Selama lima tahun Diyah Melati percaya bahwa cintanya akan berakhir di pelaminan. Namun, ketika sang kekasih pulang dari perantauan, harapan yang selama ini dia rajut justru hancur dalam sekejap. Alih-alih membawa cincin lamaran, pria itu justru memilih mengakhiri hubungan.
Di usianya yang telah menginjak kepala tiga, Diyah tak hanya harus menanggung patah hati, tetapi juga menghadapi cibiran sebagai "Perawan Tua" yang terus menghantuinya. Meski terluka, Diyah bertekad bangkit dan menyembuhkan hatinya tanpa bergantung pada siapa pun.
Namun, saat Diyah mulai menata kembali hidupnya, sebuah lamaran tak terduga datang dari seorang juragan terpandang di desanya. Tawaran perjodohan itu sontak mengusik ketenangan yang baru saja ia bangun. Di balik niat baik tersebut, tersimpan sosok yang sama sekali tak pernah ia bayangkan.
Akankah Diyah membuka kembali pintu hatinya dan menerima perjodohan itu? Ataukah luka masa lalu membuatnya memilih berjalan sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ntaamelia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6. Pengikat
Di rumah besar milik Juragan Marta, suasana jauh lebih sibuk dari biasanya. Para pekerja rumah hulu-hilir menyiapkan barang-barang yang akan dibawa untuk melamar Diyah secara resmi. Beberapa kotak hantaran tersusun rapi di ruang tamu dengan berbagai macam isi.
Buah-buahan pilihan.
Kain batik.
Perlengkapan ibadah.
Set make up dan perlengkapan perawatan kulit.
Tas dan sepatu.
Aneka kue tradisional.
Serta sebuah kotak beludru berisi satu set perhiasan.
Untuk calon menantu pertama keluarga Kusuma, tidak ada yang sederhana, semuanya serba mewah.
"Kurang satu lagi," ujar Laksmi, yang terpaksa ikut mengurus semuanya.
Mau bagaimana lagi, walaupun Diyah bukanlah pilihannya, dia tetap harus berusaha terlihat baik di depan Juragan Marta dan Biyakta.
"Surya, bunga melatinya sudah datang?" tanyanya.
"Sudah, Bu," jawab Surya dengan cepat. Dialah yang diminta untuk jadi penanggung jawab utama.
"Lalu buah?"
"Lengkap."
"Hantaran?"
"Sudah diperiksa tiga kali."
Laksmi tersenyum puas.
"Kalau begitu semuanya sudah siap," pungkasnya seraya menatap Juragan Marta yang sedari tadi duduk memperhatikan.
Pria paruh baya itu pun mengangguk.
"Hari ini kita datang dengan niat baik. Semoga saja dapat jawaban yang baik pula."
'Yah, mana mungkin juga wanita itu menolak. Secara keluarga Kusuma kan sangat terpandang di desa. Siapa yang tidak mau hidup enak secara instan?' batin Laksmi, yang kemudian menoleh kepada keponakannya yang duduk tenang di sofa.
"Biyakta," panggilnya.
"Iya, Bude," jawab Biyakta seraya mengangkat kepala. Sedari tadi dia juga tak banyak bergerak, hanya melihat para pekerja yang sibuk.
"Kamu gugup?" tanya Laksmi basa-basi.
"Sedikit."
Ada senyum kecil di sudut bibir pria itu. Saat ini dia memang belum merasakan apa-apa, tapi entah nanti saat di rumah Diyah.
"Kalau ternyata nanti tidak cocok bagaimana?"
Yang Laksmi tahu Diyah adalah pilihan Juragan Marta, otomatis Biyakta belum tentu menyukainya.
Biyakta mengangkat bahu.
"Kalau belum dicoba kita tidak akan tahu. Toh pilihan Bapak juga tidak sembarangan."
Juragan Marta tertawa. Sementara Laksmi menyunggingkan senyum, senyum yang sangat dipaksakan.
'Tidak sembarangan katanya? Apa yang dimiliki wanita miskin selain sebuah topeng?'
"Ini baru putraku." Juragan Marta menepuk bahu putranya dengan bangga. "Semoga gadis ini memang tepat untukmu, Nak."
Hingga akhirnya setelah sholat magrib, dua mobil yang beriringan tiba di rumah keluarga Diyah. Karena halamannya tak begitu luas, mobil tersebut hanya bisa parkir di sisi jalan. Seketika suasana sekitar langsung ramai, beberapa tetangga keluar rumah untuk melihat siapa yang datang. Dan ada juga yang hanya mengintip dari jendela karena penasaran.
"Juragan Marta benar-benar datang."
"Iya. Diyah akhirnya dilamar."
Malam ini Diyah mengenakan gamis sederhana bekas lebaran berwarna krem dengan jilbab senada. Dia tak berdandan berlebihan, tapi wajahnya yang oriental tetap terlihat cantik.
Berulang kali Diyah meneguk ludah, bahkan kedua tangannya terasa dingin karena gugup.
"Nanti jangan lupa senyum, sapa calon mertua dan calon suamimu dengan baik, Diyah," ucap Nuni yang menemani Diyah di dalam kamar bersama Sarmila.
Diyah mengangguk pelan. "Iya, Bu."
