NovelToon NovelToon
DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

DIA YANG DATANG BERSAMA HUJAN

Status: tamat
Genre:Teen / Cintapertama / Mengubah Takdir / Tamat
Popularitas:722
Nilai: 5
Nama Author: AME author

menceritakan Akira Riyuma seseorang siswa SMA yang pindah sekolah dan pergi dari rumahnya karena rumah lamanya sudah tidak sehangat dulu.
Dia anak pendiam. Dunianya yang terasa sepi.
Sampai dia bertemu Riyumi Asuma.
Gadis yang ceria dan suaranya bikin tenang, tapi entah kenapa... membuat hari-hari Akira jadi ramai.
Di antara hujan, tawa, dan tatapan yang tidak pernah Akira mengerti,
muncul satu pertanyaan di kepalanya:
apa arti sebuah keluarga,rasa yang belum pernah dia rasakan.

akira yang sudah banyak kehilangan seseorang yang berharga di hiduupnya.

apakah akira bisa menemukan kebahagiaan itu ?
apakah akira juga bisa berubah menjadi yang lebih baik dengan bantuan riyumi asuma.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AME author, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SENYUMAN 2 IBU DAN KAFE KOPI

Beberapa hari setelah sesi pemotretan yang berjalan lancar, Akira dan Yuki mengundang Mama Akira dan Ibu Yuki untuk makan siang bersama di sebuah restoran Jepang berteman taman yang tenang.

Di atas meja yang dipenuhi hidangan hangat, Akira meletakkan sebuah amplop cokelat kecil di tengah-tengah kedua ibu tersebut.

"Apa ini, Akira?" tanya Mama Akira penasaran, kacamata bacanya sudah terpasang rapi.

Ibu Yuki ikut mendekat, matanya membelalak penasaran. "Oleh-oleh dari Kyoto kemarin kah?"

Yuki hanya tersenyum merona, menggenggam erat jemari Akira di bawah meja. Dengan tenang, Akira membuka amplop tersebut dan mengeluarkan lembaran foto hitam putih berukuran kecil—foto hasil USG pertama mereka.

"Mama, Ibu... perkenalkan, ini anggota keluarga baru kita," ucap Akira dengan suara dalam yang sarat akan rasa bangga dan haru.

Kedua wanita paruh baya itu seketika membeku. Mama Akira dengan cepat mengambil foto tersebut, jemarinya bergetar pelan saat menatap titik kecil di tengah gambar. Ibu Yuki menutup mulutnya dengan kedua tangan, air mata bahagia langsung menggenang di sudut matanya.

"A-Akira... Yuki... ini..." suara Mama Akira terhenti, tercekik oleh keharuan yang luar biasa.

"Yuki hamil, Bu... sudah memasuki usia tiga bulan," cicit Yuki pelan dengan senyuman melebar.

"Ya Tuhan! Cucu pertama kita!" seru Ibu Yuki yang tak sanggup lagi menahan kebahagiaannya. Beliau langsung berdiri dan memeluk Yuki dengan sangat erat, mengecupi pipi putri cantiknya bertubi-tubi. "Terima kasih, Sayang... Terima kasih sudah memberi Ibu kabar seluar biasa ini!"

Mama Akira ikut berdiri, mengusap air mata bahagianya dengan sapu tangan lalu memeluk Akira dan Yuki bergantian. "Mama benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi. Akira, jaga istri dan anakmu baik-baik! Jangan biarkan Yuki kelelahan sedikit pun!"

"Pasti, Ma. Akira akan jaga mereka dengan taruhan nyawa Akira sendiri," janji sang Profesor muda dengan tegas dan penuh kesungguhan, membuat kedua ibu tersenyum lega penuh rasa syukur.

Malam harinya, setelah makan siang yang hangat bersama keluarga, Akira dan Yuki melanjutkan perjalanan untuk membagikan kabar gembira ini kepada dua sahabat terbaik mereka: Yasiro dan Nana.

Mobil Akira berhenti di depan kafe kopi milik Yasiro dan Nana. Papan petunjuk di pintu depan sudah dibalik menjadi Closed, namun lampu di dalam masih menyala terang.

Akira mendorong pintu kaca kafe hingga genta kecil di atasnya berbunyi: Tring...

Nana, yang sedang mengelap meja bar dengan celemek hitamnya, langsung mendongak. Wajah cantiknya seketika berbinar penuh kejutan. Dari arah dapur belakang, Yasiro muncul sambil membawa wadah biji kopi yang baru disangrai.

"Wah! Lihat siapa yang datang malam-malam begini!" seru Yasiro dengan tawa khasnya yang renyah. Ia meletakkan wadahnya dan berjalan menghampiri Akira, menepuk bahu sahabatnya itu dengan akrab. "Profesor kita akhirnya punya waktu luang juga!"

"Yuki! Aku kangen banget!" Nana langsung mendekat hendak memeluk Yuki dengan erat seperti biasa, namun Akira dengan refleks cepat namun lembut sedikit menahan bahu Nana.

"Pelan-pelan, Nana," potong Akira tenang, namun dengan tatapan yang sangat serius.

Nana tertegun, berkedip bingung menatap Akira lalu beralih menatap Yuki. Yasiro yang melihat tingkah protektif Akira yang tak biasa itu langsung menaikkan sebelah alisnya, merengut curiga.

