Bagi Rindu Setia Wiratman, hidup adalah buku catatan yang penuh dengan aturan ketat, ekspektasi, dan kesempurnaan semu. Sebagai gadis populer yang selalu memegang kendali, ia tidak pernah menyangka bahwa takdir akan menuliskan babak paling menyakitkan di saat ia merasa paling rapuh—ketika keluarganya runtuh dan dunianya hancur perlahan.
Di sisi lain, ada Langit Batara Nugroho, cowok arogan yang kehadirannya selalu berhasil menyulut emosi Rindu. Di balik sikapnya yang menyebalkan, Langit menyimpan luka masa lalu yang belum tuntas dan sebuah rahasia besar yang sengaja dikubur rapat-rapat.
Pertemuan mereka bukanlah sebuah kebetulan, melainkan bagian dari halaman-halaman berat yang harus mereka balik bersama. Ketika badai menerpa hidup Rindu, justru Langit—seseorang yang paling ia benci—menjadi satu-satunya tempat untuk bersandar.
Namun, pertanyaannya: apakah mereka akan bertahan hingga akhir babak cerita, atau justru terhenti di halaman terakhir kisah ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon T.K. OKVIANDI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
HALAMAN DUA PULUH LIMA
Di depan penginapan terlihat Allisya , Nila, Ferry , dan beberapa siswa lain sedang berdiri menunggu Rindu dan Langit pulang. Dari kejauhan terlihat sebuah sepeda motor bergerak maju ke arah penginapan, ternyata itu adalah Rindu yang menaiki ojek. Allisya terkejut melihat kedatangan Rindu yang ditemani air mata yang terus mengalir dipipi Rindu. Rindu segera turun dari sepeda motor dan langsung memeluk Allisya dengan tangisnya yang semakin kencang.
"Kak Rindu, kakak kenapa? Kok nangis ka ada apa? Oh iya kak Langit mana? Kakak ketemu kak Langit kan? Dia tadi nyusulin kakak pas tau kakak keluar sendirian" tanya Allisya sambil terus dipeluk Rindu.
"Langit.... sya... Langit..." jawab Rindu dengan terbata-bata dalam tangisnya.
"Iya kak, mana kak Langit, tadi ketemukan? Kak Langit kenapa kak?" tanya Allisya dengan bingung dan tanpa disadari terbawa suasana tangisan Rindu.
"Langit dibawa kerumah sakit sama tim Prabu Sya" jawab Rindu dengan tangisnya yang semakin tak terbendung.
"Astagfirullah al adzim, emang kak Langit kenapa? Kak Ferry bilang ke Bu Riri tolong , kak Langit dibawa ke rumah sakit sama tim Prabu kata kak Rindu" terkejut Allisya mendengar jawaban Rindu.
"Astagfirullah Langit, kenapa sih emang? Kok bisa sampai dibawa sama tim Prabu?" ucap Ferry dengan terkejut.
"Udah nanti aja gue ceritain sambil jalan ke rumah sakit, mending sekarang panggil bu Hesty ,Bu Riri, sama pak Amir aja Fer, buruan" tegas Rindu.
Dengan cepat Ferry bersama beberapa siswa berlari kedalam penginapan untuk memanggil para guru di kamarnya masing-masing, sementara Rindu hanya bisa menangis dan mencoba ditenangkan oleh Allisya dengan memeluknya.
"Semua ini salah aku Sya, tadi Langit sempet bilang katanya disini lagi riskan, anak-anak dilarang keluar kalau gak mendesak, tapi aku malah keluar sendirian, harus nya tadi aku minta tolong orang rumah aja isiin pulsa aku" Rindu ditemani tangisan yang terus menjadi.
"Iya ka,k tadi Galang whatsapp aku pas lagi di bis katanya disini lagi riskan makanya aku bilangin tadi pas di bis, tadi kakak tidur kali ya, terus itu kak Langit gimana bisa dibawa tim Prabu ke rumah sakit" ucap Allisya.
"Sebenernya gini sya, tadi pas aku diminimarket ada genk motor gitu nyerang ke minimarket, aku nyoba lari diem-diem tapi ketawan, dijalan aku ketemu Langit, aku lari berdua tpi ada anggota genk motor yang menembakkan senapan angin, terus..." Rindu menceritakan apa yang telah terjadi.
Omongan Rindu terhenti seketika berganti dengan tangisan yang sangat keras sambil memeluk Allisya dengan kuatnya. "Terus kenapa kak, coba lanjutin" Allisya berusaha menenangkan Rindu.
