Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
6
Semburat jingga kemerahan yang menyerupai warna darah segar mulai melukis langit sore, menyapu bayangan panjang dari menara-menara gotik Mansion Utama klan Hendrick. Roda-roda besar SUV antipeluru berderit membelah jalanan berbatu kerikil, sebelum akhirnya berhenti dengan halus di depan undakan pualam.
Pintu mobil terbuka. Sepatu kulit Aldebaran mendarat lebih dulu di atas paving. Sang Raja Iblis mengulurkan tangannya, matanya tak pernah lepas mengawasi Ratu-nya. Amanda menyambut uluran tangan itu, melangkah turun dengan balutan mantel trench berbahan wol warna burgundy yang menonjolkan rona wajahnya yang kini telah kembali merona. Tidak ada lagi lingkar hitam kelabu di bawah matanya, tidak ada lagi tatapan kosong yang menyerupai mayat hidup.
Aldebaran merengkuh pinggang Amanda posesif, menuntunnya menaiki undakan menuju pintu ganda mahoni yang langsung dibukakan oleh para penjaga berjas hitam. Begitu mereka melangkah masuk, hawa hangat dari perapian raksasa dan aroma teh Earl Grey yang pekat langsung menyambut indra penciuman, mengusir hawa dingin musim gugur di luar sana.
Di ruang duduk utama, Tuan Besar dan Nyonya Besar tengah duduk dalam keheningan yang mengudara sejak tragedi itu. Nyonya Besar menatap kosong ke arah jilatan api, sementara Tuan Besar memutar gelas wiskinya dengan rahang mengeras.
Namun, suara langkah kaki yang mendekat membuat Nyonya Besar menoleh.
Mata tua yang biasanya memancarkan kedinginan absolut dan otoritas itu perlahan membulat. Cangkir teh porselen di tangan Nyonya Besar bergetar kecil hingga menimbulkan bunyi denting pelan saat beradu dengan tatakannya. Ia menatap sosok wanita yang kini berdiri di ambang pintu, bersandar nyaman pada lengan putranya.
Amanda tersenyum. Sebuah senyum tipis, lembut, dan sangat tulus.
"Amanda...?" bisik Nyonya Besar, suaranya parau.
Matriark The Iron Crown itu bangkit berdiri dengan tergesa, bahkan mengabaikan tongkat kayunya yang terjatuh membentur karpet Persia. Langkah kakinya setengah berlari, menanggalkan seluruh topeng keangkuhannya sebagai pemimpin klan. Saat ia tiba di hadapan menantunya, Nyonya Besar tidak mengatakan apa-apa lagi. Ia langsung menarik Amanda ke dalam sebuah pelukan yang luar biasa erat dan putus asa.
Hati Amanda berdesir hangat. Pelukan ini... terasa sangat berbeda dari pelukan ibunya sendiri di masa lalu. Dekapan Nyonya Besar dipenuhi oleh kasih sayang seorang ibu yang hancur, namun juga lega tak terhingga melihat putrinya kembali dari ambang kematian jiwa.
"Syukurlah... syukurlah, Nak," isak Nyonya Besar tanpa suara, mengelus punggung Amanda dengan tangan bergetar. Air mata haru menetes dari sudut matanya yang keriput, membasahi mantel burgundy Amanda. "Kau kembali... kau kembali pada kami. Melihatmu hidup dan bisa tersenyum lagi... ini sudah cukup mengobati luka batin Mama, Sayang."
Amanda membalas pelukan itu tak kalah erat, memejamkan mata dan menghirup aroma parfum klasik ibu mertuanya. "Maafkan Amanda, Ma. Maaf karena sudah mengurung diri terlalu lama, tenggelam dalam ego, dan membuat kalian cemas."
Tuan Besar melangkah mendekat. Pria tua dengan wajah penuh bekas luka pertempuran itu tak banyak bicara. Ia hanya menepuk pelan puncak kepala Amanda dengan sebelah tangan besarnya yang kasar, sebuah gestur perlindungan mutlak dari sang mantan penguasa. Matanya yang setajam elang menatap Amanda dengan binar kelegaan yang tak terlukiskan, sebelum akhirnya beralih menatap putra tunggalnya.
