tidak membalas, hanya fokus pada makanannya. Namun, Dreven tidak menyerah begitu saja. Dengan sengaja, dia mengambil sendok dengan tangan kirinya dan mencoba menyendok sup di depannya. Namun, gerakannya terlalu canggung karena tangan kanannya yang terluka, membuat sup itu tumpah mengenai lengannya.

"Ah..." Dreven mendesah pelan, lalu melirik Elara dengan ekspresi menyedihkan. "Lihat? Aku benar-benar butuh bantuanmu."

Elara menutup matanya sesaat, mencoba menahan kesabaran. "Drama seperti ini tidak akan berhasil padaku."

"Tapi kau tetap memperhatikanku," balas Dreven cepat, menyeringai puas.

Elara menghela napas panjang. Dengan enggan, dia mengambil sendok di hadapannya dan menyendok sup dari mangkuk Dreven.

"Hanya kali ini," katanya dingin, lalu menyuapkan makanan ke mulut pria itu.

Dreven menerima suapan itu dengan tenang, tetapi sorot matanya penuh dengan kemenangan. "Istriku ternyata perhatian juga."

Elara hanya ingin segera menyelesaikan ini. Jika ini bisa membuat Dreven diam, maka tidak ada salahnya melakukan sedikit pengorbanan. Namun, dalam hati, dia bersumpah tidak akan membiarkan pria ini terus-menerus mempermainkannya.

Tapi baru lima suap sup masuk ke dalam mulutnya, seorang penjaga tiba-tiba berlari ke arah mereka.

"Tuan, Nyonya, ada pihak kepolisian datang," kata penjaga itu dengan tergesa.

Elara langsung membeku, "Polisi?"

Penjaga itu mengangguk dengan ragu, sedangkan Dreven tampak begitu tenang. Seolah ini adalah hal yang biasa.

"Suruh mereka masuk," katanya tanpa sedikit pun menunjukkan kepanikan.

Penjaga itu segera berlari kembali, sementara Elara diam, mencoba mencerna situasi. Dia melirik ke arah Dreven yang terlihat sangat tenang, seolah sudah menduga hal ini akan terjadi.

Tak lama, beberapa polisi masuk ke ruang makan dengan ekspresi serius. Salah satu dari mereka, yang berpangkat tinggi, maju ke depan. "Tuan Dreven Orsley Dastan, kami menerima laporan terkait dugaan kasus kekerasan dan penyiksaan seseorang. Kami membutuhkan kerja sama Anda untuk ikut ke kantor polisi."

Elara menatap Dreven dengan tatapan tajam, menyadari bahwa ini pasti ada hubungannya dengan kejadian sebelumnya—darah di tangannya, luka di tangan kanannya.

Namun, bukannya panik atau menyangkal, Dreven justru menyeringai kecil. "Siapa yang melaporkanku?" tanyanya santai, seolah ini hanya percakapan biasa.

Polisi itu tidak terpancing. "Anda bisa membahasnya di kantor polisi, Tuan Dastan."

Dreven menghela napas seolah bosan, lalu melirik Elara. "Istriku, kau ingin ikut denganku? Atau lebih suka tinggal di rumah menikmati makan malam kita yang terganggu ini?" tanyanya dengan nada bercanda.

Elara masih diam, berpikir cepat.

"Cepat putuskan, sayang. Aku mungkin membutuhkan saksi untuk membuktikan aku tidak bersalah," tambah Dreven dengan nada menggoda.

Elara menatap pria itu tajam, lalu akhirnya berdiri. "Aku ikut."

Dreven menyeringai lalu menggerakkan kursi rodanya mengikuti polisi itu, sedangkan Elara masih duduk di sana dan menyusul nanti.

"Sialan! Dia benar-benar pembawa masalah," umpatnya dalam hati, namun langkah kakinya tetap mantap mengikuti di belakang.

Malam itu, Elara menyadari bahwa pernikahannya dengan Dreven tidak akan pernah membosankan—tapi juga tidak akan pernah damai.

Bersambung

1
Arni Arlinawati Pratiwi💃
nyari penyakit lu drev.. 🗿
Alia Chans
😭😭😭 Elara bisa yok
꧁𝓘𝓷𝓭𝓪𝓱𝓡𝓪𝓶𝓪𝓭𝓱𝓪𝓷𝓲꧂
Dreven kayaknya udah mulai nyaman dengan Elara, tapi gengsi untuk mengakui🤭
Alia Chans: yakin nyaman doang kk🤭🤭
total 1 replies
Syahira🌹
pasti dia tidak Terima saat dia di bilang lemah, egonya pasti sangat tersenggol🤣
Alia Chans: kalo gak ego tinggi gak cowok namanya🤣🤣🤣
total 1 replies
Mingyu gf😘
di keluarga dastan kamu seperti ratu ya
Mingyu gf😘
dihh modus lu😆
Miranda.
kritik sedikit ya thor. mungkin bisa sedikit membantu dan membangun.

karaktermu ini duduk di kursi roda loh. kurang-kurangi memakai kalimat yang merepresentasikan bahwa dia bisa berjalan dong. biar ga cacat logika./Frown/
Alia Chans: emang dia beneran lumpuh kk🤭🤭
total 1 replies
Miranda.
cara menasehatinya nusuk banget yaa/Frown/
My_Lucia
Edeh... deh... apa dia penganut sex menyimpang 🤣
Alia Chans: eitss belum pasti ye👑🔥
total 1 replies
My_Lucia
what?? serem amadt🫣
Miranda.
bapak mertua mulai berharap pada elara nih yee🤭🤭
Miranda.
ehm... logikanya ini gimana thor? menggandeng? mungkin lebih tepatnya "meletakkan tangan elara ke dorongan kursi roda untuk membantunya bergegas"/Slight/
Alia Chans: kan tinggi Elara gak setinggi menara Eiffel juga kk😭😭
dimana " cowok kan, you know lah☺
total 1 replies
Miranda.
eughhh alasan yang tidak begitu logis
naws
punya kekurangan gini, sombongnya masih selangit
Alia Chans: 😭😭😭 masa harus merendah mulu, kan gak Dreven dong🤣🤣
total 1 replies
🦋Little Butterfly🦋
emang boleh/Slight/
Alia Chans: boleh "🤭🤭
total 1 replies
🦋Little Butterfly🦋
what? bisa bisanya knpa coba😯
Alia Chans: semedi kak😭😭🤣
total 1 replies
Arni Arlinawati Pratiwi💃
yeee.. kalo suka ya dari dulu lah bambang! 🗿
Alia Chans: pen tak jedotin dianya mak🤣😭
total 1 replies
Arni Arlinawati Pratiwi💃
nyembur dong.. mode mbah dukun si elara di sembur leo! /Curse/
Arni Arlinawati Pratiwi💃
emak jus alpuket pake coklat pinggir nya, sedotan nya yang tajem dan tebel.. 🗿
Arni Arlinawati Pratiwi💃
kepo!!! 🗿
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!