"Terus, peluru itu tepat mengenai kaki kanan Langit, untung aja gak lama ada tim Prabu lagi lewat, jadinya langsung aman kita, Langit langsung dibawa ke rumah sakit yang deket pasar sama tim Prabu" Rindu melanjutkan ceritanya masih dengan tangisnya.
"Astagfirullah kak, serius?" tanya Allisya dengan terkejut.
Disaat Rindu dan Allisya sedang berbincang, dari dalam penginapan keluar Ferry bersama Bu Riri dan Pak Amir. Terlihat wajah cemas dan terkejut yang bercampur aduk setelah mendengar ucapan dari Ferry bahwa Langit dibawa oleh tim Prabu ke rumah sakit. Agar semua menjadi jelas, Rindu mencoba menjelaskan semuany secara terperinci kepada mereka yang hadir disana. Semua terlihat terkejut mendengarnya, Pak Amir dengan cepat berlari ke tempat parkir untuk mengambil mobil milik kepala sekolah yang kebetulan kuncinya di pegang oleh Pak Amir.
Tidak berselang lama setelah Pak Amir pergi ke tempat parkir, sebuah mobil minibus yang ternyata adalah mobil kepala sekolah SMA Merah Putih berhenti didepan mereka. Tanpa menunggu lama , Rindu, Allisya, Ferry, Bu Riri, dan Bu Hesti segera naik kedalam mobil. Setelah semua naik dan pintu ditutup, Pak Amir langsung menancap gas menigalkan penginapan menuju rumah sakit yang dimaksud. Di perjalanan, Rindu kembali menceritakan semua yang terjadi dengan lebih rinci lagi, tak lupa Rindu meminta maaf kepada semuanya, mungkin ini tidak akan terjadi jika Rindu tidak memaksakan pergi mencari minimarket dimalam hari padahal situasi didaerah sana sedang mencekam. Para guru mencoba memaafkan dan memakluminya, hanya saja diharapkan semua dijadikan pelajaran.
Suasana didepan ruang UGD terlihat sebuah sepeda motor yang dikemudikan oleh tim Prabu berhenti disana, Briptu Noval anggota tim Prabu tersebut tidak sungkan membantu Langit berjalan menuju dalam ruang UGD. Briptu Noval segera meminta kepada dokter yang bertugas agar dilakukan tindakan secepatnya kepada Langit. Tidak menunggu lama para perawat disana dengan sigap membantu meletakkan Langit diatas tempat tidur ruang UGD yang khusus kasus bedah. Sesaat setelah tirai ditutup yang menandakan akan dilakukan tindakan, Briptu noval pun keluar ruang UGD menuju ruang tunggu.
Berselang kira-kira 20 menit datanglah Rindu bersama yang lainnya ke ruang tunggu UGD menemui Briptu Noval. Pak Amir mencoba menanyakan bagaimana kondisi Langit kepada Briptu Noval, dan Briptu Noval memberitahu bahwa Langit sedang dilakukan tindakan didalam sana. 1 setengah jam sudah berlalu, datanglah Kapolres Bandung kesana, beliau menanyakan tentang Langit, hingga akhirnya bersama Pak Amir , Kapolres Bandung tersebut masuk ke dalam UGD ketempat Langit istirahat atas seizin dari perawat, sementara Ferry , Rindu, dan Allisya terlihat lelap tertidur di kursi.
Dalam ruang UGD, tirai tempat Langit terbaring sudah terbuka, dengan kaki diperban Langit masih terlihat terjaga. Pak Amir dan Kapolres Bandung mendekati Langit, alangkah terkejut Kapolres Bandung ternyata yang menjadi korbannya adalah anak dari teman kecilnya. Langit pun mengenali siapa Kapolres Bandung karena sering bertemu namun Langit tidak tahu dia adalah Kapolres Bandung, Langit hanya tahu dia adalah teman ayahnya.
"Gimana Langit keadaan kaki kamu?" tanya Pak Amir.
"Alhamdulillah Pak, tinggal nunggu kering jahitannya saja, untungnya pelurunya nggak terlalu dalam pak, tapi saya jadi nggak bisa bertanding deh besok" jawab Langit
"Lah Tara? Kamu Tara kan? Anaknya nugroho?" tanya Kapolres Bandung dengan terkejut saat melihat Langit.
"Iya om, om kan temennya papah kan? Kok om bisa ada disini? Jangan bilang-bilang ke papah ya om" tanya Langit sambil memohon merahasiakan kejadian ini ke Inspektur Nugroho, Ayahnya.
"Loh kamu kenal sama beliau Langit? Beliau itu sekarang Kapolres Bandung, buat lomba besok nggak apa-apa kamu lebih baik istirahat disini dulu saja" ucap Pak Amir.