Tuan Besar dan Aldebaran saling bertukar pandang. Tidak ada kata yang terucap di antara dua pria paling mematikan di kota itu, namun dari sorot mata ayahnya, Aldebaran tahu pria tua itu sedang berkata: Kerja bagus, Putraku. Kau menyelamatkannya.
Aldebaran menyeringai tipis, tangannya kembali menarik pinggang Amanda dengan lembut saat Nyonya Besar melepaskan pelukannya. Ia menatap istri mungilnya yang kini tengah tersenyum mengusap sisa air mata di pipi sang ibu mertua. Dada Aldebaran bergemuruh oleh kebanggaan yang membumbung tinggi.
Bagi klan Hendrick, tragedi gila Anastasya telah merenggut berlian kecil mereka. Namun sore ini, melihat Ratu mereka kembali berdiri tegak, memancarkan kehangatan dan kehidupan di tengah dinginnya dunia mafia, mereka tahu bahwa The Iron Crown tidak akan pernah benar-benar runtuh selama wanita ini masih bernapas di sisi sang Raja.
Malam itu, udara di dalam kamar utama Mansion Hendrick terasa berbeda. Keheningan yang biasanya dingin kini terasa magis dan memabukkan. Ratusan lilin aromaterapi beraroma vanila dan mawar merah berpendar di setiap sudut ruangan, meleburkan bayang-bayang gelap menjadi siluet keemasan yang menari-nari di dinding marmer.
Di tengah keindahan temaram itu, Amanda berdiri menatap pantulan dirinya di cermin pualam. Ia berdandan luar biasa cantik malam ini. Gaun sutra merah darah melekat sempurna membalut lekuk tubuhnya, bibirnya dipoles senada, dan rambutnya dibiarkan tergerai lembut membingkai wajahnya yang tampak begitu tenang. Terlalu tenang.
Pintu berderit pelan. Aldebaran melangkah masuk setelah seharian mengurus urusan klan. Pria itu menghentikan langkahnya di ambang pintu, matanya yang tajam terpaku pada pemandangan di hadapannya. Kemeja hitamnya yang kusut dan aroma mesiu yang menempel di tubuhnya terasa begitu kontras dengan kelembutan yang menyambutnya.
"Ada apa, Sayang?" tegur Aldebaran heran, meski seulas senyum memuja tak bisa ia sembunyikan dari sudut bibirnya. Ia melangkah mendekat, melingkarkan lengannya dari belakang pinggang Amanda dan mengecup bahu telanjang istrinya. "Tumben sekali jam segini kau terlihat sibuk berdandan. Merayakan sesuatu?"
Amanda memutar tubuhnya perlahan. Ia menatap lurus ke dalam sepasang manik kelam suaminya, mengangkat sebelah tangan untuk mengusap rahang tegas yang mulai ditumbuhi rahang halus itu. Senyum Amanda mengembang—sebuah senyum yang begitu lembut, namun menyimpan ribuan rahasia kelam di baliknya.
"Aku hanya sedang menyiapkan kedamaian kita, Al," jawab Amanda dengan suara sehalus sutra.
Ia meraih dua gelas kristal dari atas meja nakas, yang satu telah ia isi dengan anggur merah vintage terbaik dari ruang bawah tanah, sementara yang lainnya untuk dirinya sendiri. Amanda menyodorkan gelas pertama ke hadapan bibir Aldebaran. "Minumlah, Sayang. Kau pasti lelah. Anggur ini akan membuatmu tidur sangat lelap malam ini."
Aldebaran, sang Raja Iblis yang tak pernah memercayai siapa pun di dunia ini, yang selalu memiliki ribuan musuh yang mengincar nyawanya, sama sekali tidak memiliki sedikit pun keraguan saat menatap mata istrinya. Di tangannya, racun sekalipun akan ia telan jika itu dari Amanda. Pria itu tersenyum, menerima gelas tersebut, dan menenggak isinya hingga tandas.
