NovelToon NovelToon
Calon Suamiku Adalah Dosenku

Calon Suamiku Adalah Dosenku

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖

Seorang mahasiswa sebentar lagi akan lulus, ternyata dijodohkan oleh kedua orang tuanya dengan teman lama mereka. Sang anak sama sekali tidak setuju dengan perjodohan tersebut dan diam-diam berniat untuk membatalkannya.

Suatu hari, keduanya berpapasan di Universitas XXX. Sang pemuda ternyata adalah seorang dosen sekaligus pengasuh pondok pesantren yang ia dirikan sendiri. Sang siswi sama sekali belum mengetahui bahwa dosen tersebut adalah calon suami yang dipilihkan orang tuanya. Di kampus, ia justru merasa sangat muak dan benci kepada dosennya itu karena merasa tugas-tugas yang diberikan terlalu banyak dan menumpuk tanpa henti. Tanpa ia sadari, di balik rasa kesalnya itu, tersembunyi ikatan yang telah dirancang sejak lama oleh kedua belah pihak keluarga.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝙖𝙙𝙚𝙡𝙞𝙣𝙖, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 34. Bantuan halus yang tak disadari siapa pun

Hari-hari berlalu, dan gosip yang sempat mengancam hubungan kami perlahan mereda. Namun di balik keheningan itu, ada hal yang terus berlangsung — hal-hal kecil, halus, dan tak pernah disadari oleh siapa pun di sekitar kami. Bukan pernyataan lantang, bukan tindakan yang mencolok, melainkan bantuan-bantuan senyap yang selalu datang tepat waktu, seakan udara yang menopang langkahku tanpa pernah terlihat.

Suatu pagi, saat aku sedang sibuk menyusun laporan tugas yang sangat tebal dan harus dikumpulkan sebelum jam pertama dimulai, tinta pulpenku tiba-tiba habis. Aku panik mencari cadangan di tas, namun tak menemukannya. Waktu semakin mendesak, dan teman-teman sekelas pun tak ada yang membawa pulpen tambahan. Aku menunduk cemas, tak tahu harus berbuat apa. Tepat saat itu, saat ia berjalan melewati bangkuku untuk mengambil buku di rak belakang, sebuah pulpen berwarna biru jatuh pelan ke atas bukuku — tepat di samping tanganku. Ia terus berjalan seakan tak melakukan apa-apa, bahkan tak menoleh sedikit pun. Namun aku tahu, itu bukan kebetulan. Pulpen itu jatuh tepat di tempatku bisa meraihnya dengan mudah, dan itu adalah jenis pulpen yang selalu ia gunakan. Aku memakainya untuk menyelesaikan laporan tepat waktu, dan saat aku meletakkannya kembali di ujung meja dosen saat ia sedang keluar sebentar, aku menambahkan selembar kertas kecil bertuliskan: Terima kasih. Sudah menyelamatkanku pagi ini. Tanpa nama, tanpa tanda tangan. Dan itu sudah cukup.

Begitu pula saat aku kesulitan memahami materi yang sangat rumit dan hampir menyerah mengerjakan tugas tambahan yang ia berikan. Aku duduk di perpustakaan hingga sore, menatap halaman buku yang sama berulang-ulang namun tak satu pun yang masuk. Saat aku menutup buku dengan lelah, sebuah buku referensi tipis tergeletak di meja sebelahku — buku yang membahas topik itu dengan bahasa yang jauh lebih mudah dimengerti. Di halaman yang paling penting, ada garis tipis berwarna kuning yang menandai paragraf kunci. Tak ada nama, tak ada catatan. Tapi aku tahu siapa yang melakukannya. Ia pasti datang ke mejaku saat aku sedang ke toilet, meletakkan buku itu, dan menandai bagian yang paling sulit kupahami. Bantuan itu datang tanpa suara, tanpa pamer, namun cukup untuk membuatku memahami semuanya dan menyelesaikan tugas itu dengan nilai terbaik.

Saat hujan turun deras dan aku tak membawa payung, aku menemukan sebuah payung lipat berwarna gelap menungguku di tempat teduh di depan gedung — tempat yang tak terlalu dilewati orang banyak. Di gagangnya tak ada tulisan apa pun, namun aku tahu itu darinya. Karena keesokan harinya, saat aku meletakkannya kembali di meja ruang istirahat dosen saat ia sedang berbicara dengan orang lain, ia melirik sekilas dan tersenyum tipis — senyum yang hanya untukku, yang mengatakan: Kau sudah pulang dengan selamat. Syukurlah.

