Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan Malam Yang Menjerat
Setelah mendapat telpon dari hendra, yena pun buru-buru pulang kerumah, sesampainya di depan rumah. Yena pun kaget karna melihat mobil arga ada di sana. Yena keluar dari mobilnya sebelum masuk kerumah yena menarik napas panjang dan menghembuskan nya dengan kasar.
Pintu rumah pun di buka, dan ya yang benar saja di ruang tamu arga sedang duduk santai bersama andra.
"Akhirnya sampai juga kamu nak" ucap hendra dengan sedikit senyuman.
"Ini arga mau ketemu sama kamu"
"Pa tadi papa bilang ada hal penting yang harus papa bicarakan, tapi kenapa di sini malah ada arga" jawab yena dengan ekspresi tidak suka pada arga.
"Yena, sayang..." ucap Hendra pelan sambil menyesap teh hangatnya,
"Arga bilang dia ingin mengajakmu makan malam malam ini di restoran yang bagus. Katanya sudah lama sekali kalian tidak pergi berdua seperti dulu."
Yena langsung menggeleng cepat, menatap papanya dengan tatapan memohon.
"Tidak mau, Pa. Aku tidak mau pergi dengannya. Aku tidak ingin menghabiskan waktu bersamanya, apalagi hanya untuk makan malam."
Nada suaranya tegas dan jelas.Namun senyum tipis di wajah Arga tak pudar sedikit pun, dan tatapan Hendra perlahan berubah. Kelembutan tadi hilang, digantikan oleh sorot mata tajam, dingin, dan menuntut—tatapan yang Yena kenal betul, tatapan yang selalu membuatnya merasa kecil dan tak berdaya.
Hendra menatapnya dalam-dalam, tanpa berkedip, tanpa bicara. Hanya diam. Tapi keheningan itu jauh lebih menakutkan daripada bentakan apa pun. Matanya seakan berkata: Kamu berani menolak? Kamu mau Papa marah lagi? Mau Papa cabut semuanya?
Jantung Yena berdegup kencang, tenggorokannya terasa kering. Ia menelan ludah dengan susah payah, lututnya terasa lemas di bawah tatapan menekan itu. Bayangan ancaman papanya—menutup toko kuenya, mencabut fasilitas, bahkan melarangnya kuliah—seketika berputar di kepalanya. Ia tak punya pilihan. Tak ada jalan keluar.
Dengan napas yang tertahan, Yena akhirnya menunduk lemah, bahunya merosot tak berdaya. Suaranya terdengar pecah dan nyaris tak terdengar.
"Baiklah..." ucapnya pelan, penuh kepasrahan yang pahit. "Aku... aku akan pergi."
Arga langsung tersenyum lebar—senyum penuh kemenangan yang membuat perut Yena mual. Ia berdiri dan melangkah mendekat, menepuk pelan bahu Yena seolah-olah mereka adalah pasangan yang penuh kasih.
"Ya sudah kalau begitu kamu siap-siap berdandan dan Pakai gaun yang cantik ya? Aku ingin kita terlihat sempurna malam ini."
Yena hanya mengangguk pelan tanpa berani menatapnya. Ia merasa seperti burung yang terperangkap dalam sangkar emas—mewah, namun menyesakkan. Setelah Arga pergi, Yena menatap papanya dengan mata berkaca-kaca.
"Dengarkan kata Arga, cepat bersiap jangan membuat Arga menunggu lama.
Yena menggigit bibirnya hingga terasa perih, menahan isak tangis agar tak meledak. Tak ada yang memihak padanya. Tak ada yang mendengarkan hatinya. Dengan langkah gontai dan hati yang hancur, ia berjalan ke kamarnya—menuju makan malam yang terasa lebih seperti sebuah hukuman daripada kencan.
Setelah selesai bersiap yena pun turun ke bawah menuju ruang tamu. Seperti biasa yena menggunakan dres putih pendek dan heels putih
Arga tersenyum lebar melihat kekasihnya itu terlihat sangat cantik dan sempurna.
