Lexa, seorang siswi populer yang terbiasa menindas siapa saja yang menghalangi jalannya, terbangun di sebuah kamar sempit yang asing. Saat memandang cermin, ia tersentak menemukan sosok Maya gadis lugu dan pendiam yang saban hari ia jadikan sasaran rundungan di sekolah. Karna suatu kejadian, jiwanya terperangkap dalam tubuh korban yang paling ia benci.
Terjebak dalam kehidupan Maya, Lexa kini harus merasakan dinginnya lantai kamar mandi tempat ia dulu menyiram Maya, pedasnya cemoohan teman-temannya sendiri, hingga kejamnya rasa terisolasi. Demi bertahan hidup dan mencari cara kembali ke tubuh aslinya, Sephia terpaksa membalas balik intimidasi kelompoknya sendiri—kali ini menggunakan akal dan keberanian yang tak pernah dimiliki Maya sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jihan dwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
Hari-hari menjelang Olimpiade Sains berjalan dalam dua panggung yang sangat bertolak belakang. Di SMA Nusa Bangsa, pemandangan Maya yang mendekam di sudut perpustakaan sekolah menjadi hal yang biasa. Setiap jam istirahat, saat murid lain bersenda gurau di kantin, Maya duduk tekun membolak-balik buku-buku tebal Biologi Molekuler dan Genetika Lanjutan. Jemarinya yang kasar tak lelah mencatat rumus, merangkum teori, dan menyelesaikan ratusan soal latihan hingga larut malam. Bagi Maya, setiap lembar kertas yang ia pelajari adalah benteng pertahanan terakhir untuk menjaga harga diri dan impian masa depannya.
Sebaliknya, Lexa menjalani harinya di sekolah tanpa beban sedikit pun. Ia tetap menjadi ratu sekolah yang sibuk memoles kuku, mengobrol di koridor, dan tertawa renyah bersama teman-temannya. Sama sekali tak terlihat raut cemas atau tumpukan buku pelajaran di mejanya. Sikap tak acuh Lexa yang begitu santai perlahan membuat Hani dan Aurel merasa sangat cemas.Saat jam istirahat, Hani mencondongkan tubuhnya ke arah Lexa yang sedang mengoleskan lip gloss di depan cermin kecil.
"Lex, lu beneran nggak mau belajar?" bisik Hani dengan raut wajah penuh keraguan. "Olimpiade tinggal beberapa hari lagi. Si Maya itu tiap hari mendekam di perpustakaan sampai jam pulang. Kalau sampai lu kalah telak dan dipermalukan di depan satu sekolah, gimana?" Aurel mengangguk cepat, menyetujui kekhawatiran Hani. "Iya, Lex. Kita cemas banget. Ingat kan guru-guru dan mama lu memperhatikan banget ajang ini?"
Lexa menutup cermin kecilnya dengan suara *klik* yang nyaring, lalu menatap kedua temannya dengan senyum sinis yang sarat akan dominasi. "Kalian berdua bisa diam nggak? Nggak usah sok mengajari gue."
Lexa mendekatkan wajahnya pada Hani dan Aurel, lalu berbisik tegas penuh ancaman, "Gue udah memperingatkan kalian dari kemarin. Nggak usah cemas dan nggak usah banyak tanya. Semuanya udah ada di dalam kendali gue, dan rencana gue jauh lebih cerdas dari yang bisa otak kalian bayangkan. Yang perlu kalian lakukan cuma tutup mulut dan tonton kemenangan gue minggu depan."Melihat sorot mata Lexa yang begitu percaya diri dan berbahaya, Hani dan Aurel saling pandang, lalu terbungkam. Mereka tahu betul, jika Lexa sudah berkata demikian, ada permainan kotor di balik layar yang sedang ia jalankan.Namun, drama yang dimainkan Lexa memiliki wajah yang sangat berbeda begitu ia melangkah masuk ke dalam rumah megahnya. Di hadapan kedua orang tuanya, Lexa menjelma menjadi sosok anak perempuan yang sangat tekun dan berubah total.
