NovelToon NovelToon
Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Menjadi Antagonis, Tapi Suamiku Terlalu Protektif

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi ke Dalam Novel
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: ayu gerimis

Aku terbangun dan menyadari dirinya telah berpindah menjadi Freya, tokoh antagonis yang kejam, sombong, dan ditakdirkan berakhir tragis — dibenci semua orang, diceraikan dengan hina, dan mati muda. Yang lebih menyulitkan: aku memiliki suami, pria tampan namun dingin yang dalam cerita aslinya tak pernah menyayangi Freya dan justru ikut menghancurkannya.

Aku bertekad mengubah takdir. Aku tak ingin berakhir mati. Namun setiap kali aku mencoba bersikap jahat sesuai watak asli Freya demi tidak dicurigai, sang suami justru bersikap sebaliknya.

Orang lain mencela aku? Ia langsung membela dengan tajam.
Aku hanya sedikit terluka? Ia panik seolah nyawaku terancam.
Aku mencoba menjauh? Ia justru menarikku masuk ke dalam pelukannya dan melarang pergi.

"Siapa pun yang berani menyakiti isteriku, harus siap menghadapi aku," ucapnya dengan sorot mata tajam yang tak pernah kulihat dalam cerita aslinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayu gerimis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Jejak yang Semakin Memudar

Pagi itu, sinar matahari pagi masuk lewat celah tirai, jatuh tepat di wajahku — tapi Arga tidak melihat itu dulu. Matanya tertuju pada lantai tempat bayanganku seharusnya terbentur di bawah cahaya itu.

Dada Arga mencelos. Bayanganku tipis, samar, hampir tak terlihat — seakan cahaya menembus tubuhku seperti air menembus kaca.

"Freya..." suaranya bergetar pelan. Ia bangkit mendekat, tangannya menyentuh bahuku, tapi matanya terpaku ke lantai. "Lihat ke bawah. Bayanganmu..."

Aku menunduk. Jantungku berdegup kencang hingga nyeri. Benar saja — bayanganku bukan lagi bentuk yang utuh dan gelap. Ia samar, tipis, dan sesekali... hilang sama sekali.

"Sejak kapan ini terjadi?" tanyaku pelan, suaraku sendiri terdengar lebih lembut dari biasanya, seakan angin bisa menerbangkannya begitu saja.

"Entah..." Arga menarikku ke pelukannya erat, tak peduli apa pun yang terjadi. "Tapi aku tahu — setiap hari, kau semakin berubah. Suaramu semakin pelan. Kadang saat aku memelukmu, rasanya tubuhmu semakin ringan, seakan bisa terbang kapan saja. Apakah... apakah kau perlahan menghilang, Freya?"

Pertanyaan itu meluluhlantakkan hatiku. Aku tak bisa menjawabnya — karena aku sendiri merasakannya. Setiap pagi aku terbangun dengan rasa kosong di dada, seakan sebagian jiwaku tersedot perlahan ke tempat yang jauh.

"Arga," bisikku, air mata menetes. "Aku tak mau pergi. Aku sungguh-sungguh ingin tetap di sini, bersamamu. Tapi rasanya... tubuh ini tak lagi sanggup menampungku sepenuhnya."

Sarapan pagi itu tak ada yang tersentuh. Ibu Arga datang membawa teh hangat, tapi saat melihat wajah kami dan melihat bayanganku di lantai, ia berhenti mendadak. Cangkir di tangannya hampir tergelincir.

"Ini... sudah dimulai," bisiknya, wajahnya pucat. "Kisah itu benar-benar nyata..."

"Ibu tahu apa yang terjadi padaku?" tanyaku bergegas, berharap ada jawaban, ada harapan.

Ibu Arga mengangguk pelan, lalu duduk di hadapan kami, napasnya berat. "Dulu, sebelum ayahmu meninggal, ia pernah bercerita tentang buku kuno yang disimpan di perpustakaan keluarga — warisan leluhur keluarga Pratama. Isinya tentang hal-hal yang melampaui akal sehat, termasuk jiwa yang melintasi dunia."

Ia berdiri, menatap kami bergantian. "Jika tarikan dunia asal semakin kuat, berarti waktu Freya di sini semakin menipis. Bayangan yang memudar, suara yang melemah, tubuh yang terasa ringan — itu semua tanda bahwa ikatannya dengan dunia ini mulai putus. Jika tidak segera diatasi... kau akan kembali ke duniamu, tanpa bisa kembali lagi."

"Tidak!" Arga membentak pelan, matanya memancarkan ketegasan yang tak pernah kulihat sebelumnya. "Aku tidak akan membiarkannya. Ada caranya, kan? Di buku itu — pasti ada caranya agar dia bisa tetap di sini!"

"Belum tentu mudah, Arga," peringat Ibu. "Harganya bisa sangat mahal. Dan risikonya tak bisa dipastikan."

"Apa pun harganya," potong Arga tegas, tangannya menggenggam tanganku begitu erat hingga terasa nyeri — tapi itu nyeri yang melegakan, karena ia nyata, dan aku masih bisa merasakannya. "Nyawaku, posisiku, segalanya — aku rela. Asal dia tetap di sini. Di sisiku."

Pagi itu juga kami bergegas ke perpustakaan besar di sayap rumah — ruangan yang dulu selalu tertutup, penuh debu, dan tak pernah kami sentuh. Rak-rak kayu tua menjulang tinggi, penuh buku-buku tebal dengan kulit yang sudah mulai mengelupas, bertuliskan nama leluhur keluarga Pratama.