" ayo kita pergi sekarang"ucap arga sambil mengulurkan tangan.
Yena tak memperdulikan itu dan langsung saja keluar.
"Om saya pergi dulu" ucap arga yang berpamitan pada hendra.
"Ya, Hati-hati tolong jaga anak om ya"
"Siap om"setelah itu arga langsung keluar menyusul yena.
Yena dan arga pun otw ke sebuah lestoran favorit mereka dulu saat hubungan mereka masih baik-baik saja.
Suasana di dalam mobil mewah itu terasa hening dan menyesakkan. Yena duduk di kursi penumpang, menatap lurus ke luar jendela tanpa berkedip, sementara mobil melaju mulus membelah jalanan kota yang mulai diterangi lampu malam. Tiba-tiba, tangan kanan Arga yang tadi memegang setir beralih, meraih tangan kiri Yena dan menggenggamnya erat—hangat, namun terasa menyesakkan bagai perangkap yang tak kasat mata.
Yena refleks menarik tangannya, mencoba melepaskan genggaman itu. Ia menarik pelan, lalu lebih kuat, namun genggaman Arga justru makin erat, tak memberi celah sedikit pun. Jemarinya yang kekar mengunci pergelangan tangan Yena dengan mudah, seolah gadis itu hanyalah boneka tak berdaya di hadapannya.
"Sayang, malam ini kamu cantik sekali," ucap Arga lembut, menoleh sekilas menatapnya dengan senyum yang dulu pernah membuatnya luluh, namun kini hanya terasa menjijikkan dan penuh kepalsuan.
Kata-kata itu bagaikan sumbu yang membakar sisa kesabaran Yena. Ia menoleh cepat, menatap Arga dengan tatapan tajam—mata yang memancarkan kemarahan, kekecewaan, dan luka yang mendalam. Suaranya tegas, bergetar menahan amarah yang meluap-luap.
"Apa maksudmu? Dan apa maumu sebenarnya, Arga?" tanyanya tajam, tak mengalihkan pandangan sedikit pun. "Kau yang dari awal mengkhianati aku, kau yang memilih Fira di belakangku, kau yang menghancurkan hubungan kita selama empat tahun ini. Dan sekarang... tiba-tiba kau kembali lagi padaku seolah tak pernah ada apa-apa? Jelaskan padaku—apa sebenarnya yang kau inginkan dari hidupku?!"
Arga tak terkejut sedikit pun. Ia justru tersenyum tipis, senyum yang terasa dingin dan penuh perhitungan. Ia tak melepaskan tangan Yena, malah mengusap punggung tangan gadis itu dengan ibu jarinya—gerakan yang sengaja dibuat manis, namun di mata Yena terasa penuh ancaman tersembunyi.
"Yena, sayang..." suaranya rendah, tenang, namun menekan. "Aku sudah berkali-kali bilang, waktu itu aku hanya tergoda sesaat. Fira hanyalah pelarian, sebuah kesalahan bodoh yang akan aku sesali seumur hidupku. Wanita yang ada di hatiku, yang aku inginkan untuk mendampingi hidupku... hanya kamu. Selalu kamu."
"Bohong!" potong Yena cepat, air mata mulai menggenang namun ia berusaha menahannya.
"Semua itu bohong! Kalau begitu, kenapa kau mengancam Juvan? Kenapa kau menyuruh orang-orangmu mencelakai dia hanya karena dia dekat denganku? Jelaskan itu, Arga!"
Arga mendengus pelan, seolah pertanyaan itu tak penting baginya. Ia menoleh sebentar, sorot matanya berubah tajam sesaat sebelum kembali menyembunyikannya di balik topeng kelembutan.
"Itu karena aku cemburu, Yena," jawabnya tanpa ragu. "Karena aku tak tahan melihatmu bersama laki-laki lain, apalagi anak kecil yang belum tahu apa-apa seperti dia. Kamu milikku, dan hanya aku yang berhak memilikimu. Jangan lupakan itu."
