AL harus pergi dari rumahnya karena di usir oleh orangtuanya, mereka lebih menyayangi adiknya ketimbang dirinya.
Meskipun begitu, ia tatap bangkit untuk bertahan hidup. Takdir berkata lain, ia mendapatkan sebuah sistem yang mengubah hidupnya dan membuat orang tuanya menyesal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon less22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
34
Deno tertawa keras, suara tawa yang dipaksakan untuk menutupi rasa gelisah yang mendadak menyeruak di dadanya. "Lucu banget! Kamu pikir kamu siapa, huh? Dukun? Atau kamu kira gertakan murahan begini bakal bikin aku takut?"
"Satu," gumam Al santai, menurunkan satu jarinya.
"Emangnya apa yang bisa kamu lakukan?" tanya Deno, nadanya mulai terdengar ragu meski berusaha tetap menantang. "Sekolah mu tergantung ayahku! Jadi jangan mimpi bisa..."
"Dua," potong Al tanpa mengalihkan pandangannya.
"Al! Jangan main-main ya!" bentak Deno, mukanya mulai memerah. "Aku bisa bikin kamu menyesal seumur hidup kalau..."
"Tiga."
Al mengangkat ponselnya yang berlayar gelap, lalu mengetuk layarnya sekali. Seketika, berdenting puluhan notifikasi secara bersamaan dari ponsel orang-orang di sekitar lorong tersebut.
Berita tentang ayah Deno sebagai komite sekolah yang melakukan korupsi uang pembangunan dan dana beasiswa sekolah langsung tersebar masif di web berita nasional dan seluruh platform media sosial, lengkap dengan dokumen transaksi keuangan yang transparan.
Ting!
Layar ponsel Al menyala, menampilkan satu pesan masuk berlatar enkripsi khusus:
[Bukti sudah disebarluaskan hingga satu negara.]
Suasana lorong langsung pecah oleh bisik-bisik histeris. Ponsel Deno di dalam saku celananya bergetar tanpa henti, panggilan masuk dari ibunya, ayahnya, dan nomor-nomor tak dikenal terus berdatangan bertubi-tubi.
Wajah Deno seketika pucat pasi, seluruh keberaniannya hilang saat membaca judul berita utama yang terpampang di layar ponsel teman-temannya.
"N-nggak... Ini nggak mungkin! Ini pasti rekayasa!" pekik Deno dengan suara bergetar, merampas ponselnya sendiri dengan tangan yang gemetar hebat. "Kamu... apa yang udah kamu lakukan pada keluarga kami, Al?!"
Al melangkah maju satu tapak, memangkas jarak di antara mereka.
Ia memasukkan ponselnya kembali ke saku jas seragamnya, lalu menatap Deno dari atas ke bawah dengan tatapan penuh dominasi.
"Deno, ini bukan salahku ya, tapi kau yang menantangku untuk menyebar aib orang tuamu. Tapi salahkan dirimu yang tidak tahu posisi. Lagipula, aku hanya membantumu mempercepat sesuatu yang sudah seharusnya terjadi," kata Al tersenyum miring, nada suaranya begitu tenang namun menyengat dingin.
Deno terduduk di lantai.
Ponselnya jatuh terlepas dari genggamannya, sementara Al berbalik arah dan melangkah pergi begitu saja, meninggalkan kerumunan yang kini menatap Deno dengan pandangan penuh cibiran.
Al tersenyum sinis lalu meninggalkan Deno yang sedang terduduk ketakutan dan panik.
Di belakangnya, Deno masih terduduk lemas di lantai. Ponselnya terus berdering tanpa henti
Suara nada dering itu terdengar terus menerus.
"Deno! Telepon dari ayahmu tuh, angkat dong!" cetus salah satu siswa dari kerumunan, diiringi gelak tawa sinis dari siswa lainnya yang selama ini menaruh dendam pada kesombongan Deno.
"Ternyata uang fasilitas laboratorium yang rusak bertahun-tahun dipakai beli mobil mewah ayahnya..." gumam yang lain sambil terus meneliti dokumen transkrip yang tersebar di media sosial.
Dengan tangan gemetar hebat, Deno meraih ponselnya. Suara di ujung telepon langsung meledak begitu panggilan terhubung, bahkan tanpa perlu di-speaker.
"Deno! Kamu di mana?! Rumah kita udah dikepung wartawan sama petugas KPK! Kamu bikin masalah apa di sekolah sampai berkas rahasia Ayah bisa bocor ke publik dalam hitungan detik?!" histeris suara ayahnya dari seberang sana.
"A-ayah... aku..." Suara Deno tercekat di tenggorokan. Matanya yang memerah menatap punggung Al yang kian menjauh di ujung lorong. "Dia... Al yang lakukan ini semua, Yah..."
"Anak itu memang kurang ajar! Pulang sekarang juga!" Panggilan terputus sepihak.
Sementara itu, Al menghentikan langkahnya di depan jendela koridor lantai dua yang menghadap langsung ke gerbang utama sekolah.
Dari sana, ia bisa melihat beberapa mobil hitam berspesifikasi tinggi milik pihak berwenang dan puluhan kru media sudah mulai memadati area luar pagar.
Seseorang mendekati Al dari samping. Itu adalah Rendy, ketua OSIS.
"Kamu terlalu ekstrem, Al," puji Rendy setengah berbisik sambil bersandar pada pembatas jendela. "Dalam hitungan tiga menit, reputasi keluarga Deno hancur total, dan lembaga hukum langsung turun tangan."
Al tidak menoleh. Ia hanya memperhatikan kerumunan wartawan di bawah sana dengan tatapan datar tanpa kepuasan berlebih, sebab baginya, ini hanyalah tugas rutin yang terlalu mudah.
"Aku sudah memberinya kesempatan untuk diam," sahut Al dingin. "Dia memilih untuk memamerkan kekuasaan palsunya di depanku. Orang seperti Deno perlu diingatkan bahwa di atas langit, masih ada langit yang tak tersentuh."
Rendy terkekeh pelan, lalu merogoh sakunya dan menyodorkan sebuah map dokumen berwarna hitam emas kepada Al. "Lalu, bagaimana dengan langkah selanjutnya? Kepala sekolah baru saja memanggilmu ke ruangannya. Beliau sepertinya panik setengah mati karena takut nama sekolah ikut tercoreng."
Al menerima map tersebut, mengulas senyum tipis yang penuh teka-teki.
"Biarkan dia panik sebentar," kata Al santai. "Lagi pula, setelah hari ini, posisi komite sekolah yang kosong itu butuh pemilik baru..."