NovelToon NovelToon
Putri Cacat Jadi Konglomerat

Putri Cacat Jadi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Wanita Karir / Orang Disabilitas / Crazy Rich/Konglomerat / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: Bunda SB

Dibuang oleh darah dagingnya sendiri hanya karena ia terlahir tidak sempurna.

Haruka tumbuh tanpa pelukan orangtua, tanpa tempat pulang. Dunia memandangnya sebelah mata... dihina, direndahkan, dianggap beban yang tak pantas hidup layak. Tapi di tengah semua penolakan itu, ada satu orang yang tak pernah melepaskannya: seorang nenek tua, satu-satunya yang mau memeluknya tanpa syarat.

Dari pelukan itulah tekad Haruka lahir. Ia bangkit, merangkak sejengkal demi sejengkal dari titik terendah, bukan untuk balas dendam, tapi untuk membuktikan satu hal: gadis cacat yang dulu mereka buang, kini akan berdiri lebih tinggi dari siapa pun yang pernah meremehkannya.

Akankah Haruka berhasil membungkam semua yang pernah menghinanya? Atau luka masa lalu akan terus menariknya kembali ke titik nol?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda SB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Ospek

Pagi itu, gedung asrama putri dipenuhi kesibukan luar biasa. Hari pertama masa orientasi mahasiswa baru resmi dimulai.

Dan setiap sudut koridor dipadati mahasiswi yang saling membantu merapikan atribut wajib yang telah ditetapkan panitia... topi kertas warna-warni, name tag dengan hiasan tertentu, hingga tas belanja dari karung goni yang harus dihias sesuai instruksi.

Haruna sudah menyiapkan semuanya sejak semalam, dibantu Melati dan Sinta yang duduk berjejer di lantai kamar, menggunting dan menempel berbagai ornamen dengan teliti hingga larut malam. Ketiganya tampak begitu puas memandangi hasil kerja keras mereka yang kini tersusun rapi di atas ranjang masing-masing.

"Untung semalam kita udah siapin, ya. Coba kalau baru bikin sekarang, bisa telat," ucap Sinta sambil memeriksa kembali atributnya, memastikan tak ada yang tertinggal.

Berbeda dengan mereka bertiga, Vania yang duduk di ranjangnya sendiri tampak panik bukan main. Ia baru menyadari bahwa dirinya sama sekali belum menyiapkan atribut apa pun, terlalu sibuk bermain ponsel semalaman hingga lupa akan tugas penting itu.

"Duh, gimana nih? Aku belum bikin apa-apa," gerutunya kesal, mengacak-acak isi lemarinya dengan panik, mencari-cari bahan apa saja yang mungkin bisa ia gunakan dengan cepat.

Tak menghiraukan kepanikan Vania. Haruna, Melati, dan Sinta bersiap untuk berangkat bersama menuju lapangan utama tempat kegiatan ospek akan dimulai.

Namun baru beberapa langkah menuju pintu, Haruna tiba-tiba merasakan desakan di perutnya.

"Melati, Sinta, Haruna ke toilet dulu, ya. Kalian duluan aja, nanti Haruna nyusul," ucap Haruna, meletakkan atributnya kembali di atas ranjang sebelum bergegas menuju kamar mandi bersama di ujung koridor.

"Kita tunggu aja, deh," tawar Melati.

"Nggak usah, ntar malah telat semua. Haruna cepet kok, nanti langsung nyusul," jawab Haruna, tersenyum meyakinkan sebelum akhirnya berjalan tertatih menuju kamar mandi.

Dengan sedikit ragu, Melati dan Sinta akhirnya memutuskan untuk berangkat lebih dulu. Meninggalkan Vania yang masih sibuk kalang kabut di dalam kamar seorang diri.

Begitu suara langkah kedua gadis itu menghilang, mata Vania tanpa sengaja jatuh pada atribut lengkap milik Haruna yang tergeletak rapi di atas ranjang. Topi kertas dihias pita cantik, name tag dengan ornamen bunga, dan tas karung yang sudah dilukis indah dengan cat warna-warni.