"Aku bukan barang milikmu!" sergah Yena, berusaha menarik tangannya lagi namun tetap sia-sia.
"Aku manusia, Arga! Aku punya perasaan, aku punya kehendak sendiri! Dan kau... kau bahkan tak benar-benar mencintaiku. Kau tahu apa yang aku sadari akhir-akhir ini? Kau kembali bukan karena rindu, bukan karena menyesal... tapi karena Papa. Karena kau butuh kerjasama bisnis dengan Papa, bukan?"
Arga terdiam sesaat. Senyumnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi yang lebih dingin, lebih serius. Ia tak menyangkalnya secara terang-terangan, namun tatapannya mengakui segalanya—bahwa di balik semua kata manisnya, ada kepentingan besar yang ia kejar.
"Kita saling membutuhkan, Yena," ucapnya datar, tanpa menyembunyikan nada perhitungannya lagi. "Kau butuh seseorang yang bisa menjagamu, dan aku butuh seseorang yang mendampingi aku—serta dukungan yang ada di belakangmu. Kita pasangan yang sempurna, mau kau akui atau tidak. Dan anak kecil bernama Juvan itu... dia hanya gangguan yang harus disingkirkan."
Hati Yena mencelos mendengar kejujuran pahit itu. Ia merasa muak, kecewa, sekaligus tak berdaya. Genggaman tangan Arga masih terasa di sana—kuat, menuntut, dan penuh kepemilikan yang tak diinginkannya. Ia akhirnya berhenti berusaha melepaskan tangannya, menunduk lemah, menatap lantai mobil dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kau sungguh kejam, Arga..." bisiknya pelan, penuh kepahitan. "Lebih kejam dari yang pernah aku bayangkan."
Arga tersenyum tipis, seolah pujian baginya. Ia kembali menatap jalan di depannya, namun tangannya tak pernah melepaskan genggaman pada tangan Yena. "Suatu hari nanti kau akan mengerti, sayang. Semua ini demi kebaikan kita berdua."
Mobil pun melaju terus, menuju restoran mewah yang terasa lebih seperti pengantar menuju penjara emas—di mana Yena tahu, kebebasannya perlahan direnggut, dan masa depannya sedang ditentukan oleh orang-orang yang tak pernah benar-benar peduli pada hatinya sendiri.
Mobil berhenti tepat di depan restoran mewah yang lampu-lampunya berkilau lembut, suasana yang dulu sering mereka kunjungi bersama. Dulu tempat ini terasa romantis, namun malam ini terasa dingin, kaku, dan penuh kepalsuan. Arga mematikan mesin, lalu turun lebih dulu untuk membukakan pintu Yena—sikap sopan yang terasa seperti sandiwara belaka. Ia menyodorkan tangannya, dan Yena, tak punya pilihan lain, akhirnya meletakkan tangannya di telapak tangan pria itu, membiarkan dirinya dituntun masuk ke dalam.
Di dalam restoran, aroma makanan lezat bercampur dengan musik piano yang mengalun pelan, namun tak satu pun dari itu mampu menghangatkan hati Yena. Mereka duduk di meja paling sudut yang sudah dipesan khusus, dihiasi lilin menyala dan kelopak bunga mawar—semuanya terlihat sempurna, namun justru semakin menekan dada Yena. Pelayan menyodorkan menu, namun Yena hanya menatapnya kosong, tak punya nafsu makan sedikit pun.
Arga memesan dengan tenang, seolah mereka adalah pasangan yang paling bahagia di dunia. Tak lama kemudian pelayan datang menyajikan makanan dan minuman mewah , arga menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap Yena dengan tatapan yang tak lepas sedikit pun—tatapan yang memeriksa, memilikinya, dan menuntut kepatuhan.
"Kenapa tak makan, sayang?" tanyanya lembut, sambil mengangkat gelas anggur dan menyesapnya sedikit. "Makanan di sini kan favoritmu dulu. Atau kau masih marah padaku?"