"Hei, Akira... Kenapa kamu posesif sekali? Nana kan cuma mau memeluk istrimu, bukan mau menculiknya," goda Yasiro sambil terkekeh.

Yuki tidak tahan lagi menahan tawanya melihat wajah kebingungan kedua sahabat mereka. Ia menarik napas panjang, lalu merogoh tas tangannya dan mengeluarkan foto USG terbaru yang baru saja mereka ambil dari rumah sakit.

Yuki menyerahkan foto itu ke tangan Nana. "Ini untuk kalian berdua."

Nana menerima foto itu dengan dahi berkerut penasaran. Yasiro ikut mendekatkan kepalanya, mengintip dari balik bahu istrinya. Saat lembaran foto hitam putih berukuran kecil itu ditarik keluar, kesunyian seketika menyelimuti kafe kopi tersebut.

Mata Nana membelalak lebar. Tangannya mulai bergetar pelan saat membaca tulisan di sudut foto serta gambar calon bayi yang tertera di sana.

"Yu... Yuki..." suara Nana mencicit, menatap Yuki dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Ini... ini beneran?"

Yasiro yang biasanya banyak bicara kini membeku sepenuhnya. Sang barista handal itu menatap foto USG, lalu menatap Akira dengan mulut sedikit menganga. "Akira... kamu... kalian..."

"Yuki sedang hamil," potong Akira dengan senyuman bangga yang sangat tulus terpancar di wajah tampannya.

"YA AMPUN, YUKI!"

Nana berteriak histeris bahagia! Ia melupakan niat memeluk secara kasar dan menggantinya dengan memeluk Yuki dengan sangat pelan dan hati-hati, menangis haru di bahu sahabatnya itu. "Selamat ya, Yuki! Aku senang banget! Ya Tuhan, kamu bakal jadi ibu!"

Yasiro tertawa lepas, matanya ikut basah oleh rasa haru yang membuncah. Tanpa ragu, ia langsung menarik Akira ke dalam pelukan hangat khas laki-laki, menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu dengan keras.

"Selamat, Bro! Kamu bakal jadi ayah!" seru Yasiro penuh kebanggaan. "Gila, Profesor dingin kita ini sebentar lagi bakal sibuk menimang bayi!"

Saat Nana sedang sibuk menata cangkir teh herbal hangat di atas meja, suara langkah kaki kecil berlari terdengar meriah dari lantai atas rumah tinggal mereka yang menyatu dengan kafe.

"Mama! Papa!"

Seorang anak laki-laki berusia lima tahun dengan pipi menggemaskan dan mata berbinar turun tangga dengan riang. Ia mengenakan piyama bergambar dinosaurus, memeluk erat sebuah boneka beruang kesayangannya. Anak itu adalah Ren, putra semata penata suasana di keluarga kecil Yasiro dan Nana.

"Ren? Kok belum tidur, Sayang?" tanya Nana lembut, berlutut menyambut anaknya yang sudah mulai mengantuk itu.

"Ren dengar suara Tante Yuki sama Om Akira..." cicit anak kecil itu pelan sambil mengucek matanya yang sipit.

Begitu melihat sosok mungil itu, mata Yuki seketika berbinar terang. "Ren-chan!" panggil Yuki hangat, melambaikan tangannya dari sofa empuk.

Ren yang mengenali Yuki dan Akira langsung berlari kecil menghampiri mereka. Dengan penuh kehati-hatian, Akira berlutut sedikit lalu mengangkat tubuh Ren dengan mudah ke dalam pangkuannya, memangku anak sahabatnya itu dengan sangat luwes—sebuah pemandangan yang membuat Yuki menatap suaminya dengan tatapan penuh rasa kagum dan kehangatan.

"Om Akira... Tante Yuki kenapa menangis?" tanya Ren polos sambil menunjuk mata Nana dan Yuki yang masih sedikit sembab oleh air mata bahagia.

Yasiro tertawa renyah, berjalan mendekat lalu mengacak rambut putra kecilnya yang menggemaskan itu. "Tante Yuki menangis bahagia, Ren. Soalnya sebentar lagi, Ren bakal punya adik baru buat diajak bermain!"

Mata bulat Ren seketika membelalak lebar, mengalihkan pandangannya dari Papanya ke arah perut Yuki. "Adik bayi? Di dalam perut Tante Yuki ada adik bayi?"

Yuki mengangguk manis sambil tersenyum lembut, meraih tangan mungil Ren dan meletakkannya perlahan di atas perutnya. "Iya, Ren. Di dalam sini ada adik bayi kecil. Nanti kalau sudah lahir, Ren mau kan bantu Tante menjaga dan mengajarinya bermain?"

Anak berusia lima tahun itu mengangguk semangat dengan wajah yang sangat serius. "Mau! Ren kan sudah besar, Ren bakal jadi kakak yang hebat dan menjaga adik bayi dari monster!"

Deklarasi polos dari Ren seketika meledakkan tawa gembira di seluruh ruangan kafe. Melihat betapa luwes dan penuh kasih sayangnya Akira saat merawat dan mengajak Ren mengobrol malam itu, keyakinan di dalam hati Yuki kian mengakar kuat—Akira akan menjadi seorang ayah yang luar biasa bagi buah hati mereka.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!