Malam itu, di dalam ruang keluarga yang hangat, suasana terasa amat harmonis. Papa dan Mama Lexa yang baru saja mendengar kabar keikutsertaan putri mereka dalam olimpiade dari pihak sekolah, mendapati Lexa duduk manis di meja belajar kamarnya dengan pintu yang dibiarkan terbuka sedikit. Di atas meja mewahnya, terhampar beberapa buku Biologi, buku catatan, dan pulpen yang terbuka sebuah pemandangan langka yang belum pernah terjadi sebelumnya.Mama Lexa berdiri di ambang pintu, menatap bayangan putrinya dari belakang dengan binar mata yang memancarkan rasa haru dan bangga yang mendalam. Kebencian dan rasa kecewa yang sempat membakar dadanya saat kejadian di pasar beberapa hari lalu perlahan lumer. Beliau yakin betul, teguran kerasnya dan pemotongan uang jajan semalam telah menyadarkan putri tunggalnya. Mama Lexa percaya bahwa Lexa kini tengah berjuang keras untuk memperbaiki diri, membuktikan bahwa ia sanggup menjadi anak yang mandiri dan berprestasi.
"Mama bangga sekali sama kamu, Lexa," ujar Mama Lexa lembut seraya melangkah masuk dan mengelus rambut halus putrinya dengan penuh kasih sayang. "Mama tidak menyangka kamu mau mengambil tanggung jawab besar ini. Maafkan Mama ya kalau kemarin sempat keras sama kamu."Lexa mendongak, menyunggingkan senyum manis bertopeng kepolosan yang sangat sempurna. "Nggak apa-apa kok, Ma. Lexa sadar Lexa banyak salah. Lexa mau buktikan ke Mama dan Papa kalau Lexa bisa membawa nama baik keluarga di olimpiade ini."
Papa Lexa yang berdiri di belakang mamanya tertawa bangga, menepuk bahu putri kesayangannya itu. "Ini baru anak Papa! Papa bangga sekali. Kamu fokus belajar saja, tidak usah memikirkan hal lain. Apa pun yang kamu butuhkan untuk menang di perlombaan itu, Papa yang akan siapkan!"
Pujian bertubi-tubi dan rasa bangga dari kedua orang tuanya mengalir deras, menyelimuti Lexa dengan kehangatan palsu. Begitu Papa dan Mamanya keluar ruangan sambil tersenyum puas, senyum manis di wajah Lexa seketika luntur, berganti menjadi cengiran culas yang dingin.Begitu mendengar langkah kaki orang tuanya menjauh, Lexa langsung menutup buku pelajaran tebal di hadapannya dengan hempasan kasar. Ia menyandarkan tubuhnya di kursi empuk, merenggangkan jemarinya, lalu menyambar ponsel pintarnya. Tidak ada satu pun materi Biologi yang benar-benar ia baca atau pahami. Buku-buku yang terbuka di atas mejanya tak lebih dari sekadar properti sandiwara untuk mengelabuhi kedua orang tuanya.
Lexa membuka folder rahasia di ponselnya sebuah berkas berisi kisi-kisi dan bocoran kunci jawaban olimpiade yang telah berhasil ia dapatkan berkat posisinya sebagai anak dari sponsor utama. Dengan santai, ia menyandarkan kepala, memutar musik kesukaannya, dan mulai menghafal pola-pola kunci jawaban abjad tanpa perlu repot-repot memahami teori rumit di baliknya.
Di tempat terpisah, di bawah remang lampu minyak rumah papannya yang dingin, Maya masih memegang pensil dengan tangan yang gemetar akibat lelah, terus mengurai rumus-rumus persilangan genetika demi memperjuangkan nasibnya dengan cara yang jujur.
Maya belajar mati-matian menggunakan keringat dan air mata, sementara Lexa melangkah dengan kepalsuan, memanfaatkan rasa bangga orang tuanya sebagai perisai dari kecurangan yang siap ia muntahkan. Jerat kebencian dan manipulasi yang dirajut Lexa makin menebal, menanti hari perlombaan untuk meledakkan takdir yang akan mengubah kehidupan mereka berdua selamanya.