Cikampek adalah kota yang selama berabad-abad hidup dalam keterasingan dan dikenal sebagai wilayah yang sangat berbahaya. Banyak para petarung kuat berambisi menaklukkannya, tetapi hanya sedikit yang berani menginjakkan kaki di sana karena adanya perjanjian lama dengan berbagai pihak. Dahulu, satu-satunya cara membebaskan dan menguasai Cikampek adalah menaklukkan seluruh petarung terkuat hingga mencapai puncak dan memperoleh gelar Kaisar, sebuah gelar warisan sejak era awal yang pertama kali dikenal di Jakarta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kazeo24, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 10 THE GALACTIAN BLOOD
Sinar matahari sore di Kota Cikampek mulai berganti warna menjadi jingga pekat. Waktu telah menunjukkan pukul empat sore.
Di lapangan tengah SMK PGRI Cikampek, erangan kesakitan para siswa berandalan dari musuh luar bersahut-sahutan dengan kepulan debu yang membubung tinggi. Ryuka dan Zela berdiri tegak di tengah lautan tubuh yang bergelimpangan. Baju mereka robek di beberapa bagian, peluh bercampur bercak darah kering melapisi kulit mereka. Friza yang baru saja tiba di lapangan bawah hanya bisa menyunggingkan senyum tipis melihat hasil bantaian gila yang dilakukan oleh Ryuka dan Zela.
Sementara di koridor lantai tiga, Argantara dan Ken—yang masih dibopong—menatap ke arah lapangan dengan napas yang mulai stabil. Suara sirine sekolah perlahan-lahan meredup, menyisakan keheningan yang mencekam di benteng pertahanan Bayoer yang kini hancur di bagian gerbang depan.
Perlahan, sudut pandang berpindah melintasi batas wilayah Bayoer menuju pusat kota Cikampek yang sibuk.
Jauh dari kekacauan SMK PGRI Cikampek, sebuah pencakar langit megah menjulang tinggi menembus awan sore. Gedung terjangkung di pusat kota ini menjadi saksi bisu dari arah pergerakan takdir yang dipimpin oleh para penguasa di balik layar.
TAP... TAP... TAP...
Gema langkah sepatu pualam berbunyi konstan di tangga darurat menuju area puncak gedung. Sosok yang berjalan menaiki anak tangga itu melangkah dengan tenang namun penuh wibawa.
Begitu pintu berat menuju atap rooftop terbuka, terpaan angin sore yang kencang langsung menyambar pakaian sosok tersebut.
Di area atap gedung megah itu, telah berkumpul dua orang tokoh paling berpengaruh di Kota Cikampek. Mereka adalah jajaran Mahkamah Agung—sebuah dewan tertinggi yang memegang kendali atas Hukum Rimba dan aliansi bawah tanah kota ini. Nama mereka adalah Raka Kael dan Yugito Bagna. Umur mereka berdua berada di kisaran awal 30-an, memancarkan aura dominasi mutlak yang matang dan sangat berbahaya.
Raka Kael dan Yugito Bagna sedang berdiri santai di tepi atap sambil menyesap rokok dan menikmati minuman keras dalam gelas kristal. Tak jauh di belakang mereka, berdiri 14 orang pria bertubuh tegap dengan tatapan dingin tanpa ekspresi—mereka adalah para Old Generation, veteran perang jalanan masa lalu yang kekuatannya tidak bisa dipandang sebelah mata.
Raka Kael mematikan rokoknya di asbak kaca, lalu menoleh ke arah pintu atap saat melihat sosok yang baru tiba.
"Akhirnya kau datang juga," ucap Raka Kael dengan suara beratnya yang tenang.
Yugito Bagna melirik dari sudut matanya, memutar-mutar gelas kristal di tangannya. "Jadi... bagaimana keadaannya? Dia baik-baik saja, kan? Kalau sampai anak itu hilang kendali di kota ini... itu akan sangat berbahaya."
Raka Kael menyunggingkan senyum miring, menatap lurus ke arah pemandangan gedung-gedung Cikampek dari ketinggian. "Tapi... kekuatan yang dia miliki bisa saja membebaskan kota terkutuk ini. Dia bisa saja naik menjadi kaisar baru."