Hal-hal seperti itu terjadi hampir setiap hari, namun tak satu pun orang yang menyadarinya. Teman-teman sekelasku melihatnya sebagai kebetulan belaka. "Beruntung sekali kamu, Lisna," kata mereka. "Selalu ada hal yang pas di saat yang tepat." Namun aku tahu, itu bukan keberuntungan. Itu adalah perhatian yang selalu ia berikan dengan cara yang paling halus, paling tak terlihat, dan paling tulus. Ia tak ingin membuatku terlihat istimewa di mata orang lain, tak ingin memicu gosip baru, dan tak ingin membuatku merasa berhutang budi di depan siapa pun. Ia hanya ingin aku baik-baik saja — diam-diam, tanpa diketahui siapa pun.

Suatu sore, saat kami berpapasan di lorong yang sepi, aku memberanikan diri berhenti sejenak dan berbisik, "Kak... terima kasih untuk semuanya. Pulpen, buku, payung... semuanya. Aku tahu itu darimu."

Arga berhenti di hadapanku, menjaga jarak yang sopan, namun matanya menatapku lembut dan dalam. "Itu bukan apa-apa, Lisna. Aku hanya membantumu agar kau bisa terus berjalan dengan tenang. Tak perlu berterima kasih. Dan yang paling penting — jangan biarkan orang lain menyadarinya. Selama bantuan ini tak diketahui siapa pun, ia bisa terus berlangsung. Selama tak ada yang curiga, aku bisa terus ada di sisimu dengan cara seperti ini."

"Kenapa kau selalu melakukannya dengan diam-diam?" tanyaku pelan, hatiku terasa hangat sekaligus terharu.

"Karena aku ingin kau tumbuh menjadi dirimu sendiri," jawabnya dengan tulus. "Aku tak ingin orang lain melihatmu sebagai seseorang yang selalu dibantu olehku. Aku ingin mereka melihatmu sebagai mahasiswi yang cerdas, mandiri, dan hebat. Dan bantuan-bantuan kecil ini... hanyalah caraku memastikan kau bisa bersinar tanpa terhalang hal-hal sepele. Cahayamu itu milikmu sendiri, Lisna. Aku hanya membantu menjaganya agar tetap menyala."

Kata-katanya begitu sederhana, namun begitu dalam hingga membuat mataku berkaca-kaca. Ia tak ingin diakui, tak ingin dipuji, tak ingin diketahui. Ia hanya ingin aku baik-baik saja — bahkan jika ia harus melakukannya tanpa siapa pun tahu bahwa ia-lah pelakunya. Itu bukan sekadar membantu. Itu adalah bentuk kasih sayang yang paling tulus — karena ia tak meminta imbalan, tak meminta pujian, dan tak meminta diketahui. Ia hanya ingin aku tumbuh, berkembang, dan bahagia — diam-diam, dari kejauhan, namun selalu ada.

Sore itu, saat aku berjalan pulang, aku menyadari satu hal yang sangat berharga. Bahwa cinta sejati tak selalu harus terlihat dan diketahui dunia. Kadang ia hadir dalam bentuk bantuan halus yang tak disadari siapa pun — sebuah pulpen, sebuah buku, sebuah payung, dan ribuan hal kecil lainnya yang membuat hidupku lebih mudah tanpa aku harus memintanya. Dan Arga... ia melakukannya semua itu bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untukku. Agar aku bisa terus berjalan tegak, berkembang, dan menjadi versi terbaik dari diriku — tanpa perlu tahu bahwa di balik setiap langkahku, ada ia yang selalu menjagaku.

Dan sejak hari itu, setiap kali sesuatu yang baik terjadi padaku secara tiba-tiba — sebuah bantuan yang datang tepat waktu, sebuah jalan yang terbuka, sebuah kesempatan yang muncul — aku selalu tersenyum dalam hati. Karena aku tahu, di mana pun ia berada, ia sedang melihatku, tersenyum, dan membantuku — dengan cara yang paling halus, paling tak terlihat, dan paling penuh kasih sayang. Bantuan yang tak disadari siapa pun, namun yang membuat hatiku selalu merasa dicintai, dilindungi, dan tak pernah sendirian.

bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!