Analepsis : Pertemuan yang mendatangkan perpisahan
Ini bukan soal mempertaruhkan waktu di usia muda tuk masa depan. Ini hanya tentang siapapun yang berusaha untuk bertahan hidup jauh lebih baik lagi.
Jika kita bisa sedikit menghargai kehadiran orang lain di hidup kita. Mungkin batin tidak akan merasa perih untuk merasakan penyesalan, karena sulit mempertahankannya tuk tetap menunggu esok hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aytysz_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Analepsis ^ 21
Jadwal untuk artis pendatang baru memanglah tidak begitu padat. Hingga itu memudahkan Yudha untuk kembali ke perusahaan setelah mengantarkan Malla sampai di rumahnya. Walaupun sebenarnya Yudha bisa langsung pulang kerumah, merebahkan tubuhnya. Akan tetapi entah kenapa, Yudha ingin sekali ke perusahaan.
Tersenyum hangat untuk membalas sapaan dari beberapa karyawan yang masih lalang di perusahaan, dengan langkah kaki berjalan kearah anak tangga. Tapi saat kedua bola mata hitam pekatnya tidak sengaja melihat seorang insan yang begitu fokus pada layar handphonenya itu, membuat Yudha membuang napas berat.
"Sebenarnya apa yang dia lihat?" Tanya Yudha pada dirinya sendiri. Sebelum meringis pelas, saat kening wanita itu tidak sengaja mencium pilar yang tidak salah sama sekali.
"Itu pasti sangat sakit." Lagi, Yudha bermonolog. Tanpa mengalihkan pandangannya dari wanita itu, yang mengusap keningnya penuh kesakitan.
Perlahan tangan itu Yumna turunkan saat melihat Yudha. Tersenyum canggung penuh malu. Yumna yakin, pria itu pasti melihat tingkah bodohnya. "Selamat sore?" Sapaan yang begitu saja keluar dari mulut Yumna.
"Sore__" kepala Yudha mengangguk sebentar. "Apa jidat mu baik-baik saja?"
"Kau melihatnya?" Tidak begitu cepat, Yumna mencetuskannya. Dengan posisi tubuh yang refleks mendekat kearah Yudha.
"Sekilas." Tanggap Yudha yang lagi dan lagi mengangguk. Wajah Yudha terlihat gugup, secepat mungkin Yudha kembali melanjutkan langkah kakinya yang sempat terhenti. Tanpa peduli akan Yumna mengikutinya, menjajarkan kaki jenjangnya itu pada milik Yudha.
"Itu sama saja. Kau melihat ku menabrak pilar itu." Bukannya malu Yumna malah terkekeh geli. Mengingat kejadian tadi yang benar-benar tidak diinginkan Yumna.
"Kau harus menyimpan handphone mu saat berjalan. Karena itu sangat penting." Rendah Yudha, terus melangkah tanpa menoleh sedikit pun
"Ini baru kali pertamanya aku melihat handphone saat berjalan." Sangat pelan, hingga Yudha tidak bisa mendengar apa yang dikatakan Yumna.
"Memangnya apa yang kau lihat?" Sebenarnya Yudha tidak begitu penasaran, Yudha hanya ingin tahu. Dan hanya ingin mengobrol lebih lama dengan Yumna.
"Seseorang yang senang sekali mengusik perusahaan entertainment. Apalagi perusahaan ini." Ucap Yumna yang tersenyum, sebentar melihat Yudha dari samping.
Yudha diam menelan ludahnya. Hal itu membuat kening Yumna mengerut samar. Bukannya berharap ingin mendapat tanggapan dari Yudha. Hanya saja, hal itu membuat Yumna merasa ada hal yang Yudha sembunyikan. Tapi sayangnya, Yumna tidak bisa langsung menuduhnya begitu saja.
Perlahan Yumna menghentikan langkah kakinya tepat di depan ruang manager. Menatap Yudha yang kini perlahan melihat ke arah Yumna dengan senyumannya. "Kau tidak perlu mencari tahu siapa pengusik itu. Karena aku tidak mau melihat mu kecewa untuk kesekian kalinya."
"Apa?" Gumam Yumna begitu spontan. Tidak mengerti dengan apa yang di katakan Yudha.
"Aku harus kembali bekerja. Dan fokuslah pada pekerjaan mu saja. Karena rasa ingin tahu itu sangat mengerikan." Sekilas Yudha mengangguk, sebelum enyah dari hadapan Yumna. Diam melihat punggung Yudha yang masih bisa dijangkau oleh pandangan Yumna.
"Berhentilah menatapnya. Itu akan membuat banyak mata membicarakan sikap baik mu yang menjadi buruk." Rendah Vallen yang entah sejak kapan berdiri di samping Yumna.
"Kenapa banyak hal yang tidak aku ketahui?" Tanya Yumna, kini mulai berjalan kearah ruang kerjanya yang diikuti oleh Vallen.
