"Kalau umur 30 gue belum nikah, lo wajib nikahin gue, Ka!"
Janji konyol lima tahun lalu kini jadi bumerang untuk Nadira. Sisa waktunya tinggal menghitung hari, tapi semua perburuannya mencari pacar selalu berujung tragis—ditipu hingga nyaris jadi selingkuhan!
Di sisi lain, ada Askara. Sahabat sejak kecil yang tampan dan mapan. Askara sengaja menolak ratusan wanita demi menanti hari ini tiba. Bagi Askara, janji umur 30 bukanlah lelucon, tapi strategi untuk memiliki Nadira seutuhnya.
Waktu habis, Askara pun menagih janji! Nadira yang gengsi setengah mati terpaksa menikah dengan sahabat yang tahu semua kebiasaan buruknya.
Mampukah Nadira bertahan saat Askara mulai membongkar batas friendzone dan menagih haknya sebagai suami?
Gengsi tingkat tinggi VS Cinta tulus sahabat sendiri. Siapa yang bakal menyerah duluan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: Pintu Terbuka dan Mata-Mata di Balik Celah
TOK! TOK! TOK!
"Nadira! Lo di dalam kan? Kok dikunci? Aneh banget! Biasanya ga pernah dikunci. Ini draf laporan revisi klien yang tadi—"
Suara ketukan pintu yang membuyarkan keheningan ruangan membuat Nadira tersentak kaget di dalam pelukan Askara. Pria itu menyeringai tipis, perlahan melepaskan dekapan eratnya.
Nadira panik setengah mati. Dengan cepat ia merapikan gaunnya yang agak kusut dan meraba-raba lehernya yang terasa agak hangat.
"Askara! Buka pintunya pelan-pelan! Jangan sampai Odel curiga!" bisik Nadira panik setengah melotot.
Askara hanya terkekeh santai. Pria itu merapikan kerah kemejanya yang sempat ditarik Nadira, lalu melangkah menuju pintu dan memutar kuncinya. KLIK!
Pintu kayu itu terbuka lebar. Odelia berdiri di ambang pintu sambil memegang map merah. Begitu melihat sosok Askara yang berdiri menjulang di hadapannya dengan rambut yang sedikit acak-acakan dan kancing atas kemeja yang terbuka, mata Odelia membelalak.
"P-Pak Askara?" gagap Odelia. "Loh... Pak Askara di dalam dari tadi? Kenapa pakai dikunci segala sih?"
"Iya, Del. Tadi ada urusan internal yang harus diselesaikan," jawab Askara tenang dengan wajah tanpa dosa.
Odelia mengintip ke dalam ruangan. Di balik meja kerja, Nadira duduk kaku bagaikan patung. Tangan kirinya memegang kerah gaun tingginya rapat-rapat menutup leher sebelah kiri, sementara tangan kanannya pura-pura sibuk membolak-balik dokumen secara acak dengan wajah merah padam sampai ke telinga.
Odelia memicingkan matanya tajam. Pandangannya berpindah dari bibir Nadira yang sedikit bengkak dan memerah, lalu turun ke tangan Nadira yang terus menutupi lehernya. Sebuah senyuman jahil dan sarat akan pengertian meluncur di bibir Odelia.
"Aduh, Bu Nadira... panas ya di dalam ruangan? Kok kerah gaunnya dipegangin kenceng banget gitu?" goda Odelia sambil melangkah masuk, suaranya dibuat-buat sehalus mungkin. "Terus itu bibir kenapa bengkak gitu? Digigit nyamuk lokal ukuran besar ya?"
"Odelia! Diam deh! Gak usah mulai!" bentak Nadira dengan suara melengking untuk menutup-nutupi rasa malunya yang membumbung tinggi.
Askara yang bersandar di kosen pintu justru tertawa renyah. "Bukan nyamuk kok, Del. Itu akibat dari permainan yang agak kasar tadi."
Mata Nadira rasanya mau melompat keluar dari kelopaknya. "ASKARA! TUTUP MULUT LO YA! SIAPA YANG MAIN KASAR HAH?!"