"Di sisi lain," potong Yugito dengan nada sinis, "dia bisa saja menjadi pembawa bencana. Darah yang mengalir di tubuhnya itu adalah darah seorang bencana... mengingat pendahulunya juga sama hebat dan mengerikannya. Benar kan, Fredy?"
Yugito merujuk pada salah satu Old Generation bertubuh kekar bernama Fredy yang berdiri di barisan belakang.
Fredy menghembuskan napas panjang, merapikan mantel kulitnya. "Yah... tentu saja. Kita harus tetap mengawasinya secara ketat. Tapi di sisi lain, kita juga sangat tidak ingin berurusan atau memicu perang dengan keluarganya. Mengingat para pendahulu kita dulu memiliki hubungan baik yang sangat erat dengan keluarganya."
Yugito mendesis pelan, lalu tertawa kecil. "Ah... benar sekali. Sayang sekali... padahal aku sangat ingin membuat anak itu tersiksa dan menderita di kota terkutuk ini."
Tiba-tiba, mata sosok yang baru datang itu menajam bagaikan silet. Tatapannya menancap lurus ke arah Yugito Bagna dengan aura ketegangan yang pekat.
"Sebaiknya kalian tidak pernah melakukan hal itu," potong sosok misterius tersebut dengan nada dingin dan penuh penekanan.
Sosok misterius yang baru saja sampai di atap gedung tertinggi itu melepaskan penutup kepalanya... Dia adalah Denza.
Raka Kael tertawa pelan melihat reaktifnya Denza. "Tentu saja. Kita tidak akan pernah menyentuh anak itu secara langsung, Denza. Teruslah lakukan tugasmu sebagai pengawasnya di lapangan... sekaligus penengah di antara kami dan keluarganya."
Denza merapikan kemejanya, lalu melangkah lebih dekat ke arah Raka dan Yugito. Raut wajah Denza berubah menjadi sangat serius ketika membicarakan orang yang sejak tadi mereka perbincangkan—yang tak lain dan tak bukan adalah Ryuka Wijaya.
"Gua sempat bertarung tipis dengannya..." ucap Denza pelan, mengingat insiden beberapa waktu lalu. "Dan gua... bener-bener merasakan hawa kegelapan yang sangat pekat tersembunyi di dalam diri Ryuka."
Raka Kael dan Yugito Bagna saling pandang sejenak. Raka kemudian berjalan mendekati meja kecil, menyandarkan badannya di sana sambil menatap Denza.
"Kau tahu kenapa hawa itu bisa dirasakan, Denza?" tanya Raka Kael dengan nada menguji.
Tanpa menunggu Denza menjawab, Raka membeberkan sebuah rahasia kuno yang selama ini tersimpan rapat di kalangan puncak mahkamah.
"Kita semua yang berdiri di sini... adalah keturunan dari Bangsa Galactian," papar Raka Kael tegas. "Bangsa Galactian adalah sebuah bangsa petarung yang sangat kuat, berdiri jauh setelah Bangsa Viking punah dari muka bumi. Kekuatan fisik murni dari keturunan Bangsa Galactian—entah postur tubuh mereka kecil atau besar—memiliki ketahanan dan daya hancur di atas rata-rata manusia pada umumnya."
Yugito meminum habis sisa minuman di gelasnya, lalu melanjutkan penjelasan Raka. "Dan bukan cuma fisik. Bangsa kita memiliki potensi kekuatan supranatural yang unik. Jika seorang keturunan Galactian berhasil melampaui batas dirinya—atau dengan kata lain, ketika kekuatannya sudah mencapai tahap matang dan semakin kuat—dia secara alami akan bisa melihat Aura keberadaan seseorang."
"Melihat aura?" gumam Denza mendengarkan dengan seksama.
"Ya," angguk Yugito. "Kita bisa melihat bentuk dan warna aura itu dengan mata kepala kita sendiri. Entah itu aura kegelapan atau aura cahaya. Warna-warna itu terbagi menjadi dua ranah utama."
