Davina Clarisa tidak tahu, bagaimana hidupnya setelah memilih berpisah dengan suaminya Rio.Rio orang keras kepala, egois dan ingin menang sendiri membuat Davina merasa lelah secara mental, sehingga ia memutuskan untuk berpisah adalah jalan terbaiknya.Davina merasa rio bukan tempat rumah ia pulang.
setelah berpisah Davina memutuskan kembali ke kampung halamannya, dan menetap disana dengan putri kecilnya.Akankah davina bisa melupakan mantan suaminya dan bisa kembali menata hidup layak seperti perempuan lain pada umumnya ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meiithandi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rio akhirnya tahu , adit mantan pacar Davina
Paud Alghajaly
Tangan Rio masih terulur di udara, menatap Adit dengan tatapan tenang namun penuh selidik. Ia bisa merasakan ketidaksukaan yang terpancar jelas dari mata pria itu,sebuah rasa tidak nyaman yang langsung menyusup ke dada Rio, seakan ada sesuatu yang selama ini tak ia sadari sedang berdiri di hadapannya.
Adit menyipitkan mata, melirik sekilas tangan itu sebelum akhirnya menyambutnya dengan genggaman singkat dan kaku. Tidak ada senyum, tidak ada kehangatan.
"Adit," ucapnya singkat, suaranya terdengar berat dan dingin. Tangannya segera ditarik kembali, seakan menyentuh kulit Rio adalah sesuatu yang harus ia hindari.
Rio mengangguk pelan, menahan rasa heran. Ada getaran yang tidak biasa saat pria itu menyebut namanya sendiri. Seolah... ada rasa cemburu yang tersembunyi di balik tatapan tajam yang terus tertuju pada Davina.
Davina sendiri menelan ludah. Suasana di antara keempat orang itu mendadak menjadi berat, seolah udara pagi yang segar tiba-tiba terasa sesak. Ia melirik sekilas ke arah Adit, berharap pria itu tidak melontarkan kata-kata yang memperkeruh keadaan.
"Ayah..." panggil Zahra yang menarik ujung kemeja Rio, menyadarkan semua orang dari kebisuan itu. "Itu Kenzo, teman baik Zahra."
Rio segera menunduk, menyunggingkan senyum lebar seolah tidak terjadi apa-apa. Ia berlutut kembali setinggi putrinya, lalu menatap ke arah Kenzo yang berdiri tak jauh dari sana.
"Halo Kenzo," sapa Rio ramah, mengulurkan tangan kepada anak laki-laki itu. "Terima kasih sudah menjadi teman baik putriku."
Kenzo menatap sekilas ke arah Adit dan Alya, seakan meminta izin, sebelum menyambut tangan itu dengan malu-malu. "Halo, Paman. Sama-sama."
Zahra tersenyum bahagia melihat ayahnya berteman dengan teman sekelasnya. Ia pun menggandeng tangan Kenzo, berlari kecil beriringan menuju gerbang sekolah yang sudah terbuka lebar.
Davina melangkah hendak mengantar kedua anak itu, namun suara Adit menahannya.
"Davina," panggilnya cukup lantang. Langkah Davina terhenti. Ia berbalik perlahan, mendapati Adit sedang berjalan mendekat, wajahnya masih tampak tak tenang.
Alya yang menyadari ketegangan itu memilih mundur perlahan, memberi mereka ruang, sekaligus melirik tajam ke arah Rio yang berdiri tak jauh di sana.
Rio tidak pergi. Ia tetap berdiri di tempatnya, memperhatikan keduanya dengan tatapan yang tak lagi bisa disembunyikan,sebuah rasa cemburu yang perlahan mulai merayap dihatinya. Ia berdiri tegak, seakan menantang pria itu untuk mengatakan apa pun yang ingin dikatakan.
"Apa kau..." Adit menelan kata-katanya, melirik sekilas ke arah Rio sebelum kembali menatap mata Davina. "Apa kau baik-baik saja?" tanyanya pelan, penuh perhatian yang mendalam.
Davina mengangguk pelan, merasa tidak nyaman diperhatikan sedemikian rupa di hadapan Rio. "Aku baik-baik saja, Terima kasih, Dit."
Adit menghela napas panjang, lalu menatap tajam ke arah Rio. Tatapan itu seakan berkata: Jagalah kata-katamu, jagalah hatinya. Jika kau melukainya sekali saja, aku tidak akan membiarkanmu.
Rio membalas tatapan itu dengan tenang, namun hatinya berdebar kencang. Ia baru menyadari sesuatu pria bernama Adit ini tidak sekadar teman bagi Davina. Di balik tatapan teduh namun penuh perhatian itu, ada perasaan yang jauh lebih dalam. Perasaan yang mungkin sejak lama telah ia tanamkan untuk wanita yang dulu pernah menjadi istrinya.
Hati Rio mendadak terasa perih. Ia sadar, ia telah kehilangan hak untuk merasa cemburu. Namun melihat pria lain berdiri di sana, menatap Davina dengan pandangan yang tak pernah ia berikan selama mereka bersama... membuatnya menyadari betapa beruntungnya Davina memiliki seseorang yang begitu tulus menyayanginya. Sementara ia? Ia baru saja menyadari perasaannya, saat semuanya hampir terlambat.
"Zahra anak yang baik,, Anak yang lucu dan menggemaskan " ucap Adit tiba-tiba kepada Rio, suaranya terdengar sedikit lebih tenang meski masih tersisa kewaspadaan. "Davina, aku... aku akan pergi dulu. Kabari aku jika ada apa-apa."
