Hanya karena menolong seorang pria Zuraida difitnah sampai diusir dari desa dan dinikahkan dengan pria itu. Pria yang menjadikannya seorang ibu bagi kedua anak laki-laki.
Bagaimana Zuraida yang dari desa menjalani hidup di kota di tengah rasa tidak suka anak-anak tiri dan pihak keluarga suaminya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kuswara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 29
Keesokan paginya.
Arfan dan Wilona tidur berpelukan tanpa busana di sofa ruang keluarga. Wilona tidur pulas dalam pelukan mantan suaminya. Semalam Wilona berhasil menaklukkan Arfan dan berharap sebentar lagi mereka akan rujuk.
Perlahan Arfan membuka mata. Tangannya terasa berat digerakkan. Ia memicingkan matanya menatap perempuan yang dipeluknya.
"Wilona?." Arfan sangat syok. Ia mendapati diri mereka tanpa apa pun. Pakaian mereka berserakan.
Wilona membuka matanya, ia tersenyum pada Arfan.
"Aku masih ngantuk Ar."
"Kenapa? Kita...bisa..." Arfan mendorong tubuh Wilona yang mengerat pada tubuhnya. Perempuan itu jatuh ke atas karpet tebal berbahan wol.
Wilona memungut pakaiannya. Mengenakannya langsung di depan Arfan. Tubuh Wilona dipenuhi bercak merak kepemilikan yang ditinggalkan Arfan.
Arfan segera berpakaian lalu menatap Wilona.
"Aku harap tak terjadi apa-apa pada kita."
"Tapi semalam kita benar-benar melakukannya Ar." Wilona menyentuh dada bidang Arfan.
"Kamu hilang kendali, semalam kita minum banyak."
"Tidak, aku tak melakukan apa-apa padamu."
"Baik, kalau kamu nggak percaya dengan kata-kataku. Setidaknya ini bisa menjelaskan semuanya padamu dan aku tidak berbohong."
Wilona mengambil ponsel Arfan, memperlihatkan CCTV ruang keluarga semalam. Arfan melihat dirinya sendiri sangat gila terhadap tubuh Wilona. Mencumbunya hingga mereka menghabiskan malam bersama di atas sofa.
Arfan mengacak rambutnya. Rasanya tak mungkin. Tapi tak mungkin bohong juga CCTV itu. Bagaimana bisa dimanipulasi pada setiap detik yang terjadi.
"Bukan hanya sekali yang kita lakukan Ar, berkali-kali. Dan aku pastikan aku akan hamil anakmu lagi sebab aku sedang masa subur."
Arfan menggelengkan kepalanya berulang kali.
"Tidak, aku berharap itu tidak akan pernah terjadi."
"Bagaimana kalau terjadi. Kamu harus menikahi aku Ar."
Arfan bungkam lalu pergi dari Wilona. Ia menutup pintu kamar setengah membantingnya. Ia berdiri di depan cermin setelah melepas pakaiannya. Ada banyak tanda merah yang tertinggal di tubuhnya. Kembali ia telah mengkhianati Zuraida. Dan kali ini jauh lebih parah dari sekedar ciuman.
"Zuraida."
Kring Kring
Arfan menatap cukup lama layar ponselnya. Istrinya menghubunginya. Panggilan berakhir namun istrinya kembali meneleponnya.
"Sayang..." panggil Arfan setelah menahan rasa bersalahnya.
"Ini aku Dad," suara Sena yang terdengar dari handphone istrinya.
"Kamu di sana Sena? Pergi ke mana bersama ibumu?."
"Aku di rumah sakit Dad, Zuraida dan Sean menemaniku."
Bugh
Ada batu besar menghantam dadanya. Sangat sesak. Rasa sesalnya menjadi berkali-kali lipat. Istrinya menemani anak-anaknya di rumah sakit. Ia malah tidur dengan mantan istrinya.
"Perutku sakit lagi Dad. Aku meminta Zuraida membawaku ke dokter."
"Nanti daddy ke sana."
"Iya, Dad."
Sean mengembalikan handphone Zuraida.
"Bagaimana perutmu sekarang?." Zuraida mengusap perut Sena.
"Masih sakit tapi nggak sesakit kemarin."
"Alhamdulillah."
Kemudian Zuraida beralih pada Sean yang masih tiduran di sofa.
"Kamu nggak sekolah?."
"Aku libur dulu Zuraida."
Zuraida tersenyum.
"Tapi besok sekolah ya?."
"Iya, hari ini saja. Aku mau bersamamu dan Sena."
"Oke," Zuraida masih tersenyum.
Kembali ke rumah. Arfan mendatangi Wilona di meja makan. Ada mama dan papanya juga sedang sarapan.
"Kalian nggak ada yang peduli pada Sena yang masuk rumah sakit?."
"Sena sakit lagi?." Tanya papa.
"Zuraida nggak ada bilang apa-apa." Tambah mama.