"Itu lebih baik, daripada kau mengetahui banyak hal yang akan membuat mu sakit hati." Vallen memberi tanggapan. Kini duduk di kursi kerjanya.
"Kau sudah menyelesaikan pekerjaan mu?" Lagi, Yumna memberi pertanyaan untuk Vallen.
"Sangat sulit membangun kerja sama dengan satu produk menggunakan artis baru. Apalagi, postingan yang baru saja akun itu rilis. Benar-benar membuat jalan Malla akan sangat sulit." Napas berat yang Vallen hembuskan membuat Yumna melihat layar handphonnnya yang gelap, di atas meja kerjanya.
Kini Yumna menoleh kearah ruang manager, tepat di mana Tama berada. Yumna ingin sekali memberitahu Tama. Tapi entah kenapa, keraguan itu muncul secara tiba-tiba dibenak Yumna.
Pandangan Yumna kembali pada layar komputernya, melihat satu postingan yang beberapa menit lalu di upload oleh akun anonim. Rasanya Yumna ingin memberi satu paragraf klarifikasi dan membalas postingan itu. Tapi kepala timnya sudah memperingati Yumna untuk tidak meresponsnya lebih dulu. Karena Sella ingin melihat pemilik akun itu berulah sampai dimana.
Dan tanpa Yumna sadari sepasang mata milik Yudha yang memperhatikan gerak-gerik Yumna hanya tersenyum kecil. Sebelum mengalihkan perhatiannya untuk mendengar ocehan dari salah satu rekan kerjanya. Elvarrio.
Pria itu tengah memberi racun kepada Tama agar perkataan Elvarriol dapat didengar dan di percaya tanpa adanya keraguan. "Kita harus memberinya penawaran lebih dulu sebelum kontrak eksklusif benar-benar berakhir dengan perusahaannya. Agar kita tidak kalah dengan perusahaan lainnya."
"Seharusnya kau mengatakannya langsung pada Tirtha. Karena dia yang akan menyetujuinya. Dan dia tidak sering muncul di layar televisi. Jadi kita juga tidak bisa menjamin dia bisa membantu perusahaan untuk lebih maju." Protes Tama kepada Elvarrio. Karena Tama sendiri pun juga tidak ingin menerima kerugian yang dibawa oleh Elvarrio. Karena pendatang baru di perusahaan pun juga belum mendatangkan keberuntungan.
"Jikapun dia jarang sekali tampil dilayar televisi. Tapi dia membawa penghasilan yang cukup besar di perusahaannya." Yudha mencetuskan perkataannya. Dan bukan berarti Yudha berada di pihak Elvarrio. Yudha hanya mengakui betapa kuatnya power artis yang diincarElvarriol saat ini.
Hal itu membuat Elvarriol dengan riang menjentikan jemarinya. "Benar apa yang Yudha katakan. Apalagi, dia berteman baik dengan Lingga. Tidak mungkin jika dia menolak tawaran dari kita."
"Teman baik belum tentu mau bekerja di tempat yang sama." Timpal Yudha yang langsung membuat harapan Elvarrio pupus. Dan Tama tertawa kecil melihat kedua rekan kerja itu.
Sebenarnya Yudha begitu malas menemui orang itu. Tapi karena satu nama yang begitu Yudha kenak, membuat Yudha mau tidak mau melangkah kearah dimana parkiran berada. Orang itu meminta Yudha datang ke tempat di mana tidak banyak orang.
Masuk ke dalam mobil hitam pekat, yang langsung mendapati seseorang dengan tampang datarnya. Tidak membuat Yudha merasa diancam. "Apa yang ingin kau tanyakan padaku?" Tanpa adanya basa-basi, Yudha mengatakannya. Karena Yudha tidak mau ada satu orang saja yang melihatnya bertemu secara diam-diam dengan pria di sampingnya saat ini.
"Aku hanya menagih janji ku." Sorot mata tajam dari sang pria membuat Yudha tersenyum miris.
"Janji?" Yudha menelan ludah getirnya. Membalas tatapan itu tanpa takut sama sekali. "Sepertinya aku tidak pernah memberi mu janji."
Spontan pria itu tersenyum hambar. Melihat kedepan, sebelum membalas tatapan Yudha kembali dengan sorot mata yang kebun tajam dari tadi. "Kau ingin mengingkarinya?"
"Kau meminta ku untuk merayu wanita itu agar tidak melakukan hal buruk pada perusahaan mu. Tapi apa yang aku dapat sekarang, menjadi laki-laki murahan yang harus menerima setiap perkataannya." Imbuhnya, terselip penyesalan yang amat dalam tapi pria itu tidak menunjukkannya lewat ekspresi wajah. Karena dia tidak mau semakin menjatuhkan harga dirinya di depan Yudha.
"Tapi kau sudah menerima uang dariku. Bukankah itu sudah impas? Dan aku tidak meminta mu untuk terus mengikuti kemauannya." Senyum devil yang jarang sekali yudha tunjukkan, kini terlukis begitu jelas menghiasi wajahnya.