Akira Yoshikawa, pengurung diri yang menghabiskan waktunya selama 4 tahun untuk menamatkan sebuah game yang hanya dimainkan oleh satu orang, dan orang itu adalah dirinya. Namun, setelah ia menamatkan game itu, hal mustahil mulai terjadi, Benua, Monster dan Raja Iblis yang ada di game semuanya menjadi nyata, bahkan beberapa orang dipilih menjadi Pahlawan untuk melawan para Monster, termasuk Akira, dan mereka yang dipilih sebagai pahlawan akan mendapatkan sebuah sistem.
Berbeda dengan Pahlawan yang lain, Akira ditakdirkan sebagai seseorang yang dapat menyelamatkan manusia dengan persentase tertinggi, walau dia tau, terkadang dia tidak menyadari, betapa kuat dirinya di hadapan orang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laten Kishi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Batu Loncatan
“Beraninya manusia rendahan melawanku!!” Suara iblis dihadapan Akira terdengar berat dan mengancam.
[Skill Freeze:Aktif]
[Efek Kalung Samudera:Aktif]
SRRTTTT!
KRAK!
Es menjalar dari bawah kaki Akira dan membekukan iblis dihadapannya hingga esnya seperti gunung kecil yang hampir menyentuh awan di langit.
[Peringatan! Mana Anda tersisa sedikit]
“Fuhhh…” Akira bernafas kedinginan karena Spell yang digunakannya mempengaruhi sebagian besar lingkungan disekitarnya.
Amane yang berada dibelakang memandang ke puncak es yang dibuat Akira dengan mata membulat.
“Di-dia mengalahkannya?” pikirnya.
TRAK!
Suara retakan berbunyi, dan suara itu berasal dari es yang sedikit demi sedikit retak.
“Sistem.”
[Apa anda mau melakukan Pengorbanan?]
“Ya.”
[Apa yang anda korbankan?]
“Level dan tidak bisa menggunakan mana selama tiga hari.”
[Dikonfirmasi]
[Mereset semua status…]
[Level Anda menjadi (1) dan anda tidak akan bisa menggunakan mana selama tiga hari]
[Apa yang anda mau?]
“Tingkatkan status STR dan DEX.”
[Dikonfirmasi]
[STR 10 > ??????]
[DEX 6 > ??????]
[Sedang diproses…]
TRAAAKKK!
WOOSHHH!!
Angin bertiup kencang dari hancurnya es bersamaan dengan iblis yang sebelumnya besar menjadi lebih kecil seperti manusia normal, begitu juga dengan zirahnya yang menyusut.
“Sampai aku harus memakai wujud ini...” Iblis itu menatap tangannya, lalu menatap ke arah Akira, “Siapa sebenarnya kau?”
Ding...
[Bos Monster:Komandan Pasukan Iblis
Nama:???
Level:800
Tingkat Bahaya:S+
STR:?????
DEF:?????
DEX:?????
INT:?????
Skill
(Terkena Batasan Otoritas)]
“Entahlah.” jawab Akira dengan datar.
“Ya… itu tidak penting, karena kau akan mati—”
FWOOOSSSHHH!!!
Iblis itu melesat kencang ke arah Akira hingga membuat pohon disekitarnya tercopot dari akarnya.
Ding...
[Perubahan Status Selesai
STR 10 > 100000
DEX 6 > 100000]
[Peringatan! Perubahan status hanya bertahan 5 detik]
BAM!!
“Hah?!” mata iblis itu membulat melihat tinjunya di tahan oleh tangan kiri Akira.
“Sayang sekali…” Akira menatap tajam ke arah iblis itu sambil tangan kanannya bersiap memukul balik.
“Bagaimana bis—”
BUGHH!
“Aghh—”
FWOOOSSSHHH!!!
BRAK! BRAK!
Angin bertiup kencang dari pukulan Akira hingga Amane yang berada dibelakangnya menutup mata dengan tangannya.
Sedangkan iblis yang dipukulnya terpental jauh hingga membuat bekas serangan yang tak masuk akal.
Begitu suasana lebih tenang, Amane membuka matanya kembali dan terkejut melihat bekas pukulan Akira.
“Bu-bukannya, dia Mage?!” pikirnya.
Ding...
[Perubahan status berakhir]
[Level Anda Meningkat 1 > 357]
[Anda mendapatkan Skill baru]
[Spell Earthquake, Copy, Hero Sword]
Akira melihat sistem dalam diam, tidak lama ia berbalik badan dan berjalan menuju Amane.
Ia melewati Amane lalu berbicara.
“Kita kembali, yang lain sudah menunggu.”
“Ba-baik.” Amane berbalik badan dan berjalan bersebelahan dengan Akira menuju Retakan Portal.
Saat tinggal beberapa langkah lagi mereka masuk ke dalam Retakan portal.
“?!”
Langkah Akira terhenti, dia menengok kebelakang sambil berkeringat dingin dengan mata yang membulat seperti sedang menatap sesuatu yang jauh.
“Shuko!!”
“Kyeeeeaaaakk!!”
FWOOSHHH!!
Shuko terbang ke bawah dengan cepat dan membuka sayapnya dengan lebar seperti sedang melindungi Akira dan Amane dari sesuatu.
Amane yang penasaran dengan yang terjadi ikut menengok kebelakang.
“Ada apa—”
Grep!
“Kita harus lari!”
