NovelToon NovelToon
The Twentieth Concubine Wants To Survive

The Twentieth Concubine Wants To Survive

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Transmigrasi ke Dalam Novel / Fantasi Timur
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fresh Tea

Ye Xinyue, mahasiswa hukum tingkat akhir, meninggal karena kelelahan mengerjakan skripsi. Namun, bukannya masuk surga, ia justru terbangun sebagai Selir ke-20 Kaisar Tianyu dalam webtoon *** yang sering dibacanya. Mengetahui bahwa tokoh ini akan mati di tengah perebutan kekuasaan, Xinyue bertekad mengubah takdir. Ia memilih hidup tenang, menjauhi kaisar, politik istana, dan para selir. Sayangnya, rencananya gagal ketika Kaisar Tianyu mulai memperhatikannya. Lebih buruk lagi, alur cerita perlahan berubah: tokoh yang seharusnya mati masih hidup dan kejadian baru bermunculan. Kini Xinyue harus bertahan hidup sambil mencari alasan mengapa kedatangannya telah mengubah seluruh takdir Tianyu dan rahasia besar di balik semuanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Emperor's Dangerous Interest

Asap abu-abu dari pembakaran kayu cendana bertabur kemenyan merayap pelan di udara Aula Utama Istana Peredupan Barat. Di balik tirai sutra tebal berwarna merah tua, Ibu Suri Agung duduk tegak di atas kursi ukir kayu jati bergambar serigala melompati rembulan. Di hadapannya, tiga puluh dua gulungan dokumen forensik, botol ekstrak racun Hemlock, dan peta jaringan rahasia Matahari Hitam terbentang rapi di atas meja panjang.

Lilin-lilin besar yang berdiri di sudut ruangan memantulkan pendar jingga pada wajah Xinyue. Dengan jemari yang stabil dan tanpa getaran sedikit pun, sang spesialis forensik menjabarkan setiap temuan medisnya dengan presisi yang mengerikan.

"Log medis Kaisar Terdahulu menunjukkan gejala kegagalan organ secara bertahap dalam kurun waktu enam bulan sebelum wafat," Xinyue menunjuk grafik perubahan kadar racun yang ia lukis menggunakan tinta merah. "Tabib Istana mencatatnya sebagai penyakit paru kronis. Namun, endapan zat aktif pada sampel rambut dan jaringan pakaian yang tersimpan di Balai Arsip Rahasia membuktikan bahwa beliau mengonsumsi racun arsenik dosis rendah secara berkala yang dicampur dengan obat penenang dari Faksi Selatan."

Ibu Suri Agung memejamkan matanya sejenak. Jemari tangannya yang dipenuhi cincin giok mengepal erat di atas pegangan kursi. "Pria yang memberikannya obat penenang itu... adalah Zhao Fengting sendiri, saat ia masih berstatus sebagai Pangeran Ketiga."

"Benar," sahut Xinyue dingin. "Zhao Fengting sengaja menyalurkan racun tersebut melalui Faksi Selatan untuk memastikan dua hal sekaligus: kematian Kaisar Terdahulu yang tampak alami, serta kambing hitam yang siap dieksekusi bila rahasia ini terbongkar. Dan ketika Faksi Selatan hampir menyadari keterlibatannya, beliau memanfaatkan hamba pagi tadi untuk menghancurkan mereka dalam sekali tebas."

"Sebuah pembunuhan dua burung dengan satu batu yang sempurna," gumam Ibu Suri Agung, menyunggingkan senyum getir yang dipenuhi kekecewaan seorang ibu. "Ia memanfaatkan keadilanmu untuk membersihkan jejak darahnya sendiri."

"Tetapi beliau melakukan kesalahan fatal, Ibu Suri," potong Xinyue. "Seorang regressor yang telah mengulang hidupnya berkali-kali cenderung meremehkan variabel baru. Beliau mengira saya akan ketakutan dan tunduk saat fakta bahwa beliau mengendalikan garis waktu ini terungkap. Namun, dalam ilmu kriminologi, pelaku yang merasa dirinya sebagai penguasa mutlak adalah pelaku yang paling banyak meninggalkan celah karena rasa congkaknya."

Ibu Suri Agung membuka matanya, menatap Xinyue dengan binar kekaguman yang mendalam. "Lalu apa rencanamu, Pengawas Ye? Lima puluh ribu prajurit Zirah Serigala di perbatasan utara siap bergerak atas perintahku. Kita bisa memblokir Istana Dalam sebelum fajar menyingsing."

"Jangan dulu, Ibu Suri," tahan Xinyue cepat. "Perang terbuka hanya akan memicu pertumpahan darah rakyat tak berdosa dan memberi alasan bagi Zhao Fengting untuk mengerahkan pasukan bayangan Matahari Hitam. Zhao Fengting tidak ingin memusnahkan saya dengan tentara... beliau ingin menaklukkan saya."

Sementara itu, di puncak Menara Bintang Terlarang.

Angin malam bertiup kencang, mengibaskan jubah hitam bersulam benang emas yang dikenakan Zhao Fengting. Sang Kaisar berdiri sendirian di tepi selasar menara, memandang ke arah Istana Peredupan Barat yang dikelilingi oleh benteng batu yang kokoh.