Hanya butuh sepuluh detik bagi cairan pekat itu untuk bereaksi.
Gelas kristal terlepas dari genggaman Aldebaran, jatuh berdebum dan pecah berkeping-keping di atas karpet berbulu. Tubuh raksasa sang mafia seketika menegang. Matanya membelalak saat rasa terbakar yang luar biasa menyengat kerongkongannya, mengikat pasokan oksigen ke paru-parunya dalam sekejap. Otot-ototnya mulai kejang, napasnya tersengal putus asa, persis seperti apa yang dialami putri mereka.
"A-Amanda..." Aldebaran tersedak, tangannya mencengkeram dadanya sendiri, menatap istrinya dengan pandangan yang perlahan kabur.
Bukannya panik, Amanda justru melangkah maju dengan kelembutan seorang ibu yang menidurkan bayinya. Ia menuntun tubuh suaminya yang mulai kehilangan keseimbangan, merebahkannya dengan hati-hati ke atas ranjang king size mereka.
Amanda menunduk, mengusap keringat dingin yang membasahi dahi Aldebaran, mengecup kening pria itu lama.
"Tidurlah, Al," bisik Amanda pilu, setetes air mata akhirnya jatuh mengenai pipi suaminya. "Rasa sakitnya hanya sebentar. Tutup matamu, Sayang... kita akan segera pergi menemui putri kita. Lily sudah menunggu kita di sana."
Mendengar nama Lily, perlawanan di mata Aldebaran perlahan meredup. Sang monster yang tak pernah terkalahkan itu menatap wajah istrinya untuk yang terakhir kali, memahami segalanya dalam detik-detik terakhirnya. Ia tidak marah. Dengan sisa tenaga yang ia miliki, jari-jari Aldebaran yang bergetar meraih tangan Amanda, menggenggamnya erat, seolah menerima takdir mematikan itu dengan rela, sebelum akhirnya matanya tertutup dan dadanya berhenti bergerak.
Setelah memastikan napas suaminya benar-benar berhenti, Amanda bangkit. Ia melangkah ke arah meja rias, mengambil sebuah buku harian bersampul kulit tua, dan meletakkannya tepat di tengah meja. Di atas buku itu, ia menaruh sebuah foto polaroid—satu-satunya foto yang menampilkan mereka bertiga; Aldebaran, Amanda, dan Lily yang sedang tersenyum ceria di ruang makan mansion.
Tanpa ragu sedikit pun, Amanda meraih gelas anggur kedua yang telah ia campur dengan racun neurotoksin yang sama. Ia meminumnya tanpa sisa.
Sensasi tercekik itu datang dengan cepat, namun Amanda menyambutnya dengan senyum lega. Ia merangkak naik ke atas ranjang, memosisikan dirinya di dalam pelukan Aldebaran yang mulai mendingin. Amanda menyandarkan kepalanya di dada bidang suaminya, memejamkan mata, dan menyusul pria itu ke dalam keabadian. Mereka menghembuskan napas terakhir, terlelap dalam pelukan maut yang tak akan pernah bisa dipisahkan lagi.
Pagi hari merayap masuk membawa hawa beku yang menusuk tulang. Firasat seorang ibu tidak pernah salah, apalagi bagi seorang matriark yang telah melewati puluhan tahun pertumpahan darah.
Nyonya Besar merasakan udara di dalam mansion terasa terlalu sunyi, terlalu hampa. Dadanya berdebar dengan ritme yang menyakitkan sejak ia membuka mata. Dengan tergesa-gesa dan dituntun oleh kepanikan yang tak beralasan, ia menyusuri lorong menuju kamar putra dan menantunya.
Pintu itu terkunci dari dalam. Ketukannya tak kunjung mendapat jawaban.
"Dobrak pintunya! Sekarang!" perintah Nyonya Besar histeris pada dua penjaga yang berjaga di ujung lorong.
Brak!