Yena meletakkan sendok dan garpu yang tak pernah ia sentuh, menatap lurus ke mata Arga dengan ketegasan yang tersisa.
"Jangan panggil aku 'sayang'. Itu terdengar menjijikkan dari mulutmu. Dan jangan pura-pura peduli pada selera makanku. Kita sama-sama tahu kau membawaku ke sini bukan untuk makan malam."
Arga tertawa pelan, suara yang terdengar rendah dan berbahaya. Ia meletakkan gelasnya perlahan di atas meja, lalu mencondongkan tubuh sedikit ke arah Yena. "Kau selalu tajam sekali, Yena. Itu sebabnya aku tak pernah bisa benar-benar melepaskanmu. Kau itu seperti anggur—semakin tua, semakin memabukkan dan berharga."
"Berhenti berpuisi, Arga," potong Yena dingin. "Katakan saja apa yang sebenarnya kau inginkan. Setelah makan malam ini, apa lagi? Apa kau akan terus memaksaku bersamamu seperti ini selamanya?
Arga diam sejenak, lalu senyum tipisnya perlahan memudar, digantikan oleh ekspresi yang lebih serius dan penuh perhitungan. Ia menatapnya lekat-lekat, seolah ingin memastikan setiap kata yang keluar dari mulutnya tertanam kuat di kepala Yena.
"Baiklah, kalau kau ingin jujur..." ucapnya pelan namun tegas, nada bicaranya berubah menjadi lebih berat dan menekan.
"Aku memang menginginkanmu kembali, Yena. Bukan sekadar untuk sementara. Aku menginginkanmu selamanya. Kita akan menikah, menjalani hidup bersama, membangun kerajaan bisnis yang lebih besar dari gabungan perusahaan papamu dan perusahaanku. Kau akan menjadi Nyonya Direktur, hidup mewah, tanpa kekurangan satu hal pun. Itu masa depan yang sempurna, bukan?"
Yena tertegun, matanya membelalak tak percaya. "Menikah? Kau bicara soal pernikahan padahal kau tak mencintaiku?"
"Dan kau," tambah Arga tenang, seolah tak mendengar protesnya.
"Aku juga menginginkanmu, Yena. Secantik, sepintar, dan sekeras kepala ini... kau milikku. Dan anak kecil bernama Juvan itu—dia hanyalah gangguan yang akan hilang. Sudah kubilang, jangan pernah mendekatinya lagi kalau kau tak ingin dia benar-benar terluka. Aku tak akan segan-segan, Yena. Kau tahu aku serius."
Ancaman itu terucap begitu halus, seolah membicarakan cuaca, namun maknanya tajam seperti belati yang menusuk langsung ke dada Yena. Napasnya tercekat. Ia menggenggam erat serbet di pangkuannya, hingga buku-buku jarinya memutih.
"Kau benar-benar monster..." bisiknya dengan suara bergetar. "Kau tidak mencintaiku, Arga. Kau hanya ingin memiliki dan menguasai aku seperti barang berharga yang kau pamerkan."
Arga tersenyum, senyum yang penuh keyakinan dan kepemilikan mutlak. Ia meraih tangan Yena yang tergeletak di atas meja, menggenggamnya erat kembali—seperti yang ia lakukan di dalam mobil tadi.
"Panggil aku apa saja yang kau mau, sayang," ucapnya rendah, matanya berkilat penuh kemenangan.
"Tapi pada akhirnya, kau akan tetap di sini. Di sisiku. Dan kau akan belajar untuk mencintai kehidupan ini... serta mencintaiku kembali. Mau kau mau atau tidak."
Makan malam pun berlanjut diiringi keheningan yang menyesakkan. Yena menunduk, menatap piringnya yang penuh namun tak tersentuh, sementara di seberangnya Arga makan dengan tenang dan menikmati setiap detik kepasrahan gadis itu. Malam itu, di restoran yang dulu penuh kenangan manis, Yena merasa seolah-olah ia baru saja menandatangani kontrak perbudakan—dan tak ada jalan keluar yang terlihat di depannya.