Di belakangnya, seorang pengawal bayangan berpakaian serba hitam berlutut dengan satu kaki, memberikan laporan dengan suara gemetar.

"Yang Mulia... Pengawas Ye telah memasuki kediaman Ibu Suri Agung. Prajurit Zirah Serigala menutup rapat seluruh akses masuk dan menolak penyerahan 'pemberontak' tanpa dekrit resmi dari Dewan Menteri."

Zhao Fengting tidak marah. Pria itu justru mengepalkan tangannya di balik punggung, lalu melepaskan tawa rendah yang bergema berbahaya di kegelapan menara.

"Pengawas Ye..." bisik Zhao Fengting pelan, memutar-mutar cincin stempel kekaisaran di ibu jarinya. "Kau benar-benar tidak pernah berhenti mengejutkanku."

Dalam empat kehidupan sebelumnya, Zhao Fengting selalu menguasai papan catur ini dengan sangat mudah. Setiap transmigrator yang datang dari dunia modern selalu bertindak dengan pola yang sama: berusaha memanfaatkan pengetahuan alur cerita untuk mendekatinya, memikat hatinya, atau mencoba menjadi pahlawan dengan taktik politik yang dangkal. Bagi Zhao Fengting, mereka hanyalah kerikil mengganggu yang mudah dihancurkan dengan pisau di kegelapan.

Namun Ye Xinyue... wanita itu sama sekali berbeda.

Xinyue tidak pernah mencoba memikatnya. Wanita itu tidak peduli pada posisinya sebagai kaisar. Bahkan ketika mengetahui bahwa dunia ini adalah komik dan bahwa Zhao Fengting adalah sosok regressor yang membunuh semua transmigrator, mata wanita itu tidak memancarkan ketakutan sedikit pun. Yang ada di mata Xinyue hanyalah ketajaman seorang pemburu yang sedang menganalisis mangsanya.

Wanita itu melukainya dengan pisau bedah perak, memicu ledakan kimia di dalam perpustakaannya sendiri, dan dalam kurun waktu kurang dari dua jam, berhasil beraliansi dengan Faksi Utara satu-satunya kekuatan militer yang paling dihindari oleh Zhao Fengting.

"Ketertarikan yang sangat berbahaya," gumam Zhao Fengting dengan binar mata yang memancarkan obsesi yang makin dalam dan pekat. Rasa bosannya terhadap siklus waktu yang berulang selama bertahun-tahun mendadak sirna total, tergantikan oleh sensasi perburuan yang membakar gairahnya. "Aku tidak lagi menginginkan kematiannya. Aku menginginkan pikirannya, kepatuhannya... dan jiwanya."

"Yang Mulia," bisik pengawal bayangan itu lagi. "Apakah hamba harus menyusupkan racun ke dalam pasokan air Istana Peredupan Barat?"

"Tidak," perintah Zhao Fengting dingin. "Jika kau menyentuh sehelai rambutnya tanpa perintahku, aku sendiri yang akan menguliti kepalamu. Biarkan dia bermain dengan hukumnya di Istana Peredupan Barat. Siapkan sidang akbar Istana Dalam untuk lusa pagi di Balai Agung."

"Lusa pagi, Yang Mulia?"

"Ya," Zhao Fengting menyunggingkan senyum berdarah yang mengerikan di bawah pendar sinar rembulan. "Aku akan memberi panggung terbesar yang pernah ada di kekaisaran ini untuk Pengawas Hukum kita. Kita lihat... apakah pisau analisis ilmiah milik Xinyue mampu menembus hukum kekaisaran yang kubuat sendiri!"

Di dalam Istana Peredupan Barat, Xinyue berdiri di dekat jendela, menatap ke arah Menara Bintang Terlarang yang menjulang di kegelapan malam. Ia bisa merasakannya aura obsesi dan pandangan tajam Zhao Fengting yang seolah sedang menguncinya dari kejauhan.

"Nona," Mingzhu mendekat, menyerahkan secangkir teh herbal hangat. "Apakah Anda yakin Yang Mulia tidak akan menyerang tempat ini malam ini?"

"Dia tidak akan menyerang, Mingzhu," sahut Xinyue seraya menyesap tehnya perlahan. Rasa hangat merayap menenangkan dadanya. "Pria seperti Zhao Fengting telah mencapai puncak obsesi kekuasaan. Dia menganggap dirinya sebagai dewa di dunia ini. Dan dewa yang arogan tidak akan membunuh lawannya di dalam semak-semak... dia akan mencoba mempermalukan dan menundukkannya di hadapan seluruh dunia."

Xinyue meletakkan cangkirnya di ambang jendela, lalu memutar Segel Pengawas Hukum di jemarinya.

"Tapi itulah kesalahan terbesarnya," bisik Xinyue dengan pendar mata yang amat tajam. "Karena begitu dia membawaku ke panggung terbuka... aku akan memastikan seluruh rakyat dan menteri melihat bagaimana seorang 'dewa' berdarah dingin diadili oleh hukum yang nyata."

1
Raizel_0511
crazy up kk,semangat,sehat selalu💪💪💪😍😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!