"Lah, kan emang lo yang main kasar, Nad," cetus Askara santai sambil menunjuk dada dan bahunya sendiri. "Nih, lihat bahu gue lebam-lebam gara-gara digebuk pake kotak cokelat. Rambut gue juga hampir rontok dijambak sama lo. Ganas banget kan, Del?"
Odelia tertawa terpingkal-pingkal sampai memegang perutnya. "Ya ampun, Pak Askara! Bu Nadira kalau kumat galaknya memang kayak macan betina! Tapi kok bisa sampai jambak-jambakan gitu di dalam ruangan berdua doang? Ada apaan nih..."
"GUE GAK GANAS! LO YANG DULUAN MESUM, BANGSAT!" jerit Nadira histeris. Ia menyambar kotak tisu di atas meja dan melemparnya tepat ke arah wajah Askara.
BUGH!
Askara menangkap kotak tisu itu dengan sebelah tangan secara tangkas, lalu menyeringai goda. "Tuh kan, Del. Lihat sendiri kan kelakuannya? Kasar banget."
"ASKA, PERGI GAK LO DARI KANTOR GUE?!" amuk Nadira berdiri dari kursi, matanya menyalang galak walau rona merah di pipinya tidak bisa dibohongi.
Odelia hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat pemandangan konyol di hadapannya. Dalam hatinya, Odelia tertawa miris sekaligus gemas. Nadira ini padahal umurnya sebentar lagi genap tiga puluh tahun, menjabat sebagai Direktur Kreatif dengan bawahan puluhan orang, tapi kalau sudah di depan Askara, kelakuannya benar-benar kembali seperti anak bocah sekolah dasar yang sedang ngambek karena mainannya direbut.
"Duh, udah-udah! Kasihan ini calon pengantin berantem terus," seloroh Odelia menenangkan. "Nih, Nad. Draf revisinya gue taro meja ya. Jangan lupa diperiksa, jangan asyik pacaran mulu di ruangan terkunci."
"Odelia, lo mau gue potong gaji ya?!" ancam Nadira bersungut-sungut.
"Ampun, Bu Bos!" kekeh Odelia sambil melangkah mundur.
Askara mengusap puncak kepala Nadira sebentar—yang langsung ditepis kasar oleh Nadira walau tanpa tenaga. "Gue balik kantor dulu ya, Nad. Nanti sore gue jemput lagi. Awas kalau lari sama berondong."
"Gak sudi dijemput lo!" cetus Nadira memalingkan wajah, namun matanya tetap melirik gerakan Askara yang melangkah keluar bersama Odelia.
...****************...
Sementara itu, di lorong samping yang berjarak hanya beberapa meter dari pintu ruangan Nadira, Sagara berdiri kaku di balik pilar.
Celah pintu yang sempat terbuka lebar tadi membuat Gara menyaksikan seluruh kehangatan, candaan, dan interaksi intim antara Askara, Nadira, dan Odelia. Ia melihat jelas bagaimana wajah merona Nadira yang begitu hidup saat berinteraksi dengan Askara—sosok raut wajah yang sama sekali tidak pernah ditunjukkan Nadira kepadanya.
Gara mengepalkan kedua tangannya di dalam saku celana. Senyuman manis dan lesung pipi yang biasanya menghiasi wajah tampannya kini lenyap tak berbekas, berganti dengan tatapan mata yang dingin dan sarat akan rasa tidak suka.
"Cuma sahabat kecil aja bangga banget..." gumam Gara pelan dengan nada penuh keengganan.
Ia teringat pesan kakaknya, Rebecca, tadi siang yang memintanya untuk segera menyelesaikan tugas dan membuat hubungan Askara dan Nadira hancur. Namun melihat betapa kuatnya ikatan dan kehangatan di antara kedua orang itu, Gara sadar bahwa tugas ini tidak akan semudah yang dibayangkannya.
Gara memutar badannya, melangkah pergi menuju mejanya sebelum ada yang menyadarinya mengintip, dengan rencana baru yang mulai tersusun di kepalanya.
semangat terus thor...
/Heart/