Suara gemericik air hujan yang menabrak kaca jendela kamar menjadi satu-satunya dentang yang memecah keheningan di dalam ruangan bernuansa minimalis itu. Riana duduk di tepi tempat tidur berukuran king size, jemarinya meremas pinggiran sprei satin yang dingin. Di sudut ruangan lain, berdiri seorang pemuda berpostur jangkung yang sedang merapikan kerah kemeja hitamnya di depan cermin besar. Dialah Reza, sosok pria yang sejak dua bulan lalu secara sah menyandang status sebagai suaminya.
Dua bulan bukan waktu yang singkat untuk hidup di bawah satu atap tanpa suara. Dua bulan berjalan seperti rentetan hari tanpa warna, di mana keberadaan satu sama lain dianggap layaknya bayangan yang tak memiliki wujud. Pernikahan ini bukanlah impian yang dianyam oleh cinta, melainkan sebuah simpul paksaan yang dijahit oleh warisan janji masa lalu.
Nenek moyang dari kedua keluarga besar mereka pernah membuat kesepakatan tertulis puluhan tahun lalu, sebuah amanah keluarga yang tak boleh dilanggar oleh
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamera Diluar Pintu
Dua mata kuliah di semester dua hari ini resmi berakhir lebih cepat dari perkiraan. Saat jarum jam baru menunjukkan pukul dua siang, Riana sudah merapikan buku-buku catatannya ke dalam tas. Berbeda dengan senior semester empat seperti Reza yang jadwal kuliah dan kegiatan organisasi himpunannya padat hingga sore hari, Riana memiliki sisa waktu yang cukup lengang sore ini.
Ia berjalan santai menuju area parkir khusus mahasiswa. Di sana, terparkir sebuah mobil SUV mewah berdesain elegan milik Riana—sebuah fasilitas yang diberikan orang tuanya. Kendati tumbuh dalam keluarga yang sangat berkecukupan dan mengendarai kendaraan bernilai fantastis, Riana sama sekali tidak pernah menyombongkan kekayaannya. Di kampus, ia dikenal ramah, bersahaja, dan tidak pernah membeda-bedakan teman berdasarkan latar belakang ekonomi. Bagi Riana, kerendahan hati adalah prinsip hidup yang diajarkan mendalam oleh keluarganya, terlepas dari keputusan rumit mereka yang menjodohkannya dengan Reza.
Riana memutar kunci kontak, menyalakan mesin mobilnya yang halus, lalu meluncur perlahan meninggalkan area kampus. Perjalanan menuju rumah yang ia tempati bersama Reza memakan waktu sekitar tiga puluh menit. Rumah dua lantai berarsitektur modern itu berdiri megah di kawasan perumahan tenang, namun rasanya kerap asing dan terlalu luas untuk ditempati dua orang yang saling mengasingkan diri.
Sesampainya di rumah, Riana memarkirkan mobilnya di garasi. Ia melangkah masuk menyusuri ruang tengah yang sepi. Tidak ada suara televisi, tidak ada alunan musik, hanya keheningan yang menyambutnya. Riana menuju dapur, menuang segelas air dingin, lalu menyandarkan tubuhnya pada counter dapur.
Ia tahu betul bahwa Reza biasanya baru akan pulang ketika matahari sudah benar-benar tenggelam. Rumah ini bagaikan dua area terpisah: kamar utama di lantai atas yang mereka bagi dengan rasa canggung, serta ruang-ruang bersama yang jarang tersentuh interaksi. Riana menghela napas panjang, menikmati kesendirian yang singkat ini sebelum sosok pria dingin itu kembali dan membawa atmosfer kaku ke dalam rumah.
Sore berganti malam dengan perlahan. Riana menghabiskan waktunya di dalam kamar, merapikan tugas-tugas kuliah semester duanya di meja belajar. Ketika jam menunjukkan pukul tujuh malam, suara deru mesin mobil Reza terdengar memasuki area garasi.
Riana menghentikan ketukan jemarinya di atas papan tik laptop. Jantungnya berdesir pelan, sebuah reaksi refleks yang selalu muncul setiap kali mendengar tanda-tanda kepulangan Reza. Ia mendengar langkah kaki yang berat dan teratur menaiki anak tangga satu demi satu.
Pintu kamar terbuka. Reza masuk dengan wajah yang tampak lelah setelah seharian penuh berkutat dengan jadwal kuliah semester empat dan urusan kampus. Pria itu melepas jaketnya, menghempaskannya ke atas kursi, lalu menatap Riana sekilas tanpa mengutarakan sepatah kata pun.
Riana juga memilih tetap hening, fokus menatap layar laptopnya seolah-olah keberadaan Reza di ruangan itu tidak mempengaruhi konsentrasinya sama sekali. Namun, keheningan di antara mereka terasa jauh lebih pekat malam ini. Meski dinding rumah ini menjadi saksi ikatan pernikahan mereka, benteng pemisah di antara dua hati ini justru terasa semakin kokoh dan tak tersentuh.
Reza menghela napas panjang lalu melangkah mendekati tempat tidur berukuran besar di tengah ruangan. Tanpa memedulikan pakaian kuliah yang masih melekat utuh di tubuhnya, ia merebahkan diri telentang di atas kasur. Lengan kanannya terangkat, menutup kedua matanya yang terasa berat setelah seharian penuh menghadapi tekanan kuliah semester empat dan kegiatan himpunan.
Riana lirih mengalihkan pandangannya dari layar laptop, melirik sebentar ke arah pria yang kini berbaring tak jauh darinya. Atmosfer di dalam kamar tidur itu mendadak menjadi jauh lebih rapat dan mengimpit.
Sebenarnya, pada minggu-minggu awal pernikahan paksa ini berjalan, mereka berdua menempati kamar yang terpisah. Riana menggunakan kamar utama, sementara Reza memilih tidur di kamar tamu yang berada di ujung koridor lantai dua. Bagi mereka, memiliki ruang pribadi masing-masing adalah satu-satunya cara untuk bertahan hidup dalam ikatan tanpa rasa cinta ini.
Namun, kedamaian semu itu hancur berantakan bulan lalu. Tanpa pemberitahuan, kedua orang tua mereka datang berkunjung secara mendadak untuk menyidak keadaan pengantin baru tersebut. Hari itu, kebohongan mereka terbongkar telanjang. Orang tua mereka memergoki bahwa Reza dan Riana sama sekali tidak berbagi kamar, melainkan hidup seperti dua orang asing yang kebetulan menyewa rumah yang sama.
Kemarahan besar meledak hari itu. Sebagai bentuk pengawasan ketat agar amanah perjodohan nenek moyang mereka tidak diabaikan begitu saja, orang tua mereka menginstruksikan pemasangan kamera CCTV di beberapa titik strategis rumah—terutama di koridor luar pintu kamar tidur utama dan area tangga.
Sejak saat itu, Reza tidak lagi memiliki pilihan untuk kabur ke kamar tamu di malam hari. Setiap kali melangkahi pintu kamar utama, gerak-gerik mereka terpantau dari luar. Mereka terpaksa berpura-pura tidur di bawah satu atap dan di dalam satu kamar yang sama setiap malam demi menjaga citra di mata keluarga besar.
Riana menutup laptopnya dengan pelan. Suara klik kecil dari engsel laptop memecah keheningan kamar. Reza sama sekali tidak bergerak, namun Riana tahu pria itu belum tidur.