Seringai licik terukir di wajah Vania. Tanpa berpikir panjang, ia menyambar cepat seluruh atribut itu, memasukkannya ke dalam tasnya sendiri. Lalu bergegas keluar kamar tanpa sedikit pun rasa bersalah menghinggapi hatinya.

Tak lama berselang, Haruna kembali dari kamar mandi. Namun begitu matanya mencari-cari atribut yang tadi ia tinggalkan di atas ranjang, wajahnya langsung berubah panik.

"Loh? Kemana ya?" gumamnya bingung, mengacak-acak seisi ranjang, memeriksa kolong tempat tidur, bahkan membuka lemari kecilnya. Namun atribut itu benar-benar lenyap tanpa jejak.

Jantungnya berdegup kencang, keringat dingin mulai membasahi dahinya. Ia melirik jam dinding yang menunjukkan waktu sudah semakin mepet, sementara bahan-bahan untuk membuat atribut baru sama sekali tak tersisa di kamarnya.

"Gimana, dong," desahnya panik, mencoba berpikir cepat mencari solusi. Namun waktu yang begitu terbatas membuatnya tak punya pilihan lain selain segera berangkat, meski dengan tangan kosong.

Dengan hati yang dipenuhi kecemasan, Haruna berlari tertatih menuju lapangan utama, tiba tepat saat barisan mahasiswa baru sudah mulai tersusun rapi. Ia menyelinap masuk ke barisan dengan wajah tertunduk, berharap tak ada yang memperhatikan ketidaklengkapan atributnya.

Namun di sisi lain lapangan, Reynan yang sudah berdiri sejak tadi terus menatap sekeliling. Mencari-cari sosok yang sejak semalam terus memenuhi pikirannya. Tak menemukan Haruna di antara kerumunan, ia akhirnya menghampiri Melati dan Sinta yang kebetulan berdiri tak jauh dari sana.

"Eh, kalian temen sekamarnya Haruna, kan? Haruna udah berangkat belum?" tanya Reynan langsung.

"Udah, kok. Tadi dia nyusul, katanya kebelet pipis dulu," jawab Melati.

Belum sempat Reynan bertanya lebih jauh, sebuah suara genit tiba-tiba menyela dari samping. "Hai, kamu Reynan, kan? Yang kemarin naik motor sport itu?" Vania mendekat dengan senyum menggoda. Sengaja memperlihatkan atribut lengkap yang kini terpasang rapi di tubuhnya... atribut yang sebenarnya adalah milik Haruna.

Namun Reynan sama sekali tak menghiraukannya. Matanya justru menangkap sosok Haruna yang berdiri gugup di ujung barisan dengan tangan kosong, tanpa atribut apa pun yang menempel di tubuhnya.

Ia segera melangkah cepat menghampiri Haruna, mengabaikan Vania yang masih berdiri kecewa di belakangnya.

"Haruna, atribut kamu mana?" tanya Reynan cemas begitu sampai di hadapannya.

Wajah Haruna langsung memerah menahan malu dan kepanikan. "Reynan? Kok kamu di sini?"

"Jawab dulu, atribut kamu ke mana?" desak Reynan lagi.

"Tadi Haruna taruh di ranjang, terus pas balik dari kamar mandi, udah nggak ada," jelas Haruna dengan suara bergetar, hampir menangis menahan rasa panik yang membuncah.

Mendengar penjelasan itu, kening Reynan langsung mengerut curiga. Pikirannya spontan melayang pada sosok Vania yang barusan mendekatinya dengan atribut lengkap yang entah kenapa terasa begitu mencurigakan.

"Sebelumnya kan aku udah nawarin mau bikinin atribut buat kamu, tapi kamu nolak," ucap Reynan, teringat percakapan mereka semalam.

"Iya, soalnya Haruna nggak enak ngerepotin kamu terus," jawab Haruna lirih, matanya mulai berkaca-kaca. "Sekarang gimana, dong? Haruna pasti dihukum kalau nggak bawa atribut lengkap."