Davina mengangguk pelan. "Iya, Dit. Hati-hati."
Adit berbalik, menyusul Alya yang sudah menunggu di dekat mobil. Namun sebelum masuk ke dalam kendaraan, ia menoleh sekali lagi. Matanya bertemu dengan mata Davina satu tatapan yang penuh pesan, yang hanya mereka berdua yang paham maknanya.
Saat mobil itu perlahan menjauh, Rio masih berdiri terpaku di tempatnya, ia menahan emosi kian siap meledak namun ia tidak ingin membuat davina terluka lagi , Rio hanya bisa menahan dan bersabar semua pasti baik - baik saja.
Rio yakin bisa merebut hati Davina utuh kembali. Ia menatap punggung Davina yang berdiri mematung menatap jalanan. Ada rasa sakit yang menyelinap di dadanya.
"Dia menyukaimu," ucap Rio pelan, hampir berbisik. Kalimat itu terucap begitu saja, tanpa ia rencanakan.
Davina tersentak, lalu berbalik menatap Rio. Wajahnya memerah, entah karena malu atau karena kesal. Ia tidak menyangkalnya, juga tidak membenarkannya. Ia hanya menatap Rio lekat-lekat, lalu berkata dengan suara lembut namun tegas.
"Itu bukan urusanmu, Rio. Kau sudah berjanji... kau hanya ingin menjadi ayah bagi Zahra. Tolong jangan melampaui batas yang sudah kita sepakati."Kata-kata itu menghantam dada Rio lebih keras dari apa pun. Ia tersadar, menunduk merasa malu atas ketidaksabarannya sendiri. Davina benar. Ia tidak berhak,Ia telah kehilangan hak untuk menanyakan perasaannya, melarangnya mendekati pria lain, atau bahkan merasa cemburu.
"Maaf..." ucap Rio lirih, suaranya terdengar serak. "Kau benar. Aku... aku melampaui batas. Tapi apa ini alasanmu , tidak ingin kembali padaku lagi ?."
Davina menghela napas panjang, mengalihkan pandangannya kembali ke arah gerbang sekolah ia tidak ingin menjawab pertanyaan Rio, ia takut hanya jadi perdebatan yang takkan kunjung selesai.
"Ayo pulang," ajak Davina pelan, berjalan mendahului Rio menuju mobil. Kita bisa pergi sekarang."
Rio mengangguk pelan, berjalan di belakang Davina. Setiap langkah yang ia ambil terasa berat. Ia menyadari perjalanannya untuk kembali ke kehidupan putrinya bukan hal yang mudah.
Lebih dari itu... hatinya kini mulai menyadari satu hal yang membuatnya takut: di sela-sela keinginannya menebus kesalahan kepada Zahra, ada perasaan lain yang mulai tumbuh kembali, perasaan yang dulu pernah ia abaikan, dan kini diancam akan direbut oleh pria lain yang jauh lebih baik darinya.
Di sepanjang perjalanan pulang, keheningan kembali menyelimuti mereka. Namun kali ini, Rio tidak lagi diam dalam kebingungan namun tekatnya kuat. Ia tahu apa yang harus ia lakukan. Ia harus berjuang untuk memiliki Davina kembali.Ia tidak ingin Davina jatuh pada pria lain.Ia tidak rela mantan istrinya itu jatuh kepelukan pria lain.
Rio menggenggam stir dengan sangat kuat, ia sedang dalam keadaan emosi.Namun ia harus tetap tenang.Ia tidak ingin melukai Davina.
Perusahaan Adit di Kota C
Ia menghela napas panjang, ia sedang dalam mode cemburu.Apalagi ia melihat Davina bersama dengan mantan suaminya.Seketika pikiran kalut.
"Apa yang harus kulakukan, tidak Davina....Aku tidak rela jika kau kembali bersama dengan pria bajingan itu...!
Cafe Opera
Terlihat seorang perempuan sedang mengaduk makanannya, perempuan itu adalah siska.Siska merasa ia tidak bisa terus begini.Cintanya selama dua tahun ini hanya berujung sia - sia.Bagaimana bisa ia jatuh cinta pada suami orang.
Namun seakan di butakan cinta, ia terus saja berada di sisi Rio.Namun siska tahu di hatu rio dia hanya sebagai pelampiasan saja tidak ada cinta disana.
" Apa aku harus menyerah sekarang ? Ucap siska lirih.
"Ini pesanan anda " Ucap Pelayan Cafe sambil membawa nampan dessert.
" terimakasih " Ucap siska tersenyum paksa.
Sementara rio sedang berada di pinggiran sungai kota C.Ia duduk sambil menatap lurus sungai itu.
Tiba - tiba saja ada notif pesan masuk.Rio membuka notif pesan itu dan betapa terkejutnya dia ternyata Adit adalah mantan pacarnya 7 tahun lalu.
Ia melihat foto Adit dan Davina saat di kampus, Betapa mesra keduanya.Rio melempar ponselnya ke dalam sungai.
" aku sudah curiga dari awal , dan dugaanku benar ternyata, ia adalah mantanmu 7 tahun yang lalu !! Argghhhh betapa bodohnya aku saat ini..... tidak ..tidak aku biarkan ,kamu merebut Davina dariku " Ucap Rio lalu bergegas pergi dari pinggiran sungai itu dengan emosi siap meledak.Ada rasa cemburu, ada rasa takut kehilangan semua campur menjadi satu.
Ia tidak bisa membayang jika suatu saat ,Ia harus kehilangan Davina.