Galih, seorang remaja SMA 17 tahun yang lugu dan penyendiri karena dianggap aneh memiliki kemampuan indigo, mendadak tersedot ke dalam lubang hitam misterius di tengah kelas bersama teman-temannya. Ia terbangun seorang diri di Hutan Wanasari, sebuah dunia fantasi berlatar era keemasan Majapahit yang dipenuhi ancaman sarang monster dimensi lain (Loka Gaib). Diselamatkan oleh Ki Wira, seorang pendekar sepuh, dan dibawa ke rumah panggungnya, Galih bertemu dengan Sekar, cucu angkat Ki Wira yang cantik, tegas, dan lincah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PLEMIK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petunjuk Ki Wira
Bayang-bayang seringai angkuh Raka masih membekas di benak Galih saat ia dan Sekar melangkah pulang menyusuri jalan setapak menuju rumah panggung, tepat ketika langit mulai memerah menjelang senja. Kata-kata tajam yang tadi dilontarkan di tengah pasar terus berputar di kepalanya, membuat langkahnya terasa lebih berat dari biasanya.
Sesampainya di rumah, mereka duduk di ruang tamu sederhana, cahaya jingga senja menembus celah jendela kayu, menciptakan suasana hangat yang kontras dengan gejolak di dada Galih. Sekar meletakkan keranjang belanjaan di sudut ruangan sebelum akhirnya duduk bersila, wajahnya masih menyisakan sedikit kekesalan dari pertemuan tadi. Aroma bawang dan rempah dari keranjang belanjaan bercampur dengan asap dupa tipis yang selalu dinyalakan Ki Wira setiap sore, memenuhi ruangan dengan suasana yang biasanya menenangkan.
"Naga Selatan itu bukan kelompok biasa," kata Sekar akhirnya, memulai cerita tanpa diminta, seolah butuh menumpahkan sesuatu yang selama ini ia simpan. "Mereka didukung penuh oleh keluarga terpandang di desa ini. Raka sendiri Tingkat 3, begitu juga dua orang tangan kanannya. Ditambah beberapa anggota lain yang kekuatannya tidak main-main."
Galih mendengarkan dengan saksama, duduk di seberang Sekar sambil sesekali mengusap tangannya sendiri yang masih terasa gatal karena menahan amarah tadi siang.
"Mereka menguasai hampir semua misi bagus di Balai Desa," lanjut Sekar, suaranya mulai meninggi sedikit, "sementara pemburu kecil sepertiku cuma kebagian sisa-sisa. Bukan karena mereka lebih berhak, tapi karena tidak ada yang berani menantang kelompok sebesar itu. Bahkan petugas balai desa pun sering memilih menutup mata setiap kali mereka bertindak semena-mena."
"Kenapa kau tidak pernah cerita soal ini sebelumnya?" tanya Galih pelan.
"Tidak penting," jawab Sekar singkat, mengalihkan pandangan. "Aku sudah terbiasa sendirian."
Dari sudut ruangan, Ki Wira yang sedari tadi duduk di kursi kayunya sambil menyesap teh hangat, mendengarkan seluruh percakapan itu dengan senyum bijak yang tidak pernah lepas dari wajahnya. Ia meletakkan cangkirnya perlahan, suara denting kecil memecah keheningan sesaat sebelum ia akhirnya angkat bicara.
"Sudah cukup lama kalian berlatih hanya di halaman belakang," katanya, nada suaranya tenang namun sarat wibawa yang membuat Sekar dan Galih otomatis menoleh penuh perhatian. "Waktunya kalian berhenti bersembunyi di sini."
Sekar mengerutkan kening. "Maksud Kakek?"
"Latihan tanpa pengalaman nyata hanya akan membawa kalian sejauh ini," Ki Wira melanjutkan, menunjuk halaman belakang lewat jendela dengan gerakan dagunya. "Dunia luar tidak akan menunggu kalian siap. Kalian perlu turun langsung ke masyarakat, mendaftarkan diri secara resmi di Balai Desa, dan membentuk kelompok pemburu sendiri."
Galih tersentak mendengarnya, jantungnya berdegup lebih cepat. "Kelompok pemburu? Maksud Ki Wira, seperti... seperti Naga Selatan?"
"Bukan seperti mereka," sahut Ki Wira tegas, meski senyumnya tidak pernah luntur. "Kelompok kalian sendiri. Dengan cara kalian sendiri."
Sekar terdiam sejenak, matanya menerawang seolah sedang menimbang segala kemungkinan yang baru saja disampaikan kakeknya. Namun tidak butuh waktu lama baginya untuk mengangguk mantap, tanpa keraguan sedikit pun terlihat di wajahnya.