"Iya jangan sampai kelihatan sombong! Karena seharusnya kamu bersyukur, Kak, ada yang mau menikahi gadis berumur sepertimu," timpal Sarmila yang suasana hatinya mendadak buruk. Nuni langsung membekap mulut putrinya karena sudah bicara yang tidak baik.
"Do'akan saja Kakakmu!" tandasnya dengan mata melotot.
Tak lama kemudian terdengar salam dari depan rumah.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Juragan Marta memasuki rumah bersama Laksmi, Surya, Januar dan beberapa anggota keluarga lainnya.
Sementara di belakang mereka sosok pria bertubuh tinggi dengan kemeja putih lengan panjang tampak berjalan tenang.
Wajahnya tegas, tapi tatapannya lembut, dialah Biyakta.
Di dalam rumah sederhana itu, keluarga Diyah langsung menyambut dengan hangat. Jaya sempat tertegun, tak menyangka kalau dia akan berbesan dengan Juragan Marta.
"Silahkan duduk, Juragan, maaf jika tempatnya kurang nyaman," ujar Jaya mempersilahkan.
"Tidak perlu begitu, Jaya, rumah tetaplah tempat nyaman bagi penghuninya. Ini sudah lebih dari cukup," jawab Juragan Marta, rendah hati.
Bersamaan dengan itu Diyah keluar dari kamarnya. Dan itulah pertama kalinya Diyah melihat Biyakta Kusuma, calon suaminya.
Deg!
Jantung Diyah mendadak tak karuan saat Biyakta membalas tatapannya. Waktu seakan melambat.
Tak ada kata-kata. Hanya sepasang mata yang saling menatap dalam diam.
Biyakta sempat terpaku.
Gadis di hadapannya benar-benar sama persis yang ada di dalam foto.
Tidak memakai riasan mencolok, tidak mengenakan perhiasan berlebihan. Namun, ada sesuatu dalam sorot matanya yang lembut dan menenangkan.
Entah kenapa hati Biyakta terasa bergetar.
"Jadi, ini Diyah?" ucap Juragan Marta yang memutus tatapan mereka dan mengembalikan suasana. Diyah buru-buru menundukkan kepala karena merasa tidak enak diperhatikan.
"Betul, Juragan, ini putri kedua saya," jawab Jaya dengan bangga. Di tempat duduknya Biyakta manggut-manggut.
"Silakan duduk, Nak," ujar Laksmi sambil tersenyum hangat.
"Terima kasih, Bude," jawab Diyah malu-malu.
Suasana kemudian dipenuhi percakapan para orang tua. Namun, tanpa menunggu lama Juragan Marta langsung menyampaikan maksud kedatangannya dengan penuh wibawa.
"Pak Jaya, Ibu Nuni, kami datang ke sini bukan membawa kemewahan."
Beliau menatap keluarga Diyah satu persatu.
"Tapi kami datang membawa harapan dan niat baik agar dua keluarga ini bisa dipersatukan melalui ikatan pernikahan antara Biyakta dengan putri Pak Jaya, yaitu Diyah."
Ayah Diyah mengangguk-angguk. Meski keputusan ada padanya, tetapi dia tetap menghormati jawaban putrinya, jadi Jaya menyerahkan pada Diyah.
"Terima kasih kepada Juragan Marta dan seluruh keluarga karena sudah datang, serta menyampaikan niat baik ini dengan sungguh-sungguh. Tapi untuk jawaban pastinya saya serahkan pada Diyah, karena Diyahlah yang akan menjalaninya, bukan saya," papar Jaya sambil melirik putrinya yang sedari tadi lebih banyak diam.
"Bagaimana, Nak?" tanya Juragan Marta, menatap langsung pada Diyah.
Diyah langsung terlihat kikuk, karena semua mata tertuju ke arahnya, termasuk tatapan milik Biyakta.
"Eum ...." Diyah tersenyum salah tingkah, pipinya sampai terlihat memerah meski tanpa blush-on.
"Biasanya kalau malu-malu berarti mau," ceplos salah satu anggota keluarga Juragan Marta yang membuat suasana menjadi pecah.
Bahkan Biyakta jadi ikut tersenyum. Dan Diyah merasa ingin menenggelamkan diri saja ke dasar laut, karena untuk pertama kalinya dia merasakan malu yang luar biasa.
Tanpa banyak kata, akhirnya Laksmi memasangkan cincin di jari manis Diyah, sebagai pengikat bahwa Diyah telah resmi menjadi tunangan Biyakta.
"Berarti sudah tidak boleh terima lamaran pria lain ya, Nak. Kamu sudah punya anakku, Biyakta," goda Juragan Marta sambil merangkul bahu putranya yang senyum-senyum terus sambil sesekali melirik Diyah.
Diyah menatap cincin yang melingkar itu, ini seperti mimpi. Mimpi yang sangat indah kata sebagian orang, karena lengkap dengan pangerannya.
Rasakan karma nya kra cakra,,,,
mamvusss Sarah 🤣 bisa2nya kagak punya malu, masih pagi kok yaa bertamu ke rumah orang. gitu katanya wanita berpendidikan, tapi enggak punya attitude. malah mau jadi velakorr....bener2 enggak tahu diri.
Mantap Biyahta,,,jangan ter goda sama perempuan lain,,,jaga selalu diyah dari orang2 sikir dan jahat....sarah,sarah katanya pramugari kok semangaat banget mau jadi pelakor....haduh