Yugito melangkah mendekati pembatas atap, menguraikan klasifikasi warna aura yang selama ini menjadi standar bagi para petarung terkuat di dunia bawah tanah:
"Warna-warna Kegelapan terdiri dari warna Hitam, Ungu, Biru Gelap, Merah Darah, Merah Gelap Pekat, dan Abu-abu. Rata-rata orang yang menyimpan dendam membara, rasa benci, atau nafsu membunuh akan memancarkan warna Merah Darah atau Merah Gelap Pekat. Tapi pada umumnya, orang biasa atau berandalan jalanan yang memiliki hawa gelap akan memancarkan warna lain selain merah."
Yugito menjeda kalimatnya, lalu memutar badannya menatap Denza dengan mata bersinar membahayakan.
"Dan puncak tertinggi dari seluruh spektrum kegelapan... adalah warna Hitam Pekat."
Denza menelan ludahnya pelan. Dia teringat merasakan efek dari aura Ryuka yang bocor.
Raka Kael mengambil alih pembicaraan. "Sebaliknya... warna Cahaya terdiri dari warna Kuning, Orange, Biru Muda, dan Hijau. Orang-orang yang berhati murni, memiliki tekad pelindung, dan disukai banyak orang secara alami akan memancarkan warna-warna cerah seperti Kuning atau Biru Muda. Dan puncak tertinggi dari spektrum cahaya adalah warna Putih Bersilau."
"Tapi ada syarat dan hukum alamnya, Denza," tegas Raka Kael. "Jika seorang keturunan Galactian masih dalam keadaan lemah, atau kondisi mental dan fisiknya sedang tidak stabil, melihat aura seseorang—terutama aura kelas tinggi seperti Hitam Pekat atau Putih Bersilau—bisa berakibat fatal. Penglihatannya akan memproses tekanan itu secara paksa, dan otaknya bisa mengalami korsleting hingga membuat dia pingsan di tempat!"
"Penglihatan aura itu..." tanya Denza, "apakah aktif secara otomatis?"
"Penglihatan terhadap aura itu akan aktif dengan sendirinya jika si pemilik aura sedang mengaktifkan kekuatannya," jawab Raka Kael tajam. "Misalnya ketika dia sedang marah besar, sedang bertarung hidup-mati, atau ketika emosinya tidak stabil hingga auranya merembes dan bocor keluar. Namun... bagi seorang keturunan Galactian yang belum memenuhi syarat—yang belum pernah melampaui batas dirinya sendiri—dia tidak akan pernah bisa melihat atau menyadari keberadaan aura-aura tersebut, sedahsyat apa pun aura yang terpancar di depannya."
Keheningan kembali melingkupi atap gedung tertinggi di Cikampek tersebut. Windu angin sore berhembus makin kencang, mengibarkan mantel para anggota Mahkamah Agung dan Old Generation.
Denza menghembuskan napas panjang. Penjelasan dari Raka Kael dan Yugito Bagna membuat teka-teki mengenai sosok Ryuka Wijaya makin benderang, namun sekaligus makin berbahaya. Ryuka bukan sekadar anak muda biasa yang mencari kesenangan di jalanan—dia adalah wadah dari aura Hitam Pekat, puncak kegelapan yang menjadi incaran sekaligus ketakutan bagi seluruh petarung Galactian di kota ini.
"Ryuka... dia belum sepenuhnya menyadari apa yang ada di dalam dirinya," bisik Denza dalam hati. "Tapi jika aura itu meledak sepenuhnya... Cikampek bener-bener bakalan berubah jadi neraka."
Yugito Bagna melangkah mendekati Denza, menepuk bahu pria itu pelan. "Jaga anak itu baik-baik, Denza. Jangan sampai Mahkamah Agung harus turun tangan sendiri untuk membereskannya."
Denza menepis tangan Yugito dari bahunya, lalu berbalik menuju pintu keluar. "Gua tahu tugas gua."
Dengan langkah mantap, Denza meninggalkan atap gedung tertinggi itu, meninggalkan para penguasa tua Cikampek yang terus menatap ke arah langit sore yang kian menghitam.