"Aku setuju," katanya cepat, suaranya penuh keyakinan. "Sudah waktunya kita berhenti cuma jadi penonton di balai desa."
Galih menatap keduanya bergantian, mulutnya terbuka sedikit namun tidak ada suara yang keluar. Ia hanya bisa terdiam planga-plongo, mencoba mencerna betapa cepatnya keputusan besar ini diambil tanpa sempat ia beri masukan sedikit pun.
"Tu... tunggu dulu," akhirnya Galih berhasil bersuara, meski terdengar gugup. "Aku belum siap. Aku baru bisa menepis serangan Sekar beberapa hari lalu. Bagaimana mungkin aku langsung terjun jadi pemburu monster sungguhan?"
"Tidak ada yang bilang kau harus langsung menghadapi Kalabayu," Ki Wira menjawab dengan nada menenangkan, "kalian akan mulai dari misi paling sederhana. Mencari tanaman obat, mengantar barang, membersihkan hama ladang. Semua orang memulai dari sana, termasuk Sekar dulu."
Sekar mendengus pelan mendengar itu, seolah tidak suka diingatkan pada masa-masa awalnya yang canggung, namun tidak membantah.
Galih meremas ujung pakaiannya sendiri, jari-jarinya gemetar halus menahan gejolak di dadanya. Bayangan Tuyakra yang mengepungnya di hutan masih segar dalam ingatan, bayangan Sekar yang menghajarnya tanpa ampun selama tiga bulan, semuanya membuat perutnya terasa mual memikirkan bahaya sesungguhnya yang menanti di luar sana. Dunia luar sana bukan lagi sekadar cerita yang diceritakan Ki Wira di meja makan, melainkan sesuatu yang harus ia hadapi dengan tubuhnya sendiri.
"Kemampuanku masih jauh dari cukup," gumamnya lirih, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada dua orang di hadapannya.
Ki Wira menatap Galih lembut, seolah bisa membaca kecemasan yang bergejolak di balik wajah pucat pemuda itu. "Tidak ada seorang pun yang pernah benar-benar merasa cukup siap, Nak. Kesiapan itu datang seiring jalan, bukan sebelum kau melangkah."
Galih tidak langsung menjawab, hanya menunduk menatap kedua tangannya yang masih meremas kain celana. Ia teringat lagi tatapan meremehkan Raka di pasar tadi siang, kata-kata yang menyebutnya cupu dan beban. Sebagian dirinya ingin membuktikan bahwa penilaian itu salah, namun bagian lain masih diselimuti keraguan yang terlalu besar untuk diabaikan begitu saja.
Sekar memperhatikan kegelisahan Galih, namun kali ini tidak melontarkan sindiran tajam seperti biasanya. Ia hanya diam, membiarkan pemuda itu bergulat dengan pikirannya sendiri sejenak sebelum akhirnya berkata pelan, "Kau tidak akan sendirian. Aku akan ada di sana."
Kalimat sederhana itu entah kenapa terasa cukup untuk meredakan sebagian kecil ketakutan di dada Galih, meski jauh dari cukup untuk menghapusnya sepenuhnya.
Malam turun perlahan, membawa keheningan khas Desa Wanasari yang selalu terasa damai setelah hiruk-pikuk siang hari. Suara jangkrik bersahutan di kejauhan, angin malam berembus lembut menyusup lewat celah dinding kayu. Galih duduk sendirian di kamarnya, menatap langit-langit bambu sambil membiarkan pikirannya melayang memikirkan langkah besar yang akan ia ambil keesokan hari. Dari luar, samar terdengar suara Sekar sedang mengasah parangnya di beranda, ritme gesekan batu asah yang teratur seperti detak jam yang menghitung mundur waktu tersisa sebelum semuanya benar-benar dimulai.
Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih belum sepenuhnya stabil. Pikirannya melayang membayangkan wajah petugas Balai Desa, para pemburu senior yang mungkin akan menatapnya dengan tatapan meremehkan seperti Raka, dan entah bahaya apa lagi yang menanti di balik pintu gerbang desa. Namun di sela semua ketakutan itu, terselip juga secercah keinginan kecil untuk membuktikan bahwa dirinya bukan lagi pemuda lemah yang hanya bisa terjatuh berulang kali di halaman belakang. Entah siap atau tidak, panggung baru sudah menantinya begitu matahari terbit esok pagi, dan tidak ada lagi jalan untuk mundur dari keputusan yang baru saja diambil malam ini.