"Kalau tahu sakit pasti sudah aku bawa ke dokter." Wilona ikut bersuara. Arfan tak lagi merespon. Ia segera keluar, menyalakan mobil lalu mengendarainya. Pikirannya masih kacau, bagaimana ia bisa mengatakan yang terjadi pada Zuraida.
Bagaimana jika perempuan itu tak memaafkannya? Apa bisa Zuraida menerimanya?. Ada keinginan untuk tetap merahasiakan supaya hubungannya dengan Zuraida tetap aman. Ya, itu pilihannya saat ini.
Arfan tiba di ruangan VVIP. Langsung memeluk istrinya karena rasa bersalah. Mencium pucuk kepala istrinya sambil berkata lirih.
"Tolong maafkan aku."
Maaf yang dimaksud Arfan karena sudah mengkhianatinya.
Zuraida tersenyum.
"Nggak apa-apa Mas, saya juga nggak kabarin karena fokus pada Sena." Namun ditangkap oleh Zuraida. Mengiraaaf karena tak tahu kesehatan Sena.
"Apa kata dokter?." Duduk memangku Sean.
"Luka lagi lambungnya. Harus dirawat di sini dulu beberapa hari." Jawab Zuraida.
"Sen, nanti yang jaga mommy sama opa oma ya. Ibu dan Sean pulang bareng daddy."
Sena terdiam.
"Sena..." panggil Arfan.
"Aku mau ditemani Zuraida saja Dad. Please."
Arfan tak mau kejadian malam tadi terulang lagi makanya harus ada Zuraida.
"Tidak bisa Sena, mommy di sini menemani kamu."
"Please Dad." Rengek Sena. Matanya sampai berkaca-kaca.
Namun tetap tak menggubris. Setelah Wilona dan kedua orang tuanya bersama mereka di rumah sakit. Arfan membawa Zuraida dan Sean pulang.
Andiakan tak terjadi apa-apa antara dirinya dan Wilona tentu ia bisa mengabulkan keinginan Sena. Arfan, Zuraida dan Sean sudah di rumah.
Di dalam kamar Arfan memeluk istrinya lagi, sangat lama. Meminta maaf lagi kepada Zuraida.
"Sudah mas, sudah saya maafkan." Kata Zuraida.
Arfan melepas pelukannya. Menatap istrinya tanpa jarak. Mencium bibir istrinya sangat lembut.
"Mas nggak ke kantor?," tanya Zuraida disela ciumannya.
Arfan menarik wajahnya namun tetap dekat dengan wajah Zuraida.
"Ada meeting sebenarnya tapi aku malas. Maunya berduaan saja sama kamu."
"Nanti pulang kantor kan bisa Mas."
Arfan mengangguk pelan. Mau tak mau ia melepaskan Zuraida lalu pamit ke kantor.
Di rumah sakit Wilona dan mama menjauh dari Sena. Duduk di pojok ruang VVIP itu.
"Kapan mau kirim CCTV itu pada Zuraida?."
"Kalau Arfan nggak mau nikahi aku."
"Kenapa nggak kamu kirim aja sekarang?."
Wilona menggeleng.
"Aku nggak mau Arfan membenciku Ma. Aku mau Arfan sukarela menikahiku lagi. Kalau menolak terpaksa aku pakai cara itu."
"Arfan pasti mau menikahimu lagi. Tapi nggak ada salahnya juga kamu kirim CCTV itu pada Zuraida supaya perempuan itu meninggalkan Arfan. Lebih mudah kan pekerjaan kamu."
Wilona terdiam. Memikirkan apa yang dikatakan mamanya Arfan. Lebih bagus juga Zuraida tahu apa yang dilakukan suaminya terhadapnya.
Di kantor Arfan tak bisa fokus. Pikirannya bercabang Wilona atau Zuraida. Harus bicara jujur dengan segala resiko atau tetap diam. Hati kecilnya sangat ingin jujur tapi Arfan sangat takut kehilangan Zuraida.
Bagai makan buah simalakama.
Di tengah pikirannya yang kacau ia kedatangan Edwin. Entah apa yang diinginkannya.
"Ada apa kemari?," tanya Arfan.
"Aku pastikan kamu dan Wilona nggak akan bersama."
Arfan tersenyum sinis.
"Aku tak lagi tertarik pada kekasihmu. Aku sudah beristri dan bahagia."
"Good, jadi nggak ada alasan bagi Wilona kembali padamu. Perempuan itu sangat mencintaiku."
Kini Arfan tersenyum lebar.
"Kamu jaga baik-baik kekasihmu supaya tak berkeliaran ke mana-mana. Kalau perlu bawa pergi kekasihmu dari rumahku."
"Tentu saja tapi sekarang kami memiliki sedikit masalah."
"Itu masalahmu bukan urusanku."
"Baik, secepatnya aku akan membawa Wilona keluar dari rumahmu."
Wilona yang berada di luar ruangan mengepalkan tangannya. Amarahnya memuncak dan ia langsung mengirim CCTV kepada Zuraida.
Bersambung