NovelToon NovelToon
Warisan DENDAM

Warisan DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Misteri / Iblis
Popularitas:373
Nilai: 5
Nama Author: `AzizahNur`

Enam pelaku. Enam putusan. Enam kematian yang selalu datang setelah sidang berakhir.

Sebagai hakim muda, Blair dikenal karena putusannya yang tegas dan tidak mudah dipengaruhi. Namun setiap kali sebuah persidangan selesai, seseorang selalu mati dengan cara yang menyerupai dosanya sendiri.

Saat Theodore, penyelidik dari Badan Anti Kriminal, mulai menelusuri rangkaian kematian itu. Blair justru dihantui oleh ingatan yang terasa asing. Obat-obatan yang terus ia konsumsi, masa lalu yang hilang, dan sosok yang seolah hidup di balik kesadarannya perlahan menyeretnya pada sebuah kebenaran yang seharusnya tetap terkubur.

Di balik pengadilan yang terlihat oleh semua orang, ternyata selalu ada pengadilan lain yang tersembunyi dari cahaya dan ketika hukum gagal memberi keadilan, seseorang akan datang untuk menagih akibat yang tak pernah tercatat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 26 : Bercanda?

Emily tersentak. “Aku—”

“Cukup,” potong Blair pelan.

Ia mengangkat tangan, jari telunjuknya berhenti tepat di depan dada Emily, tidak menyentuh, tapi cukup dekat untuk membuatnya gemetar.

“Kalian menutup mata. Menutup mulut. Menyebutnya lemah agar rasa bersalah terasa lebih ringan.”

Blair menarik tubuhnya sedikit, menatap wajah Emily dari atas ke bawah.

“Kalian tidak hanya diam,” katanya. “Kalian memilih.”

Emily menggeleng cepat.

“Kami cuma bercanda. Semua orang—”

“Bercanda?” Blair tertawa pendek. “Sampai seseorang tidak pulang.”

Hening jatuh. Berat. Menekan.

Blair melirik sekilas ke arah Daniel yang tergeletak tak berdaya, lalu kembali menatap Emily.

“Kau tahu apa bedanya aku dengan kalian?” tanyanya pelan.

Emily tak menjawab.

“Aku tidak bersembunyi di balik alasan,” lanjut Blair. “Aku tidak menyebut kejahatan sebagai kesalahan kecil. Dan aku tidak menunggu orang lain menanggung akibatnya.”

Ia berdiri tegak.

“Sekarang,” katanya dingin, “kau akan mendengar. Dan kau akan mengingat.”

Blair menoleh pada teman-teman Emily yang tersisa.

“Satu orang jatuh, kalian semua ikut tertawa,” ucapnya. “Malam ini, satu orang menjerit maka kalian semua akan menjerit dan merasakannya.”

Tatapan Blair kembali mengunci Emily.

...

Di sisi lain, malam terasa seolah memanjang tanpa ujung. Keheningan menggantung rapat, menekan ruang sempit di dalam mobil hingga suara napas seseorang terdengar terlalu jelas, berat, tertahan, seolah setiap tarikan udara perlu izin.

Pria di kursi penumpang depan menyandarkan wajahnya ke telapak tangan, siku bertumpu pada pintu. Matanya menatap keluar jendela, mengikuti garis jalan sempit yang perlahan membawa mereka masuk ke kawasan gelap tanpa satu pun lampu penerangan. Hanya sorot lampu mobil yang memotong kegelapan, menyapu batang-batang pohon dan semak liar yang berdiri rapat seperti dinding hidup.

“Aku baru tahu,” gumamnya pelan, nyaris berbicara pada dirinya sendiri, “ada jalan di dalam kawasan begini.”

Tatapannya menyapu hutan di kanan kiri. Dari luar, tempat ini tak lebih dari rimba tak terjamah, liar, sunyi, dan menutup segala rahasia.

“Kukira cuma hutan biasa,” lanjutnya. “Semak-semak doang.”

Tak ada jawaban.

Pria di balik kemudi tetap diam. Theodore. Posturnya tegak, kedua tangan stabil memegang setir. Wajahnya tenang, terlalu tenang tanpa ekspresi, tanpa reaksi. Bahkan napasnya pun nyaris tak terdengar, seolah ia bukan sedang menyetir di tengah malam, melainkan menyatu dengan mesin itu sendiri.

Keheningan itu mulai mengganggu.

Pria di kursi penumpang menoleh, menyipitkan mata dengan kesal. Ia menatap profil Theodore, lalu mendecak pelan.

“Hei,” panggilnya akhirnya. “Theodore.”

Tak ada respon.

“Apa kita bakal diam-diaman terus sepanjang jalan?” Nada suaranya naik sedikit, setengah mengejek. “Kayak pasangan yang lagi berantem?”

Kalimat itu baru mendapat reaksi.

Mata Theodore menyipit tajam. Sekilas ia melirik ke samping, lalu pandangannya turun, mengukur pria di kursi penumpang dari kepala hingga kaki dengan dingin, tanpa emosi, namun cukup membuat udara di dalam mobil terasa menegang.

Sorot mata itu membuat pria tersebut terdiam sejenak. Tenggorokannya bergerak. Ia memalingkan wajah kembali ke jendela, berusaha terlihat santai meski rahangnya mengeras.

“Oke,” katanya akhirnya, suaranya lebih rendah. “Lupakan.”

Ia mengangkat bahu. “Kita berdua sama-sama pria.”

Mobil terus melaju, menelan jalan gelap itu perlahan, sementara hutan di sekeliling mereka berdiri membisu, menyimpan sesuatu yang bahkan keheningan pun enggan membocorkannya.

"Sial, dia sama sekali tidak bisa diajak santai." gumamnya.

1
Ibu'e Arfan Call
seru deh bacanya,👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!