Pintu kayu mahoni itu hancur dalam dua kali dobrakan keras. Bau lilin yang telah mati dan aroma anggur yang tumpah langsung menyergap penciuman.
Langkah Nyonya Besar terhenti di ambang pintu, tongkat kayunya terlepas dari genggaman. Matanya membelalak ngeri menatap ranjang di tengah ruangan.
Di sana, Aldebaran dan Amanda tertidur berdampingan dengan sangat damai. Lengan kekar sang putra memeluk pinggang istrinya, sementara wajah Amanda bersandar nyaman di dada suaminya. Mereka terlihat begitu sempurna, begitu indah, namun kulit mereka sepucat lilin porselen. Tidak ada pergerakan. Tidak ada napas. Keduanya telah menjadi mayat.
Kaki Nyonya Besar bergetar hebat. Ia berjalan tertatih-tatih mendekati ranjang, napasnya tercekat di tenggorokan seolah ada batu besar yang menyumbatnya. Saat itulah matanya menangkap buku harian dan foto keluarga kecil itu di atas meja.
Dengan tangan gemetar yang terasa sedingin es, Nyonya Besar membuka halaman terakhir yang tintanya masih terlihat baru.
Untuk dunia yang telah merenggut napasku,
Kalian mengira aku sudah pulih. Kalian mengira tawa dan senyumku adalah tanda bahwa aku telah berdamai dengan takdir. Tapi, aku hanya sedang merajut ilusi.
Aku sudah berusaha melupakan Lily. Aku mencoba, sungguh mencoba, untuk kembali hidup dan menjalani sisa waktuku dengan Aldebaran. Pria itu memberikan seluruh dunianya untukku, dan aku mencintainya atas semua pengorbanannya. Namun, aku lelah menipu diriku sendiri. Hati seorang ibu tidak akan pernah bisa berdetak normal ketika sebagian dari dirinya telah membusuk di dalam tanah.
Aku sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit yang menggerogoti kewarasanku setiap malam. Rumah ini terlalu besar, dan terlalu sepi tanpa tawa putriku. Jadi, aku memutuskan untuk menyusul Lily.
Aku membawa serta suamiku, Aldebaran. Karena aku tahu, jika aku pergi meninggalkannya sendirian di dunia yang kejam ini, ia akan menghancurkan segalanya, termasuk dirinya sendiri. Kami akan mencari kedamaian kami sendiri. Maafkan aku, Ibu.
Tulisan itu mengabur oleh air mata Nyonya Besar yang menetes deras membasahi lembaran kertas. Jantung sang matriark tua itu berdebar gila, dipenuhi rasa sesak yang menghancurkan tulang rusuknya. Ia mengira kemanjaan dan keceriaan Amanda selama ini adalah tanda kesembuhan, namun nyatanya, itu adalah bentuk keputusasaan terdalam dari seorang wanita yang merencanakan kematiannya sendiri.
"ALDEBARAN! AMANDA!"
Jeritan panjang dan melengking dari Nyonya Besar meledak seketika, merobek keheningan pagi yang beku. Raungan pilu seorang ibu yang kehilangan putra dan cucunya secara berurutan itu menggema ke seluruh penjuru Mansion Utama, membuat seisi rumah seketika dilanda kepanikan yang luar biasa.
Dante dan Flop berhamburan masuk, hanya untuk membeku di ambang pintu melihat Raja dan Ratu mereka telah mangkat.
Di atas ranjang berseprai sutra itu, Aldebaran dan Amanda terbaring kaku namun damai. Kisah cinta mereka yang lahir dari darah, obsesi, dan kegelapan mafia, harus berakhir dengan cara yang paling tragis. Tidak ada pembunuhan dari klan musuh, tidak ada pengkhianatan dari dalam. Sang penguasa semesta dunia bawah tanah justru tumbang oleh cinta dan luka yang tak bisa disembuhkan. Sebuah akhir yang abadi, mengukir legenda berdarah ala Romeo dan Juliet di tengah kejamnya takhta The Iron Crown.
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