Akira memegang tangan Amane erat-erat dan berlari ke arah Retakan Portal.
Tidak tau apa yang terjadi, Amane hanya ikut lari mengikuti Akira sambil tangannya di genggam erat dan masuk ke Retakan Portal.
Disisi lain, Shuko masih membentangkan sayapnya.
CRING!
CSSSSHHHHH!!
Sesuatu seperti laser yang besar berwarna ungu mengarah melesat cepat ke arah Shuko.
“Kyeeeeaaaakk!!”
Shuko mencoba menahannya hingga apinya membakar area sekitarnya, namun—
WOOSSHHH!
Laser itu menembus Shuko dan mengarah ke arah Retakan Portal.
......................
Brak!
Akira dan Amane terjatuh saat keluar dari retakan portal hingga membuat semua orang yang ada di ruang tamu memperhatikan mereka.
Ding...
[Waktu Dimensional Hand telah habis]
[Retakan Portal yang dibuat Dimensional Hand ditutup paksa]
Begitu Retakan portal tertutup.
DRRRTTTT!!
Sebuah getaran gempa terasa,
“Gempa? Tapi tidak ada peringatan,” pikir Amamiya.
......................
Disisi lain, di Benua Nox, di tempat retakan portal yang dibuka Akira berada, terbentuk sebuah kawah yang sangat besar dan dalam.
Jauh dari retakan portal berada, asal ditembakannya sesuatu seperti laser berwana ungu, sebuah kastil yang sangat besar dan megah dengan suasana gelap terlihat.
Namun, ada lubang yang sangat besar di kastil itu, dan di lubang itu terlihat iblis yang tengah duduk di sebuah singgasana dengan wajah yang tertutup bayangan.
“Dia sangat lemah, bahkan dengan serangan kecilku tadi, dia bisa mati, kalau begitu… aku bisa mengalahkannya!” Iblis yang wajahnya tidak terlihat, menampakan senyumnya yang lebar.
......................
Disisi lain, Akira yang terjatuh, bangun berdiri dan membantu Amane berdiri.
“Amane?” gumam Kisaragi.
Amane yang mendengar namanya dipanggil hanya menunduk karena merasa bersalah,
Pluk!
“?”
Tiba-tiba saja Kisaragi sudah di dekatnya dan memeluknya.
“Maaf…” ucap Amane.
"Tidak apa-apa" jawab Kisaragi.
Akira yang disebelahnya hanya melihat dengan muka datar, namun di dalam hatinya, ia senang melihat mereka berdua kembali bertemu.
“Ough.”
Akira batuk dan menutupi dengan tangannya, saat ia melihat tangannya, ada sedikit darah dari batuknya.
“Eh? Aku— Ough.” Akira batuk lagi, kali ini ia tidak sempat menutupinya, dan darah yang keluar lebih banyak dari mulutnya hingga yang lain melihatnya.
Akira sempoyongan, kakinya terasa lemas dengan pandangan yang buram dan kepalanya seperti berputar-putar.
Brak!
“Akira!”
Akira terjatuh dan berhasil ditangkap Lumina.
“Kakak!”
Nako berlari menghampirinya, namun, pandangannya semakin buram, tidak lama pandangannya menjadi gelap sepenuhnya.
......................
“Ughh…” Akira mencoba membuka matanya secara perlahan.
Saat ia berhasil membuka matanya, dia mendapati dirinya sedang melayang di luar angkasa yang penuh akan bintang.
“Dimana ini?!” Akira menoleh ke kanan dan kiri.
“Kenapa aku ada disini?!”
“Jangan panik.” Suara lelaki terdengar.
Suara itu seolah-olah memenuhi seluruh angkasa sehingga membuat Akira kebingungan.
“Siapa kau?!”
“Aku adalah ######.”
“Kenapa suaranya tidak jelas?” pikir Akira.
“'Kenapa suaranya tidak jelas’ katamu?”
“Dia membaca pikiranku?!”
“Bukan membaca sih, tapi kau boleh menyimpulkannya begitu.”
“Aku tidak tau siapa kau, tapi kenapa aku ada disini?” tanya Akira.
“Bukankah itu ulahmu sendiri.”
“Apa maksudmu?”
“Kau menggunakan pengorbanan, tapi pertukarannya tidak setara, alhasil, inilah yang terjadi padamu, untungnya kau hanya pingsan.”
“Aku tau itu, tapi…” pikir Akira.
“Aku juga tau bagaimana caramu berpikir, jadi, aku akan memberikanmu sebuah saran.”
“Saran?”
“Gunakanlah Otoritas yang kau miliki, itu bukan hanya sekedar pajangan.”
“Gunakan? Aku bahkan tidak tau caranya.”
“Kau akan segera tau…”
CRINGG!!
Sebuah cahaya silau muncul entah dari mana hingga Akira menutup matanya.
......................
“Ughhh…” Akira perlahan membuka matanya dan melihat langit-langit yang tidak asing serta mendapati dirinya sedang diselimuti.
Perlahan Akira bangun sambil memegangi kepalanya.
“Eh? Kenapa mereka tidur disini?” pikir Akira.
Saat bangun dia melihat Lumina dan Nako sedang tertidur sambil duduk dengan kepala yang bersandar pada kasur, sedangkan di sebelah kanannya dia melihat Kisaragi dan Amane yang tertidur juga.
“Sebenarnya... sudah berapa lama aku pingsan?” gumam Akira yang masih memegang kepalanya.