"Di mana?" gumam Arga, tangannya bergerak cepat menyisir deretan buku. "Di mana buku itu?"

Aku berjalan pelan di lorong rak, jantungku berdebar aneh. Semakin aku masuk ke dalam ruangan ini, semakin aku merasa ditarik — bukan ke arah pintu keluar, tapi ke arah satu rak paling belakang, di pojok paling gelap. Di sana, terselip di antara buku-buku tua, ada satu buku dengan sampul kulit berwarna hitam pekat, tanpa judul, dengan ukiran bintang berujung lima di tengahnya.

"Ini..." bisikku, tanganku gemetar saat meraihnya. Buku itu terasa hangat, seakan hidup.

Saat aku membukanya, halaman-halamannya berderit pelan. Tinta di dalamnya berwarna keemasan, dan tulisannya bukan bahasa yang kukenal — tapi entah bagaimana, aku bisa memahaminya, seakan maknanya langsung masuk ke dalam pikiranku.

"Ada di sini," ucapku pelan, mataku membaca baris demi baris. "Ada cara mengikat jiwa agar tetap tinggal di dunia ini. Sebuah ikatan yang dilakukan di bawah bulan purnama, dengan janji tulus dari kedua belah pihak. Tapi..."

"Tapi apa?" tanya Arga cepat, mendekat.

"Tapi janji itu harus ditebus dengan pengorbanan terbesar," lanjutku, suaraku tercekat. "Salah satu pihak harus memberikan sebagian cahayanya — sebagian dari nyawanya sendiri — agar yang lain bisa tetap hidup di dunia ini."

Keheningan menyelimuti ruangan itu. Arga menatapku dalam, lalu tersenyum lembut — senyum yang penuh keteguhan, tanpa keraguan sedikit pun.

"Kalau begitu," ucapnya pelan namun tegas, "maka itu yang akan kulakukan."

"Tidak!" Aku menutup buku itu cepat, air mata menetes deras. "Aku tidak mau, Arga. Aku tidak mau hidup di sini dengan mengorbankan separuh nyawamu. Itu bukan cinta — itu beban yang takkan pernah bisa kubawa!"

"Kau salah," potongnya lembut, tangannya menyentuh pipiku. "Bagiku, separuh nyawa tanpa kau di sini sama sekali tak berarti. Jika harus memilih antara hidup lama tanpamu, atau hidup lebih singkat tapi setiap detiknya bersamamu — pilihanku sudah pasti, Freya. Selamanya."

Malam itu, bulan purnama bersinar terang di langit, bulat dan putih seperti lampu raksasa yang menggantung di angkasa. Kami bertiga — Arga, Ibu, dan aku — berdiri di halaman belakang, di bawah cahaya bulan yang membasahi bumi dengan cahaya perak. Buku hitam itu terbuka di antara kami, angin malam membalik halamannya pelan, seakan ikut mengantar doa kami.

"Kita masih bisa membatalkannya," kata Ibu Arga pelan, matanya berkaca-kaca. "Belum terlambat."

Arga menatapku lekat-lekat, lalu menggeleng mantap. "Sudah terlambat untuk mundur, Bu. Karena hatiku sudah terikat padanya sejak pertama kali kita bertemu. Tak ada jalan kembali."

Ia menggenggam tanganku erat, keduanya mengangkat tangan ke arah bulan. Cahaya perak itu jatuh tepat di atas kami.

"Di bawah cahaya bulan purnama, aku berjanji," ucap Arga lantang dan tegas, suaranya bergema di keheningan malam. "Aku memberikan separuh cahayaku, separuh hidupku, agar jiwanya tetap tinggal di sini. Agar Freya tetap bersamaku, di dunia ini, sampai napas terakhirku."

Seketika itu juga, cahaya keemasan keluar dari dada Arga — lembut, hangat, bersinar terang di kegelapan. Cahaya itu melayang perlahan menuju dadaku, lalu masuk ke dalam diriku. Tubuhku terasa hangat, terasa kuat — dan di bawah kakiku, bayanganku perlahan kembali, gelap dan utuh seperti dulu.

Tapi saat cahaya itu lenyap, Arga terhuyung mundur, wajahnya sedikit lebih pucat dari biasanya, napasnya sedikit lebih berat. Aku segera memeluknya, air mata bahagia sekaligus sedih jatuh di pipi.

"Kenapa kau melakukan ini?" bisikku, mencium keningnya. "Kenapa rela berkorban begitu besar?"

Ia tersenyum lemah, tapi matanya tetap bersinar bahagia. "Karena bagiku, kau adalah cahaya yang sebenarnya. Dan sekarang... kita takkan pernah terpisahkan lagi."

Namun di kejauhan, di balik bayang-bayang pohon besar, sepasang mata memperhatikan segala hal yang baru saja terjadi. Mata itu bersinar dingin, penuh kemenangan.

"Sempurna..." bisik suara itu pelan, tertawa kecil. "Kalian baru saja membuka pintu bagi segalanya. Sekarang, saatnya aku mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku."

 

Mau lanjut ke Bab 28? Pertemuan keluarga pertama setelah ikatan itu, kebahagiaan yang terasa sempurna — sampai tamu tak diundang muncul dan mengubah segalanya... 🔥💍

1
Irsyad
wah keren
Ayu Gerimis: makasiii KK Irsyad udah mampir dan suka yaa 🥰"
total 1 replies
septia19
di tunggu kelanjutannya besti 😍
Ayu Gerimis: siap 👍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!