Melihat kecemasan yang begitu jelas terpancar dari wajah Haruna, Reynan tak tega membiarkannya menanggung hukuman sendirian. Tanpa pikir panjang, ia segera melepas seluruh atributnya sendiri... topi, name tag, dan tas karung yang sudah ia siapkan dengan rapi.

"Pakai punya aku aja," ucapnya, menyodorkan semua itu kepada Haruna.

"Eh, jangan! Nanti kamu yang kena hukum!" tolak Haruna cepat, mendorong kembali atribut itu.

"Nggak apa-apa. Aku laki-laki, lari keliling lapangan doang nggak masalah buat aku," Reynan tetap bersikeras, memaksakan atribut itu ke tangan Haruna. "Cepetan pakai, barisannya udah mau dipanggil."

Dengan berat hati, Haruna akhirnya menerima kebaikan itu. Buru-buru mengenakan atribut milik Reynan meski ukurannya sedikit kebesaran.

Tak lama, suara panitia menggema lewat pengeras suara, menginstruksikan seluruh mahasiswa baru untuk berkumpul membentuk barisan. "Bagi yang tidak membawa atribut lengkap sesuai ketentuan, silakan maju ke depan!"

Reynan, yang kini berdiri tanpa satu pun atribut di tubuhnya, melangkah maju bersama beberapa mahasiswa lain yang juga tak lengkap. Panitia segera menghukum mereka dengan lari mengelilingi lapangan sebanyak lima putaran di bawah terik matahari pagi.

Haruna menyaksikan dari kejauhan dengan hati yang begitu cemas dan bersalah. Tak sanggup melihat Reynan berlari kepayahan hanya karena kebaikannya.

Begitu hukuman itu selesai, Haruna segera menghampiri Reynan yang baru saja duduk kelelahan di pinggir lapangan, membawakan sebotol air mineral dingin.

"Maaf banget, gara-gara aku kamu jadi kena hukum," ucap Haruna, menyodorkan air mineral itu dengan wajah penuh sesal.

Reynan menerima air itu, meneguknya cepat sebelum menjawab dengan napas masih terengah. "Nggak apa-apa, kok. Yang penting kamu aman."

"Tapi tetep aja, Haruna ngerasa bersalah banget," lanjut Haruna, duduk di sampingnya.

Reynan menghela napas, mencoba mengatur pikirannya. "Haruna, coba inget-inget. Siapa aja yang masih ada di kamar pas kamu ke kamar mandi tadi?"

Haruna terdiam sejenak, mencoba mengingat kembali kejadian pagi tadi. "Cuma Vania, sih. Dia belum berangkat soalnya belum siapin atribut sama sekali."

Mendengar jawaban itu, dugaan Reynan semakin kuat. "Aku curiga banget sama dia. Tadi pas aku nyari kamu, dia malah nyamperin aku pakai atribut lengkap, padahal katanya belum siapin apa-apa."

Mata Haruna membelalak kaget. "Jangan-jangan..."

"Coba lihat," Reynan menunjuk ke arah kerumunan mahasiswa. Di mana Vania berdiri dengan bangga mengenakan atribut yang kini begitu familiar di mata Haruna. Topi dengan pita yang sama persis, tas karung dengan lukisan yang ia buat sendiri semalam.

"Itu... itu punya Haruna!" seru Haruna, mengenali setiap detail atribut itu dengan pasti.

Tanpa menunggu lebih lama, Reynan langsung bangkit. Melangkah tegas menuju meja panitia yang berada tak jauh dari lapangan. "Permisi, saya mau laporan. Ada mahasiswa yang mencuri atribut temannya."

Panitia yang mendengar laporan itu segera memanggil Vania untuk dimintai keterangan. "Vania, benar kamu memakai atribut ini sejak awal?"

"Iya, ini emang punya saya dari awal," jawab Vania cepat, bersikeras mempertahankan kebohongannya dengan wajah tanpa dosa.

"Itu bohong!" Haruna akhirnya angkat bicara, melangkah maju dengan keberanian yang tumbuh dari ketidakadilan yang ia rasakan. "Itu atribut saya. Di setiap atribut saya, ada nama saya yang ditulis kecil di bagian dalam."

Panitia segera memeriksa dengan teliti, membalik topi dan tas karung itu, dan benar saja, di bagian dalam yang tersembunyi, tertulis nama "Haruna" dengan tulisan tangan yang rapi namun kecil.

Wajah Vania seketika pucat pasi, tak lagi bisa mengelak dari bukti yang begitu nyata di hadapannya.

"Karena terbukti melakukan pencurian dan berbohong, kamu akan mendapat hukuman tambahan," tegas salah satu panitia, nada suaranya begitu serius. "Selain lari keliling lapangan seperti yang lain. Selama masa ospek berlangsung, kamu wajib membersihkan seluruh toilet kampus setiap hari, sebagai peringatan bagi mahasiswa lain agar tidak ada yang berani mengikuti perbuatan tidak terpuji seperti ini."

Vania berdiri mematung, wajahnya memerah menahan malu yang begitu besar di hadapan seluruh mahasiswa baru yang kini menyaksikan kejatuhannya.

Sementara di sudut lapangan, Haruna berdiri berdampingan dengan Reynan, dadanya dipenuhi rasa syukur memiliki seseorang yang begitu tulus membela dan melindunginya di tengah dunia yang masih saja menyimpan begitu banyak ketidakadilan.

1
Ilfa Yarni
semangat haruna wujudkan mimpimu jd orang sukses agar nenekmu bahagia diatas sana
Muft Smoker
wooah semangat trus harunaa ,,
mungkin ni langkah yg bkal jlan km bisa lebih mudah ,,
Ilfa Yarni
emang gmn cara km tes drive
Muft Smoker
test Drive ,, test Drive ,, Dy fikir si Haruna sirkuit Mandalika kali yx/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Ilfa Yarni
jgn coba comblangin haruna dgn laki2 lain ya vania
Sayekti 0519
bukannya tobat ,malah laknat.seharusnya ada jln untuk sadar.terima dengan niat baik
Ilfa Yarni
awas ya reynan jgn sampe luluh km
Muft Smoker
astgaaaa ,,
jgn nangis kalo d tolak yx neng ,,
aq yg maluuu looo km bgtuuu😹😹😹🫣🫣🫣🫣🫣🫣
Sayekti 0519
ngerawat nenek lah.balas budi.kuliah bisa menyusul.
Muft Smoker
semoga Bagas cepat dpat karma ny ,,
Ilfa Yarni
aku ingin bagas cepat hancur jahat banget jadi manusia
Muft Smoker
tunggu karma menghampiri mu Bagas ,,
Ilfa Yarni
dasar orangtua jahat tunggu lah kehancuranmu suatu saat keboho ganmu terbongkar
Muft Smoker
semangat Haruna ,, jgn biarkan pak Bagas meremehkan mu ,,
buktikan KLO km mampu melewati semua ujian hidup km meski d tengah keterbatasan fisik
Ilfa Yarni
Ya ampun ga nyangka Ada orangtua yg seperti ini aku doakan Haruna cepat jadi konglomerat Dan bagas hancur oleh perbuatannya sendiri
Muft Smoker
yakin laa reynan kalo Haruna bakal bisa melewati semua ini ,, udh banyak pahit kehidupan yg di lalui haruna ,,
meski berat km harus bisa jd support sistem ny Haruna ,,
Ilfa Yarni
tenang aja reynan haruna akan membuktikannya klo dia bisa sukses km cukup doakan saja dan of saat nya tiba bagas akan menyesal perbuatannya
Ilfa Yarni
nah lol feeling ga ya nyonya larasati pd Haruna bahwa Haruna adalah ank kandungnya biasanya antara ibu Dan ank itu Ada ikatan bathin yg kuat
Dew666
💟
Ilfa Yarni
aduh hbs penasaran dongv thor Mana upnya cuma 1 sehari
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!