"Hahhh ?? Baru tahu saya om, om Kapolres Bandung ternyata, sudah kenal tapi saya gak tahu hehehehe, oh ya pak Amir, saya mau pulang aja nggak apa-apa minimal saya mau nonton final besok" pinta Langit.
Pak Amir bergegas pergi menuju meja perawat untuk menanyakan apakah Langit bisa meninggalkan rumah sakit saat ini juga tanpa harus rawat inap. Sementara Langit sedang menceritakan detail kejadian yang terjadi kepada Kapolres Bandung, termasuk ciri-ciri genk motor tersebut.
Samar-samar dalam ingatan Langit mengenai ciri-cirinya, dia hanya ingat bahwa setiap anggota genk tersebut memakai jaket hitam dengan lambang 2 buah samurai didadanya. Kapolres Bandung mencatat semua keterangan yang diberikan Langit, tidak berselang lama datanglah Pak Amir bersama seorang dokter jaga. Dokter jaga pun menjelaskan mengenai keadaan Langit, Langit disarankan untuk istrahat terlebih dahulu di rumah sakit, minimal hingga pagi hari. Mendengar hal tersebut, Langit dengan tegas menolaknya, dia ingin pulang saja dan istirahat di penginapan agar besok bisa ikut menyaksikan SMAnya bertanding di babak final.
Dokter jaga segera mendiskusikan permintaan Langit tersebut dengan Pak Amir dan Kapolres Bandung. Beberapa menit berlalu terlihat Dokter jaga masih mencoba menjelaskan semuanya, sementara Langit hanya terbaring memikirkan pertandingan esok dimana timnya akan bertanding tanpa dirinya yang merupakan orang yang memegang peranan penting dalam timnya tersebut.
Selang beberapa menit, dokter jaga ,Pak Amir beserta Kapolres Bandung pun menghampiri Langit. Dokter jaga menuruti permintaan Langit dengan catatan harus beristirahat jangan terlalu bertumpu pada kakinya.
"Oke nak Langit, kamu diperbolehkan pulang setelah menandatangani surat persetujuan ini, terus kamu diharapkan tidak bertumpu pada kaki kanan kamu dalam berjalan. Sebaiknya kamu menggunakan tongkat" ucap Dokter jaga.
"Oke Tara masalah biaya rumah sakit , obat-obatan beserta pembelian tongkat biar saya yang mengurus, kamu langsung saja ke apotik meminta obat untuk kamu beserta tongkat, kebetulan resep sudah dikirim kesana" sambung Kapolres Bandung.
"Terima kasih ya om, inget ya om, aku mohon jangan sampai papah aku tahu kejadian ini, nanti pas pulang paling aku bilangnya cidera pas bertanding" Langit memohon.
"Hehehe ya sudah terserah kamu saja Tara" jawab Kapolres Bandung.
"Baik kalau begitu terima kasih untuk Bapak Kapolres , untuk dokter dan perawat telah melakukan tindakan kepada murid saya yang terluka, kalau diizinkan kami pamit dulu sekalian mengambil obat dan tongkat di apotek untuk Langit" ucap Pak Amir.
Pak Amir membantu Langit untuk bangkit dari tempat tidurnya tanpa harus menapakkan kaki kanannya yang masih dibalut perban. Perlahan Pak Amir menuntun Langit berjalan keluar dariruang UGD. Begitu mereka keluar dari ruang UGD, Rindu dan yang lainnya langsung menyambut dan membantu Langit untuk berjalan.
"Rindu, tolong kamu ke apotek untuk mengambil obat dan tongkat untuk Langit" pinta Pak Amir.
Rindu bergegas menuju ke apotek dengan berlari, sementara yang lain membantu membopong Langit menuju mobil , termasuk Ferry yang sedari tadi tidak bisa tertidur dikursi. Delan perlahan dan hati-hati Pak Amir serta Ferry membopong Langit hingga naik kedalam Mobil di tempat parkir. Beberapa menit berlalu, dimana seluruhnya sudah menunggu didalam mobil kecuali Rindu yang sedang pergi ke apotek, hingga akhirnya pintu mobil diketuk oleh Rindu dari luar. Setelah kunci pintu mobil dibuka, Rindu langsung masuk kedalam mobil dan duduk tepat disebelah kiri Langit di jok bagian tengah mobil bersama Bu Riri. Pak Amir langsung menjalankan mobilnya meninggalkan Rumah sakit, jarak dari rumah sakit ke penginapan sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi mungkin dikarenakan rasa kantuk yang sudah menumpuk, membuat Rindu sempat tertidur dibahu kiri Langit.