NovelToon NovelToon
Terpikat Suami Sahabatku

Terpikat Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Selingkuh / Cinta Terlarang / Saling selingkuh
Popularitas:68
Nilai: 5
Nama Author: Luna Widy

**Lima tahun menikah, yang tersisa dari Larasati cuma satu: lelah.**

Suaminya miskin. Keluarga suaminya menguras habis uang dan tenaganya demi biaya rumah sakit sang mertua—sampai untuk sekadar mencoba baju di toko pun, Laras tak pernah berani. Ia menyimpan foto rumah contoh di laci, memimpikan satu rumah kecil yang benar-benar miliknya. Tapi setelah lima tahun, ia tak punya apa-apa selain rasa capek yang tak berujung.

Sampai ia datang ke Jakarta, menumpang di apartemen mewah sahabat lamanya, **Tiara**. Di sanalah ia bertemu **Bram**—suami Tiara. Pria dari keluarga konglomerat Adiwangsa, berwajah dingin, angkuh, katanya suka main perempuan. Tapi entah kenapa, di depan Laras… pria itu memujanya seolah tak ada perempuan lain di dunia.

Satu malam nekat mengubah segalanya.

Transfer Rp200 juta tanpa diminta. Skincare mahal satu meja penuh, disusun rapi karena ia ingat Laras pernah dihina cuma pakai skincare murah. Diterbangkan sebelas jam ke luar negeri hanya untuk menjaganya semalam.

*"Kamu kurang apa, aku kasih. Jangan nangis buat hal begini—aku nggak tega."*

Masalahnya: Bram adalah suami sahabatnya sendiri.

Saat seluruh dunia menyebutnya **pelakor**, saat mantan suaminya mengacungkan pisau, saat Tiara bersumpah takkan pernah memaafkannya—Laras harus memilih. Tetap jadi "perempuan baik-baik" yang tenggelam pelan-pelan… atau untuk pertama kalinya, merebut kebahagiaan yang bahkan tak berani ia impikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luna Widy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 26

Bab 026

Pelabuhan yang Aman

Setelah lantai bersih, Laras menelepon Bu Ratna.

“Bu, saya mau bilang sesuatu.”

“Kalau kamu mau berhenti bantu saya, tunggu sampai naskah terakhir selesai,” jawab Bu Ratna tanpa basa-basi. “Saya sudah telanjur bergantung.”

Laras tertawa. “Bukan itu. Saya sudah resmi cerai dan memutuskan tinggal di Jakarta.”

Keheningan di ujung telepon hanya berlangsung sebentar.

“Kamu aman?”

“Aman.”

“Punya tempat tinggal?”

“Punya.”

“Uang?”

“Masih cukup. Saya juga mau cari pekerjaan tetap sebagai penerjemah.”

Baru setelah tiga jawaban itu, suara Bu Ratna melunak. Ia tidak mengorek penyebab perceraian atau menawarkan nasihat rumah tangga. Ia hanya bertanya kapan Laras bisa datang ke UI.

“Besok pagi,” jawab Laras.

“Bagus. Ada kenalan saya yang sedang mencari penerjemah. Bukan kerja akademik biasa. Perusahaannya menangani klien asing dan sering kirim orang ke luar kota.”

Jantung Laras berdetak lebih cepat. “Saya bisa melamar?”

“Bisa. Tapi jangan harap saya kasih jalan pintas. Kamu tetap harus ikut tes.”

“Justru itu yang saya mau.”

Bu Ratna terkekeh. “Nah, suara itu yang saya tunggu. Besok bawa CV dan contoh terjemahanmu. Jam sembilan, jangan telat.”

Sebelum menutup telepon, Bu Ratna mengingatkan bahwa dunia penerjemahan komersial berbeda dari naskah kampus. Laras akan berhadapan dengan istilah teknis, tenggat mendadak, dan klien yang bisa mengganti kalimat saat rapat berlangsung.

“Bahasa Inggris bagus saja nggak cukup,” katanya. “Kamu harus bisa mendengar maksud orang, bukan cuma kata-katanya.”

“Saya akan belajar.”

“Saya tahu. Makanya saya berani mengenalkan kamu.”

Kepercayaan sederhana itu menyalakan sesuatu yang sudah lama padam. Di Kebumen, keterampilan bahasanya hanya muncul saat membantu anak tetangga mengerjakan tugas atau menerjemahkan petunjuk obat. Ia nyaris percaya kemampuannya tidak punya tempat di kehidupan nyata.

Setelah panggilan berakhir, Laras membuka laptop. CV lamanya masih menyebut status menikah dan alamat rumah di Kebumen. Ia mengganti alamat, memperbarui proyek terjemahan, lalu berhenti di kolom status pernikahan.

Jarinya sempat kaku sebelum mengetik satu kata: cerai.

Kata itu tidak menghancurkannya. Ia hanya menjadi keterangan administratif, sejajar dengan nomor telepon dan alamat email.

Untuk bagian pengalaman, Laras menuliskan proyek Bu Ratna satu per satu. Artikel ekonomi, abstrak penelitian, korespondensi dengan dosen luar negeri, dan dokumen konferensi. Daftar itu lebih panjang dari yang ia duga. Selama ini ia merasa cuma membantu dari belakang layar. Di atas kertas, bantuan itu ternyata membentuk pengalaman kerja yang nyata.

Ia juga membuka folder lama dari masa kuliah. Ada sertifikat lomba pidato bahasa Inggris dan contoh interpretasi seminar yang pernah dipuji dosen. Wajahnya dalam foto sertifikat tampak muda, penuh keyakinan, dan belum tahu berapa banyak bagian dirinya akan diperkecil demi rumah tangga.

“Aku masih orang yang sama,” bisiknya.

Laras mencetak CV di tempat fotokopi dekat gang. Dalam perjalanan pulang, ia melewati pedagang bunga kecil. Ember-ember plastik di trotoar berisi mawar, krisan, dan daun pakis yang masih basah.

“Yang tahan lama apa, Mbak?” tanyanya.

Penjual itu memilihkan krisan putih dan kuning. “Ganti air tiap hari. Batangnya dipotong miring.”

Laras membeli satu ikat, lalu menambah vas kaca murah dari toko peralatan rumah. Ia juga membeli dua sarung bantal warna hijau dan pengharum ruangan beraroma jeruk.

Total belanja itu tidak besar, tetapi Laras tetap memeriksa struk. Kebiasaan menghitung setiap rupiah belum hilang. Bedanya, kini tidak ada orang yang akan menuduhnya boros karena membeli bunga. Ia sendiri yang menentukan bahwa sedikit warna di ruang tamu layak masuk anggaran.

Di dekat tangga, ia berpapasan dengan pengelola kos yang membantu membawakan vas.

“Wah, mau bikin kamar cantik, Mbak?”

“Biar nggak kelihatan kayak gudang pindahan terus.”

“Bagus. Kalau betah, perpanjang saja. Penghuni yang sekarang pada tenang.”

Laras mengangguk. Kata betah terdengar baru. Selama ini ia selalu menyebut kamar itu sementara, seolah-olah hidupnya baru akan dimulai setelah menemukan tempat lain.

Di kos, ia memotong batang bunga di wastafel. Beberapa kelopak jatuh dan mengapung di air, membuat ruang sempit itu tampak seperti rumah sungguhan, bukan tempat singgah orang yang sedang melarikan diri.

Ia menaruh vas di meja dekat foto rumah contoh. Dulu foto itu menjadi simbol pintu keluar dari kehidupan bersama Wahyu. Sekarang Laras memandangnya sebagai tujuan yang bisa ia capai melalui pekerjaannya sendiri.

Ponselnya bergetar.

Bram mengirim satu pesan.

`Aku nggak akan ganggu hari ini. Besok aku boleh mulai?`

Laras membaca kalimat itu berkali-kali. Tidak ada rayuan, tidak ada foto sedih, tidak ada upaya membuatnya merasa berutang.

Ia mengetik, menghapus, lalu mengetik lagi.

`Aku besok ke UI jam sembilan.`

Balasan datang seketika.

`Oke.`

Hanya itu. Namun Laras tahu Bram pasti menangkap izin yang tersembunyi di balik informasi tersebut.

Malam itu ia menyetrika blus biru muda, menyiapkan dokumen, dan membaca ulang contoh terjemahannya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun, ia gugup karena kesempatan yang ia pilih sendiri, bukan karena takut dimarahi seseorang.

Sebelum tidur, Laras berdiri di tengah kamar.

Sofa baru, bunga krisan, CV di meja, dan foto rumah contoh membentuk kehidupan kecil yang belum sempurna. Tempat itu tetap menjadi pelabuhannya. Bedanya, pelabuhan bukan hanya tempat kapal bersembunyi dari badai. Kapal juga berangkat dari sana.

Mungkin ia tidak perlu menjanjikan pernikahan kepada Bram.

Mungkin cukup membuka pintu untuk satu pagi.

Keesokan harinya Laras bangun sebelum alarm. Ia mandi, mengenakan blus yang sudah disetrika, lalu membuat kopi sambil memeriksa dokumen untuk ketiga kalinya.

Ketika mencuci cangkir, suara mesin mobil berhenti di bawah jendela.

Laras menyibak tirai.

Mobil yang sangat ia kenal terparkir di tepi gang. Bram berdiri di samping pintunya dengan kemeja putih, rambut rapi, dan dua gelas kopi di tangan.

Seolah-olah mereka memang